01 December, 2009

5 comments 12/01/2009 07:56:00 PM

Hari yang Ditunggu itu ...

Posted by isma - Filed under
Hai apa kabar, temans. Menghitung harinya terlalu lama ya. Hampir satu bulan. Resmi cuti sebenarnya tanggal 16 November 2009. Tapi, karena kerjaan belum selesai, aku masih saja nguli hingga hari Rabu, 18 November. Selorohku tiap ada yang nanya, kok belum cuti? "Demi Matapena, sekarang masuk besok mbrojol aku rela kok hehe."

Hari Kamis, 19 November yang merupakan hari perkiraan lahir, aku belum juga mendapatkan tanda-tanda. Tapi, tetap tenang saja karena kelahiran Shinfa juga mundur, satu minggu malah. Beberapa teman dekat rutin memantau dengan pertanyaan yang sama, "Sudah kerasa belum?" atau "Wis lahiran?" Malah seorang teman bilang, "Diinduksi alami aja is, minta ayahe sering nengokin. Nggak nyaman sih, tapi pengalamanku dulu gampang banget lahirane dan tepat HPL." Hehe, aku ketawa baca sms ini.

Finally, Sabtu paginya aku mendapatkan tanda. Aku ngeflek, sama seperti lahiran Shinfa. Simak di Pekalongan langsung aku kontak, supaya Minggu pagi berangkat ke Jogja. Mules-mules memang belum terasa. Masih seperti biasa. Makanya aku pakai untuk banyak jalan dan naik turun undakan. Sambil terus saja baca wirid dan doa.

Minggu pagi, aku kontrol ke bidan, Bu Is, tetangga kampung. Sekalian bilang mau melahirkan di klinik Bu Is. Meskipun untuk kontrol bulanan biasa di BKIA, sama dokter. Bukan kenapa-napa. Sama Bu Is aku lebih mantep dan nyaman saja karena lebih sabar dan telaten. Juga, sepi nggak banyak orang. Wong belum-belum, waktu aku minta rekam medis ke BKIA dan petugas BKIA tahu sudah mundur tiga hari dari HPL, mereka bilang, "Lho sudah mundur dari HPL kok malah melahirkan di bidan?" Hehe, nakut-nakuti deh. Aku jawab, "Saya sudah ngeflek kok. Kata Bu Is kalau enggak ntar malam ya besok pagi akan ada reaksi."

Minggu sore, Simak sampai di rumah Jogja. His di rahimku mulai terasa, lebih kuat dan sering. Pukul delapan malam, aku putuskan untuk kembali ke Bu Is sambil membawa keperluan melahirkan. Tapi waktu diperiksa, masih belum ada bukaan. His terasa masih dalam hitungan sepuluh menit sekali. "Nginap di sini aja, Mbak. Nanti jam 12 malam saya periksa lagi. Kalau belum ada bukaan, jam 4 saya periksa lagi. Jadi tiap empat jam."

Dari jam delapan sampai jam dua belas, wiiih rasanya lama banget. Mana harus menahan mules dan remasan di perut. "Sering-sering pipis saja, supaya gak tertahan kontraksinya," kata Bu Is. Aku juga dikasih minuman klorofil yang katanya bisa lebih merangsang kontraksi.

Pukul sebelas malam, pas aku sudah nggak bisa jalan-jalan saking sudah kuatnya mules di perutku, Simak datang. Jadi berasa nyaman. Tugas ayah menunggui dan merasakan cubitan menahan mulesku (hehe), digantikan Simak. Tiap kali aku meringis dan mengerang, Simak bilang, "Baca istighfar."

Akhirnya sampai juga jarum panjang jam di dinding pada angka 12. Bu Is minta aku pindah ke kamar bersalin. Mungkin melihat aku yang sudah lemas merintih-rintih, seperti sudah dekat waktu untuk babaran. Tapi, aku masih waswas, kalau-kalau belum bukaan. Alhamdulillah sudah bukaan tiga. His dan mulesnya semakin hebat. Rasanya pingin ngeden aja. "Jangan ngeden dulu ya, Mbak. Tahan. Ketubannya belum pecah."

Wiih, inilah saat di mana aku banyak mengucap harap dan doa. Gusti, ampuni aku, atas dosa-dosaku terhadap orang tua juga suamiku. Nggak sakit sebenarnya, tapi mules yang hebaaattt rasanya masya Allah pokoknya. Sampai menggigil, sampai lemas, sampai antara ngantuk dan sadar. Simak terus saja mengajakku untuk tidak mengerang, tapi berucap istighfar. Aku kadang juga menyuarakan erangan dengan lafal surat alam nasyrah dan doa ya musahhilass syadid. Tumplek blek jadi satu.

Sampai kira-kira pukul setengan satu dini hari ketuban pecah. Setelah mules yang luar biasa dan mengajakku untuk mengejang. Bu Is, ayah, Simak mulai bersiap-siap. Aku juga sudah dibolehkan ngeden sekuat-kuatnya untuk mendorong buah hati keduaku. Dua kali mules aku gagal bahkan aku sampai bilang, "Nggak kuaaat!" Tapi, Bu Is dan Simak menguatkan, "Pasti bisa. Ambil napasnya yang panjang ya."

Dan, pada mules yang ketiga, aku memaksa untuk terus ngeden. Apalagi didorong rasa mules yang luar biasa hebatnya. Tiba-tiba saja, ada sebenda menggeronjal keluar, disusul ucap alhamdulillah dari bibir Bu Is, Simak juga ayah. Hai, bayiku keluar! Ciuman bertubi-tubi ayah mendarat di keningku. Makplong. Keluar sudah. Apalagi setelah bayiku menangis. Luar biasa.

Inisiasi menyusui dini. Dalam kondisi berbalut kain, adik Shinfa segera belajar menyusu. Dia masih mencari2, menggerakkan bibir, dan akhirnya menghisap asi bening. Tajam lidahnya. Tapi, luar biasa.

Dibanding lahiran Shinfa, kali ini kondisiku jauh lebih baik. Tetap sadar dan ngobrol biasa. Langsung bisa menyusui dan berjalan pelan ke kamar rawat inap. Prosesnya juga lebih cepat dan gampang. Meskipun harus dijahit karena lecet. Syukur alhamdulillah. Gusti Allah mendengar doaku juga doa orang-orang yang menyayangiku.

Puteri keduaku, Kafkay Natha. Berat 3kg 7ons. Panjang 47cm. Lahir pada Senen Kliwon, 23 November 2009. Pukul 00.40 WIB. Menambah kebahagiaan keluargaku juga mengubah statusku menjadi ibu-ibu beranak dua ;)) Semoga jadi puteri yang salehah dan berguna bagi orang banyak amiin.

Nama Kafkay Natha, dari bhs Arab Kaf (huruf kaf): contoh, dan kay: semoga. Natha dari bhs sansekerta: pengayom. Singkatnya semoga bisa jadi contoh/teladan dan pengayom. Kami memanggilnya Atha.

5 comments:

entik said...

duh, senengnya baca postingan ini. Selamat ya..
Lancar dan terhitung cepet lho jeng lairannya atha.

yup semoga atha jadi anak yang solikhah ya...

lidya said...

Selamat ya udah lahir

.:diah:. said...

Alhamdulillah yaa Mbak, adeknya Shinfa dah lahir, Shinfa jadi Mbak dunks skrg ;)

.:diah:. said...

moga adek Atha jd anak yg sholehah yaaa... Amin :)

rumah-e syafa said...

assalamualaikum, salam kenal bu...saya muthi, ibu dr syafa, 2 bln, lairannya deketan sama atha, 16 nov 2009...blog nya nyenengke...jd bacaan selingan sembari momong syafa...