Pondok Mertua Indah
28 March, 2008
Suatu ketika seorang teman pernah bilang ke aku:
”Nggak ngebayangin deh tinggal bareng mertua. Mana gue kan model-model mantu yang pemalas. Nyuci, ngurus anak, gue gantian sama suami. Belum lagi kalau manggil suami, gue biasa pake nama aja. Waah bisa dikira nggak beradab deh!” Dan, ketika temanku dan suaminya diminta untuk pulang kampung daripada tinggal di Jakarta yang kian hari kian nggak sehat itu, ia merasa sangat keberatan karena harus tinggal bareng mertua.
Seorang temanku yang lain juga pernah bertanya dengan ekspresi wajah yang heran dan susah membayangkan, ”Kamu serumah sama mertua ya?”
”Iya,” jawabku pasti.
”Gimana? Baik-baik saja kan?”
”Iya. Baik-baik aja kok,” jawabku agak heran juga. Hihi.
Yah, diakui atau tidak media elektronik, terutama, memang berhasil menumbuhkan stigma pada peran yang namanya mertua. Coba aja amati sinetron yang biasa tayang di TV. Dari Cinta Bunga sampai Cinta Fitri *alah* citra mertua digambarkan begitu menyeramkan. Galak, gila harta, tidak mau berbagi, dan tidak mau menghargai peran mantu sebagai istri dari anaknya. Peran mertua disejajarkan dengan gambaran ibu tiri yang sudah sukses lebih dulu dengan kejelakannya. Pantas kalau teman-temanku pada heran kenapa aku mau dan bisa bertahan tinggal bareng mertua.
Idealnya begitu menikah memang bisa mandiri dan tinggal terpisah rumah dengan ortu. Selain untuk menjaga hubungan biar lebih sehat, hubungan pribadi antarpasangan juga bisa nyaman karena tidak ada intervensi atau bibit-bibit kecemburuan. Meskipun dengan ngontrak rumah atau beli rumah cicilan. Seperti yang dijelaskan Mama Dedeh kemarin pagi di sebuah acara siraman ruhani sebuah stasiun televisi.
Ah, tapi... agaknya anak juga jangan semuanya egois dan memandang penting keluarga barunya tanpa mempertimbangkan kondisi orang tua. Ada baiknya di antara 10 anak, misalnya, ada salah seorang yang mengalah berkenan tinggal di rumah induk menemani orang tua. Mengantarkan ibu ke pasar, layat, nyumbang. Atau menggantikan bapak yang sudah sepuh untuk tugas ronda, gropyok tikus, dan kerja bakti. Karena jika yang didahulukan adalah egoisme dan stigma jelek tentang mertua sampai tidak ada seorang menantu pun yang mau tinggal di Perumahan Mertua Indah, bisa jadi setiap rumah induk adalah panti jompo yang berisi para orang tua yang kesepian tanpa anak dan cucu. Kasihan sekali.
Memang tidak mudah untuk memulai hubungan baik antara menantu dengan mertua. Aku cukup berpengalaman dalam hal ini. *suiiiit...suiiit*. Karena mertua memang berbeda dengan orang tua kandung dalam hal kedekatan dan keakraban. Aku juga tidak bisa menjadi begitu dekat dengan mertua seperti aku dekat dengan bapak-simakku, apalagi dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Meskipun mertuaku bukan tipe seperti yang digambarkan dalam sinetron-sinetron itu. *lirik-lirik.com*
Contoh kecil, kalau aku ditegur simak, ”Mbok sana ikut arisan malam, biar banyak teman,” maka aku akan dengan santai bisa menjawab, ”Aku capek Mak. Sampai rumah maghrib. Ngantuk. Belum kalau Shinfa rewel.” Tapi, kalau yang menegur itu adalah mertua, mana berani aku menjawab, dan secara otomatis teguran itu bisa saja berubah makna menjadi, ”Jadi selama ini aku masih kurang berteman dengan tetangga ya?” Karena pada teguran yang kedua berhasil menyentil ketersinggungan. Belum lagi kalau tegurannya sampai membanding-bandingkan. Misalnya, ”Mbok sana ikut pengajian kayak Mbak Asih itu lho...” Kalau teguran ini diucapkan oleh bapak atau simakku mungkin akan terdengar biasa. Tapi, kalau yang mengucapkan adalah mertua... bisa panjang sekali penafsirannya... Tentu saja karena kedekatan dengan ortu sendiri dan mertua itu berbeda, dan untuk membangunnya dibutuhkan proses.
Konflik juga bisa muncul karena kecemburuan. Persis seperti yang dikonflikkan dalam Cinta Fitri. Sekali waktu aku merasa ayah seperti lebih banyak mencurahkan waktu untuk keluarga besarnya, tanpa memberikan perhatian misalnya nonton bareng atau bersantai-santai ngobrol berduaan. Atau ketika dalam satu waktu ayah harus memilih antara menemani aku belanja bulanan atau mengantar kondangan. Kalau ayah milih mengantar aku, bisa saja mertuaku jadi cemburu. Begitu pun sebaliknya. Bisa juga kecemburuan terjadi antara menantu dan adik ipar. ”Yang nyapu kok aku terus, kamu enak-enakan aja nonton tv,” gerutu salah seorang di antara keduanya, misalnya
Atau, soal selera masakan. Yang satu suka santan rasa manis, yang satunya suka santan yang pedas. Yang ini suka itu, yang itu suka ini. Atau, soal kesepakatan-kesepakatan pribadi suami istri, seperti dikhawatirkan temanku, misalnya suami biasa mencuci... ”Bisa saja mertuaku tidak terima anaknya mencucikan bajuku dan anakku,” jelas temanku. Alhasil, bisa saja mertua intervensi, ikut mengatur kesepakatan baru demi melindungi anaknya, misalnya.
Rumit memang kalau dipetani satu per satu. Tapi, kalau dasarnya adalah saling legowo dan neriman, juga cuek dan luweh, the show will go on deh! Lambat laun kedekatan, kecocokan, dan kesepahaman akan bisa terbangun. Apalagi kalau bisa bekerja sama dengan baik, dijamin enteng deh yang namanya pengeluaran dan kerjaan rumah tangga. Hihi. Masak pagi adalah tugasku. Masak sianmg giliran ibu. Adik ipar cewek bagian nyapu dan asah-asah.
Tentu saja dengan catatan, mantu atau mertua juga anggota keluarga induk yang lain seperti adik ipar, memang punya itikad untuk saling menghormati dan menjalin hubungan yang baik. Bukan seperti yang digambarkan dalam sinetron. Bubrah kalau seperti itu. Dan paling tidak, dengan tinggal bareng mertua kita bisa dapat pelajaran kira-kira sikap seperti apa yang bisa membuat anak mantu tersinggung dan lalu jangan sampai kita lakukan.
Seiring perjalanan waktu, mulai 2004, aku ingat akhir tahun 2007 lalu aku finally dapat penghargaan sebuah pujian... ”Isma saiki nek masak wis koyo wong kene. Wis pas!” Gubrak! Atau yang membuat aku diam-diam tersipu, ketika mbak tukang sayur cerita kalau mertuaku pernah menunjukkan salah satu novelku sambil menjelaskan kalau itu tulisanku. Cieeee! Atau yang membuat aku terenyuh adalah ketika aku mengajukan beasiswa. Aku sempat menyangka kalau rencana ini kurang bisa diterima oleh mertuaku. Karena berarti waktuku akan lebih banyak tidak bersama ayah dan Shinfa. Tapi mertuaku malah bilang, ”Ya popo yo, Bik. Abik neng umah yo... Mugo-mugo hasil sing dicita-cita’ke.”
Jadi, kalau memang pilihan yang harus Anda ambil adalah menemani hari tua mertua di Perumahan Mertua Indah, why not?! Karena kelak kita pun akan menjadi orang tua dan mertua yang sangat membutuhkan kehadiran anak dan menantu.
Labels: percikan
Author: isma »
Thanks for 19 comments
pondok mertua indah...,aku belum sempat ngalami tapi kalo tinggal di rumah ortu sampai akhirnya punya rumah sendiri pernah.
emang sebuah pilihan sulit ketika harus meninggal ortu/mertua sendiri. Aku ga tahu apa aku termasuk egois pa enggak, karena setelah kami punya rumah sendiri ortu dan mertuaku tinggal sendiri dan ga ada anak yang nemenin mereka.
yg bisa kulakukan adalah sesering mungkin nengok mereka.
Pondok mertua indah is ok kok mba isama..
Dulu sebelum nikah aku juga takut banget deh yang namanya mertua, apalagi klo tinggal serumah.
Ternyata aku menikah dengan orang yang sudah tidak mempunyai ayah dan ibu (mertua bagiku). So jadi ya blom pernah ngerasain yang berkumpul dengan mertua.
Memang ada enak & ga' enaknya tinggal sama mertua, tapi walau sejelek apapun blio tetap orang tua kita juga, ya gak seh
wah..asik banget tulisannya mbak Isma. Hm..aku juga ngalamin, saat ini tinggal sama orang tua-ku untuk nemenin mereka, krn kakak2 udah duluan tinggal misah, jadi sbg cah ragil, aku lah yg kebagian jaga ortu..kasian n gak tega aja kalo mereka gak ditemeni semua anak2nya.
Pasti romantika n suka dukanya banyak ya Mbak...
He..he..sama kok Is, aku juga akur-akur saja sama mertua, asyik2 aja, yang ada malah suka hunting baju dan tas bareng hi..hi..hi...sehobi. Tapi aku bersama mertua kalau beliau ke sini (paling lama dua bulan di rumahku) atau pas kami pulkam yg cuma beberapa minggu aja sih.
hehehe..klo menurutku tinggal sm mertua meski ada ngga enaknya tapi teteup ada enaknya juga..
ngga enaknya krn klo tinggal sendiri ma suami biasanya bebas bisa nyuruh2 nyuci or setlika..tp klo di rumah mertu sungkan..:D
enaknya..krn alhamdulillah aku dpt mertua yg baik hatinya.. jd klo di rumah mertua mau makan tinggal makan aja..lah piyeklo mo mbantuin masak selalu diusir alis gak boleh mbantuin jew.. hihihi... beruntunglah diriku yg males ini..:P
ga selamanya yg dipikir dan dilihat orang laen itu sama antara satu sama laen.. iya ya.. manusia hrsnya lebih banyak bersyukur krn masih bisa berbakti kpd ortu ke2 dan mencari bekal ke syurga.. mb isma tetep semangat ya :)
waduh gawat! kenapa aku berkaca2 mbacanya ya Is? (hiks)
sbg seorang menantu yang juga 'terpaksa' harus nebeng di rumah mertua, aku ngerasain bener gimana susahnya membangun hubungan yang baik dengan mertua (secara psikologis, hubungan antara menantu perempuan dg ibu mertua memang jauh lebih rumit dibanding hubungan antara menantu laki2 dg mertua), perlu banyak keikhlasan dan kesabaran dan itikad baik dari semua pihak.
Tapi percaya deh, tinggal sama mertua tidak se'menyeramkan' kesan yang terlanjur tercipta selama ini.
:)
Wahh salut emang aku sm jeng isma ini, tapi bener katamu ga semua mertua itu seperti yg digambarkan di sinetron2 itu kok, kenyataannya ga begt masih banyak mertua yg menganggap menantu seperti anak sendiri bahkan melebihi anak sendiri sayangnya.
Semoga pengabdian jeng Isma ke mertua sm seperti mengabdi ke orangtua sendiri yaa...iklash dan dpt hidayah dr yang Diatas amiinn...
aku jg pernah punya pengalaman tinggal bareng mertua, memang banyak perbedaan yg perlu di tolerin tp semua itu bs berjalan dg baik asal ada salah satu dr kita mengalah, dan berbesar hati.
Salut ma dikau.bisa ambil hati n disayang mertua:-)
plok plok plok...applause buat isma... sampeyan huebad bisa menyatukan visi sama mertua..mungkin benar ya.. dekat tidaknya kita tergantung pd kita sendiri..
aku juga tinggal bareng ma ibi mertua, bukan aku yang numpang di rumah mertua..tapi ibu mertua yang ikut aku, apalagi kalo bukan untuk bantu jagain ki'..baik banget kan.
makanya aku si seneng2 aja ada mertua di rumah, pekerjaan jadi ringan..ninggalin ki' di rumah juga tenang hehe..
he he.. si mertua... penuh dilema..
Tp asyik kok tinggal ama mertua.. ada air mata dan tawa...
lumayanlah beberapa tahun gak ngontrak... maklum dulu blum kebayar...
Tp begitu udah bisa mandiri.. kayaknya perjuangan kita berharga banget... ya gak bu..
PMI? aku pernah ngalamin waktu 1 th pertama nikah, hikmahnya sih jadi tau kebiasaan suami di keluarganya gimana, makanan kesukaannya apa. Aku juga byk belajar masak ma mertua hihi...kadang suka mati gaya juga sih kalo dirumah cuma berdua ajah. aku kan gak kerja, sementara suami ma bpk mertua pergi ngantor seharian.
wahhh bagus bngt nih tulisannya mb isma...
bnr2 pasti ada lah yaa lika-liku dalam proses penjajakan dgn mertua, y walopun jg harusnya dianggap spt ortu sndiri, tapi pasti ada jarak juga.
tapi seiring bjlannya waktu, pasti jika kita dari pihak anak mantu, melakukannya smua dgn ihklas,penuh kasih sayang dan ketulusan, insyaAllah kasih sayang mertua pun tak kalah banyaknya dgn anak sndiri..
Pernah ngerasain tinggal di PMI sekitar 4 bln. Emang ada enak dan ga enaknya tinggal dgn mertua. Tergantung qta menyikapinya.
mertuaku baikkkk bgt, tapi aku masih takut tgl bersama...takut jd gak cinta lg hehe
Klo aku siy seneng2 aja tapi perlu belajar banyak dulu dr yang berpengalaman seperti jeng Isma ini hehehehe...
Jeng, po iki nyindir aku po hhaahahhaa.....
enaknya, bisa menemani anak kita di saat kita kerja, pekerjaan rumah bisa share bareng kita.
Gag enaknya, klo beda prinsip , gag nyesuaiindihati mertuakita, duh gag kebayang deh ....
pokoke hrs belajar2 sayang ama mertua
Tuh... kalau kebanyakan nonton sinetron jadinya saat menghadapi satu masalah langsung ngerujuknya ke kisah sinetron itu. Hidup kok didikte sama TV. Mendingan matikan TV, lalu ngobrol sama tetangga untuk berbagi pengalaman. Tapi susah juga ya kalau tetangga justru doyan TV pula, lah kapan kita ini berhasil belajar dari pengalaman sehari-hari yang bebas dari skenario tayangan-tayangan TV itu.
Mondok di mertua mah biasa aja. Kan orang tua kita juga. Jadi ga perlu jaga jaim begitu kawan.

Long Weekend... Maret 2008
24 March, 2008
Empat hari libur aku kruntelan aja di rumah sama Shinfa. Sempat sih merencanakan untuk mudik ke Pekalongan, sekalian ngisi pelatihan jurnalistik. Tapi, tugas itu didelegasikan ke teman komunitas Matapena yang lain karena bebarengan dengan rencana pelatihan karya ilmiah di Madura. Cuma kemudian, baik pelatihan di Pekalongan atau di Madura, pelaksanaanya diundur satu minggu lagi. Alhamdulillah, jadi bisa berlongweekend kan sama Shinfa…
Hari Kamis sore aku, Shinfa, dan ayah sempat nyamperin
Ninie, Arya, sama si Mbak di stasiun … Nggak ada rencana dan mendadak. Karena kebetulan Ninie dan Arya nganterin si Mbak pulang kampung, naik Fajar dan berhenti di Tugu. Sambil menunggu Pramex, ada waktu 30 menitan untuk ngobrol di tengah lalu lalang dan bisingnya stasiun. Ngobrolnya juga sambil was-was, hehe takut ketinggalan kereta. Meskipun masih sempat menggelar produk
Rumah Jilbab… hihi. Rekanan reseller bo…
Awalnya pakai acara mencari-cari sih. Pas ketemu di depan tangga, aku langsung ngeh kalau itu Ninie. Lha ibue Arya ini yang pangling sama aku. “Ternyata tadi tu kamu to…” Hehe. Dah lihat aku tapi nggak nyangka kalau itu isma. Kecil banget ya Nie…Ternyata Shinfa juga ikutan imut kan kayak ibunya, gubrak! Dibanding Arya sama mamanya tentu. Awalnya Arya masih nolak, “Bukan temenku!” ke Shinfa. Pas mau diajak salaman. Tapi, lama-lama… jadi akur deh. Naik turun tangga di depan pintu masuk peron berduaan. Baiknya lagi, Arya juga mau berbagi kue nopia ke Shinfa. Good boy deh!
Hari Jum’at, Shinfa nemenin ibunya potong rambut. Setelah beberapa bulan kegerahan, sekarang sudah plong. Ternyata rambut artis mang tetep jadi trendsetter ya… “Potong BCL gimana, Mbak?” tanya mbak salon. Ah, itu sih model rambut sebelumnya. Aku menggeleng. “Model Maia aja.” “Tapi itu pendek banget, panjang sebelah juga.” “Pendeknya nggak papa. Tapi nggak usah pakai panjang sebelah ya,” usulku. Dan, setelah potong sana potong sini… taraaa… ayah pun berkomentar, “Mbaknya bisa motong nggak sih?” Hihihi… model Maia kesasar dong…
Berlanjut ke hari Sabtu, Shinfa libur sekolah di Salam. Untung Bu Anik sms, jadi tahu kalau libur. Dan, setelah ngobrol sama
Ibunya Arya Jogja… kita bersepakat untuk ngajakin anak-anak berenang. Pagi jam 09.00 di kolam renang Griya Alvita di Bayeman. Ini kolam renang yang biasa dipakai SALAM tiap Rabu dua minggu sekali. Dari rumah Shinfa ada kira-kira 30 menit. Sebenarnya ada kolam renang yang lebih dekat dengan rumah, cuma karena janjian sama Wiedy, jadi biar nggak jauh-jauh amat dari kedua belah pihak. He'eh ra Wid?





Ups! Aku pakai jilbabnya Rumah Jilbab nih.
Enak dipakai, dan nggak gerah ternyata. Kaosnya juga.
Lewat reseller Jogja, utk Jogja & sktrnya tentu, bebas ongkos kirim... Berenang buat Shinfa dan Arya adalah pengalaman pertama. Tapi, alhamdulillah nggak ada yang nangis kekejer karena takut. Arya yang masih imut gitu juga asyik-asyik aja ikut nyemplung sama ibunya. Apalagi Shinfa… girang banget. Pakai menolak disuruh mentas. Alamat bakalan langganan renang nih. Besok kita renang bareng lagi ya, Arya… Tapi, jangan lupa bawa ban... hehe.

Hari Minggu, seperti biasa jadwalnya PAUD. Cuma karena bareng sama mantenan jadi pesertanya agak berkurang. Ini pertemuan kedua di mana Shinfa sudah berani main bareng teman-temannya. Kemarin belajar menggunting sama lempar-melempar bola. Pulangnya, seperti biasa juga, main di rumah Naja. Manjat pohon, pasang puzzle, coret-coret… lari-larian. Lucunya pas Naja punya bungkusan mie goreng. Shinfa bilang, “Mbak Naja, mienya dimakan bareng ya.” Hihi. Meminta dengan halus tuh, untungnya Naja mau juga berbagi. Good girl deh!
Tapi, empat hari libur tetap aja aku belum bisa menyelesaikan target PR dan mbaca naskah. Hihi… gila kerja banget yak! Yah lagian, hari libur kok buat kerja… dijamin gatot deh. Btw, kapan nih ada long weekend lagi… Lihat kalender yuuuk!
Makasih ya Mama Ay, untuk tanda cintanya... Ummmuah!Labels: jalan-jalan, kopdar, Sekolah
Author: isma »
Thanks for 17 comments
Kopdaran pasti gag terlewatkan ya..asyiknya.
Makin panjang aja nih kaki Shinfa abis berenang, ibunya juga happy aja tuh main airnya...
Pinternya yg nodong mie goreng sama Naja..xi3
Asiknya berenang.. yg rajin ya biar cepet tinggi.
Itu kamu to Is yg lg ngajarin Shinfa? kok beda yaa... nduttt.
Shinfa, seneng ya bisa berenang sm Ibu.
Btw bener kt Ayah, bs motong ga tuh mbak-nya di salon. Jgn2 salah model lagi xixixi.
Waduh langsung iklan Re-seller RJ hehehehe...
Isma, sayang ya gag sempet Foto2, nanti mudik berikutnya kita belanja bareng yo ....hr jum'at, sabtu kita di rumah aja gag semept jalan2 soale gag ada yg nganter deh, hujan mulu di klaten ...
Shinfa lain kali klo mau renang ngajakin mas arya juga ya
seru ya mba ngajak anak2 kita renang bareng, sayang nak lanang masih rada-rada takut....hihihihi he'eh sing cerak ae renang'e...owh ya habis renang ternyata perut keroncongan :) anak-anak kita sampe kelaperan...besok bawa perbekalan yang buanyak ya buu hihihihihihi
seru ya mba ngajak anak2 kita renang bareng, sayang nak lanang masih rada-rada takut....hihihihi he'eh sing cerak ae renang'e...owh ya habis renang ternyata perut keroncongan :) anak-anak kita sampe kelaperan...besok bawa perbekalan yang buanyak ya buu hihihihihihi
Shinfa habis belajar berenang yaa...asyi diajarin sm ibu yaa...Ayah kemana kok yg ngajarin ibu hehe...ibunya sekalian kungkum neh..hehe...ada dek arya jg toh...asyik rame2 biar semangat yaa
Asiknya yg kopdaran mulu..cieh nambah lg niy profesinya slain jd penulis jd pedagang n model jg tho? Shin kpn renang ma farrel?
duuh senangnya yang berenang bareng...ki' ikutan dong mbak shinfa..
shinfa..mau dwong tante muti diajarin renang juga scara tante cuman bisa gaya batu alias kelelep xixi..
duh....yang berenang....asiknyaa....
haa.... jilbabnya sama :"> btw, bisa berenang to Is? mbok aku diajari :D
wahhh asik yaa kopdaran..
kak shinfa bsk brng ama azka yaaaa...
wahhh..asiknya liburan Shinfa..berenang pula.. Renangnya gaya apa nih?
Trus jadi sekarang rambutnya potongan siapa nih Mbak Isma?
Ayo dong ajarin aku renang hi..hi..hi..!
hiks jadi inget punya utang mo ngajarin dirimu brenang :))
wah,sempet ktemuan ma arya n ninie ya,aku aja blm dikau malah udah.jengk is pasti kalo ktemu aku surprise,aku lbh gede dr ninie lho;-)

My Dream
18 March, 2008
Dapat tag dari
Ninik. Sambil beromantisme, agak lupa-lupa ingat, aku coba menuliskannya berikut ini:
Masa SDAda satu impian yang masih aku ingat sampai gerang gini, yaitu jadi penulis buku anak-anak. Gara-gara kebiasaanku melahap buku cerita bantuan pemerintah milik perpustakaan sekolah. Aku jadi sering membayangkan seandainya aku bisa menulis cerita anak-anak lalu dibukukan. Hebat banget!
Lalu, aku coba menulis cerita dengan tema ratapan anak tiri pakai buku tulis bersampul Lupus. Tema ini memang booming banget jaman segitu. Apalagi ada film Ari Anggara segala. Selain juga menjadi tema cerita beberapa buku anak yang aku pinjam dari sekolah. Jadi, pantas kalau yang kebayang dalam pikiranku juga tema itu.
Kalau nggak salah ingat, aku menulis hampir 15-an halaman. Setiap penggalan cerita aku tandai dengan halaman baru. Tapi, sayang. Buku tulis Lupusku itu ilang, nggak tahu ke mana. Padahal, jelek-jelek gitu, meskipun ceritanya juga belum selesai, buku itu kan bagian dari sejarah dan catatan tentang semangat menulisku. Jadi penasaran juga, seperti apa ya gaya bahasaku dulu hihi…
Masa SMPIni masa-masa culunku di pesantren. Dan, aku dibikin ndomblong sama yang namanya mbak-mbak pengurus, terutama pengurus bulletin dan mading pesantren, juga sama mbak-mbak alumni yang biasa ngisi pelatihan tulis-menulis. Aku sempat ngefans sama tetangganya
Ninik. Tapi, karena aku bukan aktivis organisasi atau menjadi sosok yang menonjol, ya aku nggak bisa dekat dengan idolaku itu. Kadang kalau melihat mbak itu lewat, atau lagi pidato, aku cuma bisa ndomblong sambil berkaca-kaca. Andaikan aku bisa dibimbing langsung ya sama mbak itu. Kasian deh!
Masa SMAMasih di pesantren yang sama, tapi perubahan mulai terjadi sejak aku masuk SMA. Gara-gara aku menulis opini tentang dendaan 10.000 untuk pelanggaran membuang sampah di sembarang tempat, yang dimuat di bulletin Insaf. Mulai deh, kemampuan nulisku diperhitungkan. Gubrak! Padahal tulisanku juga nggak bagus-bagus amir. Aku dilamar oleh Pemred bulletin untuk ikut bergabung di bulletin. Aku juga dilamar oleh pengurus pesantren untuk mengasuh mading alias majalah dinding.
Untung deh aku pede dengan tulisan jelekku itu dan mau ngirimin ke redaksi Insaf ya. Jadi, peluang untuk belajar nulis lebih bagus semakin terbuka. Dengan terlibat di bulletin dan mading, mau nggak mau akhirnya aku jadi wajib nulis, ya cerpen ya berita ya laporan wawancara, sampai bikin pertanyaan sekaligus jawabannya untuk rubrik konsultasi. Habis, nggak ada yang ngirim sih.
Dan, impianku pun berlanjut ingin bisa kuliah dan aktif seperti mbak-mbak alumni itu. Jadi mahasiswa, wartawan… penulis… halah!
Masa S1Alhamdulillah, meski dengan agak memaksa gara-gara krismon, aku bisa kuliah juga. Meski tidak di universitas favorit, paling enggak bisa ambil bahasa dan sastra. Impian jadi wartawan juga bisa aku lakoni dengan bergabung di majalah kampus. Cuma untuk jadi penulis lepas apalagi buku atau novel… hehe. Masih jauuuuh. Aku memang jarang menulis untuk aku kirim ke majalah atau koran. Pernah sih dua kali, tapi tidak ada yang dimuat. Jadi, aku pun males.
Tapi, pernah juga kejadian. Aku ngirim cerpen ke Nova, dan tidak ada jawaban. Lalu, cerpen itu aku kirimkan ke majalah Familia Jogja. Eeh, ternyata dimuat setelah aku hampir melupakannya. Termasuk yang iseng dan akhirnya masuk nominasi adalah ikut lomba nulis cerita anak bertemakan pluralisme oleh LSPPA. Jadi, sedikit demi sedikitlah, paling tidak impian untuk menampangkan tulisan sudah mulai tercapai… *poko'emaksa.com*
Lucunya, pas masa-masa ini aku suka banget sama yang namanya aktivis forum alias mahasiawa/wi yang selalu vokal dan rajin berdebat dalam diskusi. Hihi. Maklum, aku kan bukan termasuk kategori itu, jadi ya ngimpi2 banget bisa kayak gitu. Sampai aku jatuh naksir sama kakak tingkatku yang orang ponorogo itu hihi. Dia pake kacamata, dan coool... dingiiinnya pol deh. Naasnya lagi, dia nggak kenal sama aku. Hiks. (Eh, kemarin aku sempat ngelihat dia di parkiran amplaz lho...).
Untuk impian yang ini, lambat laun bisa aku abaikan. Tidak menggebu banget. Cuma, kemudian aku jadi memimpikan hal yang lain. Membayangkan gimana ya rasanya jadi editor. Gara-gara kakak senior di majalah yang aku taksir (hehe ternyata aku banyak memendam taksiran yah!) juga jadi editor. Hehe. Dan, impian untuk punya suami seorang aktivis, wartawan, dan penulis. Gubrak!
Masa Abis Lulus S1Begitu lulus S1, aku dilamar untuk jadi korektor
penerbit yang aku betahi sampai detik ini. Sampai promosi jabatan jadi editor dan
redaktur. Ternyata seperti ini jadi editor ya. Alhamdulillah bisa merasakan. Dan lebih surprise lagi, aku jadi dapat kesempatan untuk punya 2 novel kecil. Impian jaman SD, baru terwujud setelah lulus S1. Meskipun tidak persis nulis buku cerita anak-anak. Semoga, suatu saat… amiin.
Dan, soal punya suami yang seorang aktivis, wartawan, dan penulis… seiring waktu dan aktivitasku di LSM, itu tidak lagi menjadi impian. Malah sudah apriori duluan. Hehe. Dan, rupanya itu pun mendapat jawaban dengan ketemuanya aku sama ayah Abik. Suamiku datang dari dunia lain… Makanya kalau ada yang nanya, “Suamimu dulu aktif di mana?” Hehe, aku jawab pun teman-temanku nggak bakalan tahu apalagi kenal.

Sebelum ada Shinfa, sempat bermimpi gimana menjadi ibu, menyusui, dan mengasuh anak. Sekarang setelah ada Shinfa, bukan berarti aku sudah tak punya mimpi lagi. Karena selain bermimpi, apa sih yang bisa aku lakukan untuk tetap bersemangat menjalani nikmat dan anugerah hidup di dunia? Karena aku juga yakin, jalan Allah mengabulkan permintaan adalah lewat mimpi. Karena dalam setiap mimpi ada harapan, ada doa, dan ada kepasrahan. Antara bisa dan tidak. Antara mungkin dan tidak. Antara terjadi atau tidak akan. Di situlah kepasrahan itu berada.
Lalu, apa impianku selanjutnya?
Kuliah lagi…
Punya usaha rumahan…
Nulis buku lagi…
Semoga suatu saat my dream will come true … Amiiin.
Makasih ya Van, kissnya berasa banget... hehe.
Semoga ya persahabatan kita, sedekat dan sehangat kiss.
Aku lanjutkan buat semua teman blogku, my kiss 4 u all.Labels: Pekerjaan Rumah Blogger
Author: isma »
Thanks for 13 comments
Waaah salut deh masi SD dah bisa nulis cerita..pantes aja skrg dah jd pnulis yg sukses. Xixi krn gk ada yg ngirim jd bikin ptanyaan n jawapan sendiri..
smg apa yg dicita2kan tercapai yaaaa bu...:)
salut deh ama perjuangan dan ketekunan dlm hobi menulis dari kecil..
Say,mimpi lanjutanya sama banget ma aku twuh.Hebat dikau dr kecil jago nulis yak.
Oalah ternyata dirimu ngefans dia juga ya????????? coba kalau aku tahu dari dulu, aku bakal nyomblangin kamu *halah opo wae*, Btw Is, aku kalau ketemu idolamu itu pengen ketawa aja, opo maneh kalau dia ngingetin masa2 di pondok, aduhhhh maluuuuuuuu
Amin...amin.. semoga impiannya terwujud ya jeng, dan cepat terbangun dari mimpi indah...sukses terus Is...your the best
wah, masa SD dan SMPnya kok hampir sama sih? cuman masa SMA dan setelahnya yg beda, hehehe... (bedanya, sampe skrg aku blum punya buku dan udah gak punya semangat buat nulis lagi, hiks)
*mau dong diprivat* :">
ternyata dah jago nulis dari SD to, pantess...
ternyata dulu gampang naksir juga ma orang ya hehe..sama dong
wahhhh..ternyata pinter nulis ya Mbak Isma...duh beruntungnya.
Aku pengen banget loh bisa nulis gitu
Ayo mbak, berkarya lagi ddoooong...
Aku penasaran tuh pengen baca ratapan anak tiri yg di buku Lupus..hehehe
hihihi...ampir sama deh hobi nulis dr kecil. waktu SD mpe SMU aku rajin kirim cerpen ma puisi, ikut lomba cerpen juga. waktu mulai kuliah udah ga pernah nulis lagi. Aku punya target th kmrn bisa kirim naskah novel, belom kewujud...mudah2an th ini..mo les privat dulu ma isma aaahhhh...hehehe...
Alhamdulillah impian masa kecilnya jadi kenyataan. Smoga makin sukses yah,mbak. amiiin
hehehehe... tanya sendiri jawab sendiri ya is....
Alhamdulillah ya sebagian besar cita-cita masa kecil terwujudkan. Insya Allah sukses terus ya...
hebad... dari sd udah mulai nulis... semoga cita2nya tercapai ya..
Jeng...baca perjalanan hidupmu weleh..sangat menarik sekali lho...emang udah ada jiwa penulis dr kecil ya...
Hayo semngat yaa...tulislah sebanyak2nya waktu yg kamu punya krn dg tulsan kita bs mencurahkan segala keinginan kita...aku doakan tulisanmu jd novel2 terlaris yg nantinya jg bs difilmkan juga...amiinn...

Teman Main Shinfa
17 March, 2008
Weekend kemarin aku menangkap satu perkembangan positif dari Shinfa. Waktu mengikuti PAUD, ia sudah mau ikut bermain bareng teman-temannya. Main pasaran dan lilin kreasi, bikin kapal dan ikut berdiri pas senam. Kalau dihitung-hitung, kemarin adalah pertemuan keempat sejak PAUD diadakan rutin satu kali tiap minggunya.
"Ini tu temenku lho, Naja namanya..."Sebelumnya Sabtu itu aku berpikir untuk mengajak Shinfa bermain di
SALAM saja. Daripada di PAUD yang jadwalnya memang diajukan karena hari Minggu mau ada mantenan dan para ibu pada repot rewang. Tapi karena kesiangan, selesai beres-beres sudah jam 09.00, akhirnya aku merayu Shinfa untuk ikut PAUD aja.
Semula aku sudah was-was, paling-paling Shinfa bakalan badmood di PAUD nih karena jadwal ke SALAM-nya dibatalkan. Hihi, ternyata di luar dugaan. Shinfa sangat bersemangat dan dengan sukses bermain dan bersosialisasi dengan Inaz, Naja, juga para fasilitator PAUD. Shinfa yang biasanya manyun, ngelendot dan bersandar ke ibunya, hari itu bisa sibuk dengan teman-teman kecilnya, duduk melingkar belajar bikin kapal kertas dan berbagi permainan dengan mereka. Bener-bener surprise deh! Mama Inaz aja langsung berkomentar: ”Shinfa sudah mulai berani. Kemarin kan masih malu-malu...”
Baru kali ini nih,
Shinfa mau gabung bareng Mama Inaz
dan Mbah Zuhroh. Mereka fasilitator PAUD.Dan kesempatan, mumpung mood berteman Shinfa lagi on, pulang PAUD aku menawarkan, ”Adik mau main ke tempat Mbak Naja nggak?”
”Iya. Aku ki mau main tempat Mbak Naja kok.”
Hehe, aku tersenyum. Jawabannya itu lho pakai kok segala.
Ternyata di depan rumah Naja sudah ada Urel, Naja, Fahma dan adiknya, Nia. Kalau keempat anak itu memang sudah biasa main bareng karena rumah mereka yang berdekatan. Berbeda dengan Shinfa yang rumahnya paling ndempis, di pojokan. Tetangga rumah Shinfa cuma dua rumah. Itu pun nggak ada anak balitanya. Jadi, dia tidak punya tetangga kecil yang bisa diajak main. Kalau mau nonggo ke rumah Urel atau Naja, masih terbilang jauh untuk anak seusia Shinfa. Karena harus melewati kebon alias tanah kosong. Naaah, kebayang kan ndesone rumah Shinfa hehe.
"Ini di depan lumah Mbak Naja.
Ada Mbak Ulel yg baju bilu,
Mbak Naja yg jentilan dua,
Mbak Fahma pake baju putih,
Nia nggak kelihatan hehe...
dan aku nunggu gililan manjat pohon."Tapi, beberapa hari yang lalu pernah sih, Shinfa ngeloyor pergi membawa boneka beruangnya. ”Abik mau ke mana?” tanya Uti. ”Mau ke tempat Mbak Urel,” jawabnya sambil terus jalan. Rupanya dia tertarik ingin main karena pas melewati rumah Urel waktu motoran sama ayah, ia melihat Urel lagi di depan rumah. Kontan deh Uti heboh memanggil ayah, suruh nyusul. Aku juga ikut was-was tuh. Satu sisi ingin membiarkan Shinfa main, tapi sisi lain khawatir kalau kenapa-napa karena rumah kami yang memang paling jauh sendiri di pojokan. Jadi nggak ada pilihan selain ikut menemaninya bermain ke Urel atau Naja.
Mungkin karena jarangnya momen main bersama itu, Sabtu siang kemarin Shinfa seneng banget. Ia bisa lari2an bareng Urel, Naja, Fahma, dan Nia. Gantian naik pohon, pengalaman baru buat Shinfa. Soalnya biarpun di rumah dikelilingi pohon, kalo yang kecil gitu kan nggak ada. Biasanya Shinfa cuma naik kursi, jendela, atau gawangan buat jalan punya Uti, sekarang dia bisa manjat pohon. Hehe, senengnya. Biarpun waktu manjat masih dibantu sama Urel.
Sekali dah bisa manjat,
emoh turun deh rasanya hihi...Cuma sepertinya rindu bermain dengan teman-teman tidak cukup bisa mendorong Shinfa untuk mau berbaur dengan teman-teman di
SALAM. Mungkin karena belum klik kali ya. Jadi, sampai sekarang Shinfa masih belum mau berbagi dan bersosialisasi dengan teman kecilnya pada jam bermain di
SALAM. Baru setelah teman-temannya pulang, Shinfa bakalan terbangun, online. Dijamin pada jam sepi itu dia bakalan klik bermain dengan teman yang tersisa. Kebetulan yang sering nelat pulang adalah Oka dan Icha. Biarpun dua anak ini lebih tua setahun, Shinfa nggak malu-malu atau takut. Bertiga malah seru main bongkar pasang balok bikin istana, terus asyik main telpon-telponan pakai kayu.
Yah, pelan-pelan aja deh Shin, membangun keberanian di lokal PAUD dan kelas kecil
SALAM. Semoga lambat lain kamu bisa berani bermain dengan teman baru dan di kelas yang lebih besar. Amin. Terus belajar ya, Nak!
Labels: Sekolah
Author: isma »
Thanks for 11 comments
shin hobinya manjet2 nih sekarang.. awas jatoh yak. Dek Abit Makin pinter aja deh dah gk malu manyun lagi
wah senengnya manjat-manjat he..he.. kalo manjat2 mah hobinya emaknya i-an he..he.. anaknya lon brani kali ya..
deuhhh banyak banget temenya suasananya jg asri banget pantesan k'shinfa betah ya mpe brani manjat2 hehe disini Paud ma nya mesti ikut maen jg hiks brasa jd anak TK lagih hehe
Hello. This post is likeable, and your blog is very interesting, congratulations :-). I will add in my blogroll =). If possible gives a last there on my blog, it is about the Webcam, I hope you enjoy. The address is http://webcam-brasil.blogspot.com. A hug.
Waahh...Shinfa udah jago manjat pohon ya dek..ati2 ntar jatuh jgn nangis yaa...
dapet belum buah mangganya..*mange pohon mangga..* hee..
asyikk temennya shinfa banyak yaa....
Waduh kamu tomboi juga ya Shinfa..gpp aku juga dulu gitu suka naik pohon..he3.
Temennya Shinfa makin banyak aja nih...belajar di PAUD and Salam..
hebad deh shinfa dah berani.... Shinfa lagi seneng maen mba... biarin aja maen ke rumah temennya asal ditemenin
Aih, nak wedok manjat2...yuk manjat abreng mas Arya ...
Isma, besuk kita bikin lomba manjat yuk..ya yuk..
mampir..welah si enduk maen panjat-panjatan.. ojo duwur-duwur nduk,ntar jatuh manisnya ilang loh shinfa
Senengnya shinfa dah mau bersosialisasi ...asik yah dah punya banyak temen.
Enaknya yg bisa manjat.
Mba Paud (pendidikan anak usia dini yah?) menurut mba gimana bagus gak cr mrk mengajar untuk usia shinfa? Shinfa umur brp?:)
waah udah bisa manjat! tapi... bisa turun juga kan Nak? :D

Up Date Istilah Khas Shinfa dan TAG
14 March, 2008
Mumpung masih ingat, kalau besok-besok keburu lupa.
Jadi, ada beberapa istilah ‘khas’-nya Shinfa. Ada yang sudah sejak dari Shinfa berumur dua tahun, ada juga yang baru mulai dipakai kayak “belum tua” akhir-akhir ini. Berkali-kali diingetin, tetap saja dia keinget sama istilah ‘khas’-nya itu. Ini dia:
1.UlusMaksudnya sih iris. “Ibu ngapain sih? Ulus tempe ya?”
“Ngiris tempe, Dik.”
“Iya. Ilis tempe,” dia meralat.
2.CuilMaksudnya cincing atau menyingkap daster sampai batas lutut. Dia paling nggak suka kalau aku atau Uti nyincing daster. “Cuil…cuil… Emoh dicuil,” protesnya sambil teriak-teriak. Hehe. Padahal cuil itu potongan kecil kan. Nggak tahu juga nyambungnya kok jauh gitu.
3.LainIni maksudnya layak, pasangan baju. Jadi kalau dia mau pakai baju, dia akan bertanya, “Lainnya ini mana?” Agak ada nyambungnya sih. Jadi, baju lain yang sama seperti yang ia maksudkan. Cuma kalau lain itu kan berbeda. Sedangkan yang dimaksudkan Shinfa justru pasangan si baju.
4.Katok gendutSeperti yang pernah aku posting, ini istilah khas Shinfa untuk celana jeans. Apa pun modelnya asal bahannya jeans, dia bakalan menyebutnya dengan katok gendut. Beda kalau yang berbahan jeans itu rok. Dia cuma menyebutnya dengan rok. Bukannya rok gendut. Dan istilah ini tetap berlaku aja sampe sekarang. Jadi penasaran juga, bakalan sampai kapan ya.
5.Belum tuaKalau mau nyebut warna soft, misalnya merah muda, biru muda… Shinfa akan bilang: melah belum tua, bilu belum tua. Heran juga, dapat dari mana tuh istilah. Hehe… ada-ada saja.
Dan, makasih buat Tag "Friendship Chain" dari
Mama Ay dan
Diah. Makasih juga buat persahabatan kalian… Ini dia tagnya:

This is the easy way and the fastest way to: 1) Make your Authority Technoraty explode. 2) Increase your Google Page Rank. 3) Get more traffic to your blog. 4)Makes more new friends.
Rules: 1) Start copy from "Begin Copy" until "End Copy" to your blog. 2) Put your own blog name and link. 3) Tag your friends as much as you can.
Picturing of Life,
La Place de Cherie,
Chez Francine,
Le bric à brac de Cherie,
Sorounded by Everything,
Moments,
A lot to Offer,
Blogweblink,
Blogcheers,
Bloggerminded,
Blogofminegal,
Like A Dream Come True,
Simply Amazing,
Amazing Life,
Vivek,
Novee, Ichaawe, Ichaawe, Anggangelina, Eiven, Putlie, Irien, Thea, Childstar, Mike, Abie, Aggie, Alpha, Apple, Apols, jacqui, Jane, Jodi, Joy, Kelly, Mich, Peachy, Joey, All in Korea, Umsik, Ideal Pink Rose, Ricka, Rickavieves, weblink, Cheers, Gerl, Gentom, Ging, Munchkin, Geneveric, Kavin, Mars, JK,
DJ Jojo,
Eagle, Shinta, Andiana, Ani, Indah, Azzah,
Ryu`s Mom,
Wahyu, Widi, Emma, Diah, Isma ADD YOURSELF HERE!!!
END Here
Tag ini aku persembahkan buat
Bune aja deh, biar tetap semangat... Tangkap ya
Bun!
Labels: Pekerjaan Rumah Blogger, Shinfa
Author: isma »
Thanks for 8 comments
Hahaha kocak..disangkanya mirip buah klo blom tua..xi3 ada-ada aja deh..
Oke bagus, bagus tag nya udah dikerjain...murid teladan nih.
Shinfa ki lucu tenan ya... itu ada aja merah belom tua segala...
kalo merah belom tua oren kali ya hihihi.
Wah tersanjung aku dikasih tag ini, suwun ya... tetep semangat kok.
Tapi sayang nih blogmu susah buat di klik kiri buat copas hihihi..
makasiihh yaa Mbak, dah ngerjain tag ;)
waahh waahh waahh,, trnyata Shinfa pnya banyak istilah juga yaa... Shinfa,, kk diah suka warna biru blum tua... klo Shinfa suka warna apa??:D
Wah...banyak bahasa baru ciptaan Shinfa nih...lucu kamu nak,...
kalo misal dek manda ngobrol ma ka shinfa paling sama2 ga nyambung ya.. yg ada mah ngomong sendiri akhirnya rebutan dan nangis deh dua2nya.. hehehe ngebayangin aja dah lucu palagi kenyataannya gemes pastinya.. deuh tambah pinter ya k'shinfa
Shinfa lucu banget siy..banyak banget bahasa kreasinya..:)
waahh..istilahnya shinfa banyak juga yaa...emang kadang anak suka bikin bahasa sendiri cuma ibunya yg tau bahasa anak yaa....
bagus mba..bikin kamus sendiri yaa....
wah shinfa tambah pinter niy...istilahnya lucu2...bahasa gaulnya shinfa niy...ajarin dong...

Field Trip ke Museum Dirgantara
10 March, 2008
Sabtu, 8 Maret 2008 dalam rangka field trip materi alat transportasi, Shinfa ikut jalan-jalan ke Hanggar Sekolah Penerbang dan Museum Dirgantara Adi Sucipto dengan membayar iuran Rp.25.000. Bareng anak-anak Kelompok Bermain SALAM kelas A dan B yang berjumlah kurang lebih 50 anak, dan semua fasilitator tentunya.
Berangkat dari SALAM pakai bus besar AURI. Dengan tujuan pertama ke hanggar sekolah penerbang. Ini adalah tempat latihan para penerbang mengemudikan pesawat. Tempatnya luaaas banget, lengkap dengan garasi pesawatnya. Mungkin karena Sabtu bukan hari untuk latihan jadi kami dibolehkan main ke hanggar.

Sambil duduk lesehan, anak dan ibu-bapak mendengarkan penjelasan dari Kak Tunjung soal mekanik pesawat. Tapi, jangankan anak-anak, ibunya aja pada susah ngafalin beberapa istilah permekanikan pesawat hehe. Sampai tiba giliran tanya-jawab.
“Gimana pesawat kok bisa terbang?” tanya seorang bapak
“Pertama karena ada sayap dan daya dorong,” jawab Kak Tunjung. Lalu disebutin juga soal kemudi untuk guling-guling, untuk berbelok… namanya apa aja aku sudah lupa.
Lucunya ketika tiba-tiba ada yang bertanya,
“Kak Tunjung bisa nyanyi nggak?”
“Wah, Kak Tunjung nggak bisa,” jawabnya tersipu. Hehe. Ya maklum, Kak. Namanya juga anak-anak. Standarnya kan diajak main sama nyanyi-nyanyi.
Selesai anak-bapak-ibu bertanya, giliran Kak Tunjung yang kasih pertanyaan, dan siapa yang bisa jawab boleh naik pesawat tempur yang diparkir trus dipoto. Hihi. Aku sih sudah menjamin Shinfa nggak bakalan mau ikutan menjawab, dan alamat nggak bisa foto di atas pesawat deh. Tapi, ternyata anak-anak yang nggak menjawab pertanyaan Kak Tunjung tetap mendapat kesempatan untuk naik ke pesawat itu. Shinfa yang biasanya suka malu-malu, kemarin jadi berani. Dia mau dinaikin sama Pak Tentara, duduk di depan kemudi. Dweeh, senengnya!

Sayangnya, anak-anak nggak bisa lihat langsung gimana pesawat itu terbang dengan mata kepala langsung. Tapi, Kak Tunjung nggak kehabisan akal. Dia segera ke mobilnya, dan mengambil pesawat yang jauh lebih kecil dibanding pesawat yang lagi parkir itu. Oho, ternyata itu pesawat dengan remote control. Hehe. Tapi lumayan menarik dan memukau juga tuh. Palagi pas menukin, maliuk-liuk di angkasa, trus balik lagi ke landasan. Shinfa saja sampai berbinar-binar saking takjubnya.
Dari hanggar, rombongan menuju ke museum dirgantara. Sebelum masuk, bagi yang membawa kamera harus membayar kontribusi Rp.1000, selain membayar tiket masuk Rp.3000 (kalau nggak salah, soalnya dikoordinir sama SALAM). Di dalam museum ini terdapat banyak benda bersejarah yang berkaitan dengan kedirgantaraan. Ada juga dioarama, seragam dinas dari jaman dulu sampai sekarang, juga gudang persenjataan dan pesawat tempur yang pernah dipakai AURI.

Shinfa kelihatan menikmati banget. Dia mau aja tuh jalan kaki keliling museum. Nggak pakai acara gendong atau merengek karena ngantuk. Dia juga mau ikutan naik heli AURI, meskipun awalnya masih takut-takut. Beberapa kali melewati patung atau replica seorang tokoh, dia masih nggak mau mendekat karena takut. “Hi…medeni,” katanya. Dia juga mau minum susu UHT, prei susu formula pake dot. Jempol deh, Shin!
Pukul 12.00 saatnya rombongan beristirahat maksi, sebelum meninggalkan museum. Sambil maksi, anak-anak bisa melihat hilir mudik pesawat dalam jarak dekat karena lokasinya memang dekat dengan bandara. Lagi-lagi Shinfa kelihatan berbinar-binar. Hilang deh juteknya yang kemarin-kemarin. Hehe. Cuma pulangnya kita nggak ikut bus AURI lagi karena mau dijemput sama ayah. Sama seperti pas field trip ke peternakan beberapa bulan lalu. Oke deh. Sampai jumpa di field trip berikutnya...

Labels: field trip
Author: isma »
Thanks for 14 comments
Ke Musium pesawat terbang ya...asyiiikk tuh...biar anak2 tau tentang pesawat ya...hepi banget tuh shinfa bs nerbangin pesawat yaa...ati-ati dek nyupirnya jangan meleng -meleng ya...
minta es krimnya doooonngggg....
aih..asik banget tuw jengk..jalan2 and nambah ilmu banget buat anak2..shinfa pinter yah mau naik heli AURI..hebat --mutia
seneng banget liat pesawat..... ikutan dwooong, valisha suka tuh liat pesawat,,, dadah2in pesawatnya, maklum blom pernah naek pesawat hehe
Wah.. mau dong ikutan naik pesawat... sekarang dah jarang tuh jalan-jalan ke museum, liburan sambil cari ilmu tuh namanya...
wih senengnya..punya kesempatan naik pesawat tempur,mau dongggggg...
shinfa lucky bener nak....
ntar gede jadi pilot yah?hehe
Bun`e juga mau tuh ketemu kak Tanjung hihi.. oopss gak kok wuk.
Senengnya bisa naik & lihat2 kokpit pesawat tempur... wah Shinfa juga pantes tuh jadi pilotnya..
Wah asyiknya... apalagi kalo terbang benaran ya Shinfa... ;)
Duh, seneng banget ya jalan-jalan liat pesawat terbang...nanti kalo udah gede jadi pilot perempuan keren tuh...hehehe...
waahh asyik bangettt yaa Shinfa,, bisa belajar mengendarai pesawat tempur tuh ;)
Asyik banget ya ke Shinfa ke museum pesawat terbang. Mana liat manuver pesawat secara langsung..keren..
Duh panas-panas liat es nya Shinfa jadi pengen nih..
wah... kalo i-an lihat gambar shinfa.. pasti deh minta naik pesawat juga....
waaaaaaaaaa... shinfa udh bisa setir pesawat niyyyyy, tante bonceng dwooonkkk.. :D
Duh senengnya Shinfa bisa ngrasain jd sopir psawat, farrel klo diajak kesitu pasti sueneng banged deh... mmmh kapan yaa?
Shinfa, senengnya...Safa belum pernah kesitu nih...kapan ya kesana ?
thank ya mam buat info wisatanya...

PAUD Sudah Dimulai
05 March, 2008
Masih ingat postingan tentang rapat PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang memutuskan aku jadi wakil bendahara? xixixi... Jangankan teman-teman, aku aja yang nulis sudah lupa tanggal dan bulannya. Maklum karena sudah lama, dan kebetulan meskipun terdaftar sebagai pengurus, aku belum pernah mendapat undangan untuk rapat ini rapat itu. Jadi, seperti terlupakan deh.
Tapi, mulai Minggu kemarin PAUD Kedung Banteng sudah resmi diadakan. Jadwalnya setiap hari Minggu pukul 09.00 di rumah Ibu Ketua, Mbah Zuhroh. Dulu PAUD ini cuma sebulan sekali dibarengin sama timbangan Posyandu. Mungkin karena sudah banyak dapat mainan dan dipikir lebih efektif kalau seminggu sekali akhirnya diputuskanlah perubahan jadwal PAUD ini.
Meskipun agak surprise buat aku yang tidak tahu-menahu... *hihi jadi malu, kuper banget ya*, aku senang banget akhirnya Shinfa bisa main-main bareng temannya setiap hari Minggu. Menambah jadwal mainnya di SALAM yang cuma hari Sabtu. Senengnya lagi, aku bisa intens menemani Shinfa bermain sambil belajar setiap Sabtu dan Minggu.
Shinfa kalo lagi jutek.Minggu, 24 Februari yang lalu merupakan hari pertama Shinfa masuk PAUD. Dari pagi dia sudah semangat, meskipun wajahnya kelihatan jutek gara-gara aku tegur karena sudah galak sama Uyut. Dan ternyata kebawa deh sampai di PAUD. Dia nggak mau lepas dari ibunya. Main bongkar pasang juga tetap manyun. Hiii, serem deh. Pas diajak melukis pakai pelepah daun pisang, awalnya dia juga malas gitu. Masih kebawa dongkol kali. Meskipun lama-lama mau juga dia ikut corat-coret di atas karton putih.

Anak-anak yang ikut PAUD dibagi menjadi dua kelompok, usia 0-2th dan usia 3-5th. Banyak hal yang disampaikan Mbah Zuhroh aku cermati tidak jauh berbeda dengan konsep
SALAM. Yang membebaskan anak untuk bereksplorasi dan memanfaatkan fasilitas dan benda-benda di alam sekitar. Misalnya, kemarin waktu mewarnai, untuk warna merah fasilitator meramunya dari buah Jingga (entah jenis apa, tapi warnya merah membara) yang tumbuh di depan rumah Mbah Zuhroh. Untuk warna hijau memakai perasan daun apaaa... gitu, aku lupa. Pokoknya nggak pakai pewarna buatan pabrik yang ada unsur kimianya.

Sementara untuk hari Minggu 2 Maret kemarin anak-anak bermain peran. Anak-anak dikelompokkan sesuai minat dan cita-cita, mereka dikasih mainan yang sesuai. Misalnya, ingin jadi dokter mainannya adalah stetoskop sama boneka suster. Kalau jadi tukang, mainannya seperangkat alat pertukangan. Dan, karena Shinfa katanya mau jadi Pak Polisi hehe, dia dikasih sederet mobil-mobilan. Meskipun akhirnya dia tidak menjamahnya sama sekali. Dia malah lebih suka main bongkar pasang sama main puzzle huruf dan angka. Asyik dengan dirinya sendiri.
Meskipun teori yang dipakai PAUD ada samanya dengan SALAM, dalam praktik ada juga perbedaannya. Di PAUD ini terkesan bahwa orang tua justru dibatasi keterlibatannya. ”Sudah Bu, agak mundur. Biar main sendiri,” intruksi Ibu Pembina. Kalau di SALAM, satu kali pun aku belum pernah mendengar intruksi seperti itu. Justru, orang tua diajari bagaimana menjadi pendamping anak yang baik dan membebaskan eksplorasi anak.
Makanya di SALAM, aku justru ikut terlibat, bukan ngajari, ngatur-ngatur, atau ikut campur dengan apa yang akan dikerjakan Shinfa. Melainkan, bertanya dan memancing daya kreatifnya. Seperti juga yang dilakukan Bu Anik pas jamnya bermain bebas. Jadi, anak-anak tidak sendirian tanpa pancingan apa-apa. Misalnya Shinfa lagi main balok bangunan, aku bertanya, ”Bikin apa to Dik?”
”Bikin istana.”
”Wiih, bagus ya. Istananya warna apa nih?”
”Melah. Yang ini bilu belum tua.” *maksudnya biru muda hehe*
Atau ketika dia menemukan kesulitan pasang puzzle, dia akan bertanya, ”Ini gimana, Bu?”
”Dicoba lagi dong. Kalo nggak cocok berarti bukan pasangannya. Dik Abit cari potongan yang lain.”
Selain itu, di PAUD ada baris-berbaris ketika senam. Dan bisa dipastikan Shinfa juga ogah2an untuk hal yang satu ini. Hihi. Maklum, di SALAM memang tidak ada yang namanya baris-berbaris. Kalaupun ada gerakan sambil nyanyi, ya asal berdiri saja. Dengan posisi yang nyaman versi anak-anak. Termasuk untuk fokus dengan materi yang sedang disampaikan oleh guru, kalau di SALAM tidak diharuskan. Dalam arti, anak-anak harus duduk rapi, diam tidak berteriak-teriak, tidak berlari-larian, atau asyik dengan mainannya sendiri. Akan tetapi, anak-anak yang mau mendengarkan ya akan dengan sendirinya melingkar di meja yang ditata di tengah ruangan. Sementara yang tidak tertarik, dia akan mencari kesibukan sendiri. Malah kemarin Sabtu, kejadian juga sementara yang lain lagi mendengarkan Bu Anik, ada anak yang minta kertas sama Bu Wiwin buat menggambar. Dan, uniknya itu pun difasilitasi.
kumpul ibu-anak di PAUD desa Kedung BantengYah, apa pun perbedaannya, yang penting Shinfa mendapat tambahan kegiatan di hari Minggu. Paling tidak untuk melatih kecerdasan sosialnya, supaya bisa bergabung main dengan teman-temannya. Satu hal yang sampai saat ini belum bisa dilakukan Shinfa dengan baik. Semoga PAUD-nya tetap solid, rutin, dan tambah bagus ya. Amiin.
Labels: Sekolah
Author: isma »
Thanks for 12 comments
bu bendahara, aku pinjem uang dwong boleh gak:p
Apapun yg diajarkan yg penting positif dan menyenagkan anak-anak.
Shinfa jutek tapi jangan kek ja`a yah?
Wah..seru..banget ada PAUD di sana ya.. AYo shinfa semangat lagi belajarnya.. jangan jutekin mamah terus he..he..
seruuu yaaa bu kgiatan PAUD nyaa..
wah, di abit mau jadi pak polisi? hihihi...
shinfa... jangan jutek dwong ntar cantiknya ilang... kan mo jadi polisi.. nah loh apa hubungannya ya hehe
Shinfa masih jutek sama uyut aja deh..
PAUD nya semoga jalan terus.
wah bermanfaat sekali kegiatan ini
moga sukses selalu kegiatan ini ya....
kapan2 ben ikutan boleh ya hehe
Shinfa jgn jutek donk kn mau jd polisi....
Enak yah aua PAUD kalow deket pasti najwa aku ikutin deh :)
Shinfa jutek lagi ya...tp tteep kok maniz...wee...
sukses buat PAUDnya ya jeng....kegiatan bagus buat anak-anak tuh...
priitt...dek abit, mas akbar jangan di semprit yo,...
didesamu koq lengkap benerr siy Jeng, klo disini ada PAUD farrel mendingan dimasukin situ deh. shinfa teteup cakep lo walo jutek =D
mau OOT ya Jeng...
Undangan arisan besok tgl 16 di Amplas ya... (yg kemaren nggak jadi, hehe), selengkapnya ada di blogku :D
makasiii...

Bagaimanakah Diriku?
04 March, 2008
Ngerjain PR dari
Mutia dulu ah. Ngerjainnya sambil meraba-raba karena nggak pakai bahasa ibuku, Jawa ataupun Indonesia. Makanya Mut, tolong dicek ya siapa tahu salah maksud hehe.
Yang jelas aku lahir tanggal 23 Desember 1978.
Jadi, aku masuk dalam December 17 - 25 ~ Ape
Apaan tuh maksudnya…
If you are an Ape :
Very impatient and hyper! You want things to be done as quick as possible. At heart, you are quite simple and love if you are the center of attraction. That way, you people are unique. You would like to keep yourself safe from all the angles. Shall your name be dragged or featured in any sort of a controversy, you then go all panicky. Therefore, you take your precautions from the very beginning. When you foresee anything wrong, your sixth sense is what saves you from falling in traps. Quite a money minded bunch you people are!!
Bener seperti itukah?
Paling enggak yang takcetak tebal, memang seperti itulah diriku… hehe. Makanya dulu aku pernah mendapat kata mutiara dari Pak Lik-ku: "kalau iya mosok oraho, kalau ora mosok iyoho", buat rem biar aku jadi bisa sumeleh dan sabar.
Dan untuk lebih lanjut, silakan dinilai ya teman… ;)
*Mut, PR ini nggak aku estafetkan ya, abis kayaknya bulan-bulan kemarin para blogger sudah mendem PR deh hehe...
Labels: Pekerjaan Rumah Blogger
Author: isma »
Thanks for 5 comments
Hah very impatient? dalam hal apa nih? he3..
Good student!! Dapet nilai 10 deh..
Tapi emang bener.. hyper! hahaha
haha..baca comentnya bune...aku seh belum prnh ketemu langsung seh sm jeng Isma cuma lewat celoteh2nya seh sepertinya cucok hehehe....*piss.. jeng..*
haduh, pake bosone londo :( *jd ikut meraba2 deh*
masak sih jeng isma ini impatient? *meragukan* hihi...
btw, klo aku masuk yg slug hehe
good girl..dapet cepek yah:P
