01 September, 2008

5 comments 9/01/2008 09:49:00 AM

Melepas Kangen II

Posted by isma - Filed under
“Kotak sandalnya sudah diganti, Mbak. Bagian pintunya,” jelas adiknya Uqi yang item manis. Tapi, tak mengurungkan niatku untuk membuka kotak nomor tiga dari kanan, baris pertama dan kedua. Seingatku, di antara kotak-kotak itulah jatah kotak sandalku, dan di bagian dalamnya aku sempat menulis, “Ndang boyong!” Hihihi. Penyakit lamaku selama di pondok adalah pingin cepet boyong alias keluar. Alasanku karena tidak kerasan. Tapi, anehnya tidak kerasan kok sampai tujuh tahun yak. Panteslah kalau kemudian aku jadi punya migrain akut karena memendam keinginan itu. Kesian deh!

Selesai berkangen-kangen dengan Jamilah 4, Uus ganti mengajakku ke Kompleks Masyitoh A, menengok adiknya. Posisi kompleks ini tepat di atas bangunan kamar mandi alias jeding, bagian penting yang selalu dikunjungi Ninik tiap ke Al-Fathimiyyah. Hehe. Njuk ngopo yo. Mengenang antri jeding sambil ngantuk-ngantuk ya. Apalagi kalau kepepet jam jama’ah dan harus buru-buru. Mandi bebek pun jadi biasa. Atau mengenang roan alias bersih-bersih. Tapi masih mending roan jeding daripada mbersihin sapiteng yak! Hehehe.


Aku dan Uus belum sempat mampir jeding, juga ke kamar Masyitoh A. “Eh, Us. Kamu nggak bawain adikmu jajan po?” bisikku tiba-tiba. Uus mengangguk, dan mengajakku ke kantin Ar-Roudhoh. Tapi, karena jajanannya tidak lengkap, aku mengajaknya ke warung Kang Madi. “Masih ingat Kang Madi ya, Mbak. Sekarang yang jualan sudah ganti,” Uus tertawa. Dan, dari gedung sekitaran kamar mandi, kami menuju warung Kang Madi.

Kang Madi itu penjaga warung di kantin kompleks Al-Amanah. Warung itu dulu anggaplah sebagai warung grosir segala kebutuhan santri. Dari permen, sabun, sampai afdruk foto. Eh iya, jangan heran kalau aku narsis dan banci foto hehe. Jaman belum ada camera digital, biasanya aku dan mbak-mbak di kamarku iuran beli rol film untuk foto-foto. Satu bulan mesti adalah gerakan narsis bersama ini. Dan, Kang Madi menyediakan rol film sekaligus jasa mengafdrukkannya ke pasar Jombang.

Warung ini posisinya berdekatan dengan kantor LPS alias markas bulletin Insaf yang di komen di bawah itu disinggung-singgung sama Ninik. Kalau malam-malam kelaparan gara-gara lembur bulletin, warung Kang Madi adalah lumbung untuk cari camilan. Tentunya Nico, aku ingat malam di mana aku main drama jadi pacarmu yak, pas jumpa fans Insaf di depan mushala. Aku punya fotonya kok. Bareng Noqilah, Yulia Fitrin, Kokom, Aroh... hahaha kangen aku!


Dari warung Kang Madi, aku ngajakin Uus untuk showan Neng Ida. Puteri Yai Jamal ini termasuk motor dan konsultan penerbitan di Al-Fathimiyyah. Ngobrol dengan Neng muda ini rasanya tak ada habisnya. “Saya tuh senang Mbak kalau ada teman ngobrol gini. Jadi semangat lagi,” jelas Neng Ida. Makanya, dia absen ngimami demi kesempatan yang katanya tidak tiap hari ini. “Nak, bilangin Mbak-Mbak ya, suruh ngimami. Ibu ntar jamaah sama Mbak Ndalem aja.”

Neng Ida banyak bercerita tentang Abah dan Gus Kholik yang produktif menulis. Uus bercerita tentang kegiatannya di dunia dakwah juga buku-buku yang sudah ia tulis, sementara aku menimpali dan menjawab soal penerbitan dan perbukuan yang ia tanyakan. Obrolan itu seperti tak akan berakhir kalau saja tidak karena waktu shalat maghrib yang semakin bergerak ke waktu isya’. “Coba ya kita bisa rutin reunian seperti ini. Sama Ninik, juga alumni-alumni yang lain,” Neng Ida mengusulkan. Aku dan Uus juga setuju saja usulan itu, meskipun realisasinya just wait and see... maklum, agak ribet juga kalau urusan mengumpulkan orang dengan seabreg kegiatan masing-masing.

Selesai shalat maghrib di kamar Masyitoh A, aku dan Uus ke Ndalem Barat, showan Bu Salma. Lumayan lama juga kami harus menunggu, sambil was-was memperhatikan pergerakan jarum jam di dinding. Karena, kami masih harus kembali ke Tebuireng, apakah dengan angkot atau transportasi apa kami belum tahu. Alhasil kami tidak bisa ngobrol berlama-lama dengan Bu Salma. Sekitar sepuluh menit berbincang, kami pun mohon pamit.

Ternyata benar saudara. Aku, Uus, dan Mila kehabisan angkutan menuju ke Tebuireng. Sudah jam 07.30 malam. Alternatifnya, bertiga kita naik satu becak, turun di ringin contong. Bapak becaknya kuat juga yak. Ndorong tiga orang gendut-gendut. Terutama aku yang sudah ibu-ibu dengan BB 50kg. Weeeeks! Pantesan si Bapak menolak dikasih 15rb. Maunya 20rb. Hehe. Tapi, sampai ringin contong, ternyata bus yang menuju ke Malang sudah habis. Dan, mau tidak mau kami bertiga ngojek dua motor. Satu motor cenglu, alias bonceng dobel, satunya lagi sendirian. Capek boooow, pas giliran aku didobel sama Uus hehe.

Tapi, tak mengapalah. Lagipula jarak menuju Tebuireng tidak terlalu jauh. Buktinya aku, Uus, dan Mila meskipun tak memakai helm, aman-aman saja dari Pak Polisi. Lho! Apa hubungane? Entahlah. Yang jelas perjalanan malam dengan ojek itu mengakhiri lawatanku ke Tambakberas. Masih kurang puas sebenarnya, belum sowan ke Yai Sulton, main ke MTs Plus, ke Muallimat, ke Yu Nur... Belum juga dapat nomor kontak Mbak Lilik Gresik yang sempat diceritakan sama Bu Salma... Hai, piye kabare Reeeek! Yah, lain waktu semoga masih ada kesempatan. Amiiin.

5 comments:

keep smile said...

Is, foto-fotomu kuwi bikin aku mrebes mili, Jadi ingat pernah dita'zir satu kamar suruh bersihkan sapiteng gara-gara gak jama'ah. Pernah juga kejatuhan papan tulis yg jadi jendela LPS dengan Noqilah dan Idatul, padahal lagi tidur dan sembunyi dari ngaji Ta'lim hari Jumat hehhehe. Akhirnya masa-masa itu jadi kenangan yang tak terlupakan.

syafii said...

akhirnya kesampain juga bisa dikit liat asrama al-fatimiyah yg eksklusif meski cuma lewat screenshut doang...eksklusif??? iya..asrama yang satu ini eksklusif banget buat aku...cuman ini satu2nya asrama yg menurut aku ketat banget, seketat legging-nya cwe2 sekarang..hehehehe...tapi salut banget deh buat KH. M. Nasir Fatah, atas perjuangannya...sayang adek-ku dulu nggak mau waktu aku saranin mondok d'asrama fatimiyah aja...nggak ngerti kenapa..oia, salam kenal buat mbak ismah...aku dapet link ini dari mbak ninik mudhofar a.k.a ninik wahiroh..

yunes said...

wakakaakakkkkkk, jadi kangen nich! dah berapa tahun ya gak sowan. Jadi romantisme nich, dulu pernah kena ta'zir gara2 takror gak pake jilbab rapi. Sama tuch nakalnya ma nico, ngumpet di LPS buat gak ngaji ta'lim, daaaannnn masssssiihh banyak lagi...Btw, reunian tuch ide bagus, yu ismah, kaulah jadi leadernya, bikin acara apa gitu di Taraz, tapi tunggu aku balik ya..2 tahun lagee...kayaknya bakal seru abis tuch!!! itung2 mengulang pas jaman jadi kaka forkaf dulu, ke taraz buat training jurnalistik, berangkat pake kereta logawa, kamar khusus mbak alumni dan camilan buat kakak forkaf yang super spesial, hiks..hiks..

Lala said...

Eeealah sama aja toh, pas msh mondok pinginnya "ndang boyong". Tapi pas udah boyong, ngangenin. hehehe:)

.:diah:. said...

waahh jalan-jalan ke pesantren yaa Mbak... duhh pasti senengnya bisa ktmu ma guru-guru nya dulu... :)