15 March, 2007

7 comments 3/15/2007 02:45:00 PM

Selamat Jalan, Mas Zaenal ...

Posted by isma - Filed under


Aku mengenalnya sekitar tahun 1995-an, ketika Forkaf Jogja ngadain diklat jurnalistik di PPP al-Fathimiyyah. Bersama Ka Abrori yang orang Madura dan Mas Saiful Huda Sodiq yang masih tetanggaan kota sama aku, Batang. Di antara ketiga kakak fasilitator diklat itu, menurut kacamataku sebagai ABG, dia paling menarik dan lebih terbuka menerima respon “kekaguman” adik-adik bimbingannya.

Seru banget waktu itu. Hampir semua peserta diklat, termasuk aku, berlomba-lomba berkirim surat sama ketiga fasilitator itu. Dari sekadar konsultasi tulis-menulis, sampai menyatakan rasa kagum dan bilang I love u. Lucu dan seru ya.

Waktu itu, aku berkirim surat sama dia tok, sekadar membagi mimpi ala anak-anak tentang cita-cita dan keinginan “adai kelak nanti”. Sayang, aku gada arsipnya. Dan, ketika beberapa minggu kemudian aku dapat balasan, *balasan ini masih tersimpan rapi dalam arsipku* duuuh rasanya seneng banget. Rasanya selangit, dan itulah puncak kebahagiaan selama jadi fans. Yah, seperti seorang fans yang dapat tanggapan dari idolanya gitulah.

Kenapa bisa demikian, karena balasan itu paling tidak jadi legitimasi kalo aku sudah pernah dapat surat dari seorang penulis yang tulisannya sudah sering dimuat di beberapa media. “Jadi merasa selevel” hihihi. Dan, aku bisa dipandang punya nilai lebih dengan balasan surat itu, dan tentu saja beruntung. Balasan itu sekaligus membangun image kalau dia tuh baik hati dan tidak sombong, meskipun sudah punya nama.

Aku pun melanjutkan berkirim surat untuk yang kedua kalinya, meskipun yang ini gag dapet balasan. Sampai, beberapa tahun kemudian aku berkesempatan bertatap muka dengannya di Jogja. Kota tempat aku kemudian melanjutkan sekolah. Dan, waktu itu Mbak Imamah, yang aku jadikan tempat rujukan ples guide pertamaku pas menginjakkan kaki di Jogja, langsung mengajakku berkunjung ke kos-kosannya di Gag Ori Papringan.

Aku masih ingat, waktu itu dia masih pakai vespa butut warna abu-abu. Kamar kosnya sangat sederhana, bertempat di sebuah rumah yang agak menjorok ke dalam. Aku sempat melihat mesin ketik *yang mungkin dipakainya untuk ngetik surat balasanku*. Dan, setelah kunjungan pertama itu, dia menawarkan kesediaan untuk mengantarku keliling, melihat-lihat UGM, IAIN, dan berkunjung ke senior al-Fathimiyyah yang lain.

Bener, waktu itu aku merasa tersanjung sebagai anak kecil yang tidak punya nama apa-apa, diperlakukan sangat spesial oleh orang sekaliber dia. Sangat menunjukkan kepribadiannya yang tak memandang bulu, dan mau berbagi juga berbuat baik dengan siapa pun.


Aku juga sempat ikut kajian *bulananan atau mingguan aku lupa…* bareng Mbak Imamah di base camp diskusinya yang menyenangkan.

Setelah itu, meskipun kita sama-sama di Jogja, kita tidak lagi intens bertemu. Hanya sesekali tanpa sengaja ketemu di jalan. Pertemuan di depan kompleks dosen IAIN, dia sudah menikah dengan salah seorang temannya, dan bersama seorang puteri manis kecilnya yang berjilbab. Sama seperti pertemuan-pertemuan berikutnya yang tidak disengaja, misalnya pas dia main ke tempat ngantorku ketemu sama bos besar. Aku masih merasa tersanjung, ketika dia masih tersenyum tiap kusapa, dan bertanya, “Piye kabarmu, Nduk?”

Tapi, tiba-tiba…

Pagi ini Mama Caca dari Pati berkirim SMS di pagi buta:

Innalillahi wainna ilaihi rojiun, tlh wafat sahabat kita ZAINAL ARIFIN TOHA mlm ini di jokja, jam22, sakit jantung. Mohon doa untuknya.

Aku luruh. Luyu dan Kuyu. Antara percaya dan tidak, Mas Zainal telah dipanggil oleh Yang Kuasa. Aku memang bukan sahabat karibnya, hanya adik kecil yang sempat merasakan bimbingan dan budi baiknya. Aku juga bukan teman sastrawannya yang biasa bermuhibbah ke pesantren-pesantren, hanya adik kecil yang sempat belajar sastra darinya. Tapi, kepergiannya sungguh sangat tiba-tiba, di usianya yang masih muda dan bisa dipakainya untuk terus bermuhibbah di berbagai tempat.

Selamat jalan Mas Zainal. Aku percaya, meskipun singkat, njenengan sudah banyak berbuat. Dan, Yang Kuasa sudah tak sabar untuk memanggilmu di surga-Nya yang jauh lebih menyenangkan. Amiin.

7 comments:

Szylcia said...

Nice blog ;)

neli said...

innalillahi wa inna ilaihi rojiun.. semoga almarhum diterima di sisiNya, amin..

Nia said...

Innalillahi wainna ilaihi rojiun, ikut berduka atas meninggalnya sahabat Bunda Shinfa.

Ryu`s Mom said...

Innalillahi wainna ilaihi rojiun...semoga arwahnya diterima disisi Allah Swt. Amin..

nasywa said...

Turut berduka atas wafatnya sahabat bunda shinfa semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT Amin...

Anisa said...

Innalillahi wa innalillaihi rojiun.Mudah2an diampuni dosa2nya dan segala amal baiknya diterima disisiNya.Amin.

Khansa Suprabu said...

Innalillahi wa innalillaihi rojiun..Semoga segala amal ibadahnya di terima Alloh swt dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.Amien