21 April, 2015

5 comments 4/21/2015 11:17:00 PM

Uti adalah "Kartini" bagi Keluarga Kami

Posted by isma - Filed under , ,
keluarga besar kami di yogyakarta

Kata “mertua” mungkin tidak selalu terdengar enak di telinga. Macam-macam saja bayangannya. Dari yang teknis dan terlihat mata seperti sikap yang kaku dan tidak akrab, merasa terusik dengan campur tangan, sampai hal-hal yang ekstrim misalnya sampai beradu mulut dalam pertengkaran. Malah tidak jarang, teman dan sanak saudara ikut memberi saran kepada pasangan yang baru menikah, agar tinggal secara terpisah dari “mertua”.  Karena akan rumit dan menyeramkan.

Namun dalam kenyataanya, “mertua” tidak selamanya seperti yang dibayangkan. Mertua, baik bapak atau ibu, dari pihak suami atau istri, malah bisa memberikan kasih sayang dan perhatian seperti orang tua sendiri. Barangkali sayalah yang termasuk di antara mereka yang beruntung dengan anugerah bapak dan ibu mertua yang sangat baik dan selalu mendukung kegiatan dan pekerjaan saya. Ibu mertua saya memang orang tua dari generasi lama dan bukan aktivis muda yang masih penuh semangat. Namun, ia berpemikiran seperti Ibu Kartini yang progressive dan modern.

“Kamu itu kalau mau daftar apa-apa mbok bilang, supaya kami bisa ikut mendoakan,” begitu Ibu bilang ketika ia mendengar dari ayah kalau saya akan mengikuti test bahasa Inggris untuk beasiswa sekolah ke luar negeri. Terus terang saya jadi terenyuh. Saya sempat khawatir apakah Uti, demikian ia biasa dipanggil sebagai singkatan dari mbah putri, akan mendukung rencana saya yang berarti membolehkan saya meninggalkan anak laki-lakinya dan cucu-cucunya untuk dua tahun. Hei, ternyata ia malah senang. “Tidak apa-apa ya Nok, Ibu biar pinter. Sekolah lagi,” jawabnya pada kesempatan yang lain. Memberikan pengertian kepada Kak Shinfa.

Sejak menikah tahun 2004 kami tinggal serumah dengan Uti. Ia ikut merawat dua cucunya sejak bayi. Bahkan ketika akhirnya saya diterima sekolah di University of Hawaii at Manoa USA, Uti juga yang membantu ayah merawat bayi mungil saya yang kedua, Kafkay Natha. Tanpa dukungan Uti kayaknya mustahil kami bisa melewati masa-masa sulit itu. Dan, alih-alih protes karena saya meninggalkan bayi di rumah, ia malah memberikan dukungan yang sangat luar biasa. Hebat sekali bukan?

Uti juga terbuka dengan kesepakatan di antara saya dan ayah. Bahwa tugas saya adalah memasak, memandikan anak-anak, dan menyetrika. Sementara tugas ayah adalah mencuci dan menjemur pakaian. Tak jarang seorang Ibu yang konservatif tidak rela anak laki-lakinya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ia bisa juga merasa keberatan atau marah. Tapi, tidak demikian dengan Uti. Ia bisa memahami dan menerima kesepakatan kami. Malah kalau melihat baju kotor anak-anak, ia langsung menunjuk ayah untuk membereskannya.

Tinggal bersama selama 8 tahun bukan berarti tidak ada konflik. Riak-riak kecil tetap ada. Tapi, saya dan ayah selalu berusaha menyelesaikannya dengan baik. Bukan konflik besar dan bersifat prinsip. Hanya perbedaan pendapat misalnya dalam pola asuh anak-anak. Kami lebih fleksibel, sedangkan Uti cenderung kaku dan beranggapan yang lebih benar. Bukan masalah besar bagi saya dan ayah untuk mengalah dan mendengarkan pendapatnya dengan baik. Bukan membantah dan mendebat. Dan sejauh ini kami baik-baik saja.

Sampai tahun 2013 saya dan keluarga kecil pindah ke rumah kecil kami. Uti tentu sangat sedih sekali. Apalagi sejak Bapak meninggal, ia hanya ditemani cucunya dari mbaknya ayah. Setiap Sabtu ia sering menelpon supaya mengantarkan cucu-cucunya ke rumah. Tapi, kadang Kak Shinfa dan Dik Atha ada kegiatan di sekolah, atau saya yang ada kegiatan. Bersyukur rumah kami hanya 15an menit jaraknya dari rumah Uti. Jadi mudah bagi kami untuk berkunjung setiap waktu. Sebagaimana ia tak pernah bosan ikut menjaga keluarga kami, saya dan ayah juga akan selalu dekat dengannya. Uti adalah kartini bagi keluarga kecil kami.

Postingan ini ditulis dalam rangka posting serentak untuk Hari Kartini 21 April 2015 oleh Kumpulan Emak-Emak Blogger :)



5 comments:

Lidya - Mama Cal-Vin said...

jasa uti banyak ya mbak. Apalagi waktu sekolah keluar ya kalau gak ada uti gak ada yang bantuin ya

isma said...

---- Lidya
iya mbak, bersyukur sekali ada uti yang bisa membantu :)

Tanti Amelia said...

Semoga Uti diberi kesehatan ya mbak, terimakasih partisipasinya yaa

Tanti Amelia said...

Terimakasih partisipasinya ya mbak, semoga Uti selalu sehat walafiat

Keke Naima said...

punya mertua yang sayang sama kita rasanya menyenangkan banget, ya :)