Bersyukur dan Berharap
31 December, 2007
Bersyukur telah lahir Ja’a Jutek
dan berharap bisa melahirkan kelanjutannya.
Tentu dengan yang lebih bagus dan menarik lagi.
Bersyukur ayah-ibu masih dipercaya untuk bekerja
dan mendapat kesempatan baru,
dan berharap semakin produktif dan bertanggung jawab.
Bersyukur pintu pertama dan kedua
sebuah program beasiswa sudah berhasil terlewati,
dan berharap bisa melewati semua proses
dan mendapatkan kesempatan beasiswa itu.
Bersyukur mendapat kesempatan ikut merawat
dan meramaikan rumah Uti-Ato
dan berharap rumah Uti-Ato akan semakin besar dan tersebar
dengan adanya rumah kecil-rumah kecil yang lain
meskipun jaraknya berjauhan.
Bersyukur selalu dianugerahi kesehatan, kedamaian,
dan rengkuhan kasih sayang dalam bentuk apa pun,
dan berharap semakin tersebar semua berkah itu
untuk kami, keluarga, teman, tetangga,
dan bangsa Indonesia seluruhnya.
Alhamdulillahirabbil alamain ya, Allah
wa ya Mujibassailin.
selamat memasuki tahun 2008 M
banyak berkah dan karunia,
semoga kita selalu terjaga untuk mensyukurinya.
amiin.
Labels: perayaan
Author: isma »
Thanks for 11 comments
Amin.. moga tahun 2008 semua keinginan n cita2 terkabul.
Met tahun baru 2008!!!
toeeeettt toeeetttt toeetttt
Ikut bersyukur dengan segala keberhasilanmu, dan untuk keinginandan harapan, semoga terkabul ya !
Selamat Tahun Baru juga...semoga tahun 2008 lebih baik dr tahun kemarin..amin.
Sukses selalu di setiap kesempatan...
smoga berkah itu slalu menyertai qta yaa Mbak... Amin...:)
HAPPY NEW YEAR... Met Taun Baru 2008... tuuttt tuuttt ;)
selamat tahun baru juga ya Jeng.., semoga kita jadi jauh lebih baik di tahun ini dan disepanjang sisa hidup yang tersisa...
*hugs*
gimana shinfa? udah baikan?
selamat tahun baru 2008 !!
kembang api-an gak nih adek shinfa..?
selamat tahun baru.. wish u all d best
met taon baru...
semoga semua-nya baru..
kehidupan yang tambah membahagiakan..
semoga shinfa juga tambah pinter..
Hello I just entered before I have to leave to the airport, it's been very nice to meet you, if you want here is the site I told you about where I type some stuff and make good money (I work from home): here it is

Liburan Cuti Bersama...
28 December, 2007
Akhir tahun ini banyak sekali hari libur. Banyak sekali hari kejepit. Masuk kerja sehari diapit hari libur sesudah dan sebelumnya. Bahkan, kemarin setelah aku cek kalender tahun 2008 ada tiga hari kejepit pada tiga bulan pertamanya. Wuih… bejo banget! Apalagi buat sejenis aku yang mengandalkan hari libur dari cuti dan tanggal merah. Rencana pertama pasti menyempatkan mudik…

Seperti libur Idul Adha kemarin yang lumayan lama, aku dan Shinfa juga mudik. Karena ada perbolehan dari tempat nguli untuk cuti bersama. Biar pada bisa refreshing untuk membuat pikiran siap berpusing-pusing lagi di tahun 2008. Yah, apa pun alasannya. Yang penting aku bisa mudik, melihat keadaan abak-simak pasca kecelakaan syawal kemarin. Selain karena aku memang selalu rindu rumah… Entah, meskipun aku sudah berganti kewarga-kependudukan Sleman Yogyakarta, aku tetap saja menamakan kunjunganku ke rumah pertamaku itu dengan mudik. Seolah ke Yogya itu sama dengan merantau, bukan mudik ke rumah sendiri. Jadi, sama saja dengan merantau ke rumah mertua ya…
Aku bersyukur, kondisi abah dan simak sudah membaik. Abah sudah ke sawah, sementara simak sudah beraktivitas seperti biasa meskipun harus banyak mengistirahatkan diri karena kondisi lengannya yang patah belum sepenuhnya bisa difungsikan. Tapi, tetap saja simak tak pernah benar2 bisa istirahat. Apalagi yang namanya lima adik-adik perempuanku yang usia ABG itu, kadang masih harus dikomando untuk sekadar menyapu atau mencuci piring. Karena semua pekerjaan rumah tangga di rumah memang dibagi dan dikerjakan bersama, kecuali ada Bulik yang diminta untuk mencuci baju.
Paling seneng memperhatikan perkembangan Shinfa selama di Pekalongan. “Bocah cilik kok kemenyis,” begitu komentar Lik Mis tetangga sebelah rumah heran. Maklum, Shinfa kalau dah kenal dan merasa nyaman bakalan ceriwis bertanya ini atau menyapa itu. “Mas Wildan mana?” atau “Ini huluf apa, Mbak Dina?” Mungkin karena sudah kenal itu, Shinfa juga jadi seneng main sama Dina, Wildan, Abin, atau bulik-bulik kecilnya. Aku jadi gampang nyambi2, dan nggak dibuntuti Shinfa terus. Good girl!

Tapi, lain halnya kalau Shinfa belum ngenal sama calon teman mainnya. Dijamin bakal takut, ketus, pelit, dan gak bersuara. Seperti pas Zahid dan ayah-ibunya main ke rumah di Jogja. Walah, pegang mainan aja ditangisi. Baru setelah beberapa jam berlalu, setelah ia mau menyebut nama Zahid, bibit-bibit kedekatan pun mulai bersemai *alah* Mereka saling berbagi snack macaroni pedes, bertukar mainan, melempar bola, atau naik sepeda roda tiga bergantian. Akur sekali.
Naning, Sahe, dan Zahid tiba sehari setelah aku dan Shinfa balik dari Pekalongan hari Minggu. Pikirku sih mereka jadi tiba hari Minggu siang, jadi hari Senen masih bisa buat jalan bersama. Eh, ternyata salah komunikasi. Mereka sampai Jogja hari Senen siang. Jadi maaf banget kalau kemudian gada acara jalan-jalan keluarga. Yang ada mereka muter2 sendiri pakai motor keliling Jogja. Karena Selasa aku harus nguli lagi.
Tapi, diinapi dua malam aku sudah seneng banget. Terima kasih buanyak. Bersyukur kalian mau singgah ke rumah yang ndeso itu. Ah, tapi bukankah memang suasana ndeso seperti Kedungbanteng itu yang kalian cari. Untuk sedikit menghirup udara segar dan melihat yang hijau-hijau. Sebagai ganti udara penuh polusi dan bising di Jakarta. Iya kan? Ayo ngaku. Makanya, besok lagi jangan sungkan untuk reservasi ya, Zahid. Dan, kita bisa benar2 jalan keluarga deh… Besok lagi ya, amiin.

Labels: moment
Author: isma »
Thanks for 7 comments
Sama Is, walau di Batam sudah 14tahun, kalau pulang Pekalongan ya kubilang mudik juga...wong memang kampungnya di sana.
hihi... aku juga nih, meski udah ber-ktp jogja, tetep aja bilang kampung halamanku di Malang :D
btw, ada yg abis mudik to? asekk2, besok dapet oleh2 deh :">
wah mudik ke pekalongan ya is...asyik ya suasananya, kayaknya damai banget gituh....aku sih ga mudik kemana2 ni, wong semarang itu kampung halamanku je...hehehe
duuhh asyiknya yg mudik, saya trakhir mudik kapan ya?? lupa saking lamanya kali yaa :D
cepet semubuh shinfa..:)
Mudik lagi? Wah keenakan mudik terus nih, Is. Sengaja ya mau buat aku iri!
Met Taon Baru ya, Is.
Makasih Ismah, sudah mau menerima kami. Kapan-kapan gantian deh ke rumah kami kalau sedang di Jakarta. Ini cerita liburan kami: http://serunai.blogspot.com/2008/01/liburan-akhir-tahun.html

Pagi Ini...
27 December, 2007
Pagi ini, Shinfa memilih makan dulu baru pakpung. Maemnya tidak banyak, tapi mayan juga ada sesuatu yang ia persilakan masuk ke dalam perutnya. Baru setelah itu main air, cibang-cibung… dandan sambil berlari-lari karena dia sudah pinter protes sama baju yang akan ia pakai. Sementara kalau memilih sendiri lamanya bukan main. Hampir menyita waktuku untuk bersiap2 sebelum nguli.
Pagi ini, usai dandan rapi Shinfa tidak nonton OB. Karena, diganti sama tayangan doaremon. Mungkin karena lagi liburan.

Tapi, Shinfa asyik saja duduk di atas kasur, di depan tivi bareng aku. Sambil main tebak-tebakan kartu huruf yang berserakan di mana-mana. Belajar membaca dan mengingat huruf.
Pagi ini, waktu terus saja berjalan. Mengiringi aku dan Shinfa yang asyik menonton tivi sambil belajar huruf. Dari pukul 07.30 sampai pukul 08.00. Aku sudah berkali-kali melihat ke arah penunjuk waktu yang terpasang di dinding itu. Pertanda kalau hari semakin siang dan aku harus berangkat nguli. Tapi, Mbah Uti masih berkutat di dapur entah membersihkan apa, sementara Mbak Uyung sibuk mencuci.
Pagi ini, aku pun mengambil keputusan untuk berangkat nguli. Biar Shinfa bermain di depan tivi dengan kartu hurufnya. Toh kalau perlu pertolongan dan teman biasanya dia akan memanggil sesiapa saja yang ada di rumah. Meskipun aku agak was-was kalau Shinfa bakalan nangis, aku tetap saja pamitan. “Dik, Ibu pergi dulu ya.” Shinfa balik bertanya, “Ibu mau ke mana?” Aku menjawab, “Ibu mau tindak kerja,” dengan suara hati mengira kalau Shinfa bakal mewek.
Pagi ini, sungguh di luar dugaan. Shinfa menjawab, “Iya. Dada…”
Pagi ini, aku tercengang. Aku bahagia sekali. Shinfaku sudah bisa bilang “dada” dan tidak lagi menangis ditinggal ibunya nguli. Alhamdulillah. Semoga tidak hanya pagi ini ya, Nak. Pagi esok, pagi lusa, dan pagi-pagi selanjutnya kamu juga akan melakukannya lagi… Love u Shinfaku.
thanks bwt sponsor bajunya ya mom... ;)Labels: moment
Author: isma »
Thanks for 5 comments
Shinfa dah pinter ya.
Di satu pihak seneng ya hati anak udah nggak nangis lagi kalau ditinggal, tapi di sudut hati yang lain kok ya ada rasa berbeda "kok anakku ora nangis yo tak tinggal?" he...he..he..biasanya begitu kan Is?
Nah gitu dong itu namanya anak pinter yaa..ngga nangis kl ditinggal ibu kerja...
Nanti kl ibu pulang dr kerja pasti dibeliin oleh-oleh sm ibu ya kan buuu....
shinfa cakep, tambah pinter aja
seneng ya , ninggal shinfa ngantor ga disangoni tangisan shinfa.
ikhsan dah mulai mewek je kalo ditingal ibu-nya ngantor. Jadi musti kuat hati buat ninggal dia di rumah sama si mbak..
Shinfa makin pinter..
Mengawali hari dengan kegiatan yg menyenangkan mungkin jurus jitu buat ninggal tanpa tangisan...
Dan pagi ini, juga pagi-pagi selanjutnya.. Shinfa akan berdoa buat ibu, agar kerjanya barokah.

Desember Spesial
23 December, 2007
Desember adalah bulan spesial buat aku. Karena hari ibu jatuh pada 22 Desember. Hari yang meskipun tidak begitu dihebohkan oleh para ibu dan anak di kampung kelahiranku, Proto Kedungwuni, toh pas aku melihat tayangan di tv jadi tersentuh juga hatiku. Melihat gimana celoteh para artis tentang kedekatannya dengan ibu, atau beberapa surprise yang khusus didesain untuk para ibu…

Ibu, atau Simak kalau aku memanggil perempuan yang melahirkanku… Aku mengenalnya sebagai guru Al-Qur’an pertamaku. Mengajar privat aku dan mbakku membaca
turutan (atau iqra’ kalau sekarang) tiap sore kadang abis mangrib. Aku pernah marah-marah gara-gara aku nggak bisa baca
hunafaa’a pada surat
al-Bayyinah. Aku bukannya memanjangkan huruf
fa-nya, melainkan
na-nya. Berkali-kali tetap saja salah. Karena jengkel aku malah nesu dewe, dongkol. “Yo wis. Timbang nangis, leren disik,” gitu kata simak. Tapi, aku enggak mau berhenti ngaji. Repot juga ternyata kalau aku sudah nesu. Ini tidak mau, itu tidak mau. Yah, alamat kagol ya seperti itu.
Itu kenangan yang entah kenapa sampai sekarang lekat sekali dalam ingatanku. Di antara banyak kenangan masa kecil bareng Ma'e. Dia yang selalu membangunkanku untuk shalat isya kalau aku ketiduran. Dia yang tidak pernah memaksaku untuk belajar. Dia yang selalu menjahitkanku baju lebaran. Dia yang selalu berbinar dan bangga tiap kali aku bisa melakukan sesuatu... aku suka sekali binar itu, dan entah aku ingin sekali membuat Simak selalu berbinar...
Aku kagum sekali dengan kretivitas Simak. Bisa menjahit, merias pengantin, bikin kue, memotong rambut… Dulu aku pernah bercita-cita ingin sekali mewarisi kreativitas itu. Semoga suatu saat...
Aku juga salut dengan keteguhan dan kesabaran Simak. Menjadi single parent ketika Bapakku meninggal pas aku kelas III SMP. Meneruskan usaha batik, bolak-balok Pekalongan-Pamanukan. Membiayai enam anak yang masih kecil-kecil. Begitu, Simak masih dengan percaya diri meneguhkan permintaan Bapak supaya aku tetap melanjutkan sekolah di pesantren, bahkan terus kuliah. Kalau bukan karena Simak yang begitu yakin kalau kita bisa, mungkin aku akan mundur dan kalah.
Simak, aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu, setiap saat, sepanjang waktu. Meski aku tidak setiap hari bisa melayani dan membantu, aku selalu memimpikan itu. Selalu, setiap saat, sepanjang waktu. Atau paling tidak kelahiranku di tanggal 23 Desember bisa menjadi kado spesial hari ibu buat Simak. Setiap bulan setiap tahun, sepanjang waktu. Pada saatnya nanti, aku yakin Allah akan mengabulkan
mimpiku itu. Bukankah bermimpi adalah doa dan harap?
Desember memang spesial. Karena selain hari ibu, seperti kata
temanku:
desember selalu mengingatkanku
bahwa ada lilin-lilin yang harus dinyalakan
mungkin jumlahnya dua puluh sembilan...
ah, jumlah tak sedikit untuk sebuah perjalanan
setahun lagi hidup baru dimulai... 30 tahun
selamat...Labels: perayaan
Author: isma »
Thanks for 5 comments
met hr ibu ya buuuu.. asiiiik ada yg mo traktir akuuuu!!! hepi belated bday ya jeng.. mdh2an smua cita2nya terkabul..amin
Met hari Ibu buat simak & mbok`e Shinfa... (telat, so what gt loh..)
Selamat Ultah ya.. hope ur dreams come true... Muachhh
Eh eh.. 29?, masih kek 20 aja!!!
happy belated b-day jengk..hiks baru tau..maaf yah maklum lagi jarang BW...-Mutia
Selamat Hari ibu untuk Ma`e, wanita yang super power dalam segala hal.
And Happy B`day buat Isma...semoga makin kokoh iman dan islamnya, makin menjadi panutan bagi keluarga dalam segala kebaikan dan gag lupa juga yang pasti panjang umur dan sehat selalu. Amin...
Happy belated birthday untuk Isma, semoga diberi sisa umur yang berkah oleh Allah Swt.
Met hari ibu juga untuk Simak, kagum aku baca tentang Simak.

Jelang Libur Panjang
17 December, 2007

Jadwal rutin wikenan bareng Shinfa. Ke mana lagi kalau bukan ke SALAM. Tapi, kalau biasanya kita berdua naik motor, kemarin kita berangkatnya dianter sama Bulek Teti, dan pulangnya dijemput sama ayah. Soalnya abis bermain, ada rencana mau ke pasar Tlogorejo, nyari pesenan batik.
Sabtu kemarin adalah Sabtu menjelang liburan semester ganjil. Karena, Sabtu minggu depan Shinfa akan ambil rapor. Sebelum kemudian libur dari 23 Desember 2007 sampai 3 Januari 2008. Satu tahun tuh! Hehe. Seide dan sejalan dengan jadwal kantorku yang ikut cuti bersama. Mayan panjang juga...
Kemarin Shinfa berkenalan dengan rempah-rempah. Ada kencur, jahe, kunyit… Dengan penuh semangat dan ekspresif, Bu Anik menjelaskan kegunaan setiap rempah2 itu berikut contohnya. Shinfa yang baru bangun tidur, masih ngelendot aja sama ibunya. Pas Bu Anik berkeliling memperkenalkan bau kencur, “Gimana Shinfa, baunya?” Hehe, Shinfa malah nyengir, emoh. “Nggak enak,” katanya.
Tapi, pas giliran Bu Anik kasih komando untuk menanam jahe dan kawan-kawan, Shinfa jadi bersemangat deh. Habis mimik dot, lalu bergabung menyusuri pematang menuju lahan kosong deket arena perosotan.
thanks ya utk sponsor baju Shinfa...“Nanam apa, Dik?” tanyaku
“Ja-He,” jawab Shinfa dengan menegaskan bunyi H-nya. Hehe. Lucu deh kedengarannya. Dia kalau ngucapin H memang fasih. Beda jauh kalau diminta ngucapun R. Pasti dia bakal ngeles, “Dik Abit bisa bilang AVANSA,” dengan menegaskan bunyi V-nya.
“Dik, ntar sampai rumah kalau ditanya tadi ngapain di sekolah, bilang ya nanam JAHE gitu,” hihi aku terkikik.
Satu per satu anak-anak mendapat gelas aqua bekas, centong panjang, sama satu ruas kunyit, jahe, kencur, atau lengkuas. Biar sinar matahari cukup terik, Shinfa mau juga tuh masukin tanah basah ke dalam gelas plastik. Lalu, memasukkan potongan jahe.
Setiap Sabtu jadwalnya memang berkegiatan di luar ruangan. Dan, karena Shinfa masuknya cuma hari Sabtu, jadi kebagian keluar ruangan terus deh. Nggak papa ya, Shin. Biar capek, kan sekalian olahraga. Hehe.
Tapi, nggak tahu juga ada hubungannya atau enggak dengan kegiatan outing itu, hari Kamis kemarin Shinfa bilang, “Bu, Dik Abit pijet.” Lah, aku sempat heran juga. Kok tiba-tiba minta pijet, wong setahuku nggak ada yang nyebut2 nama Mbah Sholeh.
“Dik Abik capek ya?” tanyaku sambil tersenyum lucu.
“Iya.” Hehe. Sok gede banget to, Shin. Pake capek segala. Tapi, sapa tahu memang capek beneran.

Dan, Minggu pagi aku pun mengajak Shinfa ke rumah Mbah Sholeh. Masih satu kampung, nggak ada sepuluh menit pakai motor dah sampai rumahnya. Mbah Sholeh itu priayinya sudah 90th. Parasnya putih bersih dan seger. Ngomongnya juga masih jelas, apalagi pijatannya. Kalau pagi jatahnya untuk memijat bayi dan anak kecil. Kalau datangnya agak siangan, yang antri biasanya dah banyak. Palagi hari libur. Alhamdulillah pagi itu Shinfa kebagian urutan nomor tiga.
“Emoh pake minyak,” Shinfa meminta.
“Ooh, nggih Ndoro,” jawab Mbah Sholeh kayak sama ratu aja. Hehe.
“Pake bedak aja,” tambah Shinfa sok deket gitu.
Shinfa seneng banget kalau dipijat. Dulu pas masih bayi juga nggak pernah nangis kalau dipijat Mbah Sholeh. Mungkin karena pijatannya halus, jadinya nggak sakit. Sampai merequest coba. Hehe. Tapi, memang mayan lama juga sih Shinfa gak pijet.
Kalau sudah dipijat, mungkin rasanya enteng kali ya. Jadi enak buat ngapa-ngapain. Apalagi menjelang liburan SALAM yang satu tahun itu hehe… kan bisa buat jalan-jalan atau mudik ya… Ternyata Shinfa dah lebih peka tuh menyiapkan stamina hehe.

Labels: Sekolah, Shinfa
Author: isma »
Thanks for 16 comments
Pelajaran di SALAM dipraktekin juga dong dirumah.. bikin apotik hidup. Nanti kalo bun`e kesana dibantuin panen deh.
Shin, bun`e juga mau dong dipijet sama mbah Sholeh.. kagen pijetan Jogja nih.
Selamat libur yaaa
waahh skul d SALAM asyik yaa Shinfa, bisa mengenal alam lebih dekat..;)
ehmm.. Shinfa trnyata doyan dipijat tohh?? gk geli say?? :D
Shinfa mau liburan ""setahun ya"? Asyiknya...
Abis dipijat biasanya anak-anak tidurnya pada nyenyak nih..nanti Ryu klo mudik mau di pijet juga ah kayak Shinfa biar seger.
shinfa makin nggemesin aja..eh suka dipijet juga ya?
Asik yah Shinfa sklh di SALAM sesuai namanya dkt sama alam...
sm ky najwa suka dipijet juga he..he..Met liburan yah :)
Met berlibur ajah...ayok tanam2 selama liburan, kalau pas nggak sibuk aku suka juga tanam bayem, kangkung, di pot kecil2, potnya buanyak tapi, pas panen, seneng pol.
Asik ya Shinfa liburan sampe 1 thn spt Rayna :) Met liburan ya..
selamat berlibur ya...
itu Shinfa pijetan apa maen petak umpet sihhh hehehe
Shinfa senang dipijat ternyata. Baca postingan ini jadi ingat kalo Fia udah lama nggak dipijat.
Met liburan ya..
Dhona
http://keluargabroto.com
Shinfa calon juragan perkebunana toh, pinter deh .....
Itu kok awak mpe keliahtan kulite arep pijetan toh, hihihihi..Arya saiki gag gelem maneh malah kejer deh.tapi lainhalnya dg emaknya maruk pijetan
"Wah cilik-cilik kok minta pijetan"...berarti badannya bener2 ngga enak tuh sampai dia minta sendiri. Enak kan disana ada mbah yg bs mijitin yaaa...
asyik habis pijetan jd seger lagi tapi ati-ati nyandu lho....
duh senangnya dipijet...pasti tidurnya langsung pulesss tuh..apalagi mau libur panjang..hehe
Slmt Idul Adha ya dan semoga raport Shinfa bagusssss (pastinyaa!!)
Mbak shinfa.., abis dipijit trs minum wedang jahe pasti tidurnya uenak tenan loh..:D
Ngajarin anak-anak mencintai alam dengan nanam ini itu yg bermanfaat.
Ntar kalo udah gede, nanam pohon karet ya Shin?!
Udah enteng gak abis dipijet. Pasti enteng badannya ya Shin. Hati-hati jangan sampe jatuh.
Waah seru ya kgiatan yg diadain salam,klo deket aq mau juga skolain malel disitu.. Biar klo aq gk bs nganter bisa titip bule isma..he
makasih buwat teman-teman yang berkenan menyapa lewat comment... ;)

Balita Dewasa
11 December, 2007

“Ibu nggak ke mana-mana?”
Itu pertanyaan wajib Shinfa setiap pagi. Setelah mandi, maem sambil nonton OB, lalu minum air putih, teh, atau susu. Biasanya aku cuma mengangguk. Untuk tidak memberikan jawaban pasti. Karena setiap aku menjawab, “Ibu mau tindak,” sudah bisa dipastikan Shinfa bakal mewek seketika.
“Ibu nggak boleh tindak,” begitu jawaban Shinfa tiap dikasih tahu kalau ibunya mau tindak.
“Eh, ya harus tindak kok. Nanti nggak punya uang buat beli susu sama sate,” jelas Uti.
“Nggak boleh! Nggak boleh,” ulang Shinfa siap-siap mau nangis.
“Ya ya, Ibu nggak tindak,” akhirnya aku meralat. Biar Shinfa nggak nangis beneran. Yah, daripada memaksa anak untuk mengerti, mending mengalah dulu dengan petak umpet.
Apalagi Shinfa sudah punya jurus “nggak boleh” untuk melarang semua-mua, biar sesuai sama kehendaknya.
"Dik, ibu masak dulu ya."
"Enggak boleh masak. Ibu bobok."
Atau, "Uti mberesin meja dulu."
"Nggak boleh. Uti bobok."
"Alah-alah Nok, kok yo ngepenakke timen..."
*hehe. Aku juga seneng banget pagi2 disuruh bobok nak!*
Tapi beberapa bulan terakhir, memang sudah ada perubahan pada Shinfa. Tiap abis mandi dan makan pagi, Shinfa tidak begitu nggelibet lagi sama aku. Jadi, biarpun ayah sudah berangkat duluan, aku dengan leluasa mengumpetkan diri untuk siap-siap nyambut gawe. Lalu, aku akan mendorong motor beberapa meter, baru deh aku stater. Dan, Shinfa aman tidak menangis di depanku.
Kata Uti juga begitu. Ada perubahan pada Shinfa. Tiap mendapati ibunya sudah berangkat diam-diam, dia lalu bertanya, “Ibu mana?” Dan, kalau sudah dijawab, “Ibu tindak,” paling dia akan menangis beberapa detik setelah itu kembali asyik dengan mainannya.
Demikian juga kalau aku pulang di sore hari, Shinfa malah terlihat ceria dan sumringah. Dia cuma bilang, “Ibu ganti baju,” lalu kembali asyik dengan bulik atau mbak-mbaknya. Tuh kan, sok gak dikangeni banget gitu. Sebel lagi kalau aku tanya, “Adik kangen Ibu nggak sih?” Dia menjawab sambil mau nangis, “Enggaaak. Dik Abit kangennya sama Bulek.” *gubrak! Hwaaa…*
Dan, pagi tadi…
“Ibu nggak ke mana-mana?
Sambil memberikan botol susu karena abis makan dia minta minum susu, aku menjawab, “Ibu harus kerja…”
“Emoh, nggak boleh…”
“Dik Abik di rumah sama Uti. Nggak apa-apa sayang. Ntar sore kan Ibu pulang.”
“Emooh, emooh,” dengan suara parau dan mata berkaca-kaca. Seolah membahasakan “kalau saja bisa, aku ingin Ibu nggak pergi. Tapi, aku juga tahu Ibu harus kerja…” *sok jadi penerjemah bahasa isyarat Shinfa nih!*
“Nggak papa. Sudah ya…”
Trus aku pergi gitu aja, meninggalkan Shinfa yang ternyata tetap duduk manis di atas kursi. Dia nggak lari mengejar aku atau guling-guling. Dia cuma nangis yang lalu digendong sama ayahnya, dan diam menghabiskan susu botolnya.
Horeee… ternyata Shinfa mang sudah ada perubahan. Yah, akhirnya, bisa juga membuatmu tidak klayu-mengklayu sama Ibu. Tinggal, bagaimana biar kamu nggak pakai nangis gitu. Tapi, dengan manis bilang ke Ibu, “Oh, Ibu mau tindak ya. Ati-ati ya…” Nah, kalau dah bisa kayak gini, baru deh Shinfa mang dah bener-bener berubah, jadi balita dewasa… Ummmuah!
Labels: Shinfa
Author: isma »
Thanks for 20 comments
Hmm...Shinfa hebat...semakin bertambah umur ternyata bertambah dewasa pula pemikirannya. Suatu saat akan tiba masanya Shinfa berkata " Nggak papa kalau ibu mau tindak, Shinfa baik-baik saja kok, Shinfa tahu ibu harus kerja", semacam itulah. Itu sudah terjadi pada anakku.
-anied.blogspot.com-
dulu kalo ibuku mau pergi semua pintu tak kunci! hehehhe
>>mba ani:
amiin. jd gak sabar nih mb menunggu saatnya tiba...
>>ana:
dari kecil trnyata km dah keliatan jailnya ya ann hehe...
Shinfa nderek bud`e wae yuk nang pasar Johar.
Besok kalo ibu tindak nyuwun duit wae buat belanja ya hihihi
Hore...Shinfa makin pinter.
Yuk..yuk, nanti kalau kami pulang ke Yogya ketemuan :D
Shinfa makin pintar ya. Udah tambah ngerti tambah dewasa. Ajarin Fia dong, secara Fia masih mewek kalo aku tinggal kerja.
Dhona
http://keluargabroto.com
>>bune:
knapa shinfa nangis krn kalo taktinggal gak aku ksh duit bune...wakakakakak!
>>indah juli:
ayo mbak, ketemuaaan...
>>Dhona:
fia, yuk belajar bareng shinfa yuuk...
wah, senengnyaaa.. besok2 lagi shinfa pasti bisa bilang gini "ibu nggak usah pergi, nggak usah cari duit, biar dik abit aja yang kerja" -berapa taun lagi ya itu?- hehe...
shinfa dah pinter deh... tapi ngomongnya udah campur jawa gitu ya Is..?? hihihi... lucu deh pasti logatnya.. ;)
shinfa... ajarin i-an dong...i-an masih klayu neh kalo bunda pergi kerja... he..he..
Shinfa udah gede ya..udah ngerti kalo ibu tindak itu harus kerja...ngga mungkin kalo ibu tindak ke mall ngga ngajak Shinfa khan...hihi..
Bravo Shinfa makin gede makin bijak yaa....
Lagi musim klayu toh....hahahaha..podo karo Arya yen mama dan bapaknya pergi kita bertiga petak umpet yg satu di dalam rumah yg satu di luar rmh jd seru aja tiap apgi ebgitu, finall Arya nangis kejer klo semuanya dilihatin gag ada hahahaha....*trenyuh banget*
Jeng klo Balita dewasa disingakt jd opo Bade yo...wekekekeek
Hihihi emangnya ada balita dewasa jeng Isma ;) MUdah2an Shinfa ga nangis lagi ya klo ibu tindak kerja.
Hai jengk isma..wah kangen bianget deh aku karo dirimu..piye kabare..sorry jarang mampir..piye maning banyak PR dari boss..Wah, shinfa hebat dah jarang nangis ditinggal ibu..tapi kan dikau enak jengk dititip sama ortu juga jadi gak terlalu khawatir di kantornya:)-Mutia---http://www.raygatrasadi.blogspot.com/
Biasalah Is, anak masih satu, jadi maunya Shinfa itu perhatian ibunya penuh 100% ke Shinfa.
Ntar deh tunggu aja, pasti Shinfa nambah perubahan perlahan-lahan.
Shinfa kan udah besar bu, jadi udah tambah pinter.
Apalagi klo ada adek nantinya...pasti makin pinter
shinfa tambah cantik ni, ditinggal ibu dah nggak pake mewek lagi..kalo aku sekarang dah mulai susah kalo mo brangkat kerja, secara ki' dah mulai mudeng mo ditinggal..pake berkaca2 lagi matanya, duuuhhh
shinfa kelihatan ayu banget.. eseme begitu manis. InsyaAllah nanti klo dah ngerti gak bakalan nangis2 lg klo ibu mau tindak.
>> Fa:
waduh fa, isih suwi kuwi... hihi.
>> neli:
maklum nel, shinfa kan indo-jawa...
>> bunda ian:
yuk, nangis bareng shinfa aja yuuk... lho!
>> widie:
tuh shin, denger apa kata tante wid... kalo ke mall pasti diajak kok hehe.
>> ninie:
bade nopo mbak? bade balita dewasa nggih? hehe
>>Nia:
amiiin.
>>mutia:
alhamdulillah jeng, mang jadi lebih ayem kl sama nenek sendiri ;)
>>Vie:
Iya mbak. Jd nggak sabar menunggu perubahan itu...
>>Ryu's mom:
masak sih mom? beneran ya?
>>astien:
siap2 bermain petak umpet dong tien hehe...
>>Umi Rayhan:
Makasih umi, shinfa jadi merona nih. amiin...amin.
Lama-lama juga ndak nangis ko bun ditinggal kerja dengan bertambahnya umur.....
Najwa jg sk ngs mngkn krn msh kangen kali yah...

Yang Baru di Hari Jum'at
07 December, 2007

Siapa tidak senang mendapat sesuatu yang baru. Baju baju, sepatu baru, rumah baru, jabatan baru, ataupun suasana baru… Yang sudah ibu-ibu aja seneng, malah ngarepin yak, apalagi anak-anak. Kalau itu berupa baju, pasti biarpun belum dicuci dah pingin dipake. Kalau udah dipake emoh dilepas, setiap ada kaca pasti deh melirik, maniskah aku dengan baju baru ini… *kalau cowok iya juga nggak ya?*
Nah, tapi bagaimana kalau sesuatu yang baru itu adalah seragam kerja… secara sebelumnya di t4 megaweku memang tidak ada istilah berseragam? Kecuali hari Jum’at yang dianjurkan pakai kaos item gratisan dari kantor. Nah, kira-kira bakal jadi seneng apa enggak ya…
Bagi beberapa orang seragam bisa jadi membatasi keunikan, kreativitas, dan kreasi dalam berpakaian. Karena tiba-tiba baju yang mereka pakai menjadi sama model, kain, juga warna. Setiap orang yang tentunya punya selera warna, model, atau jenis kain yang berbeda, digiring menuju muara yang sama. Tak ada jalan lain. Belum lagi kalau ada aturan bahwa seragam itu harus dipakai setiap hari selama bekerja. Atau dipakai dua kali dalam 5 hari kerja, dan sebagainya. Tuh kan, membatasi banget kan.
Tapi, bagi beberapa orang yang lain, seragam bisa berarti identitas. Apalagi sekarang kan jamannya semua serba beridentitas. Simcard aja harus terdaftar dan jelas identitasnya. Setiap penduduk juga harus menunjukkan kependudukannya dengan KTP. Pemilik motor harus memiliki STNK dan harus membayar denda ketika tidak bisa menunjukkannya pada polisi ketika ada razia. Mungkin seragam bisa juga berposisi seperti kartu-kartu itu. Karena kalau masuk toko buku besar, seragam suatu penerbit bisa menjadi kartu sakti untuk berurusan dengan orang dalam tanpa harus meninggalkan KTP.
Seragam juga bisa menjadi suatu kebanggaan dan simbol loyalitas karyawan terhadap perusahaan, pekerjaan, atau komunitas. Aku jadi ingat dengan mbak-mbak baby sitter di sebuah mall. Di tengah para pengunjung yang berpakaian serba modis dan trendy, mereka dengan bangga tetap memakai seragam baby sitter mereka. Bener2 contoh loyalitas yang patut diteladani. Meskipun bisa jadi loyalitas itu muncul karena dipaksa dan tidak ada cara lain.
Selain mungkin, seragam juga bisa difungsikan sebagai ikon kebersamaan dan solidaritas dalam suatu perusahaan atau komunitas. Karena perbedaan pada beberapa kasus bisa menimbulkan kesenjangan, jarak, atau bahkan konflik. Seorang supervisor yang bergaji lebih tinggi, tentu bisa membeli baju kerja yang lebih bagus daripada karyawan biasa. Akibatnya, sorang supervisor pasti akan terlihat lebih wah, memarjinalkan karyawan biasa yang pakaian kerjanya, maaf, sudah jadul banget. Kondisi ini jika dibiarkan akan memunculkan gap dan mempengaruhi semangat dan iklim dalam bekerja.
Lalu, apakah aku senang mendapat seragam baru?

Karena aku bukan supervisor yang punya baju kerja yang bagus, tentu aku senang. Hehe. Setiap Senin dan Kamis seragam ini akan menjadi identitas buat aku. Jadi semakin berasa sebagai karyawan. Semoga ya, bisa menambah semangat kerja dan bisa dapet bonus deh kekekek. *bonus dari hongkong yak!* Mana gratisan lagi. Buat aku apa-apa yang gratis, pasti akan aku terima dengan tangan terbuka. Termasuk kiriman gratis yang aku dapat kemarin Kamis. Ada yang berbaik hati menyapaku dengan kalung, jilbab, dan bingkisan buat Shinfa. Matur nuwun ya,
Mam. Semoga pertemanan kita mendapat ridho dari-Nya amiin.
Labels: percikan
Author: isma »
Thanks for 17 comments
aku jg dpt seragam gratisan, bun tp warnanya ga suka euy...:-( jd ampe skrg blm dipake tuh hehe...
Alhamdulillah skrg ga prnh ada denda lagi,bun... asal kita ngingetin trs deh dah shalat ato blm...
Asyik...yang dapat seragam baru...( kalo ngga salah liat ada tulisan LKiS-nya yaa...)bener ngga hehe...
Asyikkk juga dapat kiriman duh sering2 yaa...hehe
Ada enak gag enaknya juga sih ada seragam..enaknya gag pusing mikirin jatah buat beli baju terus.
waaa... safarian sekarang;)
Enak kalo pake pake seragam ga usah mikir mau pake baju apa kan. Tapi gak enak kalo abis ngantor gak iso langsung ngelencer/ngemall hihihi
AKu juga lebih suka pakai seragam. Seragam menghilangkan perbedaan. Sayang di kantorku justru nggak pakai seragam .
saya jg mau dunkzz.. klo dapet hadiahh...*eehhmm.... mw ngasih hadiah lagi kan mbak?? :D *kabuuurrrrr*
PS: yg di foto itu Ibunya Shinfa kan?? waahh langsing niihh ;)
Oi, achei seu blog pelo google está bem interessante gostei desse post. Gostaria de falar sobre o CresceNet. O CresceNet é um provedor de internet discada que remunera seus usuários pelo tempo conectado. Exatamente isso que você leu, estão pagando para você conectar. O provedor paga 20 centavos por hora de conexão discada com ligação local para mais de 2100 cidades do Brasil. O CresceNet tem um acelerador de conexão, que deixa sua conexão até 10 vezes mais rápida. Quem utiliza banda larga pode lucrar também, basta se cadastrar no CresceNet e quando for dormir conectar por discada, é possível pagar a ADSL só com o dinheiro da discada. Nos horários de minuto único o gasto com telefone é mínimo e a remuneração do CresceNet generosa. Se você quiser linkar o Cresce.Net(www.provedorcrescenet.com) no seu blog eu ficaria agradecido, até mais e sucesso. If is possible add the CresceNet(www.provedorcrescenet.com) in your blogroll, I thank. Good bye friend.
Sebenarnya bagus juga kalo kerja pake seragam, kan kita gak perlu mikir tiap pagi mo pergi kerja musti pake baju apa gitu.
setujuuu..sbnrnya aku jg lebih seneng pake sragam di ktr..jadi gak repot beli baju n lebih keren aja keknya..
tapi sayangnya mpe skrg blm ada sragam ktr nih..
mudah2an tahun dapan beneran jadi deh kita disragamin..hehehhe
Enaknya dpt seragam klo lagi kepepet gak ada baju bisa jg alternatif, gak enaknya klo dipake seminggu 2 kali, kynya bikin bosen juga ya :)
Ada enaknya pake seragam, jadi nggak musing lagi mikirin pake baju apa ke kantor. Lebih hemat lagi, nggak perlu beli baju baru buat ke kantor, tinggal beli baju buat sehari-hari aja.
Cuma nggak enaknya kalo seragamnya warnanya kita nggak suka pasti makenya nggak enak banget deh rasanya.
Dhona
http://keluargabroto.com
wah kalungnya bagus banget.. :D
Asik..asik.. dpt seragam dr kantor...
asik lagi pake seragam, gak pusing mikirin mesti pake baju apa, gratisan pula hehe
Wah yang dapat seragam baru ..tapi sama Mba.. aku lebih suka lho klo disuruh pake seragam daripada pakaian bebas hihihihi.. bukan apa apa .. kesannya jadi bagian dari orang laion gitu :D karena mungkin pembawaan suka nya membaur kali ya :D
klo aku (kayak yg udha kerja aja) lebih suka pake seragamlah, soalnya nggak mesti pusing mau make baju apa hehe..

Shinfa dan Pulpen
05 December, 2007
Masih tentang alat-alat tulis-menulis.
Di usianya yang hampir 3 tahun, apa yang akan terjadi kalau Shinfa sudah pegang pulpen?
Hehe. Ini dia kemungkinan jawabannya.
Pertama, tuh pulpen bakal dipreteli. Ini salah satu kebiasaan Shinfa yang bisa bikin aku keki. Gara-gara suka mpreteli pulpen, praktis setiap aku dapat pulpen selalu raib tercecer entah di mana. Tutupnya ada di mana, isi pennya juga lari ke mana. Secara aku sudah nggak sempat lagi memantau bagaimana sepak terjang Shinfa dalam pemretelan ini, dan berapa ekor pulpen yang jadi korban. Alah!
“Dik jangan dipreteli dong, ntar nggak bisa dipakai,” aku memelas.
“Ini punya Dik Abik kok!” jawabnya cepat.
Weleh. Jurus ampuh itu, kalau udah diklaim sebagai milik Shinfa. Mau diapa-apain juga terserah, gitu ya.
Kedua, bakal minta kertas untuk tempat coret-coret.
“Dik Abit mau nggambar nih?” Lalu, dengan gaya “sok ting” dia bikin mlungker-mlungker kecil. Berhenti. Mikir, “Gambar apa ya?”
“Coba bikin segitiga, Dik!” aku kasih usul.
“Yoh,” sanggup Shinfa dan kemudian beraksi. “Slet…slet…slet!” celotehnya. Dan begitu gambarnya selesai dia akan berucap, “Ngono kuuuwiii…” (ini kalimat baru yang ditirunya dari Bulek Teti. “Ngono kuwi yo, Dik!”) dengan nadanya yang khas, kecil melengking. Suka banget kalau aku denger Shinfa ngucapin itu. Lutuuu.
Ketiga, minta digambarin apa aja sama orang yang ada di dekatnya.
“Gambalin dong,” ia meminta. Kata ‘dong’ ini juga baru-baru ini menghiasi omongan Shinfa. Apa-apa maunya ditambahi ‘dong’. Pernah pas diajak shalat, dia ngeles, “Ah, kakiku capek. Pijitin dong!” Alah-alah, dah kayak juragan aja deh!
Kalau Shinfa minta digambarin, alamat si penggambar harus siap capek. Soalnya dia bakal mengedarkan pandangan, melihat ke sekeliling. Kira-kira benda apa saja yang ia mau untuk digambar. “Lampu!” Menunggu digambarin. Setelah selesai, “Horee,” sambil tepuk tangan ala Tukul. Trus melihat sekelilingnya lagi, dan secara berurutan dia akan merequest, “Jilbab, helm, meja, kursi…”
“Udah Dik ah. Dik Abik aja yang nggambar.”
“Dik Abik nggak bisa.”
“Bisa. Dicoba to.”
“Emoh. Nggak bisa.”
“Ya udah dulu. Ibu capek nih.”
Hihi… dikerjain sama anak kecil yak!
Keempat, coret-coret dinding. Yang ini kebiasaan baru secara aku baru tahu beberapa hari yang lalu. Tapi, cuma di dinding ruang shalat. Untuk dinding ruang yang lain masih selamat dan aman. Kayaknya waktu itu nggak ada yang ngasih kertas, jadi objek sasarannya berpindah ke dinding. Pas pertama kali lihat hasil karya Shinfa itu, aku sempat kaget juga. “Lah, nyoret-nyoret tembok juga to?” Kirain enggak. Hihi, kecolongan lagi deh aku! Maklumlah, nggak nungguin tiap hari sih.
Kelima, akan meng-kuteki kuku-kuku jarinya dengan pulpen. Jadinya ya item-item gitu. Kalau pulpennya warna merah (pulpen emaknya yang buat ngoreksi naskah) sih mending, jadi kayak kutekan beneran. Hehe, genit yak!
Keenam, mural kulit badan hehe. Pokoknya semua daerah kulit yang bisa dan pantas dijangkau deh. Bisa tangan, kaki, wajah… Soalnya mbak-mbak sama buliknya kadang suka iseng juga tuh. Yang bikinin andeng-andeng ala Indialah, kumislah… jadinya Shinfa ketularan deh. Tapi, ya nggak papa sih. Namanya juga bagian dari ekspresi hihi. Sapa tahu besok jadi perias manten. Kan mayan tuh, kalo laris penghasilannya bisa buat beli inova, amiin.


Labels: Shinfa
Author: isma »
Thanks for 16 comments
Ha...ha...ha...wajah Shinfa penuh pulpen, kayak Reza dulu, kakinya bakal penuh gambar.
Sediain aja buku gambar banyak2 Is. atau kertas recycle untuk corat coret dia.
Sama aja ya kelakuan anak-anak, Ryu juga gitu..
Shinfa jadi ahli body art aja..cocok kayaknya nih, klo ibu menulis diatas pena, Shinfa menulis diatas tubuh...*ogah kata Shinfa*
diikutin sanggar lukis aja mbaak:) biar terarah coret-coretnya..
Aduh coret-coretnya semangat banget. Ampe muka pun dicoret. Benar tuh dimasukkin sanggar lukis aja biar terarah.
Dhona
http://keluargabroto.com
Hihi bocah ono-ono wae.
Kalo ada anak kecil dirumah, dan tembok belom kotor sama coretan gak afdol tuh keknya.
Ga papa ya Shin, Shinfa kan mau jadi seniman juga kek ibu.
hahahahah...... Shinfa kok gambarnya di muka siyyy kenapa gak ditaplak meja bunda aja.... wakakakak.... kaboooorrrrrr
ya ampunnnnn nduk nduk, guemesssss aku karo kowe ndukkk, pingin tak ciwel. jan...lucu banget pilahnya shifa ini yah
Shinfa keratif ya.. Itung2 bikin body painting pake pulpen hihihi.
Sama ma Akbar yak...coret sana coret sini...ngabisin kertas berim2 hihi...yah utk kreatifitas anak ngga papa ya....
tambah kreatif shinfa ya..ayo oret oret terus..
asik..ntar kalo dah beli innova dari hasil ngerias manten rayga diajak kliling2 yak:)-Mutia
duh, jawa banget deh Shinfa...
idem kayaknya semua anak begitu hehhe...
siap siap kerta yang banyak dunk mba di rumah klo Shinfa dah mulai orat oret langsung minta di kertas aja terus dikumpulin buat koleksi nanti klo dah besar tunjukin ke shinfa :D
Waduh kuwi kok di corat coret toh Wuk, hihihhiihi toss karo arya ya klo aray minta bikin gbr "Kuning garong" ck..ck..ck..
ya ampuunn Shinfa... adaada ajaa niihhh....xixixixii,, koq muka dicoratcoret sih say?? :D
Duuuh Shinfa, sapa tuh ya yg ngebersihin mukanya nanti. Sabun sekilo juga belom tentu bisa ngilangin tinta itu.
Shinfa, mending coretin dinding aja ya nak!
Lucu banget!

Ups... Shinfa lagi Belajar Niy...
03 December, 2007
Sudah dua kali hari Sabtu Shinfa bermain-main ke
SALAM. Setelah tiga Sabtu sebelumnya Shinfa mbolos gara-gara emaknya takut kehujanan. Pas pertama kali masuk, sempat ditanyain juga sama Bu Ririn dan Bu Wiwin, “Shinfa ke mana aja nih?” Hihi. Aku jawab ajah, “Takut kehujanan Bu, jadi mbolos deh!

Nggak nyekolah tiga Sabtu ternyata bisa bikin Shinfa kangen sekolah lho. Aku jadi nggak tega kalau Shinfa dah bilang, “Bu, sekolah yuuk!” Biarpun di kelas Shinfa masih malu-malu kucing, ternyata berbaur dengan orang asing bisa meninggalkan kesan juga. Bisa membuat Shinfa merasa kangen dengan hiruk pikuk kelas. Atau mungkin kangen dengan objek yang bisa ia amati dari teman-teman kecilnya. Soalnya biasanya nih, abis sekolah Shinfa suka nyeletuk, “Bu, Dik Shane tadi lebutan!” Atau, “Tadi ada yang nangis.”
Pas mbolos kemarin, di rumah Shinfa asyik bener sama kertas dan pulpen. Karena pada kelas yang terakhir ia belajar menggambar tangan dan kaki, di rumah ia jadi seneng menggambar bentuk tangan dan kaki. Sambil pelan-pelan aku ajarin juga bikin beberapa bentuk, seperti kotak sama segitiga. Lucu juga melihat dia nyambungin garis untuk membentuk kotak. Kadang bisa lurus, kadang menceng-menceng dan dipaksa nyambung. Hehe. Kalau bikin segitiga, garis sambungnya masih menyerupai garis lengkung. Jadi, belum bisa bikin tiga garis lurus yang membentuk segitiga. Nyebut segitiga aja Shinfa suka kebalik jadi “setigita” atau “setitiga” hihi.
seriusnya...
ups! kaki aja mpe nginjek buku coba!
capeeek deeeh!Ini gambar terbaru Shinfa. Dah lumayanlah, lucu lagi. Ceritanya mau ngikutin lagu: lingkaran kecil, lingkaran kecil yang biasanya kami nyanyiin sambil menggambar. Tapi kalau Shinfa nyanyinya cukup singkat: Lingkalan besal…lingkalan besal, dibeli sudut. Hehe. Ngirit banget yak!

Pada sekolah Sabtu minggu yang lalu, pas jadwalnya menanam bunga matahari. Usai berdoa, anak-anak digiring melewati pematang menuju sawah laboratorium. Sawah yang memang dialokasikan untuk praktik tanam-menanam dan membuat pupuk organik. Setiap anak mendapat gelas bekas air mineral untuk diisi pakai tanah yang sudah dicampur dengan kompos, trus mendapat satu biji bunga untuk ditanam di dalamnya. Setiap gelas dikasih nama untuk menandai milik masing-masing.

Waktu itu Shinfa yang biasanya nempel emaknya, sudah mau tuh main sama Raras. Duduk di dekat meja menunggu snack datang. Malah pas selesai berdoa mau pulang, Raras bilang, “Besok main lagi ya,” Shinfa menjawabnya dengan anggukan dan tersenyum manis. “Tuh kan, Dik. Seneng kan punya temen,” aku ikut senang.
Sementara Sabtu kemarin, selain main puzzle, Shinfa dan teman-teman kecilnya diajak berjalan-jalan menyusuri pematang, melihat sapi yang lagi membajak sawah, menuju Omah Kebon. Ini semacam aula kecil terbuka, berdinding bambu dan atapnya pakai seng dan anyaman daun tebu kering. Silir banget. Semula aku pikir omah ini punya
SALAM, eh, ternyata punya penduduk setempat. Tepatnya seorang seniman. Pantesan, unik gitu.

Di Omah Kebon itu anak-anak dibiarkan bermain-main. Sambil sesekali dikenalkan dengan bermacam tanaman yang tumbuh di sekeliling Omah Kebon. Sekaligus melepas lelah juga sih. Ngos-ngosan. Lokasinya nggak begitu jauh sebenarnya. Cuma karena kondisi jalannya yang naik dan berupa pematang jadi lumayan memforsir tenaga, perhatian, dan kehati-hatian, terutama para ortunya. Tapi, pas berangkat Shinfa mau juga tuh jalan sendiri alias nggak digendong. Mungkin berasa jalan-jalan wisata ke alam mana gitu ya. Hehe. Pas melewati jalan berbatu Shinfa bilang, “Bu, jalannya lusak!” hihi.

Sejauh terlibat dengan
SALAM, Shinfa memang belum bisa dilepas. Dia masih jadi pengamat. Melihat guru dan teman-temannya bernyanyi dan menari. Shinfa belum mau ikut menyanyi meskipun kemarin sudah berani naik ke atas meja bareng temen-temennya. Pas ditanya Bu Anik, “Shinfa mau nyanyi apa?” Hihi, bukannya menjawab dia malah mengedarkan pandangan. “Cicak-cicak ya…,” sambungku. Dan, meskipun Bu Anik sudah mengiringi, Shinfa cuma ngelihatin. Ikut nyanyinya cuma bagian akhir, hap lalu ditangkap.
“Adik katanya mau nyanyi?” ulangku pas sudah di rumah.
“Aku nyanyi cicak-cicak,” jawab Shinfa pede.
“Iya. Nyanyinya dalam hati ya hehe…,” ledekku.
Ya nggak papa deh. Pelan-pelan ya, Shin. Jago kandang dulu, besok kandangnya ditinggal ya, di rumah hehe…
Labels: Sekolah
Author: isma »
Thanks for 15 comments
He..he...nyanyinya tinggal buntutnya doang ya? "hap..lalu ditangkap.."
Biasa tuh anak kecil gitu, jago kandang dulu, lama2 kan ya pede.
Shinfa gk mo jd penyanyi kali pengen ky ibunya jago nulis.. Is aq mupeng d liat poto2nya. Disini gk ada yg keik gt
Lho Shinfa gambarnya belum selesai kok udah ditinggal bobo...hehe..ada-ada aja neh Shinfa...
Asyik Shinfa udah berani ke sekolah sendiri ya..secara emang asyik tuh banyak temen, ngapain nempel ibu terus bosen kan ma ibu terus enakan sm temen-temen Shinfa hehe...
shinfa semangat banget nih belajarnya same kecapean...hehehehe...
salam keknya emang asyik ya ma...
asyik-nya nemeni anak sekolah...
wah shinfa rajin banget yah belajarnya.. smapek tepar kecapekan gitu hehehe.. terus semangat ya sayang..
Shinfa kok jago kandang siy kasian amat Ibu bilang gitu atau ceng..ceng..po haaaaa...
btw, mirip keik Arya klo d sekul malah ceng..ceng..po yen di rmh huaaaa teriak2 koyo neng GOA...plus nangis2
sama tuh Naila juga jago kandang. kalo udah familiar sama lingkungannya (di sekolah misalnya), ya mulai keluar juga cerewetna. tapi coba deh ketemu temen2 Bunda, pasti langsung ngumpet..
Jogja emang tempat yg pas buat sekolah.
Hihi aku mbayangne Shinfa cuma plorak plorok waktu ditanya mau nyanyi apa mesti lucu tenan ekspresinya ya.
itu kaki m0o diapain shinfa, mo bikin jejak kaki shinfa ya... kek jejak kaki mulawarman aja hhehe...(pelajaran sejarah deh...)
dr kemaren2 baca soal SALAM di sini kayaknya asyik banget ya Is, sayangnya buat aku blom ada yg bisa dianter ke sana, hehe...
Shinfa, makin pinter niy gambarnya. Laen kali nyanyi cicaknya jgn dalam hati yaaa...
Shinfa rajin banget belajar ampe kecapean dan tidur begitu. Biar tambah pintar ya nak.
Tertarik banget nih aku ama programnya di SALAM itu. Sayang nggak ada di sini.
Dhona
http://keluargabroto.com
Shinfa nanti klo dek Arya dah jalan mo tante ajak sekul di SALAM juga dech nanti Shinfa temenin dek Arya ya :D...mba Isma aku kok nda isa buka SBmu :((.....owh ya ttg tepung beras merahnya aku dah jawab di comment blogku mba dan ttg gado2 yg grentongannya yuk kapan kita kesana cuma ga enak ach klo gratisan secara blio kan janda bu :D
Banyak juga nih kegiatan Shinfa ya. Aktif banget anakmu ini, Is! Sampe cape' menggambar langsung roboh tidur!
Kayaknya kegiatan outdoor di SALAM ini sangat bermanfaat ya. Kan mereka tidak harus selalu menimba ilmu indoor. Tul gak, Is?!
