31 May, 2007

3 comments 5/31/2007 04:49:00 PM

PERLUKAH ANAK TIDUR SIANG?

Posted by isma - Filed under


Ternyata, tidur siang banyak manfaatnya. Selain baik secara fisik, tidur siang juga bisa meningkatkan kedekatan anak dan orang tua.

Kebutuhan tidur masing-masing anak berbeda. "Pola tidur anak ditentukan oleh banyak faktor, mulai faktor bawaan, faktor aktivitas anak saat itu, minat, temperamen, dan sebagainya," ujar Fabiola P. Harlimsyah, M.Psi. dari Sanatorium Dharmawangsa.

Secara garis besar, bayi baru lahir menghabiskan 70 persen waktunya untuk tidur. Ia bangun hanya untuk makan. Kenapa bayi atau anak butuh banyak tidur? Karena di usia ini, mereka sedang membangun fisik dan mentalnya. Di usia setahun, anak mulai bisa tidur malam sampai pagi enggak bangun. "Di usia ini juga mulai ada tidur siang (naps) sampai dua kali," jelas Feiby, panggilan Fabiola. Menginjak usia 2 tahun, anak hanya butuh waktu istirahat 1 atau dua kali, sampai usia sekolah. "Nah, di usia sekolah, anak butuh 12 jam untuk tidur."

Bagaimana dengan tidur siang? Perlukah bagi anak? "Tergantung kebutuhan masing-masing anak. Ada anak yang tidur siang tapi hanya sebentar, ada pula yang tidur siangnya lama. Namun, secara umum, tidur siang memiliki fungsi yang besar, kok," ujar Feiby.

BANYAK MANFAAT
Dari sisi fisik, tidur siang akan memberi kesempatan tubuh untuk mendapat energi baru yang penting untuk perkembangan. Apalagi untuk anak-anak balita yang sedang dalam masa pertumbuhan. "Mereka sedang banyak bergerak dan butuh banyak energi. Dan itu bisa diisi saat anak tidur," lanjut Feiby. Sementara dari sisi psikologis, tidur siang memungkinkan orang tua punya waktu untuk berbagi dengan anak, termasuk mengajarkan cara mengelola waktu. "Ini arahnya nanti ke soal disiplin atau aturan, dengan menunjukkan waktu untuk istirahat."

Bagaimana kalau anak tidak tidur siang? "Secara fisik tentu akan lebih lemah, karena tubuh anak sedang butuh asupan energi, yang bisa diperoleh lewat tidur siang." Selain itu, kalau anak tidak tidur siang, orang tua tentu harus memberikan sesuatu kepada anak untuk mengisi waktu. "Kalau nggak, apa yang akan dilakukan? Padahal, kalau sedang dalam kondisi capek, anak biasanya malah akan rewel," jelas Feiby.

Bagaimana kalau tidur siang diganti dengan tidur malam yang diperpanjang? "Kadang-kadang malah keterbalikan, kalau tidur siangnya kebanyakan, tidur malamnya yang jadi telat," ujar Feiby. Atau kalau anak tidak tidur siang, tidur malamnya yang kesorean. "Harusnya belum tidur, tapi sore-sore sudah tidur. Akibatnya, keesokan paginya anak rewel, karena pola tidurnya berubah. Jadi, sebaiknya memang disesuaikan dan konsisten. Jangan hari ini tidur siang, besok enggak."

Perubahan-perubahan pola tidur ini juga memiliki dampak yang kurang baik bagi perkembangan anak. Anak jadi tidak belajar mengelola waktunya secara konsisten. 'Oh sekarang waktunya untuk ini, waktunya untuk itu.' Kalau tak ada aturan seperti itu, maka kegiatan lain pun akan terganggu. "Arahnya adalah mengajarkan disiplin. Kalau kita sudah bisa mengajarkan dan menerapkan aturan secara konsisten, ke depannya anak akan lebih disiplin terhadap waktu, terhadap aturan, dan sebagainya," lanjut Feiby.

BICARAKAN BERSAMA
Semakin dewasa, kebutuhan tidur anak juga akan makin berkurang. "Sampai kapan anak harus tidur siang, tidak bisa ditentukan, tergantung masing-masing anak. Belum lagi soal kebiasaan. Ada kan, orang yang kalau enggak tidur siang, rasanya lemas," ujar Feiby seraya melanjutkan bahwa tidak ada patokan berapa kebutuhan anak untuk tidur siang. "Orang tualah yang harus memerhatikan kebutuhan tidur anak, dan setelah itu mengatur waktunya. Kalau memang anak sudah nggak perlu tidur, ya jangan dipaksa."

Cara paling jitu untuk mengetahui kebutuhan tidur anak adalah dengan melakukan observasi. "Misalnya, anak tidur siang sekian jam, setelah itu dilihat apakah tingkah lakunya jadi lebih baik atau malah lebih rewel," ujar Feiby. "Memang harus sabar. Sementara sekarang orang tua biasanya cuma ngasih jadwal ke baby sitter dan anak mengikuti saja jadwal itu, tanpa hak suara."

Feiby menyarankan orang tua agar membicarakan jadwal tidur dengan anak. "Tentu kalau anak sudah agak besar. Misalnya usia pra sekolah. Lihat juga, kalau misalnya setengah jam tidur kok kayaknya belum cukup, tambahkan waktu untuk tidur. 'Masih capek ya? Ditambah lagi ya?' Dialog itu harus terus dilakukan, meski hanya untuk menentukan jadwal tidur siang," saran Feiby.

Manusia pada dasarnya berkembang, begitu pula anak. "Yang tadinya tidak ada, kemudian jadi ada." Misalnya, tadinya kebutuhan main anak hanya di rumah, setelah beranjak lebih besar, ia butuh bermain dengan teman sekolahnya. Berarti, lanjut Feiby, "Kebutuhan untuk bermainnya ditambah, sesuai dengan kebutuhan belajarnya. Ini kan, nggak mungkin hanya dilakukan satu arah. Anak juga punya hak suara, termasuk dalam menentukan jam tidur siangnya."

TEMANI ANAK
Seringkali anak tidak mau tidur siang dengan berbagai alasan. "Bisa jadi memang fisiknya belum capek. Berarti aktivitas pagi harinya harus diperhatikan. Mungkin kurang banyak. Jika ini yang terjadi, orang tua bisa mengisi dengan aktivitas yang bermanfaat," jelas Feiby. Pagi hari, berikan aktivitas yang tidak membuat bikin capek. Bisa berenang atau bersepeda keliling kompleks menjelang tidur siang.

Selain itu, orangtua bisa memasukkan banyak hal dalam kaitan dengan tidur siang. Misalnya, setelah anak capek beraktivitas dan sudah masuk waktu tidur siang, tanyakan, 'Capek ya? Berarti tubuh kita butuh istirahat.' Setelah bangun tidur tidur, tanyakan pada anak apa yang ia alami. 'Nah, sekarang apa yang kamu rasakan? Segar, kan?' "Masukkan pemahaman bahwa tidur siang itu penting, jadi jangan dianggurin saja. Banyak sekali hal-hal yang bisa dimasukkan."

Ada juga anak yang tidak mau tidur siang karena mikir, 'Kalau aku tidur, Mama ngapain ya? Jangan-jangan entar aku ditinggal pergi? Atau anak takut berpisah, karena mungkin pernah kejadian, ketika bangun tidur, sang ibu sedang pergi. "Kalau begitu, katakan, 'Oke, selama kamu tidur, Mama juga akan istirahat.' Misalnya dengan membaca buku atau nonton teve. Tapi ini harus konsisten."

Orang tua bisa memberi anak reward jika setelah anak tidur siang. "Tapi tentu harus dicari yang tidak terlalu besar nilainya, karena tidur siang, kan, setiap hari. Jadi, jangan sampai membebani orang tua," saran Feiby. "Bisa dengan stiker. Setelah seminggu, stiker bisa ditukar dengan mainan, misalnya."

Feiby menekankan agar orang tua berusaha menemani anak sebelum tidur, baik tidur siang maupun tidur pada malam hari. "Anak butuh mengakhiri hari-harinya dengan nyaman, dengan pelukan dari orang tua," jelas Feiby. Yang terjadi, banyak orang tua yang justru lega anaknya sudah tidur duluan sebelum ia pulang kantor. Padahal, anak sangat membutuhkan keberadaan orang tua sebelum ia tidur.

"Sebentar saja cukup, sekadar menunjukkan bahwa kita ada sebelum ia tidur. Ini akan menenangkan anak," lanjutnya. Jika ini tidak pernah dilakukan, bisa mengurangi kelekatan (attachment) anak dengan orang tua. Akibat lebih jauh, afeksi (perhatian dan rasa sayang) anak terhadap orang lain akan berkurang. "Anak itu, kan, belajar dari apa yang ia dapat dari orang tuanya. Kalau ia mendapatkan perasaan aman, perasaan diterima, didengar, disayang, itu pula yang akan ia lakukan untuk orang lain kelak setelah ia menjalin hubungan dengan orang lain."

AGAR ANAK TIDUR NYAMAN
Agar anak bisa tidur dengan nyaman, simak beberapa tips berikut:

1. Anak harus dibawa senang dulu. Ajak ia bermain, tentu mainannya yang tenang, jangan yang justru merangsang keaktifan anak. Misalnya bermain puzzle, atau yang sifatnya menenangkan.

2. Setelah bermain, ajak anak untuk mandi. Ini akan membuat anak merasa nyaman, sekaligus menyiapkan anak untuk mengenal rutinitas sebelum tidur. "Anak jadi tahu,
oh tahu kalau habis mandi itu saatnya tidur siang. Jadi, nggak langsung disuruh tidur siang, 'Sekarang sudah jam 2, ayo tidur!"

3. Setelah siap, barulah mulai aktivitas yang lebih dalam, misalnya membacakan dongeng. Ini yang disebut spesial moments. Saat mendongeng, orang tua sekaligus berbagi dengan anak yang sifatnya membuat anak tenang dan nyaman. Misalnya kalau anak sudah bersekolah, minta anak bercerita tentang pelajaran atau aktivitasnya di sekolah.

4. Setelah anak sangat mengantuk, beri pelukan atau ciuman. "Nah, sekarang tidur dulu, nanti setelah bangun, kita buat kegiatan lagi."

JANGAN MENGANCAM
"Orang tua boleh menerapkan aturan tidur siang, tapi sebaiknya tidak dengan memaksa atau memberikan ancaman," ujar Feiby. Misalnya dengan kalimat, "Kalau nggak mau tidur siang, Mama nggak sayang lagi!" Ancaman seperti ini sebaiknya dihindari, karena dampaknya bisa panjang. "Anak akan menganggap bahwa tidur siang itu kegiatan yang tidak menyenangkan. Bisa juga anak mengalami mimpi buruk (nigthmare), dan malah jadi takut." Jadi, jangan dengan paksaan, ancaman, atau bahkan pukulan."


SUMBER: klik

3 comments:

Anonymous said...

Iya saya juga menerapkan tdr siang sm anak, hbs dianya kl ga tdr siang suka rewel, antara ngantuk dan pengen maen terus. Tapi sekarang udah besar mulai ngga teratur. Kalo dia ngga bobo siang malamnya boboknya akan lama dan nyenyak krn kecapean siangnya.

Makaseh infonya ya...nambah lg neh ilmu saya hehe

Anonymous said...

kalo alifah dia pasti tidur bisa 2 kali, yg pertama tidur pagi biasanya selesai mandi & sarapan sekitar jam 7-8 pagi, karena alifah bangunnya selalu pagi barengan sholat subuh trus tidur lagi setelah makan siang. kalo balqiz biasanya dia tidur jam 10-an setelah makan buah pagi mpe jam 2 siang baru bangun atau sekalian setelah makan siang baru tidur mpe sore.

kerasa banget manfaatnya kok tidur siang itu buat anak2.

Anisa said...

Setuju.....makanya saya dulu waktu masih kecil selalu diopyak2 ibu untuk selalu tidur siang. Kalau gak mau langsung di di gendong, dimandikan, terus di keloni bareng2 mbak dan adikku.
Ibu selalu bilang kalau anak kecil tuh perlu banget tidur siang biar pinter.