28 August, 2010

6 comments 8/28/2010 05:58:00 PM

Puasa di Rantauan

Posted by isma - Filed under
Dan, tiba jugalah bulan puasa, bertepatan dengan masa orientasi mahasiswa baru. Ramadhan pertama aku jauh dari keluarga. Kalau banyak teman yang bertanya, bagaimana bedanya? Sangat berbeda sekali ditambah banget. Pertama, karena di negeri orang. Kedua, sendirian, dan ketiga, tak ada suasana Ramadhan.

Amerika, atau Hawaii berbeda dengan Indonesia yang mayoritas muslim. Dari keseluruhan penghuni dorm yang berlantai 12, mungkin cuma 20 orang yang berpuasa. Setiap kali aku memasak di dapur dan ada teman yang menawari makanan, aku akan jawab, maaf aku sedang berpuasa. Lalu, temenku yang orang Thai itu, misalnya, akan keheranan. Puasa? ulangnya, dan disusul dengan pertanyaan seputar puasa. Tak jauh berbeda ketika ada teman yang menawari pork (daging babi) dan aku menjawab, maaf aku tidak makan pork, temanku itu pun akan heran dan bertanya kenapa. Di sini lebih banyak teman-temanku yang lebih suka makan pork daripada beef. Bahkan ada temen dari Thai tidak makan beef karena kepercayaan agamanya dan untuk daging dia memilih pork :-)) Di kampung, aku menjadi mayoritas dan normal tapi di negeri orang aku menjadi minoritas dan dipandang asing, begitulah kira-kira.

Buka dan sahur sangat berbeda dengan kebiasaan ketika di kampung. Kadang pas jadwalnya tak bentrok, aku biasa berbuka berdua dengan temen dari Indo di lantai yang sama, atau gabung bersama teman-teman Indo lain di lantai berbeda dengan jumlah yang lebih banyak. Biasanya pakai model potluck. Kami membawa makanan masing-masing lalu dishare, saling mencicipi. Untuk buka masih mending, dibanding waktu sahur. Beberapa kali aku sahur sendirian, atau kalau tidak seorang temen dari Pakistan datang menyusul ke dapur. Kami hanya menghangatkan makanan di microwave karena di luar jam dapur, maksimal jam 11 malam, kompor akan dimatikan secara sentral. Untuk masak sahur hanya dapur lantai 12 yang kompornya dihidupkan.

kolak biji salak untuk buka bersama

Suasana itu jelas berbeda dengan suasana di kampung. Aku biasa masak kolak untuk dimakan bersama keluarga. Ada bapak dan ibu, mas dan mbak, simbah, ayah dan anak-anak, juga para ponakan di rumah. Kami akan berkumpul pada saat buka dan sahur. Selalu ramai dengan obrolan dan penuh oleh makanan di meja. Kesendirian di sini benar-benar terasa karena aku biasa melakukan sahur dan buka di tengah keluarga besar. Sabaaaar deh.

Di sini tak ada azan, suara tadarus, juga suara pengingat imsak. Patokan yang dipakai adalah jadwal puasa selama satu bulan, alarm, dan matahari. Masjid lumayan jauh, selain tak ada pengeras suara yang bisa menembus jarak seperti yang banyak dijumpai di Indonesia. Tarawih kami lakukan di lounge milik dorm, dengan 8 orang jamaah. Tapi, aku lebih suka tarawih sendiri di dalam kamar, menjelang sahur. Aku biasa mengeset jam untuk bangun sahur, atau meminta ayah untuk membangunkan setiap paginya. Kadang ayah lupa, dan aku pernah juga kebablasan tidak sahur :D

sayur asem, yummy ...

Jarak antara imsak dan buka menurutku tak jauh-jauh amat, cuma nambah satu jam dari waktu puasa di Indo. Karena fajar atau subuh biasanya pukul 05.05am dan waktu berbuka pukul 6.40pm. Bedanya di sini hawanya cenderung dingin karena dikelilingi bukit jadi tida berasa haus, dan karena dibawa buat beraktivitas juga lalu perjalanan waktu dalam sehari terasa lebih cepat.

Sejauh ini, puasaku belum bolong dan aku berharap semoga tetap akan baik-baik saja. amiiin.

6 comments:

Bintang said...

Aminnn..mudah2an puasanya gak ada hambatan...btw, jangan di Amerika atau Hawai...di negara dimana tempat aku tinggal sekarang ini yg mayoritas muslim, suasana ramadhan tuh gak ada sama sekali...dalam arti gak seperti di indo, yah berjalan seperti hari2 biasa deh..cuma waktu kerja aja dikurangin, dan banyak tenda2 yg didirikan perusahaan untuk buka puasa gratis

isma said...

tapi ada suara azan n banyak masjid kan bin hehe. it's better ... sama2, semoga puasa di sana juga lancar amiin.

M. Faizi said...

Isma, masa kamu bisa masak? saya kok gak yakin-yakin, ya.. Masalahnya, dari kemarin-kemarin, tak ada artikel "penting" soal makanan. Baru setelah merantau, hemmm, penuh resep dan masakan. Apakah menerapkan keahlian yang tersembunyi atau karena kepepet saja? he, he, he,

isma said...

saya itu multi talent sebenarnya ra, seperti tanah indonesia disebar apa pun akan tumbuh hehe. jadi kalau memang saatnya harus memasak, maka dengan sendirinya saya akan pinter memasak ... dan lagi, misi saya kan selain nerbitin novel, mau nerbitin kumpulan resep masakan xixixii

entik said...

brarti disana ga ngeliat ada anak-anak pada pergi takjilan di mesjid ya? Brarti emang berasa beda banget jeng..

btw sayur asem dan kolaknya kayaknya enak tuh.. Besok kalau buku resepmu dah terbit jangan lupa aku dikirimi ya? hehe..

isma said...

---> entik
wah, jangankan ramai bocah ta'jilan jeng, suara azan aja nggak ada :-(( okey, insyaallah kalau pas main ke rumah, taksiapin menu itu ;-))