Showing posts with label australia. Show all posts
Showing posts with label australia. Show all posts

12 November, 2014

2 comments 11/12/2014 05:45:00 PM

Belajara Toleransi dari Al Zahra

Posted by isma - Filed under ,

Sebuah sekolah muslim bernama Al Zahra terletak di 3-5 Wollongong Road Arncliffe New South Wales Australia. Di luar gedungnya yang megah dengan teras berbentuk kubah, saya tak menyangka akan mendapat pengalaman sangat berharga di dalamnya.

Saya dan tiga teman peserta Indonesia-Australia Muslim Exchange Program 2013 tiba di Al Zahra hari Kamis, 10 April 2013, pukul 09.00 pagi. Menunggu beberapa saat di teras gedung sekolah tak membuat saya bosan. Beragam foto prestasi dan lukisan khas Aborigin dipajang di dinding memanjakan mata. Pada satu sudut teras, sebuah rak menyediakan brosur dan terbitan lain yang memuat informasi tentang sekolah. Al Zahra adalah sekolah Muslim Syiah yang mulai beroperasi tahun 1998, di bawah kebijakan Masjid Al Zahra yang merupakan Komunitas Libanon. Jika dulu sekolah ini masih menggunakan lahan sewaan di dekat masjid, ia sekarang sudah berdiri di lahan terpisah.

“I am not a Muslim,” aku Kepala Sekolah yang menemui kedatangan kami di ruang tamu. Pengakuan yang terdengar asing di telinga saya. Non Muslim menjadi kepala di sekolah Muslim. “Lalu apakah Bapak menemui kesulitan selama di sini?” tanya Fina, kawan saya. Ia pun menjelaskan bahwa sebelumnya ia pernah tinggal di Abu Dhabi selama dua setengah tahun, dan mendapat pengalaman di sebuah sekolah muslim yang tentu tidak jauh berbeda dengan tempat kerjanya sekarang. Ia berhadapan dengan murid-murid Muslim dan juga segala ketentuan yang berhubungan dengan ajaran dan komunitas Muslim. Jadi, selama hampir satu tahun di Al Zahra ia relative tak menemukan kesulitan.


Yang menarik adalah tentang studi agama yang dilakukan di sekolah ini. Studi agama memberikan cukup informasi kepada para siswa tentang ragam agama, tidak hanya Islam dan ajaran-ajarannya. Tetapi juga studi tentang agama lain dan sejarah. Mereka diajak untuk mengetahui suatu agama, membandingkan untuk menemukan komunalisme di antara agama-agama tersebut. Dalam Islamic studies, misalnya ,mereka melakukan diskusi tentang film, musik, atau hubungan antara remaja putera dan puteri dari berbagai perspektif. “Baru-baru ini kami mendiskusikan film Noah. Jadi bagaimana isi film sesuai dengan kepercayaan Muslim, apa yang mereka sukai dan tidak sukai, mengapa mereka tidak suka. Lalu bagaimana film itu jika dilihat dari perspektif Kristen,” jelas Kepala Sekolah.

Selain pemahaman atas perbedaan agama, di sekolah ini para murid juga belajar memahami perbedaan pilihan tentang jilbab atau penutup kepala bagi murid perempuan. Jika di sekolah-sekolah Muslim di Indonesia seluruh murid perempuan harus berjilbab, tidak demikian dengan Al Zahra. Ketika saya dan teman-teman berkeliling gedung sekolah, dari empat murid perempuan yang mengantar kami, dua orang tidak berjilbab. Dan masih banyak murid perempuan lain tanpa penutup kepala, demikian juga dengan gurunya. Lalu dengan fasih salah seorang dari mereka mengatakan bahwa mereka menghormati pilihan setiap orang untuk berjilbab atau tidak, karena mereka paham mereka berasal dari budaya, lingkungan, dan tentu latar belakang keluarga yang berbeda-beda.

Pendidikan toleransi di Al Zahra diwujudkan dalam pembelajaran-pembelajaran yang natural untuk menerima dan menghormati perbedaan. Kita mungkin sudah biasa mendengar istilah toleransi, namun menerima kehadiran seseorang beragama lain di lembaga pendidikan kita, sepertinya sulit dilakukan. Tanpa adanya trust tidak mungkin sang Kepala Sekolah bisa diterima di sekolah muslim ini. Dan bagi saya Al Zahra berhasil menunjukkan satu bentuk toleransi yang nyata.



dimuat di portalkbr
Continue reading...

07 June, 2014

2 comments 6/07/2014 11:01:00 AM

911 Menyelamatkan Sang Puteri

Posted by isma - Filed under
Waktu itu 7 April 2014. Kami, para peserta Muslim Exchange Program baru tiba di Canberra. Saya tengah membuka laptop untuk upload foto-foto ketika saya mendengar suara panik dari arah kamar mandi. Itu suara Fina. “Piye iki, Mbak. Kok ora iso dibukak,” ucapnya. Saya dengar bunyi gagang pintu yang diputar-putar, tapi tak kunjung terbuka. Gagang pintu itu berbentuk bulat dengan tombol kunci di bagian tengah. Biasanya dengan sekali putar, kunci akan terbuka dan secara otomatis pintu bisa ditarik untuk kita keluar. Tapi, kali ini semua kebiasaan itu tidak berlaku.

Saya segera beranjak, meninggalkan laptop di meja ruang tamu. Pikir saya, barangkali bisa kalau dibuka dari luar. Saya putar, dorong, putar lagi, dorong lagi, tetap saja gagang pintu itu hanya berbunyi glutak-glutuk. “Nggak bisa, Fin,” teriak saya. “Sudah, aku telpon front desk aja ya,” lanjut saya kemudian. Saya yang di luar kamar mandi mungkin masih bisa tersenyum-senyum karena mendapati pengalaman kekunci di kamar mandi, di Ostrali lagi, di Canberra. Kalau di kos-kosan Sapen mungkin sudah biasa. Kelas lokal, bukan internasional. Tapi, ini di sebuah apartemen di negara maju bo’!

Tapi, bagi Fina jelas lain rasanya. Ia mungkin bingung dan panik. Makanya sambil menunggu petugas yang dijanjikan front desk naik ke atas, ia meminta saya memasukkan handphonenya lewat bawah pintu. “Waduh Fin, nggak muat!” teriak saya yang mungkin langsung meruntuhkan harapan Fina untuk mendapatkan teman selama menunggu. Untunglah kamar mandi apartemen Adina itu lumayan luas, jadi membantu Fina untuk bisa mendapatkan pernapasan yang baik.

Petugas yang dijanjikan pun datang. Ia adalah orang kedua yang naik ke atas, setelah si mbak resepsionis naik lebih dulu untuk memastikan kerusakannya dan sekuat tenaga membuka pintu namun tak berhasil. Kembali usaha pembukaan pintu pun dilakukan oleh seorang laki-laki tua teknisi apartemen. Saya agak tidak percaya sama bapak ini. Alih-alih berusaha membuka, ia terus mengomando Fina untuk membuka dari dalam. Seolah menganggap masalahnya bukan di gagang pintunya, tapi cara membukanya. Namun, tetap saja tidak berhasil. Sementara Fina sudah terjebak hampir 1 jam. Saya tidak tahu bagaimana posenya di dalam sana. Bete setengah mati pasti.

Lalu, ketika saya sudah kembali ke laptop untuk beberapa lama, kembali menunggu pertolongan selanjutnya, pintu kamar akhirnya diketuk. Ketika saya buka, hati saya melongo. Mereka kan gerombolan dari 911, gumam saya dalam hati. Tiga orang laki-laki kekar dan tinggi berseragam kuning menyala minta izin untuk masuk. Salah seorang membawa satu kotak peralatan, semacam peralatan bengkel. Langkah kaki mereka jika dibunyikan mungkin “prok prok prok”, merangsek masuk seperti para pangeran berkuda kuning siap menyelamatkan sang putri! Kali ini harapanku begitu besar pada mereka. Kalau urusan mendobrak pintu saja mereka tidak berhasil, mau ditaruh di mana kredibilitas 911 Canberra. Hahaha, sambil saya curi-curi foto aksi mereka.

Benar saja, tak perlu waktu lama. Salah seorang dari mereka meminta Fina untuk menjauh dari pintu. Saya yang menyaksikan ikut berdebar-debar. Apakah yang akan terjadi kemudian. Gagang pintu dibongkar menyisakan suara yang lumayan keras, dan dengan mudah pintu kamar mandi pun bisa didorong terbuka. Oooh, rasanya seperti sedang menyaksikan Superman menyelamatkan korban kebakaran, dan begitu ia berhasil, tepuk tangan riuh menggema. “Selamaaat selamaaat.” Haha, seru sekali. Selama ini hanya melihat pasukan 911 beraksi di televisi dan film-film, tapi malam itu dengan mata kepala sendiri saya melihat aksi kepahlawanan mereka mendobrak pintu kamar mandi. Apalagi ini terjadi di Ostrali, haha jarang-jarang!

Continue reading...

07 May, 2014

2 comments 5/07/2014 03:33:00 PM

Nyoblos di Australia

Posted by isma - Filed under ,
Ada pengalaman baru peserta Muslim Exchange Program 2014 yang unik dan bisa jadi hanya dialami oleh para peserta group pertama, yaitu mengikuti PEMILU dari luar negeri, Australia. Bagi saya, tentu ini adalah pengalaman yang menyenangkan. PEMILU tahun lalu saya memilih di TPS Kedungbanteng Yogyakarta, tapi tahun 2014 ini saya memilih di TPS Melbourne. Loncatan yang lumayan jauh!

Pelaksanaan PEMILU untuk dapil luar negeri di Australia dilaksanakan empat hari lebih awal dari jadwal pelaksanaan di Indonesia, yaitu hari Sabtu, 5 April 2014. Kami hanya memilih satu calon legislative untuk DPR pusat. Sebelumnya saya dan teman-teman sudah diminta untuk membawa form A-5 yang bisa kami peroleh dari panitia pemilihan desa. Dua orang teman cowok kebetulan tidak membawa form tersebut. “Kalau boleh milih ya syukur. Kalau tidak ya tidak apa-apa,” kata Sukron Makmun, salah seorang peserta dengan pasrah.

siap mencoblos

bersama katty "alef" holmes

Malam hari sebelum pencoblosan, saya sempat bertanya dan browsing profile caleg dapil luar negeri. “Pilih teman saya saja. Saya bisa jamin kredibilitasnya,” usul Zahrul Fata, temen cowok peserta MEP yang lain. Saya sebetulnya cukup percaya dan mau mengiyakan usulannya itu, sayangnya saya tidak suka dengan partainya. Bertanya ke kawan lain yang sedang S3 di Australia, saya juga mendapatkan satu nama, laki-laki. Meskipun partainya saya oke, tetap saja saya belum sreg. Akhirnya berbekal link profil caleg, saya melakukan penelusuran sendiri untuk menentukan pilihan. Ternyata ada hasilnya juga. Waktu dua teman saya, Fina dan Tara, bertanya mau pilih siapa, dengan percaya diri saya menyebutkan nama. Saya juga menjadi juru kampanye gratis si caleg perempuan ini haha dan berhasil menggaet dua suara mereka. Ketika di TPS, kami perempuan bertiga berhasil juga menggaet satu suara Sukron untuk memilih caleg pilihan kami.

Pagi hari kami bertolak dari apartemen. Entah kenapa saya merasa seperti sedang akan pergi shalat ied untuk merayakan hari raya. *lebay*. Ditemani Alef, guide perempuan dari Turki, kami naik trem, lalu berjalan kaki menuju gedung konjen. Suasana tampak ramai. Tenda tempat pemilihan sudah dipenuhi para pencoblos. Seorang mas-mas berambut panjang menyambut kami, dan menjelaskan bagaimana mekanismenya. Semula kami diminta mengisi formulir, karena kami tidak mendaftar secara online lebih dahulu. Tapi, setelah saya menjelaskan bahwa saya sudah membawa form A-5 dari kampung, akhirnya saya dan teman-teman bisa langsung menuju ruang pemilihan.

tampak dari luar pagar

bilik-bilik suara

tempat pencoblosan

Di dalam tenda besar terdapat 6 bilik suara. Saya masuk bilik nomor 1. Ada kurang lebih tiga petugas yang menjaga. Mereka menerima form A-5, mencatat identitas, dan memberi kami surat suara. Pencoblosan dilakukan di atas meja, dikeliling oleh kardus tebal. Antriannya tidak banyak, jadi saya bisa segera menunaikan hak saya sebagai warga negara *alah! Selesai mencoblos, kami melihat bagian lain halaman gedung konjen yang dijadikan tempat untuk pujasera makanan Indonesia. Ini benar-benar berasa di kampung deh.

Tapi, saya dan teman-teman tidak sempat untuk berputar-putar, mencicipi makanan-makanan itu. Kami sudah harus bergegas menuju Victoria market untuk membeli oleh-oleh. Aha, tapi sebelum meninggalkan gedung konjen, bagus juga untuk foto di depan sign gedung konjen. Bukti kalau saya sudah menginjakkan kaki di “tanah Indonesia” yang berada di Australia.

smile ....

Continue reading...

02 April, 2014

4 comments 4/02/2014 06:00:00 PM

Melbourne di antara Kenangan

Posted by isma - Filed under ,

sejauh mata memandang, tanah berwarna kopi susu terhampar luas. pada bagian tertentu, beberapa benda berbentuk kotak bergerak, meskipun gerakannya seperti gerakan semut, kecil dan susah untuk dilihat dari ketinggian. jika di jakarta, kita disambut dengan pemandangan perumahan penduduk yang bertumpuk-tumpuk, tidak demikian dengan daerah pinggiran melbourne. dan begitulah yang saya lihat ketika pesawat yang saya tumpangi, perlahan mendekati landasan.

sekitar pukul 08.30, senin 31 maret 2014, saya dan teman-teman peserta MEP 2014 tiba di bandara Melbourne dengan selamat. saya sempat menikmati scramble egg dan keju, daging asap tipis, dan kentang di dalam pesawat, meskipun tak begitu nendang rasanya, cukup untuk bekal beraktivitas di hari pertama di Melbourne. aktivitas pertama, menyelesaikan persoalan imigrasi tentunya. tidak rumit, tidak seperti yang dikhawatirkan sebelumnya. petugas imigrasi hanya memeriksa passport dan visa, memberi stempel, dan tidak bertanya apa pun. berbeda dengan petugas imigrasi di bandara honolulu, toronto, atau bangalore india. mereka menyapa dan menanyakan tujuan kedatangan. meskipun saya tahu maksud kedatangan saya, tetap saja saya grogi karena khawatir jika salah ucap. iya kan :)

tantangan kedua yang harus saya lewati adalah pemeriksaan bawaan yang saya declare karena saya membawa souvenir kayu dan madu. "what is this?" petugas tua itu bertanya, menunjuk biji-bijian yang menempel pada jam dinding sebagai penanda angka. "kind of seed, mmm ... watermelon i guess," jawab saya, dan akhirnya diputuskan untuk ditake out. saya sebenarnya ingin ketawa melihat di bapak melepas 36 biji-bijian yang menempel pada 3 buah jam yang saya bawa. membuat kami harus menunggu. sedangkan teman saya yang membawa ikan asin, tidak dipersoalkan. saya kemudian jadi mengerti bahwa membawa biji-bijian meskipun besar kemungkinan sudah tidak akan bisa tumbuh tak bisa ditoleransi. catet!

bersama prof Tim

bersama ibu chris

keluar dari bandara, ibu crish sudah menunggu, dan setelah briefing di apartment, saya dan teman-teman pun melanjutkan kegiatan hari itu. ibu crish membawa saya ke university of melbourne bertemu dengan Prof. Tim Lindsey, the chair of the australia indonesia institute dan direktur the center for indonesian law, islam, and society. ia bercerita tentang banyak hal, dari cerita tentang nenek moyangnya yang immigrant sampai bagaimana pandangan masyarakat australia tentang muslim yang masih cenderung negatif karena sedikit yang mereka tahu atau bahkan tidak tahu sama sekali.

lalu, saya bertanya, upaya apa saja yang sudah dilakukan untuk mengubah citra tersebut. "ya banyak, di antaranya program MEP ini," jawabnya dengan bahasa indonesia yang fasih. australia indonesia institute banyak melakukan program-program untuk menjembatani perbedaan-perbedaan dalam rangka membangun multicultural understanding. "so, just keep doing it then, nothing to be worried," bisik saya dalam hati, hihi, sambil manggut-manggut.

dari unimelb, kami menuju mushala kecil di dalam lingkungan kampus diantar oleh rowand. ini keren sekali, karena di UHM tidak bisa dijumpai fasilitas beribadah untuk muslim. tak salah jika kim garret sempat menjelaskan bahwa komunitas muslim termasuk komunitas ketiga terbesar di australia. jadi ingat ketika pak zul dan kawan-kawan sempat ditegur oleh guru bahasa karena izin untuk shalat jumat. haha kami shock waktu itu, secara masih bau kencur dalam rimba kehidupan di hawaii. ah itu kenangan.

selesai shalat, tujuan selanjutnya adalah state library di victoria, dan saya seperti terbawa kembali pada kenangan waktu menjadi mahasiswa :) perpustakaan UHM yang dingin, mencari referensi lewat komputer, mencatatnya, dan menelusuri jajaran buku di rak-rak yang tinggi. bedanya, di perpustakaan ini tidak ada buku yang boleh dibawa pulang, tapi harus dibaca di tempat. pembaca tinggal mencatat buku yang dibutuhkan, dan akan diambilkan oleh petugas. tempatnya luas, hangat, dan hening, meskipun penuh oleh pengunjung. i love this perpustakaan.

satu sudut di university of melbourne

perpusda ala victoria

dalam perpustakaan. cantik.

ibu crish juga membawa kami ke lantai dua dan lantai tiga, tempat saya bisa melihat sejarah australia melalui koleksi foto, pameran benda-benda sejarah, dan lukisan. beberapa kali ibu crish menggarisbawahi bahwa negara ini dibentuk di atas perbedaan-perbedaan. nenek moyang datang dari negara, kewarganegaraan, ras, budaya, agama yang berbeda. meskipun saya tidak bisa merecall hasil pengamatan saya dengan jelas, tapi kunjungan ini membuat saya merasa ingin kembali membaca pameran sejarah pembentukan negara saya sendiri :(

saya sempat beristirahat sebentar di apartemen sebelum melanjutkan aktivitas di restoran india curry vault untuk dinner. aha, ini tentu saja mengingatkan kenangan saya selama di bangalore. masakan serba curry dan lassi mangga yang maknyus. saya bertemu dengan alumni MEP dari Australia yang sudah pergi ke Indonesia tahun-tahun yang lalu. seperti pesta koktail, kami berbincang tentang pekerjaan, hobi, keluarga, dan tentu pengalaman-pengalaman berkesan tentang MEP. selesai dengan satu orang, berganti dengan orang lain. lagi-lagi, kegiatan ini mengingatkan saya pada kelas bahasa inggris bu suling di NICE UHM. saya belajar bagaimana menemukan topik pembicaraan, bertanya dan meresponse. interesting!

menu masakan india

peserta dinner

selesai dinner, selesai juga kegiatan di hari pertama. saya kembali ke apartement dengan mata berat karena ngantuk. tapi tetap saja, saya sempat melihat-lihat kembali foto-foto yang berhasil saya jepret. foto-foto yang barangkali pada tahun kesekian setelah program ini akan menjadi kenangan yang pantas untuk dikenang :)
Continue reading...

30 March, 2014

2 comments 3/30/2014 09:45:00 PM

Menuju Negeri Kanguru ...

Posted by isma - Filed under ,
hari yang saya tunggu-tunggu pun akhirnya tiba, jum'at, 28 maret 2014. saya tiba di jakarta sehari sebelumnya, memenuhi undangan kedutaan australia untuk briefing program pertukaran muslim indonesia-australia. saya berangkat dengan pesawat, bersama simak yang datang dari pekalongan karena ingin mencoba rasanya naik pesawat :)

ketika saya sampai di bandara adisucipto, jogja dalam keadaan mendung. kak abiq sudah berurai air mata, dan saya berusaha menenangkan. sementara dik atha, ia tampak tegar, nyantai, dan memberiku ciuman lengkap di setiap sudut wajah. "ibu mau kerja ya," katanya. "iya, di australia," jawabku. dan meskipun sudah biasa, tetap saja saya semedot meninggalkan mereka.

ini kali pertama saya masuk kedutaan australia. saya melewati sekuriti dan tiba di ruang pertemuan bersama ikfina, peserta MEP dari jepara. di dalam ruangan, kim garret dan anindita, dari kedutaan, riri khariroh, peserta MEP 2011, juga tiga peserta yang lain sudah menunggu. meskipun datang paling akhir, kami tidak terhitung terlambat dari jam yang dijawalkan.

kim segera memulai deskripsinya tentang australia, tentang komunitas muslim dan budaya yang berkembang di tanah asalnya. saya sempat terkejut ketika tahu bahwa muslim termasuk komunitas ketiga terbesar di australia. namun kim tidak tahu pasti, komunitas agama mana yang menduduki posisi pertama dan kedua. "mungkin kristen dan katolik," jawabnya.

usai kim, riri khariroh berbagi pengalaman selama mengikuti MEP 2011. tak cuma saya, keempat peserta lain seperti sudah dibawa dalam perjalanan seru MEP. saya semakin bersyukur bisa terpilih mengikuti program ini, mendapat kesempatan menjadi tamu dan dipertemukan dengan orang-orang penting di australia. "i can't wait to go there," celetuk tarawiyah.

anindita menambahkan beberapa point penting yang bersifat teknis kepada saya dan teman-teman. saya suka sekali memperhatikan air muka dan gayanya berbicara. jika selama ini kami hanya ngobrol lewat telpon dan email, hari ini saya bertemu langsung dengan orangnya. di mata saya anindita adalah perempuan cantik dan juga smart. "sabtu dan minggu silakan dipergunakan untuk istirahat, mempersiapkan stamina untuk perjalanan padat selama di ausie," pesannya.

tapi, saya dan ikfina sempat jalan-jalan ke senayan city pada sore harinya dan ke tanah abang pada keesokan harinya. barulah kami hanya berdiam di rumah pada hari minggu, mempersiapkan dan menata bekal yang akan kami bawa. jujur, kami sangat bersemangat untuk perjalanan ini.

dan malam ini, kami sudah di ruang tunggu garuda, menunggu saat kita untuk boarding ke dalam pesawat yang akan membawa kita ke negeri kanguru ... wish us a safe and comfortable flight ... :)

peserta MEP 2014: sukron makmun, tarawiyah, isma, ikfina, dan zahrul fata
Continue reading...