22 January, 2014

11 comments 1/22/2014 12:20:00 PM

Menulis "Eropa" Saja Aku Merinding

Posted by isma - Filed under
Aku ingin sekali ke Eropa, ingin sekali. Tapi, kali ini tidak sendirian.

Aku sering bepergian. Suami juga anak-anak sudah biasa aku tinggal di rumah. Tapi, bepergianku bukan untuk liburan. Lebih seringnya untuk sekolah atau bekerja. Istilahnya part time tourist, full time student. Atau full time worker, part time tourist. Karena dengan "ndompleng" begitu, bepergianku bisa gratis, dan aku bisa menumpang untuk melihat dan berpengalaman tinggal di negeri-negeri jauh.

Waktu aku masuk seleksi penerima beasiswa IFP Ford Foundation untuk S2 di Hawaii tahun 2009, bahagiaku bukan kepalang. Usahaku akhirnya nyangkut juga setelah dua kali ikut seleksi. Semula aku sudah hopeless begitu tahu namaku tidak masuk dalam daftar penerima untuk kedua kalinya. Aku sudah bisa menerima, apalagi waktu itu aku tengah hamil 7 bulan. Waktu aku ndaftar lagi untuk ketiga kalinya, babak pertama aku juga sudah gugur. Lengkap sudah! Tapi, skenario Allah memang unik. Di saat aku sudah tak mengingat-ingat soal beasiswa itu, tiba-tiba ada telpon kalau aku masuk cadangan. Seminggu kemudian, setelah aku melahirkan pada bulan November, telpon kedua memintaku untuk berangkat ke Jakarta bulan Januari 2010. Ini sungguh-sungguh sebuah surprise!

bersama teman-teman di waikiki, hawaii

Selama di Hawaii, aku sempat pergi ke Canada, dan dua kali pulang pergi ke mainland USA. Dan, karena aku ingin perjalanan yang gratis, aku berusaha apply travel grant ke kampus dan penyelenggara conference yang aku ikuti. Soal masukin aplikasi, harus ada passion dan hoby :) karena aku harus mempersiapkan dokumen, meminta rekomendasi, dan mengirim aplikasi. Ini perlu perjuangan tersendiri. Tak jarang kita malas untuk hal-hal yang begituan. Selama di Hawaii, aku juga apply short course, misalnya International Human Right Training di Canada dan Summer School for Language Study di Wisconsin USA. Untuk dua program ini, aku sebenarnya masuk seleksi. Cuma karena harus membayar sendiri biaya course, ada yang full dan ada yang separo, tentu saja aku menyerah, tidak jadi aku ambil.

Lulus dari Hawaii, kebiasaan apply-apply-ku terus berlanjut. Iseng-iseng aku apply Global Women in Management, dua kali dan kedua-duanya masuk tahap interview, meskipun mental tidak bisa lolos. Pernah juga apply conference di Belanda, tapi tidak masuk. Coba-coba conference di Thailand juga gagal. Ikutan seleksi Muslim Exchange Program, sampai tahap interview, pun tidak masuk. Tapi, bukan berarti coba-cobaku gagal melulu. Tuhan tetep kok memberikan keajaiban. Salah satunya, kesempatan untuk ikut Monsoon School selama satu bulan di India, dan pergi ke Nepal. Pengalaman ini mengajarkan aku untuk menerima hasil, apa pun, karena Sang Penentu pasti lebih tahu mana yang paling baik buatku.

Setelah merasakan pengalaman melakukan perjalanan dan tinggal di negeri-negeri jauh, aku pingin banget suami dan anak-anakku juga ikut merasakan pengalaman asyik ini. Aku ingin mereka juga menemukan pelajaran dan pengalaman bepergian yang sangat mahal harganya, dan tidak bisa didapat di bangku sekolah. Aku ingin mereka membaca tentang negara-negara lain selain Indonesia tidak cuma lewat buku. Tapi, memijakkan kaki, menghirup udaranya, meminum airnya, dan menyentuh tumbuh-tumbuhannya. Aku ingin mereka merasakan bagaimana berinteraksi dengan orang asing yang berbeda bahasa, budaya, dan agama, dan memberikan pembelajaran berharga tentang sikap diri dan makna kehidupan. Ini mimpi besarku yang ingin sekali aku wujudkan.

Tahun ini, aku sudah apply untuk beasiswa S3 di sebuah kampus di Eropa. Hmmm, menulis nama "Eropa" saja aku sudah merinding, mata berkaca-kaca. Membayangkan bagaimana aku membawa anak-anak dan suamiku, menjejakkan kaki di Eropa *berdoa.mode.on* Tak ada yang tidak mungkin bukan. Karena pengalaman mengajarkanku untuk terus berusaha dan melakukan. Bukan hanya diam, apalagi mencemooh usaha orang lain. Lagi pula, mencoba dan berusahanya gratis, cuma perlu passion dan tekad. Semoga ya, mimpiku ini terwujud, dan Allah selalu meridhoi. Amiin.




Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Kolaborasi : Apa Impianmu?

giveaway-kolaborasi-banner-ii

11 comments:

dey said...

mudah2an mimpi ke eropa bersama keluarga bisa tercapai ya Mbak...

sari widiarti said...

amiiin... semoga terwujud :)

Ina Rakhmawati said...

wow! amazing!
aku panggil mbak aja ya, FYI usiaku masih 24 hihi.
keren tulisan ini. mbak ini udah punya anak suami , tp tetep pgn belajar (kuliah lagi) dgn tidak meninggalkan tanggung jwb sbg ibu dan istri yg baik. wah...saya saluuttt mbak. sy pingin dpt kesempatan sprti mbak kelak. mbak bersyukur ya, punya suami yg mendukung semnagat mbak untuk going abroad! wah...semoga sukses nembus s3 dgn beasiswa! hidup perempuan Indonesia. and keep blogging mbak. oiya salam kenal, (sampai lupa). ditunggu blogwalking nya :-)

momtraveler said...

Wah keren mak.. Insya allah tercapai ya keinginannya kuliah di Eropa :) aku pun sdg merintis hal yg sama, slg mendoakan yah :)

M. Faizi said...

betapa senang. selamat, ya, Bu Isma, semoga berhasil dan bisa pergi ke tempat yang namanya membuat Anda merinding saat dituliskan

Lidya - Mama Cal-Vin said...

semoga bisa segera terlaksana mbak kesana bareng keluarga ya

Cara Menyembuhkan Diabetes Melitus said...

kunjungan perdana nih, ijin nyimak saja kawan :)

Jurnal Pemilu said...

jadi mupeng nich, pengen ikut ke sana

a s h i m a said...

Ah, Ibu. Saya baru mulai kuliah tahun ini, dan kadang-kadang berani tuh mimpi kuliah jauh-jauh ke luar negeri. Rasanya ngga mungkin bisa mengalahkan ribuak applican lain. Tapi saya salut dengan semangatnya Ibu. Salam kenal ya :))

Gusti 'ajo' Ramli said...

Yups... tidak ada yg tidak mungkin ya mbak....

Zyadah said...

hebat!!! semoga saya bisa seperti Mbak Isma juga, keliling dunia untuk mencari ilmu :)