18 July, 2016

15 comments 7/18/2016 06:11:00 PM

Melahirkan di Leiden

Posted by isma - Filed under , ,
bersama farabi, om siaga-nya ara

Secantik apa pun kita membuat rencana, Tuhan tetap yang menentukan.

Well, begitulah inti ceritanya. Sebelumnya saya tak membayangkan melahirkan tanpa ditemani suami atau keluarga. Tapi, justru Tuhan memberikan saya pengalaman yang tak terbayangkan itu di Leiden. Dimulai dengan persoalan dokumen akta nikah yang harus diterjemah karena ada perbedaan pendapat antara KUA Kecamatan dan Kemenag pusat soal tanggal pada tanda tangan yang tertera di buku nikah duplikat. Proses ini cukup makan waktu sehingga memperlambat aplikasi visa keluarga, ditambah lama proses menunggu, dan berbenturan juga dengan liburan hari raya. Saya bahkan harus resechedule tiket untuk suami dan anak-anak sampai tiga kali. Kali pertama dan kedua karena visa belum jadi, sementara kali ketiga karena ayah tiba-tiba sakit dan harus opname. Lengkap sudah.

Rencana yang lain adalah keinginan saya melahirkan normal di rumah saja. Karena dua persalinan sebelumnya juga di rumah dan normal. Tapi, ternyata scenario Tuhan berkata lain. Posisi adik bayi melintang, jadi saya dirujuk konsultasi ke gynecolog dan harus melahirkan di rumah sakit. “Biar sekalian, pengalamannya komplit,” gitu kata teman-teman. Itu pun diputuskan dengan jalan induksi, jika memang sampai HPL belum ada kontraksi alami. Pernah satu kali gynecolog berusaha memutar posisi bayi, namun hasilnya adik bayi kembali ke posisi semula yang melintang. Jadi, sepertinya percuma diputar lagi, kecuali sekalian dilahirkan.

Tanggal 4 July 2016, saya mulai check up di LUMC, dan setelah pemeriksaan, belum memungkinkan untuk dilakukan persalinan karena cervix masih tertutup kuat. Saya diminta datang kembali tanggal 8 July 2016. Hasil pemeriksaan masih sama, dan diminta datang lagi tanggal 11 July 2016. Kali ini sang bidan memberikan saya pilihan, hari apa akan melahirkan dengan induksi. Saya pilih hari Rabu, 13 July 2016. Ia juga menjelaskan prosedur induksi dan alat yang akan digunakan. Semua seperti sudah tergambar jelas. Namun, ketika hari Rabu saya telpon rumah sakit, bagian poliklinik persalinan menjawab kalau belum ada kamar kosong. Saya diminta telpon hari berikutnya, untuk memastikan kamar kosong.

Bersyukur, hari Kamis, 14 July 2016, ada kamar kosong. Saya berangkat ke LUMC diantar Mia dan Farabi. Masuk ke ruangan periksa, saya masih belum yakin apakah jadi akan melahirkan saat itu. Apalagi setelah pengecekan cervix, bidan memberikan saya dua opsi, melahirkan sekarang dengan induksi, atau menunggu sampai hari Minggu supaya cervix lebih matang atau kontraksi alami sewaktu-waktu. Namun jika tidak ada kontraksi, tetap akan dilakukan induksi pada hari Minggu. Daripada menunggu lagi, dan malah lebih berisiko jika ketuban pecah duluan dengan posisi bayi melintang, akhirnya saya putuskan untuk mulai induksi sore itu juga.

Sekitar pukul 6 sore, saya dipindahkan ke ruangan yang lebih luas. bidan bilang, "Kamu akan bermalam di sini sampai bayimu lahir." Ruangan baru ini jauh lebih lengkap peralatannya, juga dilengkapi sofa panjang yang bisa dipakai tidur untuk yang menemani. Selang beberapa menit, bidan memberi saya tablet induksi pertama, dan berlanjut setiap empat jam sekali hingga sore hari keesokan harinya. Kontraksi sudah mulai saya rasakan. Selama proses ini, detak jantung bayi dan ibu terus dimonitor dengan alat yang ditempelkan di perut saya dan rekamannya muncul di monitor yang ada di dalam ruangan dan di ruang jaga perawat.

Perasaan saya campur aduk, tapi cenderung nelangsa. Terbaring di kamar bersalin cuma ditemani kawan-kawan mahasiswa dari Indonesia. “Semangat mbak, semangat!” seru Mia. Tapi bukannya semangat, saya malah nambah nelangsa. Apalagi ketika seorang bidan masuk kamar, tangisan saya benar-benar pecah. “Apa yang membuat kamu menangis?” ia bertanya. “Karena sakit?” Saya menggeleng. Sakit kontraksi setelah induksi tablet atau ketika bidan memeriksa cervix, menurut saya sudah lakunya begitu dan saya masih bisa menikmatinya. Tapi, merasa sendiri dan jauh dari suami dan keluarga saat peristiwa besar begini, rasa-rasanya saya adalah orang paling nelangsa sedunia. Si bidan lalu meraih tangan saya sambil berkata, “Kami di sini akan bekerja dengan baik membantu persalinanmu. Kamu akan aman dan baik-baik saja di sini. Kamu percaya kami kan?” Saya mengangguk pelan.

Setelah habis 4 tablet, Jumat sore, 15 July 2016, dokter memeriksa pembukaan dan memutuskan untuk memulai proses persalinan. Ia ditemani seorang dokter lain, dokter intern, dan perawat. Mereka masih muda dan tampak cekatan bekerja. Dokter pertama, memecah ketuban secara manual, bersamaan dengan dokter yang kedua memutar posisi bayi agar kepala berada di bawah perut masuk ke rongga panggul. Sementara dokter intern dan perawat menyeka dan membersihkan air ketuban yang merembes di tempat tidur. Saya, hanya bisa menarik napas panjang berkali-kali. "Yeay, malam ini bayinya akan lahir," sorak dokter cantik berambut hitam sebahu dengan senang.

Setelah air ketuban habis dan sprei basah diganti, induksi diganti dengan infus. Saya sudah tidak bisa turun dari tempat tidur. Berbaring dengan alat detektor jantung bayi dan ibu juga ritme kontraksi yang menempel di perut. Kekuatan dan ritme kontraksi naik perlahan-lahan. Ini masa-masa yang paling berat, apalagi kata perawat, pembukaan hanya bertambah satu setiap jamnya. Pada cairan infus itu juga terkandung zat untuk relaksasi, rasanya seperti mengantuk, tapi tetap saja tidak bisa tidur karena menahan rasa tidak karuan di jalan lahir. Di sini bedanya melahirkan dengan kontraksi alami. Ketuban akan pecah dengan sendirinya dan disusul dengan pembukaan dan kontraksi hebat yang mengajak ibu untuk mengejan. Bisa jadi dalam satu jam berikutnya bayi sudah bisa lahir.

Tapi, saya musti menunggu dari sekitar pukul 6 sore hingga pukul 10 malam. Beberapa kali memanggil perawat dan bertanya, "Sampai kapan ini akan makan waktu? Kapan dokter akan mengecek lagi?" dan berkali-kali perawat coba menenangkan. Ketika kontraksi kuat datang, saya merasakan tekanan luar biasa di perut bagian bawah, seperti ada batu sebesar kepala bergerak meregangkan jalan lahir, panas dan kuat menekan. Saya cuma bisa menarik napas dan menggenggam erat tangan dua orang teman di sebelah kanan dan kiri saya. Saya terbiasa menahan sakit, dan itu menjadi latihan untuk saya merasakan sakit jelang melahirkan ini.

Kemudian sekitar pukul 10 malam ketika kontraksi menjadi lebih keras dan kuat, saya sudah tidak kuat lagi untuk menahan keinginan mengejan. Akhirnya dokter kandungan datang, memeriksa serviks dan mengatakan kalau sudah ada pembukaan 8 dan sudah mungkin untuk mendorong. Mereka lalu bersiap untuk persalinan. Ada seorang ginekolog, dokter magang, dan seorang perawat dan 3 teman-teman saya. Ada juga monitor yang menampilkan detak jantung saya dan bayi juga kontraksi. sehingga semua orang tahu apakah saya memiliki kontraksi atau tidak. Mereka menyemangati saya untuk mengejan, dan saya beberapa kali coba mengejan meskipun itu tidak mudah. Di tengah proses itu, detak jantung bayi tampak menurun dan itu membuat ginekolog khawatir. Ia coba menarik bayi tapi masih belum keluar. Dari video, saya bisa lihat, ia mau menggunakan alat seperti sendok untuk mengambil bayi, tapi kemudian diurungkan karena akhirnya saya berhasil mengejan, mendorong bayi keluar.

Rasanya lega. Saya menangis sambil memeluk bayi yang diletakkan di dada saya. Bayi perempuan lahir dengan berat 3,7kg. Teman saya, Desty, saya minta untuk mengazani Ara, panggilan untuk Iolana Narashansha, yang kemudian diulang oleh ayah melalui telpon. Ini benar-benar heroic dan epic. Ayah juga melantunkan iqamah lewat telpon. Sebelum tidur, saya mandi dan berganti baju. Baby Ara tidak rewel. Setelah menyusu, ia terlelap sampai pukul 5 pagi. Saya bisa beristirahat dengan baik. Saya meninggalkan rumah sakit sekitar pukul 10 pagi, dijemput oleh Teh Meira dengan mobil.

Saya bersyukur, semua berjalan lancar. Tidak ada komplikasi dan semuanya sehat juga selamat. Saya bersyukur memiliki banyak teman yang baik dan penuh perhatian di sini. Kebaikan mereka membuat saya merasa mudah walaupun saya jauh dari keluarga. Saya juga bersyukur, semua telah dimudahkan oleh Tuhan. Mendapatkan pengalaman ajaib yang tak terbayangkan sebelumnya.

Continue reading...

28 February, 2016

3 comments 2/28/2016 11:37:00 PM

Asuransi di Negeri Asing

Posted by isma - Filed under ,

leiden yang muram

sore itu sore paling dramatis sepanjang minggu-minggu pertama saya di leiden. berjalan gontai keluar dari kantor asuransi zorg en zekerheid (ZZ), dengan mata berair nyaris mengalir di pipi. menengok ke kanan dan ke kiri seperti kehilangan arah di tempat asing sendirian. beruntung pandangan saya mengarah ke sebuah halte bis di sebelah kantor ZZ dan bis no 2 segera tiba di halte beberapa menit kemudian. keinginan saya cuma satu, segera sampai di kamar kos dan menangis selepas mungkin.

selain bis no 2, ada juga bis no 1 yang biasa saya naiki untuk sampai ke tempat kos. cuma karena kali ini saya tidak naik dari leiden centraal, saya masih belum yakin apakah bis ini mengarah ke tujuan yang sama. ini masih minggu-minggu pertama dan saya belum hafal betul jalan-jalan di sekitaran pusat kota. karena takut akan tersesat, di halte prinsessekade saya turun, dan saat itu saya baru sadar kalau bis sebenarnya akan menuju leiden centraal. halte tempat saya turun terletak di gang masuk ke centrum, dan hanya satu halte lagi akan sampai di centraal. ahh, sayang sekali. saya yang sedang sedih, jadi semakin sedih.

saya sudah benar-benar menangis, ketika berjalan menuju bangku di pinggir kanal. duduk sendirian sambil tersedu. sesekali perut saya bergerak, mendapat tendangan kecil dari dalam. oh malangnya nasibmu, nak. hampir tiga minggu tapi belum juga mendapat pelayanan kesehatan dari bidan atau dokter karena aplikasi asuransi yang tak kunjung selesai. dua kali berjalan kaki dari kampus ke kantor ZZ yang lumayan jauh tak juga mendapatkan hasil. saya meruntuki kebetulan-kebetulan, kenapa ketika pertama kali ke ZZ, residence permit belum jadi. kenapa juga data biometric saya bermasalah sehingga residence permit belum jadi begitu saya tiba di leiden. kenapa juga saya tidak mengerti kalau biometric bermasalah dan harusnya ke IND di rijswik, bukannya ke horfddrof. tidak ada selesainya saya menyesali sambil menangis.

sore itu, saya tiba-tiba terpikir untuk mengadukan masalah per-income-an dari ZZ yang notabene suplier insurance untuk kampus kepada international student desk (ISD) dan penanggung jawab kemahasiswaan PhD penerima beasiswa LPDP. pikir saya, harusnya sudah ada MoU dan kesepahaman bahwa tidak semua mahasiswa PhD mendapat income dari belanda, dan tidak menjadi persoalan lagi. saya juga heran, karena ternyata teman saya yang juga PhD beasiswa bisa diterima aplikasinya oleh ZZ lewat online, sementara kenapa aplikasi saya ditolak. rasanya, saya menjadi mahasiswa paling nelangsa seantero leiden.

lonely

setelah menangis di tepi kanal sore itu, saya jadi agak lega. pasti ada jalan, pikir saya. saya mulai mencari informasi, tentang asuransi yang tidak mempermasalahkan income dari belanda. saya browse lewat google dan menemukan website 'home in leiden'. saya iseng berkirim email, bertanya tentang asuransi kepada adminnya. saya juga bertanya kepada senior lain, yang pernah hamil di leiden, dan saya mendapatkan informasi tentang international insurance, juga public dan private dutch insurance. kebanyakan international insurance tidak mengkover biaya persalinan, berbeda dengan public atau private dutch insurance. hanya saja, public dutch insurance mensyaratkan kita mendapatkan income dari belanda, seperti ZZ. jadi, alternatifnya adalah mengirim aplikasi ke private dutch insurance.

saya mulai merasa tenang. sampai saya menerima email dari manager keuangan departemen yang mengabarkan kalau ia mendapat forward email dari 'home in leiden' tentang persoalan asuransi, dan ia memastikan langsung ke penanggung jawab kemahasiswaan, juga ke kantor ZZ. ia memang menawarkan bantuan untuk membuatkan endorsment letter untuk apply ke ZZ, tapi satu hal yang membuat saya kembali tidak tenang adalah semacam 'ultimatum' bahwa jika sampai akhir februari tidak mendapatkan asuransi, saya terpaksa harus pulang ke indonesia. ia juga menambahkan kalau ia mendapat laporan dari penanggung jawab kemahasiswaan, bahwa persoalan asuransi ini terjadi karena saya tidak tanggap dan cepat bergerak. oh my goodness. saya tentu saja kecewa, marah, juga sedih. merasa sudah disalahkan. padahal semua murni kebetulan karena aplikasi asuransi tergantung pada residence permit saya yang belum jadi.

ah tapi sudahlah. toh mereka, dari ISD juga koordinator kemahasiswaan tidak bisa membantu banyak. saya jadi tahu bahwa mereka tidak banyak mengerti tentang asuransi. response yang mereka berikan lewat email justru menyiratkan bahwa saya tidak punya harapan untuk mendapatkan asuransi di belanda karena kehamilan saya dan tidak adanya income. termasuk ibu manager keuangan. alih-alih memberikan alternatif asuransi, ia malah bertanya kepada saya, asuransi mana yang akan saya coba apply selain ZZ. untunglah saya sudah mendapatkan informasi tentang nama-nama asuransi lain, seperti ONVZ dan Allianz. dan ia membantu saya untuk apply asuransi ONVZ sore itu. meskipun tetap saja, keputusan tentang diterima atau tidaknya masih belum bisa dipastikan.

saya tidak berhenti dengan menunggu jawaban dari ONVZ yang membutuhkan waktu sekitar satu minggu. seorang senior memberitahu kalau ada asuransi bernama Interpolis dan ia memberikan diskon untuk pengguna rekening Rabobank. terdorong rasa ingin segera selesai dari persoalan asuransi, saya menelpon Interpolis yang nomornya saya dapat dari chatting dengan Rabobank. di luar dugaan, customer service yang berbicara dengan saya di ujung telepon dengan telaten menjawab setiap pertanyaan saya. jawabannya menyenangkan, terutama soal bahwa saya eligible untuk apply interpolis meskipun tidak mendapatkan income di belanda. ia bahkan menawarkan apakah akan langsung apply saat itu juga. oh my god, rasanya saya tidak percaya. mendengar tawaran itu mata saya berkaca-kaca, bahkan hampir menangis saking bahagianya. tapi saya tidak langsung apply. saya bertanya kepada manager keuangan, what should i do. katanya, semakin cepat saya mendapatkan asuransi akan semakin baik buat saya, dan ia akan membatalkan aplikasi saya ke ONVZ.

badai pasti berlalu

rasanya tiba-tiba mendung winter perlahan menghilang. berganti dengan matahari spring yang hangat dan penuh harapan. mendaftar asuransi Interpolis ternyata jauh lebih simpel karena cukup lewat telpon dan bagian CS yang mengisikan formulir asuransi dari ujung telpon. ia memberikan masukan tentang produk apa yang bisa saya pakai mengingat saya dalam keadaan hamil. setelah urusan administrasi selesai, ia kemudian menyambungkan saya ke bagian maternity care yang membantu saya mencari bidan dan kraamzorg atau perawat pasca melahirkan. ah, akhirnya nak, kamu akan mendapatkan pantauan kesehatan intensive dari bidan atau dokter di negeri asing ini.

berurusan dengan asuransi memang hal baru buat saya, dan saya mendapatkan pelajaran berharga tentang hal-hal administrasi di belanda. seperti temen saya bilang, urusan administrasi di belanda tidak bisa diselesaikan dengan negosiasi, akan tetapi ikuti hitam putih aturannya yang berlaku, dan tak perlu melibatkan banyak orang, misalnya dengan berkirim aplikasi secara online saja. memang benar. aplikasi yang saya ajukan dengan datang langsung ke kantor ZZ terkendala oleh pertanyaan income oleh staffnya, tapi beberapa hari berikutnya mereka menerima aplikasi yang saya kirimkan secara online. karena memang pada formulir pendaftaran tidak ada pertanyaan tentang income. saya bahkan sudah mendapatkan kiriman kartu asuransi dan tagihan premi yang saya forwardkan kepada manager keuangan sebagai bahan koreksi tentang ketidakkonsistenan ZZ. namun, karena nama saya sudah tercatat sebagai calon nasabah yang tidak eligible, saya pikir lebih baik mengancel asuransi ZZ dan tetap memakai Interpolis. Selain, karena penilaian saya terhadap ZZ yang plin-plan dan tidak konsisten berkaitan dengan eligibility calon nasabahnya. Lagi pula, asuransi tidak hanya ZZ, masih ada asuransi lain yang menurut saya tidak kalah lebih baik.

saya sama sekali tidak menyesal dengan skenario 'rumit' tentang asuransi yang harus saya lakonkan. sendiri mencoba selesaikan persoalan dengan berbagai cara, toh akhirnya bisa juga. saya hanya yakin bahwa Tuhan pasti sudah membekali kita dengan perangkat yang kita butuhkan selama melakonkan skenario itu. pemicunya hanya satu, "push your self to do because no one is willing to do it for you" (sipendob lpdp).
Continue reading...

29 January, 2016

2 comments 1/29/2016 11:23:00 PM

Berangkat ke Leiden

Posted by isma - Filed under ,
satu hal yang aku tahu tentang leiden pertama kali adalah tentang kotanya yang cantik, tenang, dan enak buat belajar. begitu cerita salah seorang mas senior yang sempat berkunjung ke sana. lalu muncullah gambaran-gambaran tentang kincir angin, kanal, dan sepeda. memang kayaknya bakalan asyik belajar dan tinggal di leiden. dan ketika ternyata nasib membawaku ke kota ini, aku tentu saja merasa senang dan bersyukur, mendapat kesempatan untuk mengalami sendiri kisah yang dituturkan oleh senior itu.


minggu, 24 januari 2016, pukul 15.00 wib, aku sudah siap di bandara adi sucipto. pertahanan diri agar tidak menangis sudah jebol ketika ibu, bulik, dan budhe melepas keberangkatanku di halaman rumah. mungkin mereka tidak tega melepas ibu hamil melakukan perjalanan sendirian. meskipun itu bukan alasan satu-satunya. siapa pun ketika dihadapkan pada perpisahan, apalagi mendengar 4 tahun masa studi, akan merasa sedih juga. aku juga merasa sedih apalagi waktu kak abiq dan dik atha berlomba menangis. waduh. aku berusaha untuk tegar. namun gagal juga ketika sudah masuk untuk check in, aku sesenggukan di tengah lalu lalang orang-orang. juga ketika di ruang tunggu, menunggu boarding. aku kehabisan tissue untuk menyeka air mata.

perjalanan jogja ke amsterdam airport menggunakan tiket langsung dan transit di soeta airport jakarta. jadi aku nggak perlu ambil bagasi dan check in lagi di jakarta. aku bawa ransel dan koper kecil ke kabin. waktu mau boarding di jogja, mungkin karena ukuran koper saya terlihat agak besar, petugas maskapai memintaku untuk menaruhnya di bagasi. tapi, tidak demikian untuk penerbangan jakarta ke amsterdam.

waktu transit lumayan lama, dari pukul 5 sore hingga 11 malam. simak dan adik-adikku sengaja menemuiku di bandara. sama seperti ketika aku akan berangkat ke hawaii. kami duduk menunggu sambil ngobrol di koridor lantai dua terminal. aku tidak tahu persis bagaimana perasaan simak waktu itu. tapi beberapa kali dia sempat memastikan, "jadi kamu sendirian di belanda, hamil begini?" atau "gimana nanti ya, di sana." haha aku juga masih tidak tahu akan bagaimana nanti. aku juga tidak menyangka akan hamil. ini benar-benar kejutan yang mau tidak mau harus dijalani.


tak berapa lama, beberapa teman yang juga akan berangkat ke belanda, berdatangan. mereka juga diantar oleh sanak keluarga. di antara kami, hanya aku yang masa studinya akan lama. sementara yang lain, karena ambil master, masa studi mereka sekitar satu tahun. mereka masih muda-muda dan penuh semangat. tidak seperti aku yang sudah "senja" dan sepertinya telat untuk sekolah lagi :D sekitar pukul 9 malam, simak dan adik-adikku pamit duluan, sementara aku masih harus menunggu karena pesawat delay hingga pukul 1 dini hari.

ketika tiba saatnya masuk ke ruang tunggu, rasanya seperti de javu. terakhir aku masuk ke ruang tunggu keberangkatan internasional tepat satu tahun yang lalu ketika akan ke leiden untuk conference. bedanya, waktu itu aku lebih santai karena hanya bepergian untuk lima belas hari. tapi kali ini, aku harus menunggu satu tahun untuk kembali lagi ke indonesia, paling cepat. beban kerjanya juga tentu akan berbeda. bayangan tentang tantangan menjadi mahasiswa PhD yang banyak digambarkan di komik-komik juga sudah membayang-bayang di kepala. menghapus bayang-bayang indah tentang suasana yang sempat aku dengar dari pengalaman seorang senior.

dan ketika suara pengeras suara mengumumkan para penumpang GA88 untuk segera boarding, seperti biasa, aku cuma bisa berbisik, terjadilah apa yang akan terjadi ...
Continue reading...

01 January, 2016

10 comments 1/01/2016 10:11:00 PM

Anugerah dari Tuhan

Posted by isma - Filed under , ,
siapa pun tentu senang ya dapat anugerah. bersyukur tiada tara. demikian juga dengan aku.

setelah melewati sekian tahapan tes, akhirnya aku ketrima juga menjadi awardee LPDP. melengkapi anugerah diterimanya aplikasi PhD-ku di Leiden University Institute for Area Studies, dengan proses yang lancar dan mudah. lalu kenapa kok bisa nyasar ke leiden? soalnya pedekateku ke profesor di melbeurne tidak bersambut sih hehe. tapi, mungkin leiden-lah tempat yang lebih cocok untukku. karena kalau bicara soal resources tentang indonesia, perpustakaan leiden mendapat gelar sebagai "the world's largest library on Indonesia and the Caribbean". cocok sekali kan.


selama bulan september sampai oktober aku sibuk dengan urusan jelang keberangkatan. mencari kos-kosan, legalisir akta kelahiran dan dokumen lain untuk buat visa, juga mengikuti persiapan keberangkatan awardee LPDP. sebenarnya tidak rumit, hanya butuh keuletan dan kesabaran. untuk kos-kosan memang harus dari awal karena agak susah juga mendapatkan kamar di leiden. aku dapat kos di appartement yang ibu kosnya orang Indonesia, dengan kesepakatan sewa untuk enam bulan. sementara visa, tinggal menunggu panggilan dari kedutaan, dan setelah itu ditindaklanjuti dengan pemesanan tiket pesawat.

nah, pada saat inilah, sekitar pertengahan november, saya agak-agak curiga dengan jadwal menstruasiku. padahal sejak ikut pola makan food combining, setiap bulan pasti dapat mens. tapi, kenapakah gerangan sampai satu bulan tidak kunjung datang juga tamunya? drama pun dimulai. aku iseng beli testpack dan dengan was-was menunggu munculnya garis merah pada testpack. rasanya seperti de javu. kembali pada pengalaman november 2009, ketika aku baru saja dapat telpon dari IIEF kalau akhirnya aku ketrima beasiswa ford foundation, padahal besok adalah hari perkiraan lahir bayi atha. aku bengong, antara kaget, sedih, tapi juga seneng meskipun yang lebih dominan adalah bingung. bagaimana ini, mau kuliah di belanda kok malah hamil? njuk kepiye iki???


pertama, tentu saja aku berusaha untuk tenang. meskipun tiap abis shalat, bukannya berdoa minta petunjuk, tapi malah bengong haha. aku membayangkan banyak hal rumit dan bermacam-macam. ngerjain tugas dalam kondisi normal saja kelimpungan apalagi hamil. belum kalau harus banyak jalan, ke sini ke situ ngurus ini dan itu. ditambah misalnya ada keberatan dari kampus atau profesor karena tidak seproduktif mahasiswa yang tidak hamil. atau, membayangkan hamil sendirian jauh di negeri orang, gimana kalau kakinya linu-linu, punggung pegal, siapa yang mau mijitin. haha pokoknya macam-macam.

aku pun kemudian mulai mengurai kerumitan dalam bayangan-bayangan itu. yang penting adalah aku menerima keadaan, menerima anugerah Tuhan, bahwa aku hamil. lalu, aku coba cari informasi tentang kemungkinan hamil dan melahirkan di belanda sambil sekolah. mulailah aku tanya-tanya ke senior-senior di leiden, dan alhamdulillah mendapatkan jawaban yang menyenangkan. berhasil meruntuhkan bayangan rumit dan seram yang sebelumnya memenuhi pikiran. lebih-lebih ketika aku memberi tahu koordinator program beasiswa LPDP di leiden, ia malah bilang: "congratulations, this is a good news, isn't it?"


selain itu, pikirku kalau menunda sampai melahirkan, mau tidak mau aku harus sekalian memboyong ayah dan anak-anak untuk ikut menjaga adik bayi. dan itu artinya harus menyiapkan biaya keberangkatan yang tidak sedikit. nggak mungkin juga bayinya aku tinggal di yogya, dan aku berangkat sendiri. ini namanya mengulang kembali pengalaman pas ke Hawaii dulu dengan meninggalkan atha. ahh janganlah. aku tidak mau. aku tidak mau jadi ibu durhaka berkali-kali :P jadi, keputusan pun akhirnya diambil. aku jadi berangkat, dengan rencana memajukan kedatangan keluarga yang semula bulan agustus menjadi akhir juni. aku juga meminta cancel satu bulan kontrak sama ibu kost karena kehamilan ini.

bagaimana pun mendadaknya anugerah ini, aku tetep percaya kalau ada banyak kebaikan di baliknya. ayah dan ibu mertua yang sebelumnya mungkin belum mantap, sekarang hanya dihadapkan pada satu pilihan kalau aku harus ditemani. soal lain seperti harus meninggalkan pekerjaan di yogya, biarlah nanti pada saatnya akan dipikirkan dan dicari jalan keluarnya. aku yakin ibarat semua ini adalah skenario, sang pembuatnya sudah sangat tahu dengan jalan ceritanya dan mempersiapkan script, kostum, make up dan segala hal yang dibutuhkan oleh pelakon. jadi, tak ada alasan untuk tidak menerima dan menjalaninya dengan indah.

terima Kasih Tuhan, atas segala anugerah-Mu ...

Continue reading...

12 November, 2015

6 comments 11/12/2015 03:37:00 PM

Tempelan di Dinding

Posted by isma - Filed under ,

rumah kami penuh tempelan kertas, terutama di kamar kak abiq. abis gambar es krim, tempel. abis mewarnai, tempel. kerjaan tugas mbatik di sekolah, tempel. stiker, tempel. pada bikin kupu-kupu, tempel. apa saja, dan ini dilakukan oleh kak abiq dan dik atha. dik atha juga suka mencorat-coret dinding dengan tulisan. maklum, ia sudah bisa baca tulis sekarang, sebagai media pameran. pokoknya kalau di rumah, nggak ada suara apa dan ia ada di kamar, bisa dipastikan ia sedang menggambar di kertas atai dinding hehe.

karena sudah gede, kalau kak abiq sudah lebih bisa memilih dinding yang 'aman' untuk dicoret atau ditempel. misalnya, dinding di kamar tidur, nggak di ruang tamu atau ruang tivi. tapi kalau dik atha, haha semua dibabat sampai lantai rumah juga. nggak cuma lantai kamar tapi juga ruang tamu. bahkan dinding di luar, deket pintu masuk juga dicoret-coreti. kalau yang ekstrim gini, biasanya aku ingatkan. “ini bisa dihapus kok, bu,” elaknya.


yang lucu itu baru-baru ini, dengan menggunakan kertas post it, dik atha nulis aktivitas dan ditempel di dinding di mana aktivitas itu dilakukan. Dia nulis ‘aku mau tidur’ dan tulisan itu ditempel pada dinding kamar. Lalu tulisan “aku mau makan” dan “aku mau masak” ditempel di dinding dan cabinet dapur. Hehe ada-ada saja.

sementara kalau kakak, ia membuat semacam kantong kertas, ditempel di pintu kamarnya. kantong itu bertuliskan: “dilarang keras membuka kertas yg di dalam”. wahaha serem sekali. pas aku iseng buka, ternyata isinya surat-surat buat “mother” yang isinya macam-macam. ada surat protes, surat curhat tentang teman-teman di sekolah, atau surat marah sama temennya. hehe ini begimana aku tahu disurati kalau nggak boleh buka kertasnya coba.


jadi besok kalau teman-teman main ke rumah, jangan kaget ya kalau rumah kami penuh tempelan. biar saja, mumpung masih kecil, masih bisa menikmati main tempel begitu. dan ini aku tulis biar bisa buat dikenang kelak kalau mereka sudah gede-gede :D
Continue reading...

31 October, 2015

1 comments 10/31/2015 08:00:00 PM

Menjadi Muda di PK-45

Posted by isma - Filed under
akhirnya, sudah di-PK hehe

Semua mata menatap ke depan. Posisi berdiri tegak dengan tangan lurus ke bawah. Kami sedang menyanyikan mars LPDP bersama-sama. Lirik demi lirik kami lantunkan, sebaik-baiknya, sehafal-hafalnya karena kami tahu tengah diperhatikan oleh PIC PK LPDP, Pak Kamil. Tak terkecuali saya, yang jujur saja paling tidak bisa menyanyi dan belum banyak berlatih menghafalkan lirik wajib itu. Mungkin kalau diperhatikan baik-baik, gerak bibir saya kayak ikan maskoki, buka tutup buka tutup dan sesekali nggak matching dengan suara akhir dari lirik lagu.

Dan ternyata dari sinilah malapetaka hari pertama itu terjadi. Begitu seluruh peserta menyelesaikan lirik terakhir, “Majulah... Smangatlah... Jaya!” Pak Kamil tiba-tiba melempar perintah, “Bagi yang belum hafal mars, silakan maju ke depan!” Perintah yang membuat saya berteriak histeris dalam hati, “what what, mati deh!” Perintah yang membuat saya berasa muda lagi karena sudah membangkang dan melakukan kesalahan hahaha. Lalu dengan langkah nggak jelas, saya mengikuti perintah. Bersyukur, saya tidak sendirian. Ada beberapa teman yang juga belum hafal, atau sudah hafal tapi dari hasil pengamatan Pak Kamil gerakan bibir mereka kurang meyakinkan sebagai yang hafal hehe.

abis pentas kunokini
pas pentas seni kontemporer yang lucu

Begitulah salah satu kenangan menjadi muda dari Program Persiapan Keberangkatan angkatan 45, tanggal 16-31 Oktober 2015. Sebagai proses lanjutan dari diterimanya saya menjadi awardee LPDP. Banyak temen yang bilang, “PK itu menyenangkan tapi haram untuk diulang.” Hehehe, dan saya pun berpendapat yang sama. Dari pra-PK para peserta sudah disibukkan dengan tugas-tugas, seperti menulis essay tentang amazing Indonesia dan profil tokoh, mempersiapkan acara-acara untuk By You For You pas PK, belum lagi kalau kebagian jadi PIC, kebetulan saya sebagai PIC untuk tugas menulis review video angkatan 23. Alamak, repotnya haha. Lembur-lembur dah!

Demikian juga pas pelaksanaan PK. Tidak ada waktu cukup untuk istirahat. Persis kayak masa semesteran di Manoa karena lembur paper. Bedanya kalau PK karena kegiatan yang padat mulai abis subuh sampai pukul 10.00 malam, dilanjut dengan latihan-latihan untuk pentas By You For You dan nulis review. Untungnya, kelompok saya itu kebanyakan para artis yang talented, jadi latihannya nggak banyak-banyak. Ini tentu saja meringankan posisi saya sebagai tim pupuk bawang. Toh endingnya ternyata luar biasa. Kelompok Jong Islamieten Bond keluar sebagai pemenang kelompok PK-45. Keren!

outbond di citra elo magelang
usai penutupan di monjali

Tapi, di PK juga banyak serunya. misalnya kegiatan outbond, maklum pengalaman pertama rafting sama flying fox hehe. Ples para pemateri yang dihadirkan oleh LPDP. Rata-rata memang para “seleb” di bidangnya, misalnya, Bupati Bantaeng, Ricky Elson, dan Dick Doang. Mendengar pengalaman sukses para tokoh memang menyenangkan, selain juga dapat pesan-pesan baik sebagai pegangan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Saya suka sekali dengan penyampaian dari Pak Mahdum, direktur PUPD LPDP, tentang filosofi Elang yang harus menentukan pilihan dalam hidupnya, antara hidup lebih lama atau hanya sampai usia 30an tahun, dengan konsekuensi masing-masing.

Cuma yang namanya orang tua ya tetap beda dengan yang muda, generasi 90-an yang menjadi mayoritas di PK-45. Beberapa peserta, termasuk saya, dari generasi 70-an, tidak bisa sekontributif mereka yang muda *uhuk, ngeles. Saya cuma bantu-bantu sebar proposal, narikin duit ke sodara dan teman dan dapet 750.000 haha, potret-poter sebagai tim dokumentasi, update website, nulis puisi, beliin peniti sama kelereng, ngeprint foto makanan dan bawa gitar yang akhirnya nggak kepake, sama ikut-ikutan menggembirakan pentas. Nggak papalah, kan tim bongkotan hehe. Meskipun demikian, ada juga temen-temen yang mau menulis kesan buat saya. Hiks, terharu. Ini apresiasi yang luar biasa. Saya tentu senang sekali. Makasih ya teman-teman.

Continue reading...

18 September, 2015

5 comments 9/18/2015 01:01:00 PM

Dag Dig Dug Test LPDP

Posted by isma - Filed under ,
siap-siap buat test
Aiiih, siapa sih yang nggak dag dig dug saat mau test? Demikian juga dengan saya. Datang pagi-pagi memakai batik ke Gedung Keuangan Yogyakarta, jantung saya berdetak lebih cepat dari biasanya. Mulut saya jadi tak henti-henti melafalkan surat al-insyiroh, doa agar segala urusan dimudahkan. Di emperan ruangan test LPDP, saya sempat mengalihkan galau saya dengan ngobrol sama peserta lain. Ia perempuan berambut cepak berkulit putih bersih, seorang dosen di salah satu kampus swasta di Salatiga. Seperti saya, ia juga ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S3. “Saya sudah dapat LoA dari kampus di Melbourne,” jelasnya, yang membuat saya makdeg bergumam dalam hati, wah saingan nih! Hihihi.

Test pertama yang saya ikuti adalah menulis essay. Sebelumnya saya sempat bertanya-tanya kepada senior, tapi rupanya penulisan ini baru ditestkan di angkatan saya. Saya mempersiapkan ‘hafalan’ dua essay yang saya upload di website LPDP waktu pendaftaran. Hehe norak banget. Habis takutnya disuruh menulis sama persis dengan yang diupload. Tapi, ternyata tidak. “Jadi ada dua tema, tentang dampak globalisasi dan nasib anak korban kekerasan, dan kita suruh pilih,” seorang peserta yang sudah duluan mendapat giliran test tulis bercerita. Waktu itu saya pikir, temanya pasti diacak. Tidak sama antara grup satu dengan lainnya. Jadi, saya tidak mendahului merancang sistematika dengan dua tema itu.

Namun saudara, ternyata tema tulisan yang harus saya tulis sama persis dengan yang diujikan ke mbaknya. Di sini saya bener-bener merasa sebel haha. Jujur saja ya, saya paling gengsi sama test ini. Gengsi kalau tulisan saya jelek karena gini-gini saya kan trainer creative writing *uhuk*. Tapi, sungguh ternyata menulis dalam suasana test itu nggak asyik *ngeles*. Menit-menit pertama saya bengong, mau pilih yang mana. Kira-kira di antara dua tema ini, manakah yang lebih mudah. Wis pokoknya kondisi saya nggak elit banget, nggak pantas untuk diceritakan. Apalagi hasil tulisannya haha yang berisi tentang dampak globalisasi dan bagaimana menganggulanginya. Coba ya kalau tadi saya mencermati bocoran tema dari mbaknya. Tinggal penyesalan yang tersisa.

petunjuk ruangan test
Penulisan essay cuma berlangsung selama 45 menit apa ya *maaf saya ingin melupakan segala hal tentang test ini*. Setelah itu bersama dengan anggota kelompok B5 yang lain, saya menunggu giliran untuk test Leaderless Group Discussion (LGD). Kami berjumlah 8 orang. Semua masih unyu-unyu dan mau ambil S2, tentu saja kecuali saya yang sudah emak-emak beranak dua dan mau ambil S3 *sigh*. Kami duduk di koridor ruangan, sambil menerka-nerka testnya akan seperti apa. Dua orang cewek muda yang duduk di samping saya, mereka dari kelompok lain, tampak asyik membahas pengalaman mereka mengikuti LGD tahun lalu. Waktu itu, tidak ada seorang pun yang mencatat kesimpulan diskusi yang berdasarkan skenario akan menjadi bahan rekomendasi untuk diajukan ke DPR. “Ada yang lulus nggak dari grup Mbak dulu itu?” tanya saya. “Sepertinya tidak ada,” jawab salah satu dari keduanya.

Mendapat poin penting tentang test LGD, saya mendiskusikannya dengan teman-teman.”Siapa nih yang mau jadi notulen?” tanya salah seorang dari kami. Tak ada suara. Kami hanya saling lempar pandang. Namun, lama-lama semua mata menuju ke arah saya. Haha apes jadi orang paling dewasa. Mau nggak mau saya pun menerima untuk bertugas sebagai notulen.  Beruntung juga tema yang disodorkan untuk kami tentang MOS bagi siswa baru, dan apa rekomendasinya. Kami sudah sepakat untuk bergiliran bicara, dan setiap peserta harus mendapat jatah ngomong. Setelah itu, siapa yang mau boleh menambahkan. Tantangan buat saya, tentu harus mencatat. Saya juga sesekali meminta klarifikasi dan tambahan penjelasan, misalnya, MOS harus diawasi, lalu pertanyaan saya, oleh siapa. Di akhir diskusi saya diminta membacakan kesimpulan. Hufff! Leganya, saya bisa juga menjalankan tugas!

Keluar dari dag dig dug LGD, masuklah ke dag dig dug pemeriksaan dokumen. Kenapa dag dig dug? Ya, anything can be happened ya. Jadi supaya aman, lagi-lagi saya membaca al-insyiroh. Dan ternyata masalahnya ada di surat pernyataan yang bermaterai. Isi surat tersebut tidak sama dengan yang ada pada contoh. Padahal, saya sudah copy paste dari manual LPDP. Usut punya usut ternyata tanpa sadar saya sebenarnya mendaftar melalui jalur afirmasi yang saya pikir sebelumnya melalui jalur regular. Jadi judul suratnya harus diganti. Saya lalu jadi kuatir, takut kalau ketidaksadaran saya membawa masalah. Karena umumnya afirmasi prestasi itu untuk para atlet atau pemenang olimpiade hehe. Pantesan waktu ada bapak pejabat meninjau dan mendengar saya menjawab bahwa saya dari jalur afirmasi prestasi, saya ditanya, “Apa prestasi Anda?” gubrak!

menunggu giliran

Tentang revisi surat pernyataan itu, saya sebenarnya bisa menyusulkannya esok hari sebelum test interview. Namun, rezeki anak baik, ndilalah ada juga temen yang harus revisi surat dan ia mau membantu saya ngeprint ke luar. Saya yang kebetulan bawa laptop tinggal menyesuaikan isi surat dengan contoh yang benar dan menunggu teman saya itu datang dengan print out. “Mbak, besok kalau ditanya pas interview, jangan bilang salah centang ya jadi afirmasi,” seloroh mas-mas di sebelah saya. Haha mungkin dia sempat kaget pas saya menjawab pertanyaan bapak pejabat dengan, “Emang harus ada prestasi ya Pak?” hihihi

Selesai urusan test hari pertama, esok harinya saya mengikuti test interview. Sejak dua hari sebelumnya saya sudah membuat pancingan pertanyaan dan jawabannya yang saya praktikkan sambil berkegiatan di rumah. Biar saja dianggap aneh karena ngomong sendiri. Pagi saat test interview tiba, saya bersama anggota kelompok B5 berjajar di luar ruangan interview menunggu giliran. Gurat-gurat ketidakpastian nasib tergambar di setiap raut wajah kami. Begitu seorang kawan selesai interview, kami menyambutnya dengan serangan pertanyaan, “Bagaimana tadi, kamu ditanya apa, pakai bahasa Inggris atau Indonesia?” Dan ia menjelaskan kepada kami sambil megap-megap haha.

Saya mendapat giliran interview pukul 08.45 WIB. Tiga orang penanya sudah siap berhadap-hadapan dengan saya. Dua orang perempuan dan satu orang laki-laki. Mereka masih muda, kisaran usia 45 atau 50 tahun, dan tak ada satu pun yang saya kenal. Grogi saya sedikit berkurang. Akan lain kalau saya paling tidak tahu siapa interviwer saya, seperti ketika mengikuti interview beasiswa IFP. Salah satu interviwernya adalah Ibu Maria Hartiningsih, wartawan senior Kompas yang concern dengan isu-isu perempuan. Grogi saya berlipat-lipat. Apalagi saya waktu itu lebih banyak ditanya tentang pengetahuan, buku yang saya baca, dan sesekali disindir kenapa tidak tahu soal ini dan itu hehe. Menyeramkan pokoknya, dan saya berharap tidak demikian dengan interview LPDP ini.

Tuhan sepertinya menjawab doa saya. Para interviewer lebih banyak bertanya tentang hal-hal yang sudah saya tulis dalam aplikasi saya. “Tema penelitian Ibu tentang ulama perempuan ya. Sebenarnya apa pentingnya ulama perempuan itu?” interviewer berjilbab yang duduk di sebelah kiri memulai pertanyaan dari proposal penelitian saya. Ia juga meminta kepastian tentang komitmen untuk kembali ke tanah air. “Isu perempuan dan gender itu kan banyak diminati, bagaimana kalau setelah lulus Ibu diminta oleh kampus mana untuk bekerja di sana entah sebagai dosen atau peneliti?” ini pertanyaan yang lain. Pada bagian ini si Ibu tidak menyerah begitu saja mendengar jawaban saya tentang komitmen, ia menyerang saya dengan kondisi yang lain, tapi saya tetap teguh pendirian.

Penanya kedua, ia banyak bertanya tentang aktivitas saya dan sejauh mana saya berprestasi *uhuk*. “Itu pin apa yang Ibu pakai, santri Indonesia menulis?” tanya si Ibu sambil menunjuk ke arah jilbab saya. Seketika saya bersorak. Yes, yes, maksud saya memakai pin Matapena besar-besar di dada saya rupanya bersambut haha. Ini bagian dari caper supaya mendapat nilai tambah. Supaya saya bisa mempromosikan apa itu Matapena, kegiatan dan menunjukkan salah satu novel Matapena yang saya bawa. Hal sama yang aku pakai juga ketika interview IFP dan MEP (Muslim Exchange Program), kecuali untuk pin karena itu merchandise Matapena yang baru. Ini mungkin bisa dibilang trik yang norak haha. Tapi, pikir saya dalam interview semacam ini saya musti pede menunjukkan keberhasilan. Kalau bukan kita sendiri, siapa dong yang mau menjualkan kelebihan kita, iya nggak.

Berpindah ke penanya ketiga, ia meminta untuk switch ke bahasa Inggris. “Sure, I will try,” jawab saya ketika ia minta izin untuk pakai bahasa Inggris dan bertanya apakah saya keberatan. Karena penuturnya sesama Indonesia, tingkat grogi saya tidak sama seperti ketika interview untuk MEP atau program community solution. Yang sekarang lebih pede dan cuek saja apakah grammar saya salah atau tidak. Ia bertanya tentang tantangan terberat ketika studi di Hawaii, dan jawaban saya adalah bahasa. Ia juga bertanya tentang apa rencana setelah studi dan bagaimana menghadapi tantangan pengaruh lingkungan dan kehidupan Barat jika besok saya membawa keluarga tinggal di Belanda.

Menurut saya test interview LPDP tidak semenyeramkan bayangan saya. Memang salah satu interviwernya adalah psikolog. Tapi, saya tidak tahu pasti juga siapa di antara mereka yang psikolog. Jadi, jawab saja dengan konsisten seperti yang saya tuliskan dalam essay. Pengalaman saya sekolah di Hawaii dengan segala tantangannya juga banyak membantu saya menjawab dan meyakinkan mereka bahwa saya sudah punya bukti, entah itu keberhasilan studi, beradaptasi dengan lingkungan baru, komunikasi di internal keluarga, juga komitmen untuk kembali kepada komunitas. Di akhir sesi, salah serang interviewer mengusulkan, “Suami Ibu kan guru ya, sekolah saja sekalian di Belanda.” Sambil tersenyum saya menjawab, “Suami saya tidak suka sekolah Bu. Dia bilang, Ibu aja yang sekolah, aku dukung. Kalau aku nggak cocok.” Dan ketiga interviwer itu tertawa bersama. Hah legha!
Continue reading...

14 September, 2015

15 comments 9/14/2015 10:14:00 AM

Yeay! Senangnya Lulus LPDP!

Posted by isma - Filed under ,
Yeay, akhirnya saya lulus seleksi beasiswa LPDP!
Yeay, akhirnya saya jadi akan sekolah lagi!


Seharian itu saya seperti perempuan hamil 9 bulan yang tengah menunggu kelahiran buah hati. Gelisah dan harap-harap cemas. Saya sedang menunggu hasil ujian seleksi beasiswa yang saya ikuti. Saya juga jadi salah tingkah. Galau. Antara apakah nanti akan meluapkan kebahagiaan atau malah tragis, menangis di pojokan tenggelam dalam kesedihan. Karena ketidakjelasan itu, seluruh badan saya juga ikutan nggregesi nggak karu-karuan. Mungkin kalau dilakukan perbandingan raut muka, hari itu, 10 September 2015, adalah hari dengan raut muka saya yang paling jelek sepanjang tahun 2015. Namun, suasana segera berubah. Begitu saya membaca tulisan LULUS pada halaman akun LPDP saya, raut muka saya seketika sumringah berbinar-binar. Yeaaay, saya lulus! Yes yes. Eh tapi ini serius ya? Masih juga nggak percaya. Hehe. Yes. Saya lulus! Yeaay, saya lulus!

Nggak cuma saya, siapa pun pasti akan bahagia kalau usahanya berhasil. Saya sebenarnya sudah tiga kali kirim aplikasi untuk PhD fellowship ke Jerman, dan gagal semua. Itu niatnya masih setengah-setengah. Dan baru tahun ini saya berniat bulat untuk sekolah lagi. Artinya, saya sengaja mengirim email ke professor-professor di beberapa kampus, melamar untuk jadi mahasiswa bimbingan mereka. Motivasi terkuatnya sih karena faktor usia. Kalau nggak segera, keburu tua. Tapi ngapain sih sekolah lagi, hobi banget kayaknya. Hehe. Alasannya sederhana saja. Saya ingin menyelesaikan semua jenjang pendidikan pada umumnya, dari TK sampai S3. Biar pengalamannya komplit. Apalagi ada peluang pembiayaan yang gratis, kenapa tidak. Untuk alasan lainnya, yang lebih idealis *uhuk* saya tidak muluk-muluk, dan biasanya akan mengikuti. 


menunggu pemeriksaan keaslian dokumen LPDP
Lalu kenapa pilih sekolah ke luar negeri? Untuk pertanyaan ini saya bisa bertanya balik, kalau bisa ke luar negeri, kenapa tidak? Sekolah di luar negeri itu menyenangkan. Tidak hanya karena saya bisa shopping mata kuliah sesuai dengan bidang dan minat, tapi banyak hal baik lainnya yang saya temukan. Hubungan yang egaliter dengan para professor, dan mereka sangat baik, apresiatif, dan mau membantu. Saya juga bisa sekalian memupuk rasa percaya diri dengan penguasaan bahasa Inggris, dan dapat mengenal serta bekerja sama dengan teman-teman yang lebih beragam di lingkup international. Kesempatan untuk mengikuti program-program internasional juga banyak terbuka, dan ini secara tidak langsung memfasilitasi saya untuk bisa menjelajah dunia. Jalan-jalan. Apalagi jenjang sekolah PhD yang sampai empat tahun, jadi saya ada kesempatan untuk mengajak serta ayah, kak abiq, dan dik atha untuk punya pengalaman tinggal di luar Indonesia.

Pernah mengenyam pendidikan di Negara berbahasa Inggris dan mengikuti banyak program internasional itu ternyata bisa menambah posisi tawar kita, terutama ketika mau melamar untuk study S3. Memang sih tidak serta merta semua professor pada klepek-klepek begitu menerima email saya hehe. Saya berkirim email ke 10 professor di Eropa dan Australia. Dua professor menjawab kalau topik penelitian saya tidak sesuai dengan bidang mereka. Dua professor menjawab tidak sedang menerima mahasiswa untuk supervisi. Empat professor tidak membalas email. Dan dua professor, dari Melbourne dan Leiden, sudah menyelamatkan saya dari nasib tragis hehe. Mereka meresponse dengan kesediaan menjadi supervisor. Professor dari Melbourne malah membantu saya dengan menulis surat rekomendasi untuk beasiswa AAS

Letter of Acceptance

Lalu kenapa pilihan saya jatuh ke jawaban positif dari Leiden? Alasannya juga sederhana, mana-mana yang tersaji di hadapan saya, itulah yang saya ambil. Dan ndilalah proses di Leiden itu lebih mulus dan lancar. Leiden tidak mensyaratkan skor bahasa untuk pendaftaran, berbeda dengan di Melbourne. Ini memudahkan saya yang belum juga mengikuti ujian IELTS. Seleksi bahasa di Leiden dilakukan oleh professor. Dan di sinilah pengalaman internasional saya sangat berguna. Selain alumni dari Hawaii, saya dua kali pernah presentasi paper di workshop yang diadakan KITLV, sebuah pusat studi di Leiden University. Mungkin karena pertimbangan itu, setelah membaca proposal dan CV, sang professor langsung menyatakan kesediaan menjadi supervisor, tanpa permintaan interview skype, atau bertanya-tanya tentang skor bahasa, bahkan ia sendiri yang mencarikan saya professor lain sebagai partner pembimbing. Sedangkan di Melbourne, saya harus cari lagi sendiri dan belum juga mendapatkan response. Jadi proses di Leiden bener-benar keberuntungan buat saya!

Setelah mendapatkan statement kesediaan supervisi dari professor, dibimbing oleh officer beasiswa LPDP dan Kemenag-Dikti di Leiden, saya mengurus administrasi ke universitas untuk mendapatkan Letter of Acceptance (LoA). Dokumen yang saya kirim antara lain formulir yang sudah diisi, copy ijazah, transkrip, 2 surat rekomendasi, summary proposal riset, copy passport, dan copy master paper. Saya juga diminta menulis surat bahwa saya akan mendaftar beasiswa LPDP dan untuk itu membutuhkan LoA. Untuk ijazah, mereka minta yang dilegalisir oleh universitas penerbit. Jadi saya minta langsung ke kampus Hawaii untuk legalisir ijazah dan mengirimkannya ke Leiden. Semua dokumen saya kirim dalam bentuk file lewat email untuk mempercepat proses, dan juga dalam bentuk hard copy lewat EMS. Proses menunggu kurang lebih satu bulan dan saya mendapatkan LoA yang dikirim lewat email dan dikirim lewat pos Netherland ke alamat rumah. Sampai di sini rasanya plong. Yeaaay, saya sudah mendapatkan LoA.

Yeay! saya lulus!

Tugas selanjutnya adalah mendapatkan pembiayaan untuk studi saya melalui jalur LPDP. Posisi saya relative aman karena sudah mendapatkan LoA. Sesuatu yang sebelumnya tak bisa saya bayangkan, bagaimana cara mendapatkannya, dan akhirnya dimudahkan oleh Allah. Dengan LoA ini, secara otomatis menggugurkan syarat skor bahasa minimal 6,5 untuk IELTS dan 550 untuk TOEFL. Yeaaay! Saya senang bukan main. Tapi namanya diseleksi, meskipun banyak teman mendoakan kelulusan saya, apalagi sudah mendapatkan LoA, tetap saja rasanya harap-harap cemas. Takut tidak ketrima dan harus mengulang mendaftar lagi.  Saya minta doa kepada simak, ibu, ayah, juga pengasuh di pesantren. Saya selalu berkirim fatihah kepada para officer LPDP, penguji, interviewer, supaya mereka jatuh cinta pada saya, juga untuk berkas aplikasi saya supaya terlihat seksi dan menarik. Jadi, kalau selama ini ada yang membantah kiriman fatihah untuk orang meninggal tidak akan sampai, maka kalau dikirim orang yang masih hidup tentu kebalikannya, akan sampai hehe.

Yes, dan Allah memudahkan jalan saya. Alhamdulillah …
Continue reading...

21 August, 2015

2 comments 8/21/2015 05:33:00 PM

Pelajaran dari “Orang Baru”

Posted by isma - Filed under , ,

di depan pintu masuk eco camp

Saya berpikir cukup lama untuk mengisi jawaban pertanyaan tentang “strength” dan “weakness”. Saya lirik Atina yang duduk di sebelah dengan lincah mengisi titik-titik yang tersedia di buku pelajaran pertama. Saya mengedarkan pandangan ke seisi ruangan, sambil bergumam dalam hati, apa ya? Buntu.

Lalu ketika esok harinya Pak Erick bertanya kepada saya saat makan siang, pelajaran mana yang menurut saya paling berkesan sejauh ini, saya menjawab, pelajaran tentang “to be me”, atau pelajaran pertama. “Ternyata saya tidak cukup mengenal diri saya sendiri,” jelas saya ketika ditanya mengapa. Buktinya saya harus berpikir keras untuk menjawab pertanyaan tentang kelebihan dan kekurangan. “Untuk kekurangan, bisa lebih mudah. Tapi untuk kelebihan?” Pak Erick yang sudah fasih berbahasa Indonesia itu menimpali, “Aren’t you a good writer?” Dan saya tertawa lebar, menyadari kalau saya tidak mengakui kalau saya penulis yang baik.

Pak Erick

Begitulah tipikal orang Asia, kata Pak Erick, susah menghargai diri sendiri. Salah satu faktor penyebabnya karena tidak terbiasa mendapatkan pujian daripada kritikan. “Padahal pujian itu justru akan lebih memotivasi daripada kritikan,” lanjutnya. Iya, saya pun lebih senang dan merasa termotivasi dengan pujian. Bukan membuat tinggi hati, tapi ingin terus menjadi yang baik dan terus lebih baik. Pak Erick juga mengatakan bahwa anak perempuan cenderung menemukan sosok percontohan dari figure ayahnya. Jadi, akan sangat bagus kalau ayah bisa dekat dengan anak perempuannya. “Minta sang ayah untuk memberikan pujian pada anak perempuan kamu. Tidak selalu tentang prestasi sekolah, misalnya pakaiannya rapid an lain-lain,” Pak Erick memberikan contoh.

Ini bagian kecil dari pembelajaran di luar kelas yang saya dapatkan dari program TOT pendidikan perdamaian yang diadakan oleh Peace Generation di Bandung. Bertempat di Eco Camp, kegiatan ini berlangsung dari 14-16 Agustus 2015. Pak Erick adalah salah satu trainernya yang paling sering berinteraksi dengan para peserta. Saya perhatikan ia selalu membuat percakapan-percakapan kecil dengan setiap peserta, di luar kelas. Menurut saya ini metode yang menarik untuk membangun hubungan baik antara fasilitator dan peserta dan peserta juga merasa impressed karena mendapatkan perhatian dari fasilitator. Selain itu, fasilitator menjadi tahu sejauh mana proses training bisa diterima oleh peserta.

kegiatan pagi, berkeliling di kebunorganik


bersama trainer, panitia, dan seluruh peserta

Saya jadi teringat dengan Pak Henk, salah satu fasilitator program Mansoon School di India. Ia juga melakukan hal yang sama seperti dilakukan oleh PakErick. Waktu itu dia menyapa saya dengan mengatakan, “Saya ingin ngobrol dengan kamu, Isma. Tapi belum juga dapat kesempatan.” Lalu, ketika kami ada ekskursi ke desa, kami duduk bersebelahan di dalam bis dan berbincang-bincang. Waktu itu hanya dengan Pak Ram saya belum sempat diajak berbincang-bincang. Sepertinya ia memang unik.

Well, dari setiap program dan perjumpaan dengan orang baru, saya selalu mendapatkan pelajaran. Ini adalah anugerah, dan tentu saja, saya merasa senang sekali.

Continue reading...

24 June, 2015

3 comments 6/24/2015 08:06:00 PM

Kakak Menjadi Santri

Posted by isma - Filed under ,
bersama pengasuh, mbak badriyah fayumi
yeay, akhirnya kak shinfa khatam juga mengikuti pesantren kilat ramadhan tahun ini. sore itu ketika kami datang menjemput di pesantren mahasina pondok gede, wajah kakak tampak berbinar senang. apakah itu pertanda ia terkesan dengan pesantren kilat yang ia ikuti? hehe bukaaan. ia senang karena kegiatan sudah selesai dan ia boleh lagi kruntelan sama ibunya lagi.

kak shinfa sebenarnya tidak mau mondok. tapi aku ingin kak shinfa ada pengalaman tinggal di pesantren, belajar menjadi santri. kebetulan pesantren kilat (sanlat) yang diikuti kakak ini pengasuh pesantrennya adalah temen sekaligus guru di pengkaderan ulama perempuan yang aku ikuti, mbak badriyah fayumi. kebetulan juga berlokasi di sekitar jakarta, aku ajakin juga adik abhinaya, sepupu kak shinfa. ketika aku bilang kalau dik abhin juga ikutan sanlat, spontan kak shinfa menjawab iya. dik abhin juga tampak semangat. ia yang sebenarnya masih ngompolan biarpun sudah kelas 4 SD hehe, bersedia untuk belajar tidak ngompol sebelum berangkat ke pesantren.

kak shinfa dan dik atha di kamar kakak
 persiapan pun dilakukan. aku mentransfer infaq sanlat sebesar IDR 500.000, meminta adikku membeli kasur, dan mempersiapkan pakaian untuk kak shinfa. dari jogja kami berangkat pakai pesawat hari jum'at, 19 Juni 2015, dijemput adikku di bandara. Esok harinya, setelah shalat subuh kami berangkat ke pesantren mahasina. kak shinfa dan dik abhin tampak bersemangat dan tentu aku berharap semuanya akan berjalan dengan lancar. sebelumnya aku jelasin ke kakak kalau jumlah rakaat tarawih, bacaan shalat, dan bacaan qunut akan berbeda dari yang selama ini dilakukan kakak. "kayak kakak kalau jamaah sama ibu waktu shalat subuh itu, kakak ikut berdoa mengamini ya," pesanku. selama kakak di pesantren, aku tinggal di rumah adikku di slipi.

malam pertama berjalan dengan baik. baru keesokan harinya, ada sms dan telpon dari kakak pedamping masuk ke hapeku. waduh. tanda-tanda ada masalah ini. hehe ternyata benar. waktu aku telpon balik, suara kakak di seberang terdengar parau karena menangis. ia bahkan sesenggukan. "aku kangen ibu," ucapnya. "aku sudah ikuti kegiatan tapi tetep kebayang ibu." haduuuh, jadi terharu. ia ingin aku ikut menyusul tinggal di pesantren sampai selesai. aku berusaha merayu dan menjelaskan situasinya. lagi pula hanya lima hari, dan hari kamis kakak akan ditengokin juga.

salam-salaman usai penutupan
 ketika aku nengokin di pesantren, kakak tapak sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya. dengan sumringah dia juga bercerita kegiatannya di sanlat. belajar tauhid, ubudiyan, tajwid, dan hafalan al-qur'an. ia juga bercerita tentang teman-temannya. dan waktu aku tinggal lagi, ia tampak baik-baik saja. tapi, keesokan harinya ia kembali menelpon sambil nangis-nangis. masih merayu supaya aku datang ke pesantren menemaninya. sampai pada pagi hari rabu, kakak menelpon, memastikan akan dijemput jam berapa, masih sambil menangis. ck ck ck

yah, namanya juga anak-anak ya hehe. padahal dua tahun tinggal berjauhan dari ibunya juga bisa. mungkin karena di pesantren ngurus sendiri dan memang belajar mandiri, rasanya tentu berbeda. anyway, kakak sukses menyelesaikan tantagan mesantren selama 5 hari. senang sekali. dan sebagai ungkapan kebahagiaan, kami membeli sepatu dan buka puasa di pizza hut semanggi. selamat yaaa sudah jadi santri.

kak shinfa dan dik abhinaya

Continue reading...

07 May, 2015

11 comments 5/07/2015 06:29:00 PM

Cuplikan dari Kelas Blogging

Posted by isma - Filed under , ,
training blog content & design di jakarta
senang, puas, dan marem. begitu kira-kira rasanya saat saya tahu kalau apa yang saya jelaskan bisa dipahami. apalagi, waktu saya melihat hasilnya, seperti sebuah tulisan baru yang lebih berisi, dekat dengan pengalaman, dan enak untuk dibaca. misalnya annisa, semula ia menulis tentang gagasan organisasi kemahasiswaan. "adakah kamu punya pengalaman khusus yang membuat kamu terkesan, misalnya bagaimana menghargai orang lain?" tanya saya. ia lalu muncul dengan ceritanya tentang kunjungan ke suku baduy.

salah satu peserta training di jakarta ini menulis, "ada cerita menarik ketika saya menginap di Baduy Dalam, saya meminta izin untuk melakukan ibadah. mereka mempersilakan saya dan kawan lainnya untuk melakukan ibadah sesuai kepercayaan masing-masing. saya merasa terharu ketika bisa sujud di tanah Sunda Wiwitan ini. masyarakat Baduy tentu tidak asing dengan hal ini karena setiap week end mereka biasa menerima tamu/wisatawan yang menginap. meskipun kebanyakan mereka tidak bisa membaca dan menulis dan mungkin tidak tahu dengan teori toleransi tapi mereka mengerti dengan hakikat toleransi."

ini di palu, temen-temen sedang sharing hasil diskusi kelompok

di probolinggo, bersama tim kesehatan remaja, membuat blog
lain lagi dengan cerita di palu. kebetulan jumlah pesertanya lebih sedikit dari pelatihan di kota lain. kurang lebih 15 anak. sehingga saya jadi ada waktu untuk ngobrol dan mengikuti proses menulis mereka satu per satu. namanya abdi. ia ingin menceritakan kisah dari bapaknya tentang perseteruan di pasar yang berlangsung lama. dengan apik ia memulai tulisannya, “sebuah lapak yang menjadi penyebab perselisihan 2 individu yang berbeda suku,” cerita bapak. waktu itu saya masih duduk di Sekolah Dasar. saya sering mendengar cerita dari orang-orang bahwa suku Kaili dan Bugis yang bekerja di pasar pernah berseteru. lalu saya bertanya kepada Bapak tentang bagaimana perseteruan itu bisa terjadi."

sementara di bondowoso, saya bertemu lum'ah yang tulisannya dari awal memang sudah bagus. ia punya skill untuk membuat narasi. hanya perlu teman diskusi saja, kira-kira tema seperti apa yang menarik untuk ditulis. "kamu punya temen yang menikah muda?" tanya saya. ia mengangguk. "bagaimana keadaannya?" lanjut saya. ia bilang, keadaannya membuat ia sedih. ia pernah main ke rumahnya dan ngobrol banyak. "kenapa kamu tidak menulis tentang pengalaman temanmu itu dan bagaimana kamu melihat keadaannya sekarang?" tawar saya. lum'ah setuju dan tulisannya yang berjudul 'kado terindah dari sahabat' menjadi tulisan paling menarik dan ia berhak mendapatkan tablet dari panitia.

training di semarang
ini di bandung
bersama firoh dan peserta GENRE Media Production Workshop

kalau semua mau ditulis satu per satu tidak akan muat. ini cuplikan kesan dari kisah sepanjang bulan maret dan april 2015, mengisi training blog content dan design, di enam tempat berbeda. mulai dari jakarta, semarang, bandung, dan palu dimotori oleh search for common ground. lalu di probolinggo yang disupport oleh pt. ipmomi, dan di bondowoso yang diorganisasi oleh firoh bersama bkkbn. tema yang dituliskan juga berbeda-beda, dari ngeblog untuk peacebuilding, untuk promosi kesehatan remaja, pengelolaan sampah, dan posyandu, sampai issue say no untuk menikah dini, narkoba, dan seks bebas.

para peserta yang ikut adalah pelajar SMA dan mahasiswa. saya lebih suka dengan anak-anak SMA-nya. bukan karena mereka masih pada imut-imut lho ya. tapi karena mereka enak untuk diajak berproses dan mau belajar. tahu kalau "show" itu lebih bagus daripada sekadar "tell", dan mau beranjak dan benar-benar menggambarkan. mereka lebih suka tema-tema sederhana, cerita sehari-hari yang lebih dekat dengan mereka, tapi bernilai. senengnya lagi, mereka pintar mengapresiasi proses di kelas. tentu sebagai fasilitator saya jadi seneng. karena biarpun sedikit dan apa adanya, ternyata punya manfaat dan makna. begitu harapan saya. semoga. amiin.
Continue reading...

21 April, 2015

5 comments 4/21/2015 11:17:00 PM

Uti adalah "Kartini" bagi Keluarga Kami

Posted by isma - Filed under , ,
keluarga besar kami di yogyakarta

Kata “mertua” mungkin tidak selalu terdengar enak di telinga. Macam-macam saja bayangannya. Dari yang teknis dan terlihat mata seperti sikap yang kaku dan tidak akrab, merasa terusik dengan campur tangan, sampai hal-hal yang ekstrim misalnya sampai beradu mulut dalam pertengkaran. Malah tidak jarang, teman dan sanak saudara ikut memberi saran kepada pasangan yang baru menikah, agar tinggal secara terpisah dari “mertua”.  Karena akan rumit dan menyeramkan.

Namun dalam kenyataanya, “mertua” tidak selamanya seperti yang dibayangkan. Mertua, baik bapak atau ibu, dari pihak suami atau istri, malah bisa memberikan kasih sayang dan perhatian seperti orang tua sendiri. Barangkali sayalah yang termasuk di antara mereka yang beruntung dengan anugerah bapak dan ibu mertua yang sangat baik dan selalu mendukung kegiatan dan pekerjaan saya. Ibu mertua saya memang orang tua dari generasi lama dan bukan aktivis muda yang masih penuh semangat. Namun, ia berpemikiran seperti Ibu Kartini yang progressive dan modern.

“Kamu itu kalau mau daftar apa-apa mbok bilang, supaya kami bisa ikut mendoakan,” begitu Ibu bilang ketika ia mendengar dari ayah kalau saya akan mengikuti test bahasa Inggris untuk beasiswa sekolah ke luar negeri. Terus terang saya jadi terenyuh. Saya sempat khawatir apakah Uti, demikian ia biasa dipanggil sebagai singkatan dari mbah putri, akan mendukung rencana saya yang berarti membolehkan saya meninggalkan anak laki-lakinya dan cucu-cucunya untuk dua tahun. Hei, ternyata ia malah senang. “Tidak apa-apa ya Nok, Ibu biar pinter. Sekolah lagi,” jawabnya pada kesempatan yang lain. Memberikan pengertian kepada Kak Shinfa.

Sejak menikah tahun 2004 kami tinggal serumah dengan Uti. Ia ikut merawat dua cucunya sejak bayi. Bahkan ketika akhirnya saya diterima sekolah di University of Hawaii at Manoa USA, Uti juga yang membantu ayah merawat bayi mungil saya yang kedua, Kafkay Natha. Tanpa dukungan Uti kayaknya mustahil kami bisa melewati masa-masa sulit itu. Dan, alih-alih protes karena saya meninggalkan bayi di rumah, ia malah memberikan dukungan yang sangat luar biasa. Hebat sekali bukan?

Uti juga terbuka dengan kesepakatan di antara saya dan ayah. Bahwa tugas saya adalah memasak, memandikan anak-anak, dan menyetrika. Sementara tugas ayah adalah mencuci dan menjemur pakaian. Tak jarang seorang Ibu yang konservatif tidak rela anak laki-lakinya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ia bisa juga merasa keberatan atau marah. Tapi, tidak demikian dengan Uti. Ia bisa memahami dan menerima kesepakatan kami. Malah kalau melihat baju kotor anak-anak, ia langsung menunjuk ayah untuk membereskannya.

Tinggal bersama selama 8 tahun bukan berarti tidak ada konflik. Riak-riak kecil tetap ada. Tapi, saya dan ayah selalu berusaha menyelesaikannya dengan baik. Bukan konflik besar dan bersifat prinsip. Hanya perbedaan pendapat misalnya dalam pola asuh anak-anak. Kami lebih fleksibel, sedangkan Uti cenderung kaku dan beranggapan yang lebih benar. Bukan masalah besar bagi saya dan ayah untuk mengalah dan mendengarkan pendapatnya dengan baik. Bukan membantah dan mendebat. Dan sejauh ini kami baik-baik saja.

Sampai tahun 2013 saya dan keluarga kecil pindah ke rumah kecil kami. Uti tentu sangat sedih sekali. Apalagi sejak Bapak meninggal, ia hanya ditemani cucunya dari mbaknya ayah. Setiap Sabtu ia sering menelpon supaya mengantarkan cucu-cucunya ke rumah. Tapi, kadang Kak Shinfa dan Dik Atha ada kegiatan di sekolah, atau saya yang ada kegiatan. Bersyukur rumah kami hanya 15an menit jaraknya dari rumah Uti. Jadi mudah bagi kami untuk berkunjung setiap waktu. Sebagaimana ia tak pernah bosan ikut menjaga keluarga kami, saya dan ayah juga akan selalu dekat dengannya. Uti adalah kartini bagi keluarga kecil kami.

Postingan ini ditulis dalam rangka posting serentak untuk Hari Kartini 21 April 2015 oleh Kumpulan Emak-Emak Blogger :)



Continue reading...

03 February, 2015

2 comments 2/03/2015 10:34:00 AM

Keluarga di Singapore

Posted by isma - Filed under , ,
Almarhum bapak pernah bercerita kalau Mbah Kasbari atau kami biasa memanggilnya Mbah Kastani termasuk salah satu yang ikut terbuang ke luar negeri pada masa penjajahan. Ia terdampar di Singapore. Di Negara yang terkenal dengan ikon singa itu ia berjuang untuk bertahan hidup hingga akhirnya menikah dengan warga setempat dan beranak-pinak. Tahun 80-an ketika aku masih duduk di bangku SD, hampir setiap liburan akhir tahun, Mbah Kastani berkunjung ke kampung halamanku, Pekalongan. Pernah datang sendirian, sering juga bersama anak-anak dan cucu-cucunya, membawa makanan, pakaian, dan uang. Tentu saja kami yang di kampung selalu senang dengan kedatangan mereka.

aunti jumuyah, pak jalali, pak syukor, alm. mbah kastani, alm. bapak dan pak ngaliman 

Hingga suatu ketika, Mbah Kastani dan keluarga tak pernah lagi berkunjung ke rumah. Hanya sesekali, dan satu dua hari saja. Aku pernah menghubungi nomor telpon yang aku dapat dari Simak, dan sempat juga ngobrol dengan Mbah Kastani. Tapi setelah itu, praktis tidak ada komunikasi. Dan tahun lalu, 2014 sebelum Mbah Kastani meninggal dunia, anak-anaknya kembali berkunjung ke Pekalongan. Dari sinilah cerita jalinan kekeluargaan di antara kami kembali dimulai. Aku bisa kembali terhubung dengan Diana, gadis kecil yang akrab denganku waktu kunjungannya puluhan tahun silam. Apalagi sekarang sudah ada facebook dan whatsup. Jarak di antara kami serasa dilipat-lipat saja.

bersama seluruh keluarga, kecuali pak jalali dan pak taslim
bersama keluarga pak taslim
bersama keluarga pak ngaliman
bersama keluarga pak jalali
Bertemu kembali setelah puluhan tahun tak ada berita, rasanya sesuatu sekali tentunya. Diana sampai harus meyakinkan apakah benar saya yang dulu menemaninya bermain waktu liburan ke rumah. "Aku kirim surat juga lho dan dibalas juga sama Yana dengan sebuah foto," jelasku. Sayangnya fotonya entah nyasar di mana hehe. Kami ngobrol banyak lewat Facebook, sebelum kemudian saya bisa juga bertemu dengannya secara langsung.

Aku senang sekali bisa menyempatkan untuk singgah ke Singapore sepulang dari Belanda, pada 17-20 Januari 2015. Diana sekarang bukan gadis kecil lagi. Demikian juga Erna dan Farhan. Para sepupuku dari Singapore. Selama empat hari aku tinggal di flat Pak Wo Ahmad. Secara bergantian, mereka menemani jalan-jalan. Dari Sentosa Island, Marine Bay, Singapore Zoo, Bugis street, naik Bianglala (haha apa namanya lupa), membuat hari-hari di Singapore jadi berasa liburan. Saya juga berkunjung ke rumah semua anak Mbak Kastani, satu per satu. Dari Pak wo Ahmad, Pak Ngaliman, Pak Jalali, Pak Taslim, Aunti Jumuyah dan Aunti Sabariyah. Seperti hampir semua penduduk Singapore, mereka tinggal di flat. Tapi aku suka lihatnya karena rapi dan bersih.

berasa jadi ponakan bener :)
aunti sabariyah, erna dan diana yang sudah bukan gadis cilik lagi
pose di pintu masuk sea world
naik cable car 

Mendengar cerita seruku selama di Singapore, Simakku senang sekali. Akhirnya ada juga anak turunnya yang ganti menengok ke Singapore hehe. Bagi orang-orang ndeso seperti kami, ini bagian dari prestasi. Keren. Apalagi datang sendirian. Naik pesawat (haha). Simak jadi ingin juga sampai ke sana. Ayah dan anak-anak juga. Waktu itu aku sempat minta ayah dan anak-anak menyusulku, tapi ayah tak bisa ambil libur. Mungkin liburan akhir tahun ini. Semoga ada rezeki untuk kami bisa menjaga tali silaturahim antara keluarga Pekalongan dan Singapore. Semoga. Amiin.
Continue reading...