28 March, 2008

20 comments 3/28/2008 07:52:00 AM

Pondok Mertua Indah

Posted by isma - Filed under
Suatu ketika seorang teman pernah bilang ke aku:
”Nggak ngebayangin deh tinggal bareng mertua. Mana gue kan model-model mantu yang pemalas. Nyuci, ngurus anak, gue gantian sama suami. Belum lagi kalau manggil suami, gue biasa pake nama aja. Waah bisa dikira nggak beradab deh!” Dan, ketika temanku dan suaminya diminta untuk pulang kampung daripada tinggal di Jakarta yang kian hari kian nggak sehat itu, ia merasa sangat keberatan karena harus tinggal bareng mertua.

Seorang temanku yang lain juga pernah bertanya dengan ekspresi wajah yang heran dan susah membayangkan, ”Kamu serumah sama mertua ya?”
”Iya,” jawabku pasti.
”Gimana? Baik-baik saja kan?”
”Iya. Baik-baik aja kok,” jawabku agak heran juga. Hihi.

Yah, diakui atau tidak media elektronik, terutama, memang berhasil menumbuhkan stigma pada peran yang namanya mertua. Coba aja amati sinetron yang biasa tayang di TV. Dari Cinta Bunga sampai Cinta Fitri *alah* citra mertua digambarkan begitu menyeramkan. Galak, gila harta, tidak mau berbagi, dan tidak mau menghargai peran mantu sebagai istri dari anaknya. Peran mertua disejajarkan dengan gambaran ibu tiri yang sudah sukses lebih dulu dengan kejelakannya. Pantas kalau teman-temanku pada heran kenapa aku mau dan bisa bertahan tinggal bareng mertua.

Idealnya begitu menikah memang bisa mandiri dan tinggal terpisah rumah dengan ortu. Selain untuk menjaga hubungan biar lebih sehat, hubungan pribadi antarpasangan juga bisa nyaman karena tidak ada intervensi atau bibit-bibit kecemburuan. Meskipun dengan ngontrak rumah atau beli rumah cicilan. Seperti yang dijelaskan Mama Dedeh kemarin pagi di sebuah acara siraman ruhani sebuah stasiun televisi.

Ah, tapi... agaknya anak juga jangan semuanya egois dan memandang penting keluarga barunya tanpa mempertimbangkan kondisi orang tua. Ada baiknya di antara 10 anak, misalnya, ada salah seorang yang mengalah berkenan tinggal di rumah induk menemani orang tua. Mengantarkan ibu ke pasar, layat, nyumbang. Atau menggantikan bapak yang sudah sepuh untuk tugas ronda, gropyok tikus, dan kerja bakti. Karena jika yang didahulukan adalah egoisme dan stigma jelek tentang mertua sampai tidak ada seorang menantu pun yang mau tinggal di Perumahan Mertua Indah, bisa jadi setiap rumah induk adalah panti jompo yang berisi para orang tua yang kesepian tanpa anak dan cucu. Kasihan sekali.

Memang tidak mudah untuk memulai hubungan baik antara menantu dengan mertua. Aku cukup berpengalaman dalam hal ini. *suiiiit...suiiit*. Karena mertua memang berbeda dengan orang tua kandung dalam hal kedekatan dan keakraban. Aku juga tidak bisa menjadi begitu dekat dengan mertua seperti aku dekat dengan bapak-simakku, apalagi dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Meskipun mertuaku bukan tipe seperti yang digambarkan dalam sinetron-sinetron itu. *lirik-lirik.com*

Contoh kecil, kalau aku ditegur simak, ”Mbok sana ikut arisan malam, biar banyak teman,” maka aku akan dengan santai bisa menjawab, ”Aku capek Mak. Sampai rumah maghrib. Ngantuk. Belum kalau Shinfa rewel.” Tapi, kalau yang menegur itu adalah mertua, mana berani aku menjawab, dan secara otomatis teguran itu bisa saja berubah makna menjadi, ”Jadi selama ini aku masih kurang berteman dengan tetangga ya?” Karena pada teguran yang kedua berhasil menyentil ketersinggungan. Belum lagi kalau tegurannya sampai membanding-bandingkan. Misalnya, ”Mbok sana ikut pengajian kayak Mbak Asih itu lho...” Kalau teguran ini diucapkan oleh bapak atau simakku mungkin akan terdengar biasa. Tapi, kalau yang mengucapkan adalah mertua... bisa panjang sekali penafsirannya... Tentu saja karena kedekatan dengan ortu sendiri dan mertua itu berbeda, dan untuk membangunnya dibutuhkan proses.

Konflik juga bisa muncul karena kecemburuan. Persis seperti yang dikonflikkan dalam Cinta Fitri. Sekali waktu aku merasa ayah seperti lebih banyak mencurahkan waktu untuk keluarga besarnya, tanpa memberikan perhatian misalnya nonton bareng atau bersantai-santai ngobrol berduaan. Atau ketika dalam satu waktu ayah harus memilih antara menemani aku belanja bulanan atau mengantar kondangan. Kalau ayah milih mengantar aku, bisa saja mertuaku jadi cemburu. Begitu pun sebaliknya. Bisa juga kecemburuan terjadi antara menantu dan adik ipar. ”Yang nyapu kok aku terus, kamu enak-enakan aja nonton tv,” gerutu salah seorang di antara keduanya, misalnya

Atau, soal selera masakan. Yang satu suka santan rasa manis, yang satunya suka santan yang pedas. Yang ini suka itu, yang itu suka ini. Atau, soal kesepakatan-kesepakatan pribadi suami istri, seperti dikhawatirkan temanku, misalnya suami biasa mencuci... ”Bisa saja mertuaku tidak terima anaknya mencucikan bajuku dan anakku,” jelas temanku. Alhasil, bisa saja mertua intervensi, ikut mengatur kesepakatan baru demi melindungi anaknya, misalnya.

Rumit memang kalau dipetani satu per satu. Tapi, kalau dasarnya adalah saling legowo dan neriman, juga cuek dan luweh, the show will go on deh! Lambat laun kedekatan, kecocokan, dan kesepahaman akan bisa terbangun. Apalagi kalau bisa bekerja sama dengan baik, dijamin enteng deh yang namanya pengeluaran dan kerjaan rumah tangga. Hihi. Masak pagi adalah tugasku. Masak sianmg giliran ibu. Adik ipar cewek bagian nyapu dan asah-asah.

Tentu saja dengan catatan, mantu atau mertua juga anggota keluarga induk yang lain seperti adik ipar, memang punya itikad untuk saling menghormati dan menjalin hubungan yang baik. Bukan seperti yang digambarkan dalam sinetron. Bubrah kalau seperti itu. Dan paling tidak, dengan tinggal bareng mertua kita bisa dapat pelajaran kira-kira sikap seperti apa yang bisa membuat anak mantu tersinggung dan lalu jangan sampai kita lakukan.

Seiring perjalanan waktu, mulai 2004, aku ingat akhir tahun 2007 lalu aku finally dapat penghargaan sebuah pujian... ”Isma saiki nek masak wis koyo wong kene. Wis pas!” Gubrak! Atau yang membuat aku diam-diam tersipu, ketika mbak tukang sayur cerita kalau mertuaku pernah menunjukkan salah satu novelku sambil menjelaskan kalau itu tulisanku. Cieeee! Atau yang membuat aku terenyuh adalah ketika aku mengajukan beasiswa. Aku sempat menyangka kalau rencana ini kurang bisa diterima oleh mertuaku. Karena berarti waktuku akan lebih banyak tidak bersama ayah dan Shinfa. Tapi mertuaku malah bilang, ”Ya popo yo, Bik. Abik neng umah yo... Mugo-mugo hasil sing dicita-cita’ke.”

Jadi, kalau memang pilihan yang harus Anda ambil adalah menemani hari tua mertua di Perumahan Mertua Indah, why not?! Karena kelak kita pun akan menjadi orang tua dan mertua yang sangat membutuhkan kehadiran anak dan menantu.

20 comments:

entik said...

pondok mertua indah...,aku belum sempat ngalami tapi kalo tinggal di rumah ortu sampai akhirnya punya rumah sendiri pernah.
emang sebuah pilihan sulit ketika harus meninggal ortu/mertua sendiri. Aku ga tahu apa aku termasuk egois pa enggak, karena setelah kami punya rumah sendiri ortu dan mertuaku tinggal sendiri dan ga ada anak yang nemenin mereka.
yg bisa kulakukan adalah sesering mungkin nengok mereka.
Pondok mertua indah is ok kok mba isama..

Ryuta Ando said...

Dulu sebelum nikah aku juga takut banget deh yang namanya mertua, apalagi klo tinggal serumah.

Ternyata aku menikah dengan orang yang sudah tidak mempunyai ayah dan ibu (mertua bagiku). So jadi ya blom pernah ngerasain yang berkumpul dengan mertua.

Tety Kurniati said...

Memang ada enak & ga' enaknya tinggal sama mertua, tapi walau sejelek apapun blio tetap orang tua kita juga, ya gak seh

nila said...

wah..asik banget tulisannya mbak Isma. Hm..aku juga ngalamin, saat ini tinggal sama orang tua-ku untuk nemenin mereka, krn kakak2 udah duluan tinggal misah, jadi sbg cah ragil, aku lah yg kebagian jaga ortu..kasian n gak tega aja kalo mereka gak ditemeni semua anak2nya.
Pasti romantika n suka dukanya banyak ya Mbak...

Ani said...

He..he..sama kok Is, aku juga akur-akur saja sama mertua, asyik2 aja, yang ada malah suka hunting baju dan tas bareng hi..hi..hi...sehobi. Tapi aku bersama mertua kalau beliau ke sini (paling lama dua bulan di rumahku) atau pas kami pulkam yg cuma beberapa minggu aja sih.

Anggorowati said...

hehehe..klo menurutku tinggal sm mertua meski ada ngga enaknya tapi teteup ada enaknya juga..

ngga enaknya krn klo tinggal sendiri ma suami biasanya bebas bisa nyuruh2 nyuci or setlika..tp klo di rumah mertu sungkan..:D

enaknya..krn alhamdulillah aku dpt mertua yg baik hatinya.. jd klo di rumah mertua mau makan tinggal makan aja..lah piyeklo mo mbantuin masak selalu diusir alis gak boleh mbantuin jew.. hihihi... beruntunglah diriku yg males ini..:P

Neng Iien said...

ga selamanya yg dipikir dan dilihat orang laen itu sama antara satu sama laen.. iya ya.. manusia hrsnya lebih banyak bersyukur krn masih bisa berbakti kpd ortu ke2 dan mencari bekal ke syurga.. mb isma tetep semangat ya :)

fa said...

waduh gawat! kenapa aku berkaca2 mbacanya ya Is? (hiks)

sbg seorang menantu yang juga 'terpaksa' harus nebeng di rumah mertua, aku ngerasain bener gimana susahnya membangun hubungan yang baik dengan mertua (secara psikologis, hubungan antara menantu perempuan dg ibu mertua memang jauh lebih rumit dibanding hubungan antara menantu laki2 dg mertua), perlu banyak keikhlasan dan kesabaran dan itikad baik dari semua pihak.

Tapi percaya deh, tinggal sama mertua tidak se'menyeramkan' kesan yang terlanjur tercipta selama ini.

:)

widie said...

Wahh salut emang aku sm jeng isma ini, tapi bener katamu ga semua mertua itu seperti yg digambarkan di sinetron2 itu kok, kenyataannya ga begt masih banyak mertua yg menganggap menantu seperti anak sendiri bahkan melebihi anak sendiri sayangnya.

Semoga pengabdian jeng Isma ke mertua sm seperti mengabdi ke orangtua sendiri yaa...iklash dan dpt hidayah dr yang Diatas amiinn...

aku jg pernah punya pengalaman tinggal bareng mertua, memang banyak perbedaan yg perlu di tolerin tp semua itu bs berjalan dg baik asal ada salah satu dr kita mengalah, dan berbesar hati.

Mutia&Rayga said...

Salut ma dikau.bisa ambil hati n disayang mertua:-)

Mamae Yusuf said...

plok plok plok...applause buat isma... sampeyan huebad bisa menyatukan visi sama mertua..mungkin benar ya.. dekat tidaknya kita tergantung pd kita sendiri..

astien said...

aku juga tinggal bareng ma ibi mertua, bukan aku yang numpang di rumah mertua..tapi ibu mertua yang ikut aku, apalagi kalo bukan untuk bantu jagain ki'..baik banget kan.
makanya aku si seneng2 aja ada mertua di rumah, pekerjaan jadi ringan..ninggalin ki' di rumah juga tenang hehe..

amalia hazen said...

he he.. si mertua... penuh dilema..
Tp asyik kok tinggal ama mertua.. ada air mata dan tawa...
lumayanlah beberapa tahun gak ngontrak... maklum dulu blum kebayar...
Tp begitu udah bisa mandiri.. kayaknya perjuangan kita berharga banget... ya gak bu..

veraproject said...

PMI? aku pernah ngalamin waktu 1 th pertama nikah, hikmahnya sih jadi tau kebiasaan suami di keluarganya gimana, makanan kesukaannya apa. Aku juga byk belajar masak ma mertua hihi...kadang suka mati gaya juga sih kalo dirumah cuma berdua ajah. aku kan gak kerja, sementara suami ma bpk mertua pergi ngantor seharian.

BUndAzkA said...

wahhh bagus bngt nih tulisannya mb isma...

bnr2 pasti ada lah yaa lika-liku dalam proses penjajakan dgn mertua, y walopun jg harusnya dianggap spt ortu sndiri, tapi pasti ada jarak juga.

tapi seiring bjlannya waktu, pasti jika kita dari pihak anak mantu, melakukannya smua dgn ihklas,penuh kasih sayang dan ketulusan, insyaAllah kasih sayang mertua pun tak kalah banyaknya dgn anak sndiri..

Nia said...

Pernah ngerasain tinggal di PMI sekitar 4 bln. Emang ada enak dan ga enaknya tinggal dgn mertua. Tergantung qta menyikapinya.

unai said...

mertuaku baikkkk bgt, tapi aku masih takut tgl bersama...takut jd gak cinta lg hehe

Ninie said...

Klo aku siy seneng2 aja tapi perlu belajar banyak dulu dr yang berpengalaman seperti jeng Isma ini hehehehe...

Jeng, po iki nyindir aku po hhaahahhaa.....

enaknya, bisa menemani anak kita di saat kita kerja, pekerjaan rumah bisa share bareng kita.

Gag enaknya, klo beda prinsip , gag nyesuaiindihati mertuakita, duh gag kebayang deh ....
pokoke hrs belajar2 sayang ama mertua

Hening said...

Tuh... kalau kebanyakan nonton sinetron jadinya saat menghadapi satu masalah langsung ngerujuknya ke kisah sinetron itu. Hidup kok didikte sama TV. Mendingan matikan TV, lalu ngobrol sama tetangga untuk berbagi pengalaman. Tapi susah juga ya kalau tetangga justru doyan TV pula, lah kapan kita ini berhasil belajar dari pengalaman sehari-hari yang bebas dari skenario tayangan-tayangan TV itu.

Mondok di mertua mah biasa aja. Kan orang tua kita juga. Jadi ga perlu jaga jaim begitu kawan.

Anonymous said...

OMG bayangkan kalau anda anak terakhir atau anak tengah yang masih sekolah, kemudian kakak yang menikah memboyong istri lalu beranak di rumah. Sudah sumpek makin sempet pula, mana ada anak kecil jadi ribut rumah. Please dah mbak mikirnya jangan sempit,jangan cuma mikir diri sendiri.
Lagi pula tinggal di rumah orang tua berserta anak istri sangat memalukan dan bersifat pemalas, beli rumah aja ngga becus apa lagi jadi ilmuwan atau astronot...dasar orang Indonesia...mikirnya sempit maunya kawin mulu, pantes negara ini ngga maju-maju