14 September, 2017

0 comments 9/14/2017 11:45:00 AM

Dokumen Bayi Lahir di Belanda

Posted by isma - Filed under ,

pengalaman melahirkan di belanda buatku sangat luar biasa. apalagi melahirkan tanpa didampingi suami dan keluarga. sudah tentu banyak pikiran dan harus multitasking. tidak hanya mikirin bagaimana mengeluarkan bayinya, tetapi juga apa yang harus dilakukan usai melahirkan.

jauh-jauh hari sejak pertama kali tiba di leiden, saya sudah konsultasi dengan mbak fifi, senior yang juga punya pengalaman melahirkan di belanda. saya catat baik-baik semua penjelasannya berikut ini:

pertama, bawalah dokumen seperti passport, residence permit, dan akta nikah ketika kita akan berangkat ke RS untuk melahirkan. dokumen ini akan diminta oleh RS untuk mereka membuat surat keterangan lahir.

kedua, selain dokumen, sebelum hari perkiraan lahir tiba, kita juga harus siapkan nama bayi. laki-laki dan perempuan. buat jaga-jaga kalau ternyata bayi yang lahir tidak sesuai dengan perkiraan USG :) karena berbeda dengan di indonesia, pihak RS atau bidan akan menuliskan nama si bayi pada surat keterangan lahir yang akan diberikan kepada orang tua bayi.

ketiga, lakukan regristrasi ke pemerintah kota setempat paling lambat tiga hari setelah persalinan. kalau lebih dari tiga hari bisa kena denda katanya :) dengan membuat janji dulu, lalu datang pada hari dan jam yang dijanjikan dengan membawa surat keterangan lahir dari RS, fotokopi passport kedua orang tua, surat nikah, BSN, dan kartu identitas pelapor. pelapor bisa suami atau orang yang hadir dalam persalinan. waktu itu aku minta tolong temenku, desty, untuk melakukan regristrasi ke gementee. setelah pendaftaran ini nanti bayi kita akan mendapatkan akta lahir belanda dan nomor BSN.

keempat, buatkan passport ke kedutaan indonesia di den haag. semakin cepat semakin baik. supaya bayi kita segera dapat kartu identitas. persyaratan dan formulir bisa didownload di web KBRI. untuk foto, bisa ke studio foto. waktu mendaftar, bayi harus dibawa karena nanti di KBRI akan difoto lagi untuk foto passport. proses membuat passport kurang lebih seminggu. lalu bisa diambil di KBRI.


kelima, setelah mendapatkan passport, mulai mengurus visa (atau residence permit). waktu itu saya dibantu oleh kampus. jadi saya tinggal menyiapkan dokumen yang dibutuhkan, seperti mengisi formulir, foto, passport, BSN, akta kelahiran. proses ini lumayan lama. kemudian kita akan mendapat pemberitahuan jika permitnya sudah jadi. untuk mengambilnya di IND (kantor imigrasi belanda) kita harus membawa serta bayinya juga. dengan memegang residence permit ini artinya bayi kita sudah legal tinggal di belanda, dan boleh melakukan perjalanan keluar belanda.

keenam, jangan lupa untuk mendaftarkan asuransi untuk bayi kita. kalau asuransi belanda, bukan international insurance, biasanya asuransi untuk anak gratis karena masuk dalam tanggungan asuransi orang tua. jadi cukup telpon ke asuransi dan bilang mau memasukkan anak-anak ke dalam daftar tanggungan. jika data bayi kita sudah tercatat di IND, dan bisa diakses oleh asuransi maka selang satu minggu kartu asuransi akan dikirim ke rumah.

ketujuh, melegalisir akta lahir belanda ke kementerian luar negeri belanda. lokasinya di dekat centraal station den haag. pelayanannya sepertinya cuma sampai jam 12.00 siang setiap harinya. yang jelas selalu membawa seluruh dokumen penting seperti passport orang tua, akta lahir, BSN, residence permit, dan surat nikah. akta belanda yang dilegalisir akan dipergunakan untuk mengurus surat keterangan lahir dari KBRI.

kedelapan, mengurus surat keterangan lahir dari KBRI. tidak perlu janjian. jangan lupa untuk isi formulir permohonan yang bisa didapat di loket pendaftaran. siapkan juga seluruh dokumen orang tua dan bayi, dan fotokopiannya. suratnya tidak bisa langsung jadi. biasanya menunggu sekitar satu sampai lima hari. kecuali kalau pas datang pejabat yang menandatangani sedang ada di tempat. surat keterangan lahir dari KBRI ini menjadi dokumen ketika kita melaporkan kelahiran bayi kita ke dinas kependudukan dan catatan sipil (disdukcapil) di Indonesia.

disdukcapil sleman

nah setelah ini, proses selanjutnya adalah melapor ke disdukcapil di kota kita tinggal di Indonesia. tujuannya supaya anak kita tercatat dalam data kependudukan Indonesia, dan supaya anak kita mendapatkan NIK di kartu keluarga. apalagi sekarang ada pembuatan kartu identitas anak (KIA) juga. tapi saya belum mengurus pembuatan KIA untuk kakak, kak dik, dan dik ara.

proses pelaporan ini seingat saya langsung datang ke disdukcapil, ke loket pembuatan akta. bilang kalau anak kita lahir di luar negeri. kita akan mendapatkan blanko khusus untuk kelahiran luar negeri. blangko yang sudah diisi diserahkan bersama surat dari KBRI, akta lahir dari negara tempat lahir, juga surat keterangan lahir dari RS-nya kalau ada. kemudian disdukcapil akan menerbitkan surat keterangan sudah melapor, jadi bukan akta kelahiran seperti yang dimiliki anak-anak yang lahir di dalam negeri.

saya sebelumnya beranggapan kalau surat keterangan lahir dari KBRI merupakan pengantar untuk pembuatan akta lahir versi indonesia di disdukcapil. tapi, ternyata tidak. akta bayi yang lahir di LN hanya berupa surat keterangan lahir dari KBRI yang dilampiri keterangan dari disdukcapil. demikian penjelasan dari ibu kepala disdukcapil sleman sambil menunjukkan aturan perundang-undangannya. jadi sebenarnya yang berkewajiban menerbitkan akta untuk anak yang lahir di LN itu adalah KBRI. cuma di KBRI belum ada disdukcapil sehingga yang diterbitkan adalah surat keterangan lahir dan masih harus dilaporkan ke disdukcapil di kota kita tiggal di Indonesia. meskipun ada beberapa teman yang kemudian bisa mendapatkan akta lahir format indonesia seperti pada umumnya, ini katanya tergantung kepala disdukcapilnya.

tapi, tanpa akta lahir versi Indonesia, surat keterangan lahir dari KBRI dan lampiran surat keterangan dari disdukcapil sudah merupakan dokumen sah akta kelahiran, tentu saja selain akta lahir yang diperoleh dari negara tempat lahir. nah dua dokumen surat keterangan lahir itu nanti yang juga kita pakai untuk membuat Kartu Keluarga baru, supaya data bayi kita dimasukkan ke dalam KK dan mendapatkan NIK.

hufff, sudah. begitu aturan dan tahapannya hehe. good luck ya!
Continue reading...

23 February, 2017

0 comments 2/23/2017 02:05:00 AM

Terbang Bersama Ara

Posted by isma - Filed under , ,
diantar temen-temen ke bandara schipol

ketika ayah, kak shinfa dan dik atha balik lagi ke indonesia pada awal desember 2016 yang lalu, aku pun kembali menikmati hari-hari di leiden hanya berdua dengan ara. sehari setelah mereka terbang, rasanya nglangut. sepi. biasanya rumah ramai oleh celoteh kak atha juga kak shinfa, guyonan juga pertengkaran, tiba-tiba berubah jadi lengang. karena tidak ada orang lain di rumah yang bisa njagain ara, setiap kali aku harus ke kampus, aku titipkan ara ke tetangga rumah, teman-teman dari indonesia. untunglah hanya satu setengah bulan, yaitu sepanjang akhir desember hingga januari, kami tinggal di leiden, sebelum akhirnya menyusul ayah dan kakak-kakak balik ke indonesia. aku dan ara menempuh perjalanan udara selama kurang lebih sebelas jam dari amsterdam ke jakarta, dan perjalanan ini tentu penuh tantangan. tidak seperti yang aku bayangkan :)

ara masih berusia 7 bulanan. kami mendapat tempat duduk di bagian paling depan kelas ekonomi, menghadap sekat pembatas dengan kelas bisnis. waktu itu kebetulan bersama kami ada juga mas cahyo yang mau mudik, mahasiswa phd dari jogja. jadi lumayan bisa menjadi asisten hehe. mas cahyo bantu memegang ara, misalnya ketika ibunya mau makan dan ke toilet. pas masih di bandara schipol mas cahyo juga ikut bantu membawakan tas bawaan dan jaket yang sebelumya aku pikir akan bisa mengangkut semuanya sendiri. ternyata tidak bisa.

setelah pesawat tinggal landas, pramugari memasang basinet pada sekat pembatas di hadapan kami. box bayi yang bisa dipakai untuk menidurkan ara. untuk box ini, kita tidak perlu meminta karena sudah otomatis ketika kita check in bersama infant, pihak garuda sudah mengatur tempat duduk kita dan layanan basinet untuk infant. tapi, sayangnya ara tidak bisa ditidurkan di basinet. sepanjang penerbangan ara lebih banya terjaga, jika tidak di pangkuan, ya dalam gendongan. atau kalau ia bisa tidur, aku takut kalau ditidurkan di basinet ia akan terbangun. alhasil, tidur pun ara tetap aku pangku.

seperti orang dewasa, agaknya ara juga merasa tidak nyaman selama dalam perjalanan. entah pusing atau berisik dengan suara pesawat. ara jadi agak rewel. meskipun sudah aku gendong sambil mengayun-ayun, menepuk-nepuk juga menyusui, ara tetap kelihatan gelisah. kalau dihitung-hitung, aku berdiri sambil menggendong ara hampir selama separo penerbangan. hufff! sampai aku terkantuk-kantuk dan harus pegangan sandaran kursi untuk menjaga keseimbangan. tapi syukurlah, setelah usaha keras itu, ara pun terlelap. masih sambil memangku ara, aku pun bisa memejamkan mata dengan nyaman.

untuk infant, pihak garuda menyediakan makanan instant berupa dua botol kecil pure wortel dan apel, juga biskuit, dan diberikan sebanyak dua kali. ara mau juga makan pure, meskipun terus terang itu pertama kali ia makan makanan instant begitu hehe. ara juga dapat tas cangklong berbahan plastik yang isinya antara lain diapers dan tissue, juga kantong untung menyimpan diapers yang kotor. waktu itu aku sempat ngganti diapers ara, dibantu oleh mas cahyo.

ara sama pak dhe cahyo hehe

ara yang nggemesin :*

tiba di bandara soekarno hatta, aku berganti kostum, begitu juga dengan ara. pada bulan january suhu di belanda senang dingin-dinginnya. saya memakai dua lapis baju ditambah jaket hangat. begitu keluar pesawat, rasanya gerah bukan main hehe. bangunan bandara juga banyak berubah setelah renovasi dan penambahan gedung baru. biasanya cukup pindah ke lantai 1 dari gate kedatangan, sekarang harus berjalan lumayan jauh juga. untungnya mas cahyo masih bisa jadi asisten bagian bawa-bawa. cuma karena mas cahyo ambil penerbangan satu jam lebih lambat dari jam penerbanganku, jadinya aku kerepotan juga membawa tas dan jaket hangat sambil menggendong ara.

di dalam pesawat jakarta menuju jogja, ara kembali rewel. ia menangis sepanjang penerbangan. aku susui nggak mau. mungkin maunya digendong sambil ditepuk-tepuk. tapi, tidak memungkinkan untuk penerbangan domestik, selain karena beberapa kali ada goncangan dan penumpang harus duduk dengan sabuk pengaman. akhirnya aku biarkan saja ara menangis sampai kelelahan dan tertidur. tapi tidur ara tidak lama. apalagi waktu itu pesawat berputar-putar cukup lama, kira-kira hampir setengah jaman, tak juga mendarat. bukan karena cuaca, tapi landasan yang sibuk. duh rasanya kemrungsung, mana ara mulai rewel lagi. dua orang mas-mas dan seorang mbak-mbak coba ngledo ara supaya nggak nangis. tapi, begitu ledoan mereka berhenti, ara rewel lagi. duuuh, rasanya itu capek lahir batin hehe.

begitu pesawat mendarat dan kemi keluar pesawat, ara tampak lega. ia nggak ngak-ngik seperti sebelumnya. akhirnya, sampai juga, begitu mungkin pikir ara hehe. aku juga lega, bersyukur, berhasil menempuh perjalanan bersama ara dengan aman dan selamat sampai jogja.
Continue reading...

01 February, 2017

0 comments 2/01/2017 12:12:00 PM

Merawat Bayi di Belanda

Posted by isma - Filed under , ,

kelahiran baby ara memang menjadi pengalaman melahirkan yang ketiga bagi saya. tapi meskipun ketiganya lahir normal, setiap kelahiran ada kisahnya sendiri-sendiri. demikian juga dengan perawatan bayinya, apalagi karena kali ini melahirkannya di belanda. segala urusan perawatan bayinya tentu saja berbeda dari dua pengalaman saya sebelumnya merawat kak abiq dan kak dek atha.

ara lahir tengah malam setelah melewati perjuangan induksi sepanjang hampir dua hari sebelumnya. ketika akan memutus tali pusar, dokter mempersilakan salah satu di antara saya dan teman-teman yang menunggui persalinan untuk memotong. buatku ini hal baru. karena pengalaman bayi kak abiq dan kak dek atha, bidan yang melakukannya. semula dokter mempersilakan saya, tapi posisi saya tidak memungkinkan untuk memotong tali pusar. "coba desty, kamu yang potong," saya meminta seorang teman. meski agak ragu, desty pun memotong tali pusar ara.

sebelum melahirkan, saya sempat bertanya tentang ari-ari. saya bilang, kalau di Indonesia, ari-arinya kami masukkan wadah khusus yang terbuat dari tanah liat lalu dipendam di tanah. jawab bidan, di sini tidak ada tradisi itu. plasenta dibuang, tentu sesuai aturan medis yang berlaku. saya tidak bertanya detil lagi, bagaimana dan ke mana membuangnya. lagi pula, saya pikir, andai ari-ari mau dipendam di belakang apartement, bisa jadi malah menimbulkan masalah baru. karena tanahnya juga bukan milik saya, haha nanti malah kena pasal, repot!

ara dibiarkan di dada saya untuk beberapa lama. ia menangis dan saya mendekapnya. kulit kami bersentuhan. rasanya lega sekali. hilang semua penat dan lelah menggendong perut besar selama 9 bulan. kemudian perawat memindahkan ara dan meletakkan di meja ganti. ara tidak dimandikan. badannya dilap dengan kain untuk dikeringkan. perawat memakaikan popok celana, jamper, lalu setelan kaos lengan panjang dan celana, serta penutup kepala. setelah saya susui, ara ditidurkan di box berselimut hangat. tidak dipakein gurita atau dibedong. tidak juga memakai minyak telon, bedak, atau minyak wangi. ara tertidur lelap, sementara perawat yang lain mengganti sprei bed dan selimut. saya bisa tidur sampai sekitar pukul 5 pagi.

19 juli 2016

esok hari sekitar pukul 10.00 kami pulang ke apartement diantar teh meira pakai mobil. saya lupa apakah pada hari itu kraamzorg sudah datang, atau keesokan harinya. harus membuka buku laporan kraamzorg dulu ini hehe. tapi begitu ia datang, ia bertanya, apa saja yang bisa saya kerjakan? saya bilang, "saya tidak tahu. bagaimana biasanya saja." akhirnya ia sendiri yang menentukan dengan terlebih dahulu bertanya apa yang saya butuhkan. biasanya ia akan membuatkan air lemon hangat, jus buah, atau irisan buah untuk aku sarapan. lalu menyapu lantai dengan vakum, sambil memasukkan cucian ke mesin. atau kadang ia akan pegang ara, dan menyilakan aku untuk istirahat atau tidur.

kraamzorg akan melakukan pengecekan kondisi ibu, suhu badan dan bekas jahitan. lalu akan memeriksa juga suhu dan kondisi bayi. ia bertanya detil, seperti, berapa kali minum asi, berapa kali BAB dan pipis yang sempat bikin saya senewen. lha kan pakai diapers, gimana caranya tahu ia pipis berapa kali? haha. pokoknya detil. lalu akan ia catat dalam buku diary kraamzorg. ia tidak memandikan ara setiap hari. tapi dua hari sekali. kalau cuaca panas, ara malah cuma pakai jamper lengan pendek, tanpa celana atau kaos kaki. sementara penutup kepala, harus terus dipakai. katanya melindungi bagian ubun-ubun. cara ia menggendong ara juga enteng banget. tidak seperti di indonesia yang harus ditidurin cara gendongnya, kraamzorg menggendongnya dengan tangan satu, atau ditaruh di pundak.

selain kraamzorg yang datang selama satu minggu setiap harinya, pengecekan rutin juga dilakukan oleh bidan dan petugas centrum voor jeugd en gezin atau bagian tumbuh kembang anak. kita tidak usah bingung bagaimana menghubungi mereka. karena sistem data di belanda sudah terkoneksi satu sama lain. karena kita juga sudah register ke gementee, data kelahiran ini akan bisa dilihat juga oleh instanti-instansi terkait. jadi tinggal tunggu di rumah, mereka akan menelpon kita satu per satu. siapa, dari mana, kapan akan datang, dan akan melakukan apa. saya tidak tahu apakah semua ini gratis atau tidak. karena kalaupun bayar, sudah diurus langsung ke asuransi hehe.

catatan mbak kraamzorg untuk pesanan alat pompa asi

bidan akan mengobservasi terutama kondisi ibu. sementara petugas atau perawat dari centrum voor jeugd en gezin lebih banyak berhubungan dengan bayi. pertama, seorang petugas datang mengambil darah ara. tujuannya untuk deteksi dini kemungkinan ada penyakit bawaan. ini pun sebelumnya saya ditanya, apakah saya mengizinkan? saya bilang, silakan. dan nanti jika ada masalah mereka akan menghubungi saya. sampel darah yang sudah diambil harus kita kirimkan ke alamat tertentu yang ditunjukkan oleh petugas. ia juga melakukan test pendengaran dan penglihatan ara. ia membawa alat cek yang ditempelkan di telinga. alat itu akan mendeteksi apakah pendengarannya baik atau ada gangguan. ara dapat testnya sebanyak dua kali karena pada test pertama belum bisa terdeteksi. ini mungkin terjadi karena telinganya masih kotor barangkali sisa-sisa dari kotoran yang dibawa ketika lahir. tapi pada test kedua pada hari yang lain, hasilnya positif.

dari centrum voor jeugd en gezin juga akan menghubungi kita terkait imunisasi dan pemeriksaan rutin bayi. mereka akan memberikan buku sehat untuk selalu dibawa ketika kontrol, dan juga kartu imunisasi yang dikirimkan oleh pemerintah kota ke alamat apartement kita. setiap kali kontrol buat janji, dan harus ditepati. kalau tidak, akan kena denda :) untuk pemeriksaan awal, ada seorang perawat datang ke rumah, menjelaskan tentang konsep tumbuh kembang anak yang baik, mencakup aspek ekonomi, kesehatan, psikologis, dan sosial. kita bisa berkonsultasi apa pun berkaitan ketiga aspek itu.

setiap satu bulan sekali saya memeriksakan kesehatan ara ke centrum voor jeugd en gezin. berselang, jika bulan ini konsultasi sama perawat, besoknya sama dokter. kadang pas jadwalnya imunisasi, kadang tidak. BB, lingkar kepala, dan panjang ara diukur. dokter juga memeriksa semua aspek kesehatan bayi, misalnya, kecenderungan penglihatan, jika tidak center, maka arah meletakkan kepala ketiga tidur atau menyusui harus diseimbangkan. saya juga ditanya-tanya tentang keadaan di rumah, "are you happy?" "do you have enough sleep?" dll.

mereka tidak memberikan resep obat atau vitamin. malah pernah ara sedang flu berat, cuma dikasih cara tradisional dengan menggunakan bawang merah haha. waktu ara panas karena cacar dan saya telpon huisart untuk bikin janji, bukannya hari itu juga dikasih waktu tapi dikasih jadwal empat hari kemudian. dan ternyata tanpa obat apa pun, cacar ara bisa sembuh dengan sendirinya. paling banter obat andalan dokter di belanda adalah parasetamol. sama seperti ketika usai melahirkan, saya cuma dikasih parasetamol untuk menghilangkan keluhan nyeri apa pun. makanya jangan heran, kalau beberapa teman selalu membawa obat-obatan pasaran di indonesia untuk bekal di belanda hehe.

jadi sejauh pengalaman saya, merawat bayi di belanda itu mudah-mudah saja. segala hal sudah ditangani dengan baik dan sistematis.
Continue reading...

04 January, 2017

1 comments 1/04/2017 11:18:00 AM

Hamil di Belanda

Posted by isma - Filed under , ,

surprise kehamilan yang saya dapatkan memberikan pengalaman luar biasa soal hamil dan melahirkan di belanda. tentu ada bedanya, karena berbeda kebiasaan, sistem, juga budayanya.

pertama soal perawatan kehamilan. di indonesia begitu tahu hamil, kita bisa langsung datang ke bidan atau rumah sakit seperti umumnya orang sakit yang periksa ke dokter. tapi, tidak dengan di belanda. kita harus memastikan dulu soal asuransi, apakah mengcover biaya persalinan atau tidak. soal ini bisa dibaca di sini. karena biaya pemeriksaan rutin dan persalinan di belanda cukup mahal. begitu tulis beberapa blog yang saya baca. kalau asuransi kita mengcover, berarti semua aman :)

terkait perawatan, hal kedua yang harus dipastikan adalah huisart (dokter keluarga). soalnya pas saya daftar ke bidan atau rumah sakit, pasti ditanya siapa huisart-nya. tapi memang begitu kita tiba di belanda, kita harus mendaftar ke huisart terdekat sebagai rujukan saat kita mau periksa karena sakit. jadi kita tidak bisa sembarang periksa, kecuali emergency bisa langsung ke rumah sakit. tapi itu pun pasti akan ditaya siapa huisart kita dan akan ada report yang dikirim rumah sakit ke huisart.

kalau huisart sudah beres, kita mencari bidan yang akan menangani kehamilan kita. di belanda tenaga medis pertama yang kita rujuk untuk pemeriksaan kehamilan adalah bidan, midwife. mereka praktiknya di klinik. baru kalau misalnya ada masalah pada kehamilan kita, bidan akan membuat surat rujukan untuk kita melanjutkan pemeriksaan ke rumah sakit. sampai kemudian normal lagi, kita kembali kontrol ke bidan. tapi, kalau ada masalah lagi dan perlu penanganan dokter, ya kita dirujuk lagi ke dokter. seperti kasus saya, dari bidan kemudian dokter, lalu kembali kontrol ke bidan, tapi karena jelang lahir janin saya diketahui posisinya melintang, akhirnya kembali dirujuk ke rumah sakit.

informasi tentang bidan saya dapatkan dari pihak asuransi. ketika saya apply asuransi pertama kali, saya bilang kalau sedang hamil. kemudian mereka menghubungkan saya dengan bagian, apa ya namanya saya lupa, tapi ia memberikan saya informasi tentang nomor-nomor yang perlu saya hubungi, salah satunya bidan. ia membantu saya mencari klinik bidan mana yang paling dekat dengan lokasi saya tinggal. termasuk juga rumah sakit jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

salah satu sudut ruang tunggu klinik

setelah sukses mendaftar menjadi pasien di klinik bidan, kontak lain yang harus dihubungi adalah jasa kraamzorg (perawat maternitas). ini adalah perawat yang akan datang ke rumah kita pasca melahirkan. ia akan membantu merawat bayi, membersihkan rumah, memasak, juga mengajari kita tentang seluk beluk perawatan dan tumbuh kembang bayi sesuai sistem di belanda. usai menghubungi mereka, biasanya akan ada satu orang dari penyedia jasa ini yang datang ke rumah kita untuk observasi. ia akan melihat keadaan rumah dan fasilitas untuk memastikan alat-alat tambahan yang dibutuhkan.

pihak kraamzorg punya aturan misalnya tinggi tempat tidur harus sepersekian inchi untuk memudahkan kerja kraamzorg. jika bed-nya rendah, maka dibutuhkan alat untuk meninggikan bed yang kita sewa dari penyedia alat-alat tersebut. selain alat ini, diperlukan juga botol penghangat suhu yang diletakkan di dekat bed bayi. karena suhu tempat tidur bayi ada aturannya harus sepersekian derajat. jasa penyewaan ini juga menyediakan tempat duduk untuk mandi si ibu. nah untuk menyewa ini, kita harus kontak perusahaanya melalui website dan telpon. lalu barang-barang akan diantarkan dan dibantupasangkan di rumah oleh mereka.

selain membahas tentang alat-alat ini, kraamzorg yang datang ke rumah juga menjelaskan tentang tugas-tugas, jam kerja, juga biaya yang harus kita tanggung. seingat saya, mereka bekerja selama 50 sekian jam, dan 24 jamnya ditanggung oleh asuransi. sisanya kita bayar sendiri. per jamnya sekitar 4 euro. ia juga menjelaskan dalam satu hari kraamzorg akan bekerja selama berapa jam. sesuai pengalaman saya, kerja kraamzorg yang datang ke rumah waktu itu selama seminggu. tiga hari full dari jam 8 pagi sampai jam 5, kemudian dikurangi hingga hari terakhir cuma tiga jam-an.

kita juga diminta untuk mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan peralatan ibu dan bayi pasca-persalinan, seperti alas plastik, perban puser, termometer dll. kita bisa order ke website kraamzorg yang biasanya sudah dikemas satu paket peralatan maternitas. atau ada juga pihak asuransi yang menyediakan, jadi kita tinggal telpon dan bilang kita membutuhkan paket alat-alat tersebut. paket alat-alat ini juga dibedakan antara ibu yang akan melahirkan di RS dengan yang akan melahirkan di rumah. saya tidak tahu persis perbedaannya karena yang saya order waktu itu untuk persalinan di rumah sakit. kalau yang persalinan di rumah mungkin harus lebih lengkap lagi peralatannya.

ohya, melahirkan di rumah sudah biasa dilakukan oleh ibu-ibu di belanda. nanti begitu bidan ditelpon, ia akan datang ke rumah. saya sebelumnya ingin melahirkan di rumah. tapi karena kondisi bayi melintang dan suami belum tiba di belanda, saya putuskan untuk melahirkan di rumah sakit. selain itu, bidan atau dokter akan berusaha untuk membantu ibu melahirkan secara normal. misalnya kasus saya, meskipun bayi posisinya melintang, mereka melakukan cara untuk bisa melahirkan normal.

setelah semua pihak berwajib (hehe) sudah dihubungi, kita bisa melakukan kontrol rutin dengan tenang ke klinik bidan. pertama kali menghubungi biasanya kita diminta mengisi formulir, lalu akan dibuatkan janji kapan untuk mulai kontrol. usai kontrol pertama akan dibuatkan janji untuk kontrol selanjutnya. kita harus mengingat dan menepati janji ini. karena kalau lupa dan nggak datang akan kena denda hehe. kalau misalnya kontrol selanjutnya kita harus ke rumah sakit, nanti bidan yang akan menghubungi RS dan membuatkan janji. pokoknya di sini serba scheduling dan harus ditepati.

di ruang periksa RS waktu memutar posisi bayi

berbeda dengan di Indonesia, di belanda bidan atau dokter tidak akan memberikan vitamin atau obat untuk ibu hamil. mereka juga tidak pernah menganjurkan untuk minum susu hamil. waktu saya tanya tentang anjuran makanan dan minuman, jawaban bidan, banyak-banyak makan sayur dan buah. dalam memeriksa kandungan bidan tidak menggunakan USG. ia mendengarkan detak jatung dengan alat dengar detak jantung, meraba perut si ibu untuk memastikan posisi janin, dan mengambil darah untuk pemeriksaan jika dibutuhkan.

dari pemeriksaan darah itu kalau ditemukan misalnya kurang zat besi, bidan kemudian akan memberikan resep tablet zat besi untuk dibeli di apotik. jika ada masalah gula, kita akan dirujuk ke RS untuk bertemu ahli gizi yang akan membantu kita melakukan diet gula. waktu itu saya harus bolak-balik ke RS untuk masalah ini. padahal diagnosanya baru "potensi gula" karena ada turunan gula dari bapak saya. itu saja sudah diantisipasi sedemikian rupa dengan skema diet makanan bergula. saya bolak-balik untuk pengambilan darah, sebelum dan sesudah melakukan diet. sehari bisa diambil dua kali sesuai interval waktunya.

saya kontrol bidan satu kali sebulan. tapi kemudian menjadi dua minggu sekali, apalagi ketika menjelang hari perkiraan lahir dan kondisi janin masih melintang, saya jadi sering datang ke rumah sakit. kalau sudah hamil tua, yang harus dipegang adalah nomor telpon bidan atau gebortehuis (ruang bersalin) di RS, dan nomor kraamzorg untuk memberitahukan kalau sudah melahirkan. begitu ada tanda-tanda, segera hubungi nomor tersebut. untuk kasus saya karena tidak ada kontraksi dan akan dipacu, saya masih bisa menunggu. waktu saya telpon gebortehuis, mereka tidak ada kamar kosong yang tersedia dan meminta saya untuk telpon lagi esok harinya.

usai melahirkan, jika di rumah sakit dan tidak ada masalah, kita sudah dibolehkan pulang beberapa jam setelahnya. saya waktu itu melahirkan pukul 12 malam, esok harinya pukul 10 saya sudah pulang. lalu kraamzorg akan mulai bekerja pada hari pertama kita sampai di rumah. lain harinya lagi bidan akan melakukan pemeriksaan rutin kepada bayi juga ibunya. dan tak ketinggalan, huisart kita juga akan mengirimkan kartu ucapan selamat atas kelahiran bayi kita.

sepajang pengalaman saya merasakan hamil di belanda, entah ya, rasanya menyenangkan sekali. rasanya kehamilan itu suatu anugerah dan setiap orang yang saya jumpai ikut merasakan kebahagian mendapatkan anugerah ini. apalagi bidan dan para dokter. mereka bisa membuat saya yang hamil sendirian di negeri orang merasa tenang, aman, dan nyaman. sepertinya, mungkin karena semua sudah dipersiapkan dan dihandle oleh bagiannya masing-masing. saya tidak pusing dan was-was soal biaya, karena sudah diselesaikan oleh asuransi. saya tidak bingung soal keadaan saya, karena diagnosa dan tindakan mereka dilakukan berdasarkan pemeriksaan yang valid.

Continue reading...

12 October, 2016

2 comments 10/12/2016 11:23:00 AM

yah, begitulah ....

Posted by isma - Filed under , ,

Dulu ketika sekolah di Hawaii, aku bisa fokus bekerja dan menulis juga mengikuti kegiatan ekstra kemahasiswaan, aktif ini dan itu. Tapi jauh dari keluarga rasanya jadi nelongso. Sekarang, tidak merasa nalangsa, bahkan bisa mengajak keluarga merasakan pengalaman tinggal di luar negeri. Tapi, waktu untuk bekerja, menulis dan mengikuti kegiatan kemahasiswaan jadi terbatas. Apalagi sambil merawat si kecil, ahh benar-benar tidak ada waktu untuk keluar lama. Ara selalu menangis menunggui emaknya yang sedang kuliah. Ia nggak suka botol susu. Jadi praktis sampai ia enam bulan, aku harus selalu di dekatnya.

Repot. Sedih. Kemrungsung. Stress. Memang iya rasanya seperti itu. Tapi, pengalaman mengajarkan aku untuk tidak diam. Teruslah berjalan. Optimis. Meskipun pelan dan lambat tapi tetap bergerak. Aku pernah merasakan bagaimana stressnya menyelesaikan pekerjaan dan penelitian waktu di rumah, sambil menjadi ibu rumah tangga, nidurin anak yang akhirnya ikut terlelap dan malas untuk bangun bekerja, keasyikan memasak dan bersantai ria. Dan, tulisan baru bisa selesai setelah berhadapan satu lawan satu dengan deadline, dan nggak bisa endo haha.

Bersyukur punya supervisor yang supportive. Percaya penuh sama mahasiswa bimbingannya. Enak sih, tapi aku harus pintar mengontrol diri untuk tetap on track. Ini yang menantang, tidak mudah. Bersyukur juga ada suami yang sangat mendukung, dan anak-anak yang memang lebih sering bikin ribut haha. Kadang merasa iri melihat kolega seangkatan, kebetulan cowok semua, yang sudah melahap puluhan buku, menulis banyak sampai berbab-bab. Sedangkan aku, ahh proposal saja masih gundul, belum disemai benih apa pun. Merevisi juga jalannya kayak siput. Tunuk-tunuk nggak sampai-sampai. Tidak bisa aktif seperti layaknya mahasiswa PhD. Ikut diskusi sana dan sini, jalan-jalan ke sini dan ke sana.

Ah sudahlah. Setiap orang membawa baggage situasi dan kondisi masing-masing yang tentu tidak bisa dibuat sama. Aku memutuskan field work satu tahun juga dengan pertimbangan baggage itu. Mana yang lebih baik untuk aku dan keluarga. Yang paling penting buatku adalah tetap optimis, live my life, terus mengayuh pedal agar sepeda terus berjalan sampai tujuan. Tak perlu merasa paling bodoh dan kuper, seperti kata artikel itu, pede saja. Lha kalau kenyataannya begitu, mau bagaimana haha. Hargailah usaha dan semangat sendiri, menempuh S3 saat usia sudah lanjut, sambil momong bayi dan menyusui. Sedangkan pada saat dan kondisi yang sama, justru tidak sedikit perempuan yang menyerah.

Terimalah apa adanya, nikmati dan syukuri semuanya, termasuk keterbatasan-keterbatasan, dan percaya, semua akan indah pada waktunya.

Continue reading...

18 July, 2016

15 comments 7/18/2016 06:11:00 PM

Melahirkan di Leiden

Posted by isma - Filed under , ,
bersama farabi, om siaga-nya ara

Secantik apa pun kita membuat rencana, Tuhan tetap yang menentukan.

Well, begitulah inti ceritanya. Sebelumnya saya tak membayangkan melahirkan tanpa ditemani suami atau keluarga. Tapi, justru Tuhan memberikan saya pengalaman yang tak terbayangkan itu di Leiden. Dimulai dengan persoalan dokumen akta nikah yang harus diterjemah karena ada perbedaan pendapat antara KUA Kecamatan dan Kemenag pusat soal tanggal pada tanda tangan yang tertera di buku nikah duplikat. Proses ini cukup makan waktu sehingga memperlambat aplikasi visa keluarga, ditambah lama proses menunggu, dan berbenturan juga dengan liburan hari raya. Saya bahkan harus resechedule tiket untuk suami dan anak-anak sampai tiga kali. Kali pertama dan kedua karena visa belum jadi, sementara kali ketiga karena ayah tiba-tiba sakit dan harus opname. Lengkap sudah.

Rencana yang lain adalah keinginan saya melahirkan normal di rumah saja. Karena dua persalinan sebelumnya juga di rumah dan normal. Tapi, ternyata scenario Tuhan berkata lain. Posisi adik bayi melintang, jadi saya dirujuk konsultasi ke gynecolog dan harus melahirkan di rumah sakit. “Biar sekalian, pengalamannya komplit,” gitu kata teman-teman. Itu pun diputuskan dengan jalan induksi, jika memang sampai HPL belum ada kontraksi alami. Pernah satu kali gynecolog berusaha memutar posisi bayi, namun hasilnya adik bayi kembali ke posisi semula yang melintang. Jadi, sepertinya percuma diputar lagi, kecuali sekalian dilahirkan.

Tanggal 4 July 2016, saya mulai check up di LUMC, dan setelah pemeriksaan, belum memungkinkan untuk dilakukan persalinan karena cervix masih tertutup kuat. Saya diminta datang kembali tanggal 8 July 2016. Hasil pemeriksaan masih sama, dan diminta datang lagi tanggal 11 July 2016. Kali ini sang bidan memberikan saya pilihan, hari apa akan melahirkan dengan induksi. Saya pilih hari Rabu, 13 July 2016. Ia juga menjelaskan prosedur induksi dan alat yang akan digunakan. Semua seperti sudah tergambar jelas. Namun, ketika hari Rabu saya telpon rumah sakit, bagian poliklinik persalinan menjawab kalau belum ada kamar kosong. Saya diminta telpon hari berikutnya, untuk memastikan kamar kosong.

Bersyukur, hari Kamis, 14 July 2016, ada kamar kosong. Saya berangkat ke LUMC diantar Mia dan Farabi. Masuk ke ruangan periksa, saya masih belum yakin apakah jadi akan melahirkan saat itu. Apalagi setelah pengecekan cervix, bidan memberikan saya dua opsi, melahirkan sekarang dengan induksi, atau menunggu sampai hari Minggu supaya cervix lebih matang atau kontraksi alami sewaktu-waktu. Namun jika tidak ada kontraksi, tetap akan dilakukan induksi pada hari Minggu. Daripada menunggu lagi, dan malah lebih berisiko jika ketuban pecah duluan dengan posisi bayi melintang, akhirnya saya putuskan untuk mulai induksi sore itu juga.

Sekitar pukul 6 sore, saya dipindahkan ke ruangan yang lebih luas. bidan bilang, "Kamu akan bermalam di sini sampai bayimu lahir." Ruangan baru ini jauh lebih lengkap peralatannya, juga dilengkapi sofa panjang yang bisa dipakai tidur untuk yang menemani. Selang beberapa menit, bidan memberi saya tablet induksi pertama, dan berlanjut setiap empat jam sekali hingga sore hari keesokan harinya. Kontraksi sudah mulai saya rasakan. Selama proses ini, detak jantung bayi dan ibu terus dimonitor dengan alat yang ditempelkan di perut saya dan rekamannya muncul di monitor yang ada di dalam ruangan dan di ruang jaga perawat.

Perasaan saya campur aduk, tapi cenderung nelangsa. Terbaring di kamar bersalin cuma ditemani kawan-kawan mahasiswa dari Indonesia. “Semangat mbak, semangat!” seru Mia. Tapi bukannya semangat, saya malah nambah nelangsa. Apalagi ketika seorang bidan masuk kamar, tangisan saya benar-benar pecah. “Apa yang membuat kamu menangis?” ia bertanya. “Karena sakit?” Saya menggeleng. Sakit kontraksi setelah induksi tablet atau ketika bidan memeriksa cervix, menurut saya sudah lakunya begitu dan saya masih bisa menikmatinya. Tapi, merasa sendiri dan jauh dari suami dan keluarga saat peristiwa besar begini, rasa-rasanya saya adalah orang paling nelangsa sedunia. Si bidan lalu meraih tangan saya sambil berkata, “Kami di sini akan bekerja dengan baik membantu persalinanmu. Kamu akan aman dan baik-baik saja di sini. Kamu percaya kami kan?” Saya mengangguk pelan.

Setelah habis 4 tablet, Jumat sore, 15 July 2016, dokter memeriksa pembukaan dan memutuskan untuk memulai proses persalinan. Ia ditemani seorang dokter lain, dokter intern, dan perawat. Mereka masih muda dan tampak cekatan bekerja. Dokter pertama, memecah ketuban secara manual, bersamaan dengan dokter yang kedua memutar posisi bayi agar kepala berada di bawah perut masuk ke rongga panggul. Sementara dokter intern dan perawat menyeka dan membersihkan air ketuban yang merembes di tempat tidur. Saya, hanya bisa menarik napas panjang berkali-kali. "Yeay, malam ini bayinya akan lahir," sorak dokter cantik berambut hitam sebahu dengan senang.

Setelah air ketuban habis dan sprei basah diganti, induksi diganti dengan infus. Saya sudah tidak bisa turun dari tempat tidur. Berbaring dengan alat detektor jantung bayi dan ibu juga ritme kontraksi yang menempel di perut. Kekuatan dan ritme kontraksi naik perlahan-lahan. Ini masa-masa yang paling berat, apalagi kata perawat, pembukaan hanya bertambah satu setiap jamnya. Pada cairan infus itu juga terkandung zat untuk relaksasi, rasanya seperti mengantuk, tapi tetap saja tidak bisa tidur karena menahan rasa tidak karuan di jalan lahir. Di sini bedanya melahirkan dengan kontraksi alami. Ketuban akan pecah dengan sendirinya dan disusul dengan pembukaan dan kontraksi hebat yang mengajak ibu untuk mengejan. Bisa jadi dalam satu jam berikutnya bayi sudah bisa lahir.

Tapi, saya musti menunggu dari sekitar pukul 6 sore hingga pukul 10 malam. Beberapa kali memanggil perawat dan bertanya, "Sampai kapan ini akan makan waktu? Kapan dokter akan mengecek lagi?" dan berkali-kali perawat coba menenangkan. Ketika kontraksi kuat datang, saya merasakan tekanan luar biasa di perut bagian bawah, seperti ada batu sebesar kepala bergerak meregangkan jalan lahir, panas dan kuat menekan. Saya cuma bisa menarik napas dan menggenggam erat tangan dua orang teman di sebelah kanan dan kiri saya. Saya terbiasa menahan sakit, dan itu menjadi latihan untuk saya merasakan sakit jelang melahirkan ini.

Kemudian sekitar pukul 10 malam ketika kontraksi menjadi lebih keras dan kuat, saya sudah tidak kuat lagi untuk menahan keinginan mengejan. Akhirnya dokter kandungan datang, memeriksa serviks dan mengatakan kalau sudah ada pembukaan 8 dan sudah mungkin untuk mendorong. Mereka lalu bersiap untuk persalinan. Ada seorang ginekolog, dokter magang, dan seorang perawat dan 3 teman-teman saya. Ada juga monitor yang menampilkan detak jantung saya dan bayi juga kontraksi. sehingga semua orang tahu apakah saya memiliki kontraksi atau tidak. Mereka menyemangati saya untuk mengejan, dan saya beberapa kali coba mengejan meskipun itu tidak mudah. Di tengah proses itu, detak jantung bayi tampak menurun dan itu membuat ginekolog khawatir. Ia coba menarik bayi tapi masih belum keluar. Dari video, saya bisa lihat, ia mau menggunakan alat seperti sendok untuk mengambil bayi, tapi kemudian diurungkan karena akhirnya saya berhasil mengejan, mendorong bayi keluar.

Rasanya lega. Saya menangis sambil memeluk bayi yang diletakkan di dada saya. Bayi perempuan lahir dengan berat 3,7kg. Teman saya, Desty, saya minta untuk mengazani Ara, panggilan untuk Iolana Narashansha, yang kemudian diulang oleh ayah melalui telpon. Ini benar-benar heroic dan epic. Ayah juga melantunkan iqamah lewat telpon. Sebelum tidur, saya mandi dan berganti baju. Baby Ara tidak rewel. Setelah menyusu, ia terlelap sampai pukul 5 pagi. Saya bisa beristirahat dengan baik. Saya meninggalkan rumah sakit sekitar pukul 10 pagi, dijemput oleh Teh Meira dengan mobil.

Saya bersyukur, semua berjalan lancar. Tidak ada komplikasi dan semuanya sehat juga selamat. Saya bersyukur memiliki banyak teman yang baik dan penuh perhatian di sini. Kebaikan mereka membuat saya merasa mudah walaupun saya jauh dari keluarga. Saya juga bersyukur, semua telah dimudahkan oleh Tuhan. Mendapatkan pengalaman ajaib yang tak terbayangkan sebelumnya.

Continue reading...

28 February, 2016

4 comments 2/28/2016 11:37:00 PM

Asuransi di Negeri Asing

Posted by isma - Filed under ,

leiden yang muram

sore itu sore paling dramatis sepanjang minggu-minggu pertama saya di leiden. berjalan gontai keluar dari kantor asuransi zorg en zekerheid (ZZ), dengan mata berair nyaris mengalir di pipi. menengok ke kanan dan ke kiri seperti kehilangan arah di tempat asing sendirian. beruntung pandangan saya mengarah ke sebuah halte bis di sebelah kantor ZZ dan bis no 2 segera tiba di halte beberapa menit kemudian. keinginan saya cuma satu, segera sampai di kamar kos dan menangis selepas mungkin.

selain bis no 2, ada juga bis no 1 yang biasa saya naiki untuk sampai ke tempat kos. cuma karena kali ini saya tidak naik dari leiden centraal, saya masih belum yakin apakah bis ini mengarah ke tujuan yang sama. ini masih minggu-minggu pertama dan saya belum hafal betul jalan-jalan di sekitaran pusat kota. karena takut akan tersesat, di halte prinsessekade saya turun, dan saat itu saya baru sadar kalau bis sebenarnya akan menuju leiden centraal. halte tempat saya turun terletak di gang masuk ke centrum, dan hanya satu halte lagi akan sampai di centraal. ahh, sayang sekali. saya yang sedang sedih, jadi semakin sedih.

saya sudah benar-benar menangis, ketika berjalan menuju bangku di pinggir kanal. duduk sendirian sambil tersedu. sesekali perut saya bergerak, mendapat tendangan kecil dari dalam. oh malangnya nasibmu, nak. hampir tiga minggu tapi belum juga mendapat pelayanan kesehatan dari bidan atau dokter karena aplikasi asuransi yang tak kunjung selesai. dua kali berjalan kaki dari kampus ke kantor ZZ yang lumayan jauh tak juga mendapatkan hasil. saya meruntuki kebetulan-kebetulan, kenapa ketika pertama kali ke ZZ, residence permit belum jadi. kenapa juga data biometric saya bermasalah sehingga residence permit belum jadi begitu saya tiba di leiden. kenapa juga saya tidak mengerti kalau biometric bermasalah dan harusnya ke IND di rijswik, bukannya ke horfddrof. tidak ada selesainya saya menyesali sambil menangis.

sore itu, saya tiba-tiba terpikir untuk mengadukan masalah per-income-an dari ZZ yang notabene suplier insurance untuk kampus kepada international student desk (ISD) dan penanggung jawab kemahasiswaan PhD penerima beasiswa LPDP. pikir saya, harusnya sudah ada MoU dan kesepahaman bahwa tidak semua mahasiswa PhD mendapat income dari belanda, dan tidak menjadi persoalan lagi. saya juga heran, karena ternyata teman saya yang juga PhD beasiswa bisa diterima aplikasinya oleh ZZ lewat online, sementara kenapa aplikasi saya ditolak. rasanya, saya menjadi mahasiswa paling nelangsa seantero leiden.

lonely

setelah menangis di tepi kanal sore itu, saya jadi agak lega. pasti ada jalan, pikir saya. saya mulai mencari informasi, tentang asuransi yang tidak mempermasalahkan income dari belanda. saya browse lewat google dan menemukan website 'home in leiden'. saya iseng berkirim email, bertanya tentang asuransi kepada adminnya. saya juga bertanya kepada senior lain, yang pernah hamil di leiden, dan saya mendapatkan informasi tentang international insurance, juga public dan private dutch insurance. kebanyakan international insurance tidak mengkover biaya persalinan, berbeda dengan public atau private dutch insurance. hanya saja, public dutch insurance mensyaratkan kita mendapatkan income dari belanda, seperti ZZ. jadi, alternatifnya adalah mengirim aplikasi ke private dutch insurance.

saya mulai merasa tenang. sampai saya menerima email dari manager keuangan departemen yang mengabarkan kalau ia mendapat forward email dari 'home in leiden' tentang persoalan asuransi, dan ia memastikan langsung ke penanggung jawab kemahasiswaan, juga ke kantor ZZ. ia memang menawarkan bantuan untuk membuatkan endorsment letter untuk apply ke ZZ, tapi satu hal yang membuat saya kembali tidak tenang adalah semacam 'ultimatum' bahwa jika sampai akhir februari tidak mendapatkan asuransi, saya terpaksa harus pulang ke indonesia. ia juga menambahkan kalau ia mendapat laporan dari penanggung jawab kemahasiswaan, bahwa persoalan asuransi ini terjadi karena saya tidak tanggap dan cepat bergerak. oh my goodness. saya tentu saja kecewa, marah, juga sedih. merasa sudah disalahkan. padahal semua murni kebetulan karena aplikasi asuransi tergantung pada residence permit saya yang belum jadi.

ah tapi sudahlah. toh mereka, dari ISD juga koordinator kemahasiswaan tidak bisa membantu banyak. saya jadi tahu bahwa mereka tidak banyak mengerti tentang asuransi. response yang mereka berikan lewat email justru menyiratkan bahwa saya tidak punya harapan untuk mendapatkan asuransi di belanda karena kehamilan saya dan tidak adanya income. termasuk ibu manager keuangan. alih-alih memberikan alternatif asuransi, ia malah bertanya kepada saya, asuransi mana yang akan saya coba apply selain ZZ. untunglah saya sudah mendapatkan informasi tentang nama-nama asuransi lain, seperti ONVZ dan Allianz. dan ia membantu saya untuk apply asuransi ONVZ sore itu. meskipun tetap saja, keputusan tentang diterima atau tidaknya masih belum bisa dipastikan.

saya tidak berhenti dengan menunggu jawaban dari ONVZ yang membutuhkan waktu sekitar satu minggu. seorang senior memberitahu kalau ada asuransi bernama Interpolis dan ia memberikan diskon untuk pengguna rekening Rabobank. terdorong rasa ingin segera selesai dari persoalan asuransi, saya menelpon Interpolis yang nomornya saya dapat dari chatting dengan Rabobank. di luar dugaan, customer service yang berbicara dengan saya di ujung telepon dengan telaten menjawab setiap pertanyaan saya. jawabannya menyenangkan, terutama soal bahwa saya eligible untuk apply interpolis meskipun tidak mendapatkan income di belanda. ia bahkan menawarkan apakah akan langsung apply saat itu juga. oh my god, rasanya saya tidak percaya. mendengar tawaran itu mata saya berkaca-kaca, bahkan hampir menangis saking bahagianya. tapi saya tidak langsung apply. saya bertanya kepada manager keuangan, what should i do. katanya, semakin cepat saya mendapatkan asuransi akan semakin baik buat saya, dan ia akan membatalkan aplikasi saya ke ONVZ.

badai pasti berlalu

rasanya tiba-tiba mendung winter perlahan menghilang. berganti dengan matahari spring yang hangat dan penuh harapan. mendaftar asuransi Interpolis ternyata jauh lebih simpel karena cukup lewat telpon dan bagian CS yang mengisikan formulir asuransi dari ujung telpon. ia memberikan masukan tentang produk apa yang bisa saya pakai mengingat saya dalam keadaan hamil. setelah urusan administrasi selesai, ia kemudian menyambungkan saya ke bagian maternity care yang membantu saya mencari bidan dan kraamzorg atau perawat pasca melahirkan. ah, akhirnya nak, kamu akan mendapatkan pantauan kesehatan intensive dari bidan atau dokter di negeri asing ini.

berurusan dengan asuransi memang hal baru buat saya, dan saya mendapatkan pelajaran berharga tentang hal-hal administrasi di belanda. seperti temen saya bilang, urusan administrasi di belanda tidak bisa diselesaikan dengan negosiasi, akan tetapi ikuti hitam putih aturannya yang berlaku, dan tak perlu melibatkan banyak orang, misalnya dengan berkirim aplikasi secara online saja. memang benar. aplikasi yang saya ajukan dengan datang langsung ke kantor ZZ terkendala oleh pertanyaan income oleh staffnya, tapi beberapa hari berikutnya mereka menerima aplikasi yang saya kirimkan secara online. karena memang pada formulir pendaftaran tidak ada pertanyaan tentang income. saya bahkan sudah mendapatkan kiriman kartu asuransi dan tagihan premi yang saya forwardkan kepada manager keuangan sebagai bahan koreksi tentang ketidakkonsistenan ZZ. namun, karena nama saya sudah tercatat sebagai calon nasabah yang tidak eligible, saya pikir lebih baik mengancel asuransi ZZ dan tetap memakai Interpolis. Selain, karena penilaian saya terhadap ZZ yang plin-plan dan tidak konsisten berkaitan dengan eligibility calon nasabahnya. Lagi pula, asuransi tidak hanya ZZ, masih ada asuransi lain yang menurut saya tidak kalah lebih baik.

saya sama sekali tidak menyesal dengan skenario 'rumit' tentang asuransi yang harus saya lakonkan. sendiri mencoba selesaikan persoalan dengan berbagai cara, toh akhirnya bisa juga. saya hanya yakin bahwa Tuhan pasti sudah membekali kita dengan perangkat yang kita butuhkan selama melakonkan skenario itu. pemicunya hanya satu, "push your self to do because no one is willing to do it for you" (sipendob lpdp).
Continue reading...

29 January, 2016

2 comments 1/29/2016 11:23:00 PM

Berangkat ke Leiden

Posted by isma - Filed under ,
satu hal yang aku tahu tentang leiden pertama kali adalah tentang kotanya yang cantik, tenang, dan enak buat belajar. begitu cerita salah seorang mas senior yang sempat berkunjung ke sana. lalu muncullah gambaran-gambaran tentang kincir angin, kanal, dan sepeda. memang kayaknya bakalan asyik belajar dan tinggal di leiden. dan ketika ternyata nasib membawaku ke kota ini, aku tentu saja merasa senang dan bersyukur, mendapat kesempatan untuk mengalami sendiri kisah yang dituturkan oleh senior itu.


minggu, 24 januari 2016, pukul 15.00 wib, aku sudah siap di bandara adi sucipto. pertahanan diri agar tidak menangis sudah jebol ketika ibu, bulik, dan budhe melepas keberangkatanku di halaman rumah. mungkin mereka tidak tega melepas ibu hamil melakukan perjalanan sendirian. meskipun itu bukan alasan satu-satunya. siapa pun ketika dihadapkan pada perpisahan, apalagi mendengar 4 tahun masa studi, akan merasa sedih juga. aku juga merasa sedih apalagi waktu kak abiq dan dik atha berlomba menangis. waduh. aku berusaha untuk tegar. namun gagal juga ketika sudah masuk untuk check in, aku sesenggukan di tengah lalu lalang orang-orang. juga ketika di ruang tunggu, menunggu boarding. aku kehabisan tissue untuk menyeka air mata.

perjalanan jogja ke amsterdam airport menggunakan tiket langsung dan transit di soeta airport jakarta. jadi aku nggak perlu ambil bagasi dan check in lagi di jakarta. aku bawa ransel dan koper kecil ke kabin. waktu mau boarding di jogja, mungkin karena ukuran koper saya terlihat agak besar, petugas maskapai memintaku untuk menaruhnya di bagasi. tapi, tidak demikian untuk penerbangan jakarta ke amsterdam.

waktu transit lumayan lama, dari pukul 5 sore hingga 11 malam. simak dan adik-adikku sengaja menemuiku di bandara. sama seperti ketika aku akan berangkat ke hawaii. kami duduk menunggu sambil ngobrol di koridor lantai dua terminal. aku tidak tahu persis bagaimana perasaan simak waktu itu. tapi beberapa kali dia sempat memastikan, "jadi kamu sendirian di belanda, hamil begini?" atau "gimana nanti ya, di sana." haha aku juga masih tidak tahu akan bagaimana nanti. aku juga tidak menyangka akan hamil. ini benar-benar kejutan yang mau tidak mau harus dijalani.


tak berapa lama, beberapa teman yang juga akan berangkat ke belanda, berdatangan. mereka juga diantar oleh sanak keluarga. di antara kami, hanya aku yang masa studinya akan lama. sementara yang lain, karena ambil master, masa studi mereka sekitar satu tahun. mereka masih muda-muda dan penuh semangat. tidak seperti aku yang sudah "senja" dan sepertinya telat untuk sekolah lagi :D sekitar pukul 9 malam, simak dan adik-adikku pamit duluan, sementara aku masih harus menunggu karena pesawat delay hingga pukul 1 dini hari.

ketika tiba saatnya masuk ke ruang tunggu, rasanya seperti de javu. terakhir aku masuk ke ruang tunggu keberangkatan internasional tepat satu tahun yang lalu ketika akan ke leiden untuk conference. bedanya, waktu itu aku lebih santai karena hanya bepergian untuk lima belas hari. tapi kali ini, aku harus menunggu satu tahun untuk kembali lagi ke indonesia, paling cepat. beban kerjanya juga tentu akan berbeda. bayangan tentang tantangan menjadi mahasiswa PhD yang banyak digambarkan di komik-komik juga sudah membayang-bayang di kepala. menghapus bayang-bayang indah tentang suasana yang sempat aku dengar dari pengalaman seorang senior.

dan ketika suara pengeras suara mengumumkan para penumpang GA88 untuk segera boarding, seperti biasa, aku cuma bisa berbisik, terjadilah apa yang akan terjadi ...
Continue reading...

01 January, 2016

10 comments 1/01/2016 10:11:00 PM

Anugerah dari Tuhan

Posted by isma - Filed under , ,
siapa pun tentu senang ya dapat anugerah. bersyukur tiada tara. demikian juga dengan aku.

setelah melewati sekian tahapan tes, akhirnya aku ketrima juga menjadi awardee LPDP. melengkapi anugerah diterimanya aplikasi PhD-ku di Leiden University Institute for Area Studies, dengan proses yang lancar dan mudah. lalu kenapa kok bisa nyasar ke leiden? soalnya pedekateku ke profesor di melbeurne tidak bersambut sih hehe. tapi, mungkin leiden-lah tempat yang lebih cocok untukku. karena kalau bicara soal resources tentang indonesia, perpustakaan leiden mendapat gelar sebagai "the world's largest library on Indonesia and the Caribbean". cocok sekali kan.


selama bulan september sampai oktober aku sibuk dengan urusan jelang keberangkatan. mencari kos-kosan, legalisir akta kelahiran dan dokumen lain untuk buat visa, juga mengikuti persiapan keberangkatan awardee LPDP. sebenarnya tidak rumit, hanya butuh keuletan dan kesabaran. untuk kos-kosan memang harus dari awal karena agak susah juga mendapatkan kamar di leiden. aku dapat kos di appartement yang ibu kosnya orang Indonesia, dengan kesepakatan sewa untuk enam bulan. sementara visa, tinggal menunggu panggilan dari kedutaan, dan setelah itu ditindaklanjuti dengan pemesanan tiket pesawat.

nah, pada saat inilah, sekitar pertengahan november, saya agak-agak curiga dengan jadwal menstruasiku. padahal sejak ikut pola makan food combining, setiap bulan pasti dapat mens. tapi, kenapakah gerangan sampai satu bulan tidak kunjung datang juga tamunya? drama pun dimulai. aku iseng beli testpack dan dengan was-was menunggu munculnya garis merah pada testpack. rasanya seperti de javu. kembali pada pengalaman november 2009, ketika aku baru saja dapat telpon dari IIEF kalau akhirnya aku ketrima beasiswa ford foundation, padahal besok adalah hari perkiraan lahir bayi atha. aku bengong, antara kaget, sedih, tapi juga seneng meskipun yang lebih dominan adalah bingung. bagaimana ini, mau kuliah di belanda kok malah hamil? njuk kepiye iki???


pertama, tentu saja aku berusaha untuk tenang. meskipun tiap abis shalat, bukannya berdoa minta petunjuk, tapi malah bengong haha. aku membayangkan banyak hal rumit dan bermacam-macam. ngerjain tugas dalam kondisi normal saja kelimpungan apalagi hamil. belum kalau harus banyak jalan, ke sini ke situ ngurus ini dan itu. ditambah misalnya ada keberatan dari kampus atau profesor karena tidak seproduktif mahasiswa yang tidak hamil. atau, membayangkan hamil sendirian jauh di negeri orang, gimana kalau kakinya linu-linu, punggung pegal, siapa yang mau mijitin. haha pokoknya macam-macam.

aku pun kemudian mulai mengurai kerumitan dalam bayangan-bayangan itu. yang penting adalah aku menerima keadaan, menerima anugerah Tuhan, bahwa aku hamil. lalu, aku coba cari informasi tentang kemungkinan hamil dan melahirkan di belanda sambil sekolah. mulailah aku tanya-tanya ke senior-senior di leiden, dan alhamdulillah mendapatkan jawaban yang menyenangkan. berhasil meruntuhkan bayangan rumit dan seram yang sebelumnya memenuhi pikiran. lebih-lebih ketika aku memberi tahu koordinator program beasiswa LPDP di leiden, ia malah bilang: "congratulations, this is a good news, isn't it?"


selain itu, pikirku kalau menunda sampai melahirkan, mau tidak mau aku harus sekalian memboyong ayah dan anak-anak untuk ikut menjaga adik bayi. dan itu artinya harus menyiapkan biaya keberangkatan yang tidak sedikit. nggak mungkin juga bayinya aku tinggal di yogya, dan aku berangkat sendiri. ini namanya mengulang kembali pengalaman pas ke Hawaii dulu dengan meninggalkan atha. ahh janganlah. aku tidak mau. aku tidak mau jadi ibu durhaka berkali-kali :P jadi, keputusan pun akhirnya diambil. aku jadi berangkat, dengan rencana memajukan kedatangan keluarga yang semula bulan agustus menjadi akhir juni. aku juga meminta cancel satu bulan kontrak sama ibu kost karena kehamilan ini.

bagaimana pun mendadaknya anugerah ini, aku tetep percaya kalau ada banyak kebaikan di baliknya. ayah dan ibu mertua yang sebelumnya mungkin belum mantap, sekarang hanya dihadapkan pada satu pilihan kalau aku harus ditemani. soal lain seperti harus meninggalkan pekerjaan di yogya, biarlah nanti pada saatnya akan dipikirkan dan dicari jalan keluarnya. aku yakin ibarat semua ini adalah skenario, sang pembuatnya sudah sangat tahu dengan jalan ceritanya dan mempersiapkan script, kostum, make up dan segala hal yang dibutuhkan oleh pelakon. jadi, tak ada alasan untuk tidak menerima dan menjalaninya dengan indah.

terima Kasih Tuhan, atas segala anugerah-Mu ...

Continue reading...

12 November, 2015

6 comments 11/12/2015 03:37:00 PM

Tempelan di Dinding

Posted by isma - Filed under ,

rumah kami penuh tempelan kertas, terutama di kamar kak abiq. abis gambar es krim, tempel. abis mewarnai, tempel. kerjaan tugas mbatik di sekolah, tempel. stiker, tempel. pada bikin kupu-kupu, tempel. apa saja, dan ini dilakukan oleh kak abiq dan dik atha. dik atha juga suka mencorat-coret dinding dengan tulisan. maklum, ia sudah bisa baca tulis sekarang, sebagai media pameran. pokoknya kalau di rumah, nggak ada suara apa dan ia ada di kamar, bisa dipastikan ia sedang menggambar di kertas atai dinding hehe.

karena sudah gede, kalau kak abiq sudah lebih bisa memilih dinding yang 'aman' untuk dicoret atau ditempel. misalnya, dinding di kamar tidur, nggak di ruang tamu atau ruang tivi. tapi kalau dik atha, haha semua dibabat sampai lantai rumah juga. nggak cuma lantai kamar tapi juga ruang tamu. bahkan dinding di luar, deket pintu masuk juga dicoret-coreti. kalau yang ekstrim gini, biasanya aku ingatkan. “ini bisa dihapus kok, bu,” elaknya.


yang lucu itu baru-baru ini, dengan menggunakan kertas post it, dik atha nulis aktivitas dan ditempel di dinding di mana aktivitas itu dilakukan. Dia nulis ‘aku mau tidur’ dan tulisan itu ditempel pada dinding kamar. Lalu tulisan “aku mau makan” dan “aku mau masak” ditempel di dinding dan cabinet dapur. Hehe ada-ada saja.

sementara kalau kakak, ia membuat semacam kantong kertas, ditempel di pintu kamarnya. kantong itu bertuliskan: “dilarang keras membuka kertas yg di dalam”. wahaha serem sekali. pas aku iseng buka, ternyata isinya surat-surat buat “mother” yang isinya macam-macam. ada surat protes, surat curhat tentang teman-teman di sekolah, atau surat marah sama temennya. hehe ini begimana aku tahu disurati kalau nggak boleh buka kertasnya coba.


jadi besok kalau teman-teman main ke rumah, jangan kaget ya kalau rumah kami penuh tempelan. biar saja, mumpung masih kecil, masih bisa menikmati main tempel begitu. dan ini aku tulis biar bisa buat dikenang kelak kalau mereka sudah gede-gede :D
Continue reading...

31 October, 2015

1 comments 10/31/2015 08:00:00 PM

Menjadi Muda di PK-45

Posted by isma - Filed under
akhirnya, sudah di-PK hehe

Semua mata menatap ke depan. Posisi berdiri tegak dengan tangan lurus ke bawah. Kami sedang menyanyikan mars LPDP bersama-sama. Lirik demi lirik kami lantunkan, sebaik-baiknya, sehafal-hafalnya karena kami tahu tengah diperhatikan oleh PIC PK LPDP, Pak Kamil. Tak terkecuali saya, yang jujur saja paling tidak bisa menyanyi dan belum banyak berlatih menghafalkan lirik wajib itu. Mungkin kalau diperhatikan baik-baik, gerak bibir saya kayak ikan maskoki, buka tutup buka tutup dan sesekali nggak matching dengan suara akhir dari lirik lagu.

Dan ternyata dari sinilah malapetaka hari pertama itu terjadi. Begitu seluruh peserta menyelesaikan lirik terakhir, “Majulah... Smangatlah... Jaya!” Pak Kamil tiba-tiba melempar perintah, “Bagi yang belum hafal mars, silakan maju ke depan!” Perintah yang membuat saya berteriak histeris dalam hati, “what what, mati deh!” Perintah yang membuat saya berasa muda lagi karena sudah membangkang dan melakukan kesalahan hahaha. Lalu dengan langkah nggak jelas, saya mengikuti perintah. Bersyukur, saya tidak sendirian. Ada beberapa teman yang juga belum hafal, atau sudah hafal tapi dari hasil pengamatan Pak Kamil gerakan bibir mereka kurang meyakinkan sebagai yang hafal hehe.

abis pentas kunokini
pas pentas seni kontemporer yang lucu

Begitulah salah satu kenangan menjadi muda dari Program Persiapan Keberangkatan angkatan 45, tanggal 16-31 Oktober 2015. Sebagai proses lanjutan dari diterimanya saya menjadi awardee LPDP. Banyak temen yang bilang, “PK itu menyenangkan tapi haram untuk diulang.” Hehehe, dan saya pun berpendapat yang sama. Dari pra-PK para peserta sudah disibukkan dengan tugas-tugas, seperti menulis essay tentang amazing Indonesia dan profil tokoh, mempersiapkan acara-acara untuk By You For You pas PK, belum lagi kalau kebagian jadi PIC, kebetulan saya sebagai PIC untuk tugas menulis review video angkatan 23. Alamak, repotnya haha. Lembur-lembur dah!

Demikian juga pas pelaksanaan PK. Tidak ada waktu cukup untuk istirahat. Persis kayak masa semesteran di Manoa karena lembur paper. Bedanya kalau PK karena kegiatan yang padat mulai abis subuh sampai pukul 10.00 malam, dilanjut dengan latihan-latihan untuk pentas By You For You dan nulis review. Untungnya, kelompok saya itu kebanyakan para artis yang talented, jadi latihannya nggak banyak-banyak. Ini tentu saja meringankan posisi saya sebagai tim pupuk bawang. Toh endingnya ternyata luar biasa. Kelompok Jong Islamieten Bond keluar sebagai pemenang kelompok PK-45. Keren!

outbond di citra elo magelang
usai penutupan di monjali

Tapi, di PK juga banyak serunya. misalnya kegiatan outbond, maklum pengalaman pertama rafting sama flying fox hehe. Ples para pemateri yang dihadirkan oleh LPDP. Rata-rata memang para “seleb” di bidangnya, misalnya, Bupati Bantaeng, Ricky Elson, dan Dick Doang. Mendengar pengalaman sukses para tokoh memang menyenangkan, selain juga dapat pesan-pesan baik sebagai pegangan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Saya suka sekali dengan penyampaian dari Pak Mahdum, direktur PUPD LPDP, tentang filosofi Elang yang harus menentukan pilihan dalam hidupnya, antara hidup lebih lama atau hanya sampai usia 30an tahun, dengan konsekuensi masing-masing.

Cuma yang namanya orang tua ya tetap beda dengan yang muda, generasi 90-an yang menjadi mayoritas di PK-45. Beberapa peserta, termasuk saya, dari generasi 70-an, tidak bisa sekontributif mereka yang muda *uhuk, ngeles. Saya cuma bantu-bantu sebar proposal, narikin duit ke sodara dan teman dan dapet 750.000 haha, potret-poter sebagai tim dokumentasi, update website, nulis puisi, beliin peniti sama kelereng, ngeprint foto makanan dan bawa gitar yang akhirnya nggak kepake, sama ikut-ikutan menggembirakan pentas. Nggak papalah, kan tim bongkotan hehe. Meskipun demikian, ada juga temen-temen yang mau menulis kesan buat saya. Hiks, terharu. Ini apresiasi yang luar biasa. Saya tentu senang sekali. Makasih ya teman-teman.

Continue reading...

18 September, 2015

5 comments 9/18/2015 01:01:00 PM

Dag Dig Dug Test LPDP

Posted by isma - Filed under ,
siap-siap buat test
Aiiih, siapa sih yang nggak dag dig dug saat mau test? Demikian juga dengan saya. Datang pagi-pagi memakai batik ke Gedung Keuangan Yogyakarta, jantung saya berdetak lebih cepat dari biasanya. Mulut saya jadi tak henti-henti melafalkan surat al-insyiroh, doa agar segala urusan dimudahkan. Di emperan ruangan test LPDP, saya sempat mengalihkan galau saya dengan ngobrol sama peserta lain. Ia perempuan berambut cepak berkulit putih bersih, seorang dosen di salah satu kampus swasta di Salatiga. Seperti saya, ia juga ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S3. “Saya sudah dapat LoA dari kampus di Melbourne,” jelasnya, yang membuat saya makdeg bergumam dalam hati, wah saingan nih! Hihihi.

Test pertama yang saya ikuti adalah menulis essay. Sebelumnya saya sempat bertanya-tanya kepada senior, tapi rupanya penulisan ini baru ditestkan di angkatan saya. Saya mempersiapkan ‘hafalan’ dua essay yang saya upload di website LPDP waktu pendaftaran. Hehe norak banget. Habis takutnya disuruh menulis sama persis dengan yang diupload. Tapi, ternyata tidak. “Jadi ada dua tema, tentang dampak globalisasi dan nasib anak korban kekerasan, dan kita suruh pilih,” seorang peserta yang sudah duluan mendapat giliran test tulis bercerita. Waktu itu saya pikir, temanya pasti diacak. Tidak sama antara grup satu dengan lainnya. Jadi, saya tidak mendahului merancang sistematika dengan dua tema itu.

Namun saudara, ternyata tema tulisan yang harus saya tulis sama persis dengan yang diujikan ke mbaknya. Di sini saya bener-bener merasa sebel haha. Jujur saja ya, saya paling gengsi sama test ini. Gengsi kalau tulisan saya jelek karena gini-gini saya kan trainer creative writing *uhuk*. Tapi, sungguh ternyata menulis dalam suasana test itu nggak asyik *ngeles*. Menit-menit pertama saya bengong, mau pilih yang mana. Kira-kira di antara dua tema ini, manakah yang lebih mudah. Wis pokoknya kondisi saya nggak elit banget, nggak pantas untuk diceritakan. Apalagi hasil tulisannya haha yang berisi tentang dampak globalisasi dan bagaimana menganggulanginya. Coba ya kalau tadi saya mencermati bocoran tema dari mbaknya. Tinggal penyesalan yang tersisa.

petunjuk ruangan test
Penulisan essay cuma berlangsung selama 45 menit apa ya *maaf saya ingin melupakan segala hal tentang test ini*. Setelah itu bersama dengan anggota kelompok B5 yang lain, saya menunggu giliran untuk test Leaderless Group Discussion (LGD). Kami berjumlah 8 orang. Semua masih unyu-unyu dan mau ambil S2, tentu saja kecuali saya yang sudah emak-emak beranak dua dan mau ambil S3 *sigh*. Kami duduk di koridor ruangan, sambil menerka-nerka testnya akan seperti apa. Dua orang cewek muda yang duduk di samping saya, mereka dari kelompok lain, tampak asyik membahas pengalaman mereka mengikuti LGD tahun lalu. Waktu itu, tidak ada seorang pun yang mencatat kesimpulan diskusi yang berdasarkan skenario akan menjadi bahan rekomendasi untuk diajukan ke DPR. “Ada yang lulus nggak dari grup Mbak dulu itu?” tanya saya. “Sepertinya tidak ada,” jawab salah satu dari keduanya.

Mendapat poin penting tentang test LGD, saya mendiskusikannya dengan teman-teman.”Siapa nih yang mau jadi notulen?” tanya salah seorang dari kami. Tak ada suara. Kami hanya saling lempar pandang. Namun, lama-lama semua mata menuju ke arah saya. Haha apes jadi orang paling dewasa. Mau nggak mau saya pun menerima untuk bertugas sebagai notulen.  Beruntung juga tema yang disodorkan untuk kami tentang MOS bagi siswa baru, dan apa rekomendasinya. Kami sudah sepakat untuk bergiliran bicara, dan setiap peserta harus mendapat jatah ngomong. Setelah itu, siapa yang mau boleh menambahkan. Tantangan buat saya, tentu harus mencatat. Saya juga sesekali meminta klarifikasi dan tambahan penjelasan, misalnya, MOS harus diawasi, lalu pertanyaan saya, oleh siapa. Di akhir diskusi saya diminta membacakan kesimpulan. Hufff! Leganya, saya bisa juga menjalankan tugas!

Keluar dari dag dig dug LGD, masuklah ke dag dig dug pemeriksaan dokumen. Kenapa dag dig dug? Ya, anything can be happened ya. Jadi supaya aman, lagi-lagi saya membaca al-insyiroh. Dan ternyata masalahnya ada di surat pernyataan yang bermaterai. Isi surat tersebut tidak sama dengan yang ada pada contoh. Padahal, saya sudah copy paste dari manual LPDP. Usut punya usut ternyata tanpa sadar saya sebenarnya mendaftar melalui jalur afirmasi yang saya pikir sebelumnya melalui jalur regular. Jadi judul suratnya harus diganti. Saya lalu jadi kuatir, takut kalau ketidaksadaran saya membawa masalah. Karena umumnya afirmasi prestasi itu untuk para atlet atau pemenang olimpiade hehe. Pantesan waktu ada bapak pejabat meninjau dan mendengar saya menjawab bahwa saya dari jalur afirmasi prestasi, saya ditanya, “Apa prestasi Anda?” gubrak!

menunggu giliran

Tentang revisi surat pernyataan itu, saya sebenarnya bisa menyusulkannya esok hari sebelum test interview. Namun, rezeki anak baik, ndilalah ada juga temen yang harus revisi surat dan ia mau membantu saya ngeprint ke luar. Saya yang kebetulan bawa laptop tinggal menyesuaikan isi surat dengan contoh yang benar dan menunggu teman saya itu datang dengan print out. “Mbak, besok kalau ditanya pas interview, jangan bilang salah centang ya jadi afirmasi,” seloroh mas-mas di sebelah saya. Haha mungkin dia sempat kaget pas saya menjawab pertanyaan bapak pejabat dengan, “Emang harus ada prestasi ya Pak?” hihihi

Selesai urusan test hari pertama, esok harinya saya mengikuti test interview. Sejak dua hari sebelumnya saya sudah membuat pancingan pertanyaan dan jawabannya yang saya praktikkan sambil berkegiatan di rumah. Biar saja dianggap aneh karena ngomong sendiri. Pagi saat test interview tiba, saya bersama anggota kelompok B5 berjajar di luar ruangan interview menunggu giliran. Gurat-gurat ketidakpastian nasib tergambar di setiap raut wajah kami. Begitu seorang kawan selesai interview, kami menyambutnya dengan serangan pertanyaan, “Bagaimana tadi, kamu ditanya apa, pakai bahasa Inggris atau Indonesia?” Dan ia menjelaskan kepada kami sambil megap-megap haha.

Saya mendapat giliran interview pukul 08.45 WIB. Tiga orang penanya sudah siap berhadap-hadapan dengan saya. Dua orang perempuan dan satu orang laki-laki. Mereka masih muda, kisaran usia 45 atau 50 tahun, dan tak ada satu pun yang saya kenal. Grogi saya sedikit berkurang. Akan lain kalau saya paling tidak tahu siapa interviwer saya, seperti ketika mengikuti interview beasiswa IFP. Salah satu interviwernya adalah Ibu Maria Hartiningsih, wartawan senior Kompas yang concern dengan isu-isu perempuan. Grogi saya berlipat-lipat. Apalagi saya waktu itu lebih banyak ditanya tentang pengetahuan, buku yang saya baca, dan sesekali disindir kenapa tidak tahu soal ini dan itu hehe. Menyeramkan pokoknya, dan saya berharap tidak demikian dengan interview LPDP ini.

Tuhan sepertinya menjawab doa saya. Para interviewer lebih banyak bertanya tentang hal-hal yang sudah saya tulis dalam aplikasi saya. “Tema penelitian Ibu tentang ulama perempuan ya. Sebenarnya apa pentingnya ulama perempuan itu?” interviewer berjilbab yang duduk di sebelah kiri memulai pertanyaan dari proposal penelitian saya. Ia juga meminta kepastian tentang komitmen untuk kembali ke tanah air. “Isu perempuan dan gender itu kan banyak diminati, bagaimana kalau setelah lulus Ibu diminta oleh kampus mana untuk bekerja di sana entah sebagai dosen atau peneliti?” ini pertanyaan yang lain. Pada bagian ini si Ibu tidak menyerah begitu saja mendengar jawaban saya tentang komitmen, ia menyerang saya dengan kondisi yang lain, tapi saya tetap teguh pendirian.

Penanya kedua, ia banyak bertanya tentang aktivitas saya dan sejauh mana saya berprestasi *uhuk*. “Itu pin apa yang Ibu pakai, santri Indonesia menulis?” tanya si Ibu sambil menunjuk ke arah jilbab saya. Seketika saya bersorak. Yes, yes, maksud saya memakai pin Matapena besar-besar di dada saya rupanya bersambut haha. Ini bagian dari caper supaya mendapat nilai tambah. Supaya saya bisa mempromosikan apa itu Matapena, kegiatan dan menunjukkan salah satu novel Matapena yang saya bawa. Hal sama yang aku pakai juga ketika interview IFP dan MEP (Muslim Exchange Program), kecuali untuk pin karena itu merchandise Matapena yang baru. Ini mungkin bisa dibilang trik yang norak haha. Tapi, pikir saya dalam interview semacam ini saya musti pede menunjukkan keberhasilan. Kalau bukan kita sendiri, siapa dong yang mau menjualkan kelebihan kita, iya nggak.

Berpindah ke penanya ketiga, ia meminta untuk switch ke bahasa Inggris. “Sure, I will try,” jawab saya ketika ia minta izin untuk pakai bahasa Inggris dan bertanya apakah saya keberatan. Karena penuturnya sesama Indonesia, tingkat grogi saya tidak sama seperti ketika interview untuk MEP atau program community solution. Yang sekarang lebih pede dan cuek saja apakah grammar saya salah atau tidak. Ia bertanya tentang tantangan terberat ketika studi di Hawaii, dan jawaban saya adalah bahasa. Ia juga bertanya tentang apa rencana setelah studi dan bagaimana menghadapi tantangan pengaruh lingkungan dan kehidupan Barat jika besok saya membawa keluarga tinggal di Belanda.

Menurut saya test interview LPDP tidak semenyeramkan bayangan saya. Memang salah satu interviwernya adalah psikolog. Tapi, saya tidak tahu pasti juga siapa di antara mereka yang psikolog. Jadi, jawab saja dengan konsisten seperti yang saya tuliskan dalam essay. Pengalaman saya sekolah di Hawaii dengan segala tantangannya juga banyak membantu saya menjawab dan meyakinkan mereka bahwa saya sudah punya bukti, entah itu keberhasilan studi, beradaptasi dengan lingkungan baru, komunikasi di internal keluarga, juga komitmen untuk kembali kepada komunitas. Di akhir sesi, salah serang interviewer mengusulkan, “Suami Ibu kan guru ya, sekolah saja sekalian di Belanda.” Sambil tersenyum saya menjawab, “Suami saya tidak suka sekolah Bu. Dia bilang, Ibu aja yang sekolah, aku dukung. Kalau aku nggak cocok.” Dan ketiga interviwer itu tertawa bersama. Hah legha!
Continue reading...

14 September, 2015

15 comments 9/14/2015 10:14:00 AM

Yeay! Senangnya Lulus LPDP!

Posted by isma - Filed under ,
Yeay, akhirnya saya lulus seleksi beasiswa LPDP!
Yeay, akhirnya saya jadi akan sekolah lagi!


Seharian itu saya seperti perempuan hamil 9 bulan yang tengah menunggu kelahiran buah hati. Gelisah dan harap-harap cemas. Saya sedang menunggu hasil ujian seleksi beasiswa yang saya ikuti. Saya juga jadi salah tingkah. Galau. Antara apakah nanti akan meluapkan kebahagiaan atau malah tragis, menangis di pojokan tenggelam dalam kesedihan. Karena ketidakjelasan itu, seluruh badan saya juga ikutan nggregesi nggak karu-karuan. Mungkin kalau dilakukan perbandingan raut muka, hari itu, 10 September 2015, adalah hari dengan raut muka saya yang paling jelek sepanjang tahun 2015. Namun, suasana segera berubah. Begitu saya membaca tulisan LULUS pada halaman akun LPDP saya, raut muka saya seketika sumringah berbinar-binar. Yeaaay, saya lulus! Yes yes. Eh tapi ini serius ya? Masih juga nggak percaya. Hehe. Yes. Saya lulus! Yeaay, saya lulus!

Nggak cuma saya, siapa pun pasti akan bahagia kalau usahanya berhasil. Saya sebenarnya sudah tiga kali kirim aplikasi untuk PhD fellowship ke Jerman, dan gagal semua. Itu niatnya masih setengah-setengah. Dan baru tahun ini saya berniat bulat untuk sekolah lagi. Artinya, saya sengaja mengirim email ke professor-professor di beberapa kampus, melamar untuk jadi mahasiswa bimbingan mereka. Motivasi terkuatnya sih karena faktor usia. Kalau nggak segera, keburu tua. Tapi ngapain sih sekolah lagi, hobi banget kayaknya. Hehe. Alasannya sederhana saja. Saya ingin menyelesaikan semua jenjang pendidikan pada umumnya, dari TK sampai S3. Biar pengalamannya komplit. Apalagi ada peluang pembiayaan yang gratis, kenapa tidak. Untuk alasan lainnya, yang lebih idealis *uhuk* saya tidak muluk-muluk, dan biasanya akan mengikuti. 


menunggu pemeriksaan keaslian dokumen LPDP
Lalu kenapa pilih sekolah ke luar negeri? Untuk pertanyaan ini saya bisa bertanya balik, kalau bisa ke luar negeri, kenapa tidak? Sekolah di luar negeri itu menyenangkan. Tidak hanya karena saya bisa shopping mata kuliah sesuai dengan bidang dan minat, tapi banyak hal baik lainnya yang saya temukan. Hubungan yang egaliter dengan para professor, dan mereka sangat baik, apresiatif, dan mau membantu. Saya juga bisa sekalian memupuk rasa percaya diri dengan penguasaan bahasa Inggris, dan dapat mengenal serta bekerja sama dengan teman-teman yang lebih beragam di lingkup international. Kesempatan untuk mengikuti program-program internasional juga banyak terbuka, dan ini secara tidak langsung memfasilitasi saya untuk bisa menjelajah dunia. Jalan-jalan. Apalagi jenjang sekolah PhD yang sampai empat tahun, jadi saya ada kesempatan untuk mengajak serta ayah, kak abiq, dan dik atha untuk punya pengalaman tinggal di luar Indonesia.

Pernah mengenyam pendidikan di Negara berbahasa Inggris dan mengikuti banyak program internasional itu ternyata bisa menambah posisi tawar kita, terutama ketika mau melamar untuk study S3. Memang sih tidak serta merta semua professor pada klepek-klepek begitu menerima email saya hehe. Saya berkirim email ke 10 professor di Eropa dan Australia. Dua professor menjawab kalau topik penelitian saya tidak sesuai dengan bidang mereka. Dua professor menjawab tidak sedang menerima mahasiswa untuk supervisi. Empat professor tidak membalas email. Dan dua professor, dari Melbourne dan Leiden, sudah menyelamatkan saya dari nasib tragis hehe. Mereka meresponse dengan kesediaan menjadi supervisor. Professor dari Melbourne malah membantu saya dengan menulis surat rekomendasi untuk beasiswa AAS

Letter of Acceptance

Lalu kenapa pilihan saya jatuh ke jawaban positif dari Leiden? Alasannya juga sederhana, mana-mana yang tersaji di hadapan saya, itulah yang saya ambil. Dan ndilalah proses di Leiden itu lebih mulus dan lancar. Leiden tidak mensyaratkan skor bahasa untuk pendaftaran, berbeda dengan di Melbourne. Ini memudahkan saya yang belum juga mengikuti ujian IELTS. Seleksi bahasa di Leiden dilakukan oleh professor. Dan di sinilah pengalaman internasional saya sangat berguna. Selain alumni dari Hawaii, saya dua kali pernah presentasi paper di workshop yang diadakan KITLV, sebuah pusat studi di Leiden University. Mungkin karena pertimbangan itu, setelah membaca proposal dan CV, sang professor langsung menyatakan kesediaan menjadi supervisor, tanpa permintaan interview skype, atau bertanya-tanya tentang skor bahasa, bahkan ia sendiri yang mencarikan saya professor lain sebagai partner pembimbing. Sedangkan di Melbourne, saya harus cari lagi sendiri dan belum juga mendapatkan response. Jadi proses di Leiden bener-benar keberuntungan buat saya!

Setelah mendapatkan statement kesediaan supervisi dari professor, dibimbing oleh officer beasiswa LPDP dan Kemenag-Dikti di Leiden, saya mengurus administrasi ke universitas untuk mendapatkan Letter of Acceptance (LoA). Dokumen yang saya kirim antara lain formulir yang sudah diisi, copy ijazah, transkrip, 2 surat rekomendasi, summary proposal riset, copy passport, dan copy master paper. Saya juga diminta menulis surat bahwa saya akan mendaftar beasiswa LPDP dan untuk itu membutuhkan LoA. Untuk ijazah, mereka minta yang dilegalisir oleh universitas penerbit. Jadi saya minta langsung ke kampus Hawaii untuk legalisir ijazah dan mengirimkannya ke Leiden. Semua dokumen saya kirim dalam bentuk file lewat email untuk mempercepat proses, dan juga dalam bentuk hard copy lewat EMS. Proses menunggu kurang lebih satu bulan dan saya mendapatkan LoA yang dikirim lewat email dan dikirim lewat pos Netherland ke alamat rumah. Sampai di sini rasanya plong. Yeaaay, saya sudah mendapatkan LoA.

Yeay! saya lulus!

Tugas selanjutnya adalah mendapatkan pembiayaan untuk studi saya melalui jalur LPDP. Posisi saya relative aman karena sudah mendapatkan LoA. Sesuatu yang sebelumnya tak bisa saya bayangkan, bagaimana cara mendapatkannya, dan akhirnya dimudahkan oleh Allah. Dengan LoA ini, secara otomatis menggugurkan syarat skor bahasa minimal 6,5 untuk IELTS dan 550 untuk TOEFL. Yeaaay! Saya senang bukan main. Tapi namanya diseleksi, meskipun banyak teman mendoakan kelulusan saya, apalagi sudah mendapatkan LoA, tetap saja rasanya harap-harap cemas. Takut tidak ketrima dan harus mengulang mendaftar lagi.  Saya minta doa kepada simak, ibu, ayah, juga pengasuh di pesantren. Saya selalu berkirim fatihah kepada para officer LPDP, penguji, interviewer, supaya mereka jatuh cinta pada saya, juga untuk berkas aplikasi saya supaya terlihat seksi dan menarik. Jadi, kalau selama ini ada yang membantah kiriman fatihah untuk orang meninggal tidak akan sampai, maka kalau dikirim orang yang masih hidup tentu kebalikannya, akan sampai hehe.

Yes, dan Allah memudahkan jalan saya. Alhamdulillah …
Continue reading...