15 April, 2013

Salam In-On-In ala Kepala Sekolah

by isma at 4/15/2013 02:02:00 PM 0 comments

Melihat penampilan para bapak dan ibu yang memenuhi lobby hotel Grand Mercure siang itu membuat langkah kaki saya sedikit tertahan. Saya hanya memakai baju lengan pendek bertutupkan blazer hitam lengan panjang dan jeans kodore lebar yang saya beli di Godwill beberapa minggu sebelum saya meninggalkan Hawaii. Dengan sepatu sandal hitam dan ransel biru yang setia menemani petualangan saya, mungkin saya lebih terlihat seperti backpacker daripada seorang eksekutif apalagi kelapa sekolah.

“Aku sudah dapat kamar. Kamu antri saja di sana,” saya menghentikan aksi banding-bandingan penampilan ketika seorang teman, Musthofa, menghampiri dan menjelaskan alur registrasi. “Mereka belum pada dapat kamar?” tanya saya memastikan. Musthofa mengangguk, sebelum akhirnya berlalu menuju kamarnya.

Saya mengedarkan pandangan. Selain Musthofa, wajah-wajah itu tampak masih asing di mata saya. Saya taksir usia mereka rata-rata di atas 40-an tahun. Dengan kemeja rapi, berbatik, atau memakai jas, sepatu hak tinggi dan warna yang mengkilat, menarik-narik koper sambil menenteng tas berisi laptop, mereka terlihat seperti eksekutif. Sesekali gelak tawa berderai-derai, menyelingi obrolan dan cipika-cipiki penuh keakraban menandakan bahwa beberapa bapak dan ibu itu sudah saling mengenal.

Bagi saya, terlibat dalam forum ini adalah pengalaman pertama. Lebih tepatnya forum para Kepala Sekolah berprestasi, para penilik dan pengawas, dan para pegawai kependidikan. Kami dipertemukan oleh Pusbangtendik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan SSQ-AUSAID untuk workshop penulisan Buku Panduan Utama bagi Kepala Sekolah di Indonesia dari jenjang SD sampai SMA. Panduan penulisan BPU ini adalah Peraturan Menteri no 13/2007 tentang standar kompetensi Kepala Sekolah. Dengan meningkatkan profesionalisme Kepala Sekolah, program ini bercita-cita untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekolah di Indonesia.

“Ibu dari sekolah mana?” tanya seorang bapak, saat break time. Pertanyaan yang sama yang entah untuk ke berapa kalinya saya dengar dari orang yang lain. “Saya dari Sekolah Menulis Matapena, Pak,” jawab saya sambil berharap si bapak akan langsung mengerti. “Sekolah bagaimana itu?” kejar si bapak. “Ini semacam ekskul Pak. Jadi kelas menulis untuk remaja. Kegiatannya berupa workshop dan pelatihan jurnalistik,” jelas saya, dan rupanya berhasil. “Wah, saya mau dong mengundang Ibu dan Matapena ke sekolah saya di Sleman.”

Saya memang bukan Kepala Sekolah, seperti Pak Setiyo yang ngobrol dengan saya, atau Bu Sujarotun yang kebetulan satu kamar dengan saya selama program berlangsung. Saya terpilih untuk ikut forum ini karena background saya sebagai Direktur Sekolah Alternatif Matapena dan writing skill yang saya miliki. Paling tidak penilain itulah yang diberikan oleh adviser saya setelah membaca tulisan opini saya tentang Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Profesionalisme Kepala Sekolah. Dan, saya merasa sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan untuk menyumbangkan pikiran bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Dalam penulisan BPU ini, saya memilih tema Sekolah Berwawasan Lingkungan untuk Kepala Sekolah jenjang SMA Level 3 atau expert. Alurnya, kami lebih dulu mempelajari BPU SBL untuk Kepala Sekolah SD yang sudah ada. Saya bersama teman-teman satu team membaca, mempelajari, dan menuliskan rekomendasi untuk sistematika dan materi BPU SBL untuk Kepala Sekolah jenjang SMP, SMA, dan SMK.

Awalnya saya masih meraba-raba, namun setelah satu hari proses, lebih-lebih setelah saya membaca BPU tema Kurikulum, saya bisa juga memahami alur penulisannya. Metode pembelajaran dalam BPU ini memakai model in1-on-in2. Kalau saya coba menerjemahkannya adalah preparation-action-evaluation, yang dijabarkan dalam topik-topik kegiatan yang akan dilakukan oleh Kepala Sekolah untuk memenuhi tagihan kompetensi yang sudah ditentukan. Jadi, BPU adalah buku pintarnya Kepala Sekolah. Keren kan?

Penulisan tahap pertama ini dilaksanakan dari tanggal 04-08 Maret 2013 itu. Dan, akan dilanjutkan dua tahap selanjutnya, yang mungkin akan dilaksanakan bulan Mei dan Juni. Jika pada mulanya saya cuma bisa banding-bandingin penampilan saat pertama kali bertemu dengan bapak ibu kepala sekolah itu, sekarang saya sudah bisa mengucapkan kata “salam” sandi para Kepala Sekolah. Yaitu, “Salam in-on-in!”

14 March, 2013

Kak Shinfa dan Marah-Marah

by isma at 3/14/2013 03:59:00 PM 3 comments
Kak Shinfa suka sekali marah. Kalau sudah marah, Kak Shinfa akan bungkam seribu bahasa. Matanya yang kecil akan menatap tajam, dengan bibir mengerucut. Ada saja yang membuat Kak Shinfa marah. Dari hal yang sederhana, misalnya mandinya tidak bareng Dik Atha, sampai yang serius seperti minta dibeliin sesuatu, tapi kelupaan. Saking seringnya, ibarat dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, Kak Shinfa selalu marah.


Biasanya aku bertanya sama kakak, "Kalo diam begini, kakak marah ya. Kakak marah kenapa?" Kadang Kak Shinfa menjawab, dengan suara ditekan dan tidak jelas. Tapi, kadang cuma melirik tajam atau menutup muka. Jadi bingung. "Ibu minta maaf ya, sudah bikin Kakak marah." Tetap saja tidak ada jawaban.

Sampai akhirnya, suatu malam, aku baru pulang dari kerja. Kakak marah-marah, karena apa ya, aku lupa. Usai shalat mmaghrib, Kakak masih saja manyun. "Kakak kok marah terus ya. Kayaknya kalau ada Ibu, kakak selalu deh marah. Ibu takpergi saja po?" pancingku, menunggu reaksi Kak Shinfa. Dia berteriak, "Enggak." "Kalau enggak, kenapa diam begitu. Kakak nggak capek po marah terus begitu. Ibu yang lihat saja capek."

Aku pura-pura pakai celana dan jaket, seperti mau pergi. Kak Shinfa langsung saja menarik tanganku sambil nangis. "Ibu jangan pergi." Aku diam saja, sambil menarik jilbab dari gantungan. Kak Shinfa menangis kencang. "Kakak marah terus sih. Ibu jadi takut kalau di rumah, dimarahi Kakak terus." Kak Shinfa langsung teriak, "Enggak. Enggak," sambil menarik tanganku. "Kak Shinfa coba deh janji enggak akan marah-marah," kataku melunak. Kak Shinfa menganggung-angguk. "Coba itu janjinya ditulis, ditempel ya di dinding."

Tanpa banyak komentar, Kak Shinfa langsung mencari kertas dan menulis: Aku janji nggak akan marah-marah lagi. Nggak akan iri lagi. Membaca tulisan itu, aku tersenyum. Dalam hati aku berharap, ini akan berhasil mengatasi marah-marah Kak Shinfa. Dan, ternyata berhasil. Kak Shinfa selalu memegang janjinya. Setiap kali ada tanda-tanda marah, aku bilang, "Ayo, ingat janji Kakak nggak akan marah-marah?" Lalu Kak Shinfa akan tersenyum malu, "Aku tu nggak marah, aku ngantuk."

Kayak kemarin waktu dia ditinggal di rumah bareng sama sepupunya, karena aku dan ayah mengantar Dik Atha untuk tes penjajagan masuk Kelompok Bermain. Dari sekolahan, kami langsung ke lokasi rumah baru, lalu mmencari bed untuk Kak Shinfa. Praktis hampir seharian, dan begitu sampai rumah, Kak Shinfa sudah manyun. Aku buru-buru minta maaf, dan menjelaskan kenapa perginya seharian. Meskipun Kak Shinfa menangis, tapi dia mau menjelaskan kenapa dia marah dan menangis, dan itu pun tidak berlangsung lama.


Selain "curhat" verbal, Kak Shinfa juga sudah bisa curhat dengan tulisan. Awalnya tanpa sengaja aku menemukan tulisannya di lantai, cerita tentang dirinya. Aku pikir, bagus juga kalau Kak Shinfa aku biasakan menulis. Sampai suatu ketika, Kak Shinfa uring-uringan. Aku tanya, katanya tidak kenapa-napa. "Eh Kak, coba deh kakak cerita di buku ini ya." Taunya, langsung bersambut. Kak Shinfa menuliskan pengalaman kacaunya di sekolah. Tentang temannya, Iesa, yang suka mengejeknya dan membuatnya sebel ples uring-uringan. Meskipun cuma tiga kalimat, tapi asyik sekali membacanya.

Jadi sekarang, kalau melihat Kak Shinfa uring-uringan, aku tinggal bilang, "Diarynya ditulis dulu gih ... "

08 February, 2013

Meninggalkan Hale Manoa

by isma at 2/08/2013 12:27:00 PM 4 comments
pagi itu, 31 Juli 2012, aku bangun lebih awal dari hari biasanya, bahkan hanya setelah dua jam tidur di kamar 602 G hale manoa. mataku masih berat, bukan cuma karena masih mengantuk dan lelah, tapi karena tangisku yang semalaman. dinding hati dan perasaanku jebol, tak kuat menahan adukan rasa senang karena akan pulang ke tanah air, dengan haru dan pilu karena harus meninggalkan pulau surga ini. pagi yang biasanya aku tenggelam menikmati kicauan burung-burung kecil yang hinggap di bibir jendela, sambil mengerjakan paper, pagi kali ini aku bahkan seperti tak menjejakkan kaki. hampa dan kosong.

tiga koper besar dan satu carry on sudah siap. sementara aku masih harus mengemasi barang-barang kecil untuk masuk ke dalam backpack. selesai mandi dan makan nasi ala kadarnya, aku siap untuk pergi. kembali, gelombang rasa haru menggedor-nggedor dinding hati. aku sempat merekam saat-saat terakhir di kamar sempitku. menyimpan memori tentang jendela berkaca besar lengkap dengan view kotak kakbah atap gedung pemantau cuaca, gerumbulan dedaunan hijau di atas bukit, dan jalan pertigaan east west road yang bersih dan rapi.

pukul 06.00, saatnya mengucapkan selamat tinggal untuk kamarku. roma dan neeraj sudah membawa koper-koperku turun. tinggal cary on dan back pack yang disisakan untukku. sepanjang jejak kaki menuju lobby, aku taburkan tatap perpisahan di setiap sudut bangunan; storage, tangga, lounge, tempat loundry, dapur, koridor, tempat kulkas bersama, bukit manoa yang hijau menjulang, fountain water, giveaway shelf, bike storage, elevator yang biasa memajang tulisan "have a good day", reading room, pintu geser utama, dan front desk ... hufh!

jill, roma dan neeraj sudah menunggu di lobby. perempuan penjaga front desk dengan rambut ikal panjang menerima kunci kamarku, dan sempat mengucapkan selamat jalan. aku tersenyum sambil menarik napas panjang. aku jadi ingat saat-saat menunggu kunci baru di front desk dengan kostum yang bermacam-macam, bahkan aneh gara-gara locked out. besok-besok sudah tak akan kekunci lagi :(

semua koper sudah ditata, menyisakan tiga jok tersisa, untuk jill, aku dan neeraj. jill dan neeraj adalah mentor dan kawanku yang baik, bersedia membantuku dan memberikan tumpangan ke bandara. sebelum aku masuk mobil, hatiku seolah berkata, it's time to go, time to say good bye. rasanya luruh, ambrol semua kenangan, dari pertama datang sampai akan meninggalkan, diawali di halaman hale manoa ini. mika, kawan dari jepang tiba-tiba datang. mendekati barisan roma, neeraj, jill, dan aku. kami berpelukan satu sama lain. tak sempat memotret, cukuplah disimpan dalam memory hati.

perlahan mobil pun bergerak, mengiringi hempasan napas paling berat yang aku tarik selama di hawaii. finally, i have to leave and say good bye to Hale Manoa ... and now, i am missing you :))

18 January, 2013

Dari yang Lucu
sampai yang Bikin Senewen

by isma at 1/18/2013 04:19:00 PM 3 comments
dik atha sudah 3 tahun sekarang. ngomongnya sudah lancar, tapi belum bisa bilang R. ekspresinya juga sudah macam-macam. beberapa hari lalu waktu dia main tablet sama mas nabil, sepupunya, tiba-tiba dia berdiri dengan wajah ditekuk. "sebel aku, sebel," katanya dengan bibir manyun. tangannya menarik-narik roknya ke kiri ke kanan.

aku yang waktu itu sedang membersihkan kamar sempat melongo, nggak percaya melihat atha yang berekspresi sebal begitu. "adik kok bisa sebel-sebel gitu sih, diajari siapa?" tanyaku. atha masih manyun, tak menjawab. masih kesal sama masnya. aku jadi tertawa geli. lucu melihat ekspresi atha.

sejak akhir desember 2012 yang lalu, atha aku titipkan di TPA Anak Soleh, satu tempat dengan sekolahnya kak abiq. kasian di rumah tidak ada yang nemenin. seminggu pertama atha masih mogok dan nangis-nangis. tapi, lama-kelamaan dia enjoy. pagi aku yang anter, lalu sore dijemput sama ayah bareng jemput kak abiq.

sekarang atha malah sudah bisa share apa yang dia dapat dari TPA. meskipun kalau ditanya, tadi main apa dik? pasti jawabnya, nggak tahu. nah dua malam yang lalu, tiba-tiba atha berceloteh: "apa kabal temen-&^(()___!(*& alhamdulillah. luar biasa. sukses. allahu akbar." pada bagian huruf simbol itu, karena atha nggak jelas ngomong apa haha. kata ayah, "mungkin itu tu apa kabar teman-teman semuanya hari ini?" aku tertawa melihat lucunya atha.

dik atha juga sudah bisa membedakan warna. dulu awal-awal aku baru balik dari hawaii, dia masih suka salah-salah, atau semuanya warna pasti dibilangnya kuning. sekarang tidak lagi. dia bisa menjawab dengan tepat warna-warna yang aku tanyakan. tahu deh belajar dari mana he he.

tapi, dik atha masih ngompolan. duuuh, biarpun dipakei pampers, kadang masih suka bocor. jadilah sering gonta-ganti sprei. berbeda dari kak abiq yang sudah tidak ngompol sejak umur 2.5 tahun. toilet training pada malam hari memang nggak jalan. tapi kayaknya musti digalakkan lagi nih ya.

selain soal ngompol, yang sering bikin senewen itu soal baju dan celana. dik atha nggak mau pakai celana yang nggak menutup mata kaki. jadilah aku harus merayu-rayu dan memanjang-manjangkan celana leggingnya hehe. soalnya hampir semua celana dik atha berada tepat di atas mata kaki, atau 3/4. atau kalau tidak yaaa harus melakukan pengadaan celana leging lagi deh ...
 

Topi Bundar Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review