<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=34050377&amp;blogName=topi+bundar&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=TAN&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Ftopibundar.blogspot.com%2F&amp;blogLocale=en_US&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Ftopibundar.blogspot.com%2Fsearch" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

we r in love

Ingatan tentang Kehamilan

14 July, 2009

Lagi senang baca-baca artikel tentang kehamilan di sebuah situs. Aku menemukan:

"Suami sebaiknya tidak membuat masalah dalam komunikasi. Jangan membuat emosi istri terganggu, misalnya marah atau bertengkar. Buatlah istri selalu dalam emosi positif. Saat hamil, istri mungkin akan lebih sensitif, jadi suami juga harus maklum. Jangan memancing hal-hal yang bisa membuat istri marah, sedih, dan tertekan karena bisa mempengaruhi kandungan. Suami harus berempati. Misalnya, membantu pekerjaan rumah dan lain sebagainya."

Jadi teringat saat hamil Shinfa. Soal sedikit saja bisa jadi bahan buat marah-marah dan nangis sama ayah. Tidak didengar pas cerita saja bisa bikin tersinggung dan merasa tidak diperhatikan. Apalagi kalau ayah kelihatan acuh dan nggak ngaruhke tentang keadaanku juga adik kecil dalam kandungan. Rasanya, cuma aku seorang yang mengalami capek dan pegal, ngos2an dan sesak napas, tanpa ayah mau tahu dengan kondisi ini.

Pernah juga, seharian ayah tidak ngaruhke aku. Sms-nya hanya berisi jawaban atas pertanyaanku, tanpa ada pertanyaan balik tentang keadaanku. Sepele mungkin karena bisa saja ayah sedang sibuk dan capek. Tapi, tetap saja aku jadi tidak terima dan marah-marah. Untunglah ayah mengerti dan memahami sebab marahku lalu menjawab, "Ngapurane ya...," dan berubah jadi lebih memperhatikan.

Jadi, sebenarnya faktor lingkungan, mulai dari suami dan keluarga, kantor, teman-teman sangat mempengaruhi kenyamanan bumil. Memang sih egois yak, hehe maunya dimengerti dan meminta orang lain mengalah dan mengerti. Tapi, seperti itulah adanya. Tentu saja, bagi lingkungan yang punya empati dan punya maksud juga keinginan yang baik, sebuah kelahiran yang membawa kebahagiaan.

Labels:

Author: isma »

Thanks for 1 comments

Mungkin pengaruh hormon juga ya akibatnya emosi menjadi labil kek gitu.

Sinfa mo punya adik ta mbak? 

dari: Anonymous Lala;--- 5:20 AM

Post a Comment


Lilypie 4th Birthday Ticker

My Princess

02 July, 2009

Alhamdulillah, Shinfa sudah 4 tahun 6 bulan. Pas aku ke Jepara kemarin ayah bilang, “Tahu nggak Bu, Abiq sekarang tambah cantik lho...” Agak tidak paham sih apa maksudnya, secara ukuran tambah cantik itu kan agak repot juga. Lain dengan tambah gemuk atau kurus. “Besok lihat saja sendiri,” gitu jawab Ayah ketika aku bertanya lebih lanjut.

Kalau Shinfa suka dandan, itu sudah sejak lama. Maklum, anak-anak itu peniru sejati. Dan, di rumah hampir semuanya perempuan, selain Ato dan Ayah. Jadi, ada Bulek, Mbak Uyung, Mbak Uwik, ditambah Mbak Tami yang klop kalau diajak bereksperimen soal dandan. Kalau Shinfa dan Tami sudah masuk kamar berdua, pintu ditutup, dijamin sedang terjadi sesuatu dan propertinya adalah piranti kecantikan punya mbak-mbak mereka. Makanya begitu ada yang melihat mereka sudah glenak-glenik menuju kamar, langsung pada nanya, “Hayooo pada ngapainnnn...” Dan, mereka akan menjawab, “Enggak ngapa-ngapain koooook,” sambil keluar dari kamar dengan kecewa karena kepergok sebelum beraksi. Hehe.


Setiap kali selesai mandi putriku ini menolak disisiri. “Dik Abit mau sisiran sendiri,” tegasnya. Kalau ayah biasanya suka nggak sabar, apalagi kalau lihat sisiran Shinfa nggak rapi. Tapi, buatku itu justru hal positif, dia sudah mulai mandiri. Soal sisiran yang nggak rapi, biarkan saja, namanya juga anak-anak. Aku malah asyik memperhatikan cara dia sisiran. Rambut depan dibelah pinggir, dan poninya disisir ke depan dengan posisi miring. “Model apa itu, Dik. Disisir miring gitu?” aku bertanya. Jawab Shinfa, “Lha Mbak Tami kalau sisiran juga begini.” Hehe, meniru poni para artis di sinetron tuh.

Satu lagi yang membuat aku nggumon, kalau Shinfa mengikat rambut atau bikin kuncir. Kadang diikat satu, kadang dua di kiri kanan, atau atas bawah. Kadang sudah terlihat rapi, kadang masih acak adut. Tapi, dengan poni yang disisir rapi seperti pagar itu, wajahnya yang mungil jadi terlihat imut dan jelita... hehehehe gubrak.

Kemarin ketika aku ajak jalan-jalan ke Ram**ana bareng Dewi, adikku, di bagian baju anak-anak Shinfa langsung menunjuk sebuah baju rompi berwarna pink dan kaos putih. Tapi, sayang waktu dicoba di kamar pas, panjangnya jauh di atas lutut. Kira-kira kalau lewat satu bulan gitu sudah kelihatan congklangnya. “Ini aja Dik, bagus juga,” usulku menunjukkan model baju yang lain. Sambil berjalan mendekat ke arahku, dengan gaya sok dewasa, dia menjawab, “Dik Abit itu mau milih sendiri, Buuuu.” Dan, dia menunjuk pada rok warna ungu ala seorang puteri. “Dik Abit mau yang ini.”

Awalnya rok itu terlihat biasa dan kuno. Tapi, setelah dicoba, weleh pas sekali melekat di tubuh Shinfa. Seperti seorang puteri karena bagian bawahnya memang berbentuk balon. Njebubuk istilahe. Dan, sampai di rumah, rok itu terus dipakai selama dua hari. Setiap kali berjalan, kedua tangannya akan menaikkan sisi kanan dan kiri rok, seolah takut menyentuh tanah saking panjangnya. Hehe padahal panjangnya cuma sebawah lutut. Apalagi kalau rambutnya diikat ke belakang, seperti yang Shinfa lakukan siang itu. Jadi seperti puteri beneran deh... wekekekekek!

Labels:

Author: isma »

Thanks for 2 comments

wah jan, shinfa gaya tenan kalo dandan. Cantik dewh 

dari: Blogger entik;--- 10:06 AM

Wah wah wah ayu lan kenes, nurun sopo yo??? 

dari: Anonymous Lala;--- 5:21 AM

Post a Comment


Lilypie 4th Birthday Ticker

Kopdar di Jepara

04 May, 2009

Satu hal yang sering aku lakukan, tiap kali ada kesempatan ke luar kota adalah menemui kawan baru atau berburu kawan lama. Kawan baru bisa jadi teman blog, fb, atau kenalan dari mana saja yang belum sempat saling bertatap muka. Sementara kawan lama, tentu saja kami sudah sempat bertemu sebelumnya tapi karena jarak, aktivitas, dengan terpaksa harus terpisah dan tak bisa sering-sering bertukar sapa.

Yang pertama, aku berkesempatan ketemu sama Mbak Tatik. Dia teman satu kamarku di al-Jamilah 4 dulu. Perburuan aku mulai dengan meminta alamat ke Mbak Aniz. "Coba Mbak, buka2 agenda alamat teman-teman kamar kita dulu yang dari Jepara," pintaku. Aku nggak kepikiran sebelumnya untuk menginventaris nama-nama dari buku agendaku di rumah. Ternyata ya, kebiasaan bertukar alamat dan foto bagi anak-anak kelas akhir di pondok dulu, ada manfaatnya juga hehe.

Dan, karena alamat Mbak Tatik dilengkapi dengan no telpon, jadi untuk menemukannya jauh lebih mudah. Lewat informasi dari ibunya, ternyata Mbak Tatik sudah pindah rumah, tapi biasanya dia sibuk di salonnya di shoping centre Jepara. Aku nggak begitu heran sih, secara Mbak Tatik dulu itu jadi tukang salonnya di Jamilah 4. Kalau hari Jumat, walah pada antri minta dipotong. Tetangga kamar juga nggak mau ketinggalan. Hebat ya!

Aku dan teman-teman sempat muter-muter sih, mencari2 di mana salon itu. Untung pada sabar, sampai kami menemukan salon Tatix. Begitu kami saling bertatap muka, "Hei, aku kok gak lali 'e sama wajahmu?" kata Mbak Tatik sambil berusaha mengingat-ingat di mana pernah ketemu aku. "Hei, cah pekalongan yo, adike ...?" Kontan aku ketawa. "Iya, Mbak. Aku adiknya Mbak Isma." "Iya. Tapi celukanmu dudu isma ra..." Yup. Aku lalu menyebut, "Ima..." Hehe. Jaman di pondok dulu, aku memang dipanggil Ima, untuk membedakan panggilan buat mbak yuku yang bernama Ismawati.

jilbab by ladisa-nya Angky. Matur nuwun ya buk!

Dan, kami pun bernostalgia di salon Tatix. Kata Mbak Tatik, aku tetep cilik kayak dulu di pondok. Dan, Mbak Tatik juga tetep rame dan nggak bisa diam.

Nah, kopdar yang kedua sama si Ndah. Ini agak mendadak juga, karena takutku nggak ada waktu. Ternyata hari terakhir acaranya diundur jam 5 sore. So, aku bisa ngabur naik bis ke terminal jepara dan dijemput si Ndah di tempat itu. Acaranya, makan cumi-cumi, potong rambut (horeeee akhirnya potong rambut juga deh!), dan silaturrahim ke temen pondokku yang lain, Mbak Karyati. Tapi, Mbak Yati agak lupa-lupa ingat, maklum soale kita ketemu pas pengajian ramadhanan aja. Sedangkan adiknya, Mbak Yani, yang satu angkatan sama Mbak Tatik, sudah pindah ke Makasar.



But anyway, seneng banget bisa ketemuan gitu. Nyambung sedulur dan kedekatan. Iya kan? Ayo-ayo, kopdaran yuk hehehe.

Labels:

Author: isma »

Thanks for 4 comments

kopdar...kopdar.. kapan kopdar sama akuuuu?? ;)) 

dari: Blogger Nia;--- 7:36 AM

wah .. jadi pengen banget ni kopdar ma Mba' Isma.. smoga kesampaian yach dan tentunya dalam suasana seru dan bahagia..

jabat erat slalu smoga pertemanan kita langgeng dan berkah ..makasih yaaa.. 

dari: Anonymous budhe;--- 1:20 AM

tapi sampeyan udah lama lho ndak kopdar sama aku Is :D 

dari: Anonymous Fa;--- 4:59 AM

iya, serunya kopdar tapi diriku juga belon pernah kopdar sama kamu mba isma, pdhl yo di djogja loh 

dari: Blogger entik;--- 9:57 AM

Post a Comment


Lilypie 4th Birthday Ticker