30 July, 2007

Bukan Pesolek Sejati

by isma at 7/30/2007 03:36:00 PM 18 comments


Suatu ketika, kira-kira dua bulanan yang lalu, pernah terjadi dialog ini:

Teti: Adik, yuk shalat yuk…
Shinfa: Emoh!
Teti: Ayo bareng-bareng. Adik wudhu dulu ya…
Shinfa: Emoh. Atu dah wedakan!
Teti: What!

Kalimat sejenis juga pernah diucapin Shinfa pas Hilda mo ngesun waktu arisan beberapa minggu yang: “Dah bedakan!” dia menolak.
Hehe. Ono-ono wae anakku yang satu ini. Meski terus terang aku ya jadi bingung, meniru siapa ya? *eit. Bukan aku lho!* Besar kemungkinan sih meniru Teti, buliknya. Soalnya aku, jujur saja, paling males dempulan apalagi lipstikan. Berbeda dengan Shinfa. Tiap kali mau pergi, sekolah misalnya, kalau ingat dia bakal ambil lipstick, entah punyaku entah punya Teti, trus pakai lipstick sendiri di depan cermin. Ck..ck…ck!

Yang sering kena getah kepesolekan Shinfa ya Teti. Dari pelembab, hand body lotion, sampai parfum punya adiknya ayah itu sering didedel duel sama Shinfa. Kemarin pernah, pelembab punya Teti hamper habis dipakai Shinfa.

“Aduh Dik, ini mahal. Jangan dibuang-buang!” Teti langsung sewot.
Shinfa seperti biasa memasang wajah tanpa dosa. Dan pas sore harinya Mbah Kung bilang: “Adik bau apa ya? Kok wangi.”
“Bau mahal,” jawab Shinfa spontan.
“Pelembab, Dik,” Mbah Uti mengingatkan.
“Endak. Bau mahal.”

Selain kosmetika Teti, pernah juga ding lipstikku jadi berubah fungsi sebagai crayon. Mana di atas album lagi. Bener-bener deh! Sampai isi lipstiknya hampir habis. Sekarang tuh album dah bener-bener gak kepakai. hehe.

Cuma meskipun Shinfa suka dandan, kalau urusan ditata rambut, Shinfa paling ogah. Padahal aku paling suka kalau melihat rambut Shinfa dijentir atau diikat, tambah cantik. Biasanya dia memang suka minta diikat. Tapi, dijamin cuma berlaku tiga menit. Setelah itu dilepas sendiri. Dan, ini hasil jepretan menjelang jentirannya sudah mau dilepas, dulu pas dia berumur 2 tahun.

Jadi, apakah Shinfa pesolek sejati?

Hehe. Kayaknya enggak deh!

27 July, 2007

Jamur oh Jamur

by isma at 7/27/2007 10:36:00 AM 11 comments


Makasih ya Bune, juga Jeng Ninie, dah kasih aku PR. Jadinya aku ada kesempatan untuk posting soal jamur. Ups! Ini bukan jamur yang obatnya sering diiklankan di tipi lho. Hi…jijay! Melainkan sayur jamur favoritku juga keluargaku. Jenis jamur mang banyak. Cuma yang aku maksudkan di sini bentuknya bulat lonjong kecil, warnanya putih-item. *Berhubung masakan olahannya dah ludes, jadi yang dipajang mentahannya aja ya hehe*

Biasanya aku beli jamur di Mbak Sayur. Malah saking hafalnya, si embak suka “maksa” aku untuk membeli. Gimana gak “maksa” kalo pas aku pulang dari kantor, ibu sudah nodong, bilang: “Tadi dititipi jamur sama Mbak Sri.” Hehe.

Memang sih harganya lebih mahal ketimbang loncoman (sayuran buat sup). Satu plastik loncoman Rp600, kalo jamur Rp2500. Itu pun kalo dimasak cuma dapat satu piring. Padahal rakyat di rumah kan banyak. Jadi, belinya harus lebih dari satu. Kadang dimasak jamur thok, kadang dicampur sama jagung muda (apa itu namanya, lali aku!), bakso, tahu atau kembang kol, dan lain-lain. Tapi, suatu waktu pernah aku campur sama gambas atau trememes (indonesiane opo yo?), tapi kata bapak, rasanya jadi aneh, alias gak enak. Maklum, sok bereksperimen, malah salah rasa hehe!

Kalo bumbu-bumbu dan cara masaknya… biasa, standar aja kok. Pakai bawang merah, bawang putih, cabe, garam, gula jawa, kecap… sama saus tiram. Soalnya kalau yang aneh-aneh aku angkat tangan. Biarpun begitu, masakan jamurku pasti ludes. Abis enak sih. *nunggu dialem, kesuwen!*

Selain jamur jenis itu, aku sebenarnya juga suka jenis jamur yang lain. Kayak yang biasanya buat campuran sup, atau yang putih panjang kayak mi cina dicampur sama udang. Apalagi kalau yang buat campuran pizza… *waduh! Mendadak lapar nih!*

Wis ah, reviewnya. Gak kuat nahan hasrat jamur nih. xixixi. Nah, dalam rangka memberi kesempatan buat temen-temen untuk unjuk jadi koki, aku juga mau melempar PR ini *nambahi ding, secara dah ditimpuk juga sama yang lain, ke ibu-ibu yang suka sibuk, 4 aja ya:
1.Jeng Evan mamanya Alel
2.Jeng Mutia mamanya rayga
4.Jeng Tetybundanya Vasya
5.Jeng Neli ibunya Ais

Silakan dikerjakan ya…

Note: You don't have to give out the recipe, just post the photo and tell us why you like it coz for some people like me, just love to eat my favorite food and I don't even know how to cook it...and thank you so much for your sharing.....
Proposition: What is your favorite food in your state or country?
Requirements: Find some info about the food and show delicious pictures of it?
Quantity: FIVE PEOPLE.Tag Mode: You leave their blog and post link and add to the list below.

Mybabybay loves Asam Laksa from Penang, MalaysiaJustMyThoughts loves Penang Char Koay TeowMy Lil Venture loves Laksa SarawakMonterssorimum loves Teluk Intan Chee Cheong FunChinnee loves Melaka Wan Tan MeePeimunLeah loves Hakka Lei ChaHui Sia loves Crispy duck skin from ChinaKaren loves Pan Mee Simple American loves Cheese EnchiladasNicole Tan loves Char Tau Kuehvelverse loves Otak-OtakGiddy Tiger loves Dim Summay loves Roti BakarSelba loves Gado-gadoChen loves Satay*eastcoastlife loves Shanghai Buns Kev loves 蕃薯旦Bokjae loves Ipoh Sar Hor FunCooking Momster loves Penang Heah Koh & Chee Cheong FunBlur Mommy loves Clam ChowderGranmother Stories loves everythingEast Meets West Kitchen loves Good Dim SumLittle Corner of Mine loves Nasi Lemak & Penang Assam LaksaPaknesia Food loves RendangFood is Love loves Tumis Kangkung Bulik Wita loves Gulai kikil Sayur loves Megono Ndah loves Spaggeti Salma loves Orak-Arik Isma loves Jamur Saus Tiram

25 July, 2007

Yang Terkenang dari Malang

by isma at 7/25/2007 11:20:00 AM 14 comments


Mumpung belum lewat satu minggu, tidak ada salahnya aku berbagi kenangan perjalananku dua hari dua malam kemarin ke kota Malang. Ini kali kedua aku berkunjung ke Malang. Yang pertama, cuma mampir karena tujuannya adalah ke Gresik-Lamongan. Sementara yang kemarin, memang sebagai kota tujuan, untuk kegiatan workshop kepenulisan di Pesantren Roudhotul Ulum Gondang Legi.

Yup. Pesantren memang jadi wilayah jelajahan Matapena, secara brand Matapena adalah penerbit novel pop pesantren. Dan, salah satu kegiatan Matapena adalah mendampingi temen-temen yang tergabung dalam komunitas Matapena untuk menulis dan berkarya.

Jadi, biarpun kelihatannya pergi keluar kota, tetep aja…bukan liburan bow! Hehe. Maklum ajah kalo Shinfa gak diikutkan, meski di sana ada Aya, Aflah, Aslah, dan Aida yang bisa jadi teman main. Aku juga nggak sempat mampir ke Selekta, apalagi menemui Fa yang kebetulan juga lagi ada di Malang. Tapi, asyik kok. Bisa berbagi pengalaman dan menjadi teman yang baik buat para santri yang manis.



Selain terkenang oleh kegiatannya, aku juga terkenang sama yang namanya travel. Ada apa-ada apa? Ya, gimana tidak terkoneng-koneng kalau travel pulang-pergi Jogja-Malang kok sama hebohnya. Mending kalau heboh karena Ben Joshua ya hehe… Lha ini…

Di travel Jogja-Malang aku harus dibuat pening tujuh keliling, gara-gara bau minyak wangi seorang kakek yang, kok ya ndilalah, duduk di sebelahku.

“Jer, aku ra kuat ambune ki. Tuh kakek pake minyak sakbotol po yo,” aku mengadu ke Pijer, temen seperjalananku
“Ealah, Mbak. Takkiro gur aku to sing ngambu,” balas Pijer bersemangat merasa punya teman.
“Weleh. Awakmu yo ngambu to…”

So kesimpulannya, tuh kakek bener pake minyak satu botol kali ya. Sudah ada firasat mau duduk bersebelahan sama nona cantik sih… xixixixi. Tapi, maaf Kek. Terpaksa aku tukeran posisi duduk sama Pijer. Suer! Aku paling enek sama minyak nyong-nyong gitu!

Untunglah aku bisa juga memejamkan mata. Dengan hidung dan mulut aku tutup pakai jilbab. Lumayan tidak tercium. Cuma ketika menjelang subuh, aku jadi mendadak terbangun gara-gara ada seorang mas-mas yang duduk di belakangku berteriak gusar:

“Lama kali berentinya. Hampir satu jam!”
Aku kriyep-kriyep. Baru nyadar kalau ternyata mobil sudah berhenti lumayan lama.
“Ke rumah istrinya apa ya!” si mas masih meneruskan teriakannya.
Aku spontan jadi mikir porno. Ples heran juga sama tuh mas-mas, “Mang kalo ke rumah istrinya kenapa? Mau tau urusan orang aja ih!”
“Lagi shalat kali,” celetuk seseorang dari jok depan. Setahuku sejak dari Jogja dia dan temannya sumringah terus. Guyon dan cekikikan mulu.
“Shalat apaan. Masjid aja belum ada yang bersuara,” balas si mas tak mau kalah.
“Yah tahajud kek. Yang lama kan zikirnya.”
“Hyt%$#@&*#...,” si mas masih meneruskan gerundelannya.

Hrgh! Tambah pusing deh aku. Udah bau minyaknya nggak hilang-hilang, masih mendengarkan omelan lagi, sementara yang diomeli masih asyik sama istrinya. Ups! Enggak ding. Mang biasanya para supir travel di tengah perjalanan, mampir lewat rumahnya, misalnya, untuk menukar baju kotor di tasnya dengan yang baru. Kadang memang lama. Tapi, aku pikir, dia tahu diri kok untuk bagaimana tidak telat sampai ke kota tujuan. BTW, tuh si mas biasa naik travel nggak sih? Hehehe. Secara yang protes kelabakan ya cuma belionya itu.

Sementara kalau kejadian heboh di travel Malang-Jogja disebabkan ada seorang penumpang yang tidak mau dijemput lebih dulu sama mobil jemputan. Dia maunya langsung diampiri sama mobil travel, jadi tidak perlu menunggu lama di agen. Mungkin gitu pikirnya. Cuma sayangnya, pak sopir tidak begitu hafal wilayah Malang, dan alamatnya juga ndempis, nylempit. Jadilah kita muther-muther, sambil mendengarkan pak sopir yang ngomel-ngomel dan mendengus kesal.

Ck…ck…ck. Orang itu ya, macam-macam. Termasuk aku ini, yang macamnya cuma bisa senyum-senyum sama pusing gara-gara minyak. Untung, Pijer bisa diajak senyum-senyum bareng, ples ikut berbagi bau minyak yang khas kakek-kakek itu. Hehe.

Dan, yang terakhir, terkenang sama oleh-olehnya dong. Biarpun barangnya sudah nggak ada alias habis, pan gambarnya masih awet. Ada apel, dodol apel, keripik nangka, juga suguhan yang sempat terabadikan pas di sana. Monggo dipun nikmati nggih… Enak tenan kok!

23 July, 2007

Taman Pintar: Tambah Apik Lho!

by isma at 7/23/2007 12:25:00 PM 16 comments


Maksud hati mau ngajak Shinfa ikut workshop kretivitas anak usia 2-8 tahun yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta. Tapi, karena sampai di lokasi sudah kesiangan, tujuan pun bergeser ke Taman Pintar yang posisinya cuma nyebelah aja.

Taman Pintar?

Eh, iya. Jadi keingat kemarin pas arisan, ada yang usul gimana kalau untuk arisan bulan depan di Taman Pintar. Eit! Tapi, kedatanganku kali ini bukan dalam rangka survey lho hehe. Cuma, melihat-lihat, menarik apa enggak! Alah, podo wae!
Sampai Taman Pintar, suasananya ternyata jauh lebih ramai. Apalagi hari Minggu itu sedang ada lomba mewarnai, dan pentas menyanyi di pelataran taman. Kalau aku tidak salah sih, dalam rangka ulang tahun salah satu lembaga pendidikan anak di Yogya, ples memperingati hari anak nasional, tanggal 23 Juli. Pantesan, ramainya bener-bener ramai!

Ini kali kedua Shinfa main ke Taman Pintar. Untuk masuk taman, masih tetap, tidak dipungut buaya. Cuma pada kunjungan yang pertama dulu, Taman Pintar belum selengkap sekarang. Gedung untuk fasilitas bermain dan belajar, juga kantin, belum selesai dibangun. Waktu itu sambil jalan-jalan sore, aku sekalian memenuhi rasa penasaranku. Ingin melihat taman yang dibangun di atas lahan bekas shopping buku, yang katanya bagus banget untuk anak-anak. Karena memadukan konsep belajar dan bermain.


Kalau mau menuliskan apa saja jenis permainan edukatifnya, wah...aku nggak hafal. Yang jelas, ada permainan tabuh gendang yang mengenalkan anak-anak pada bunyi, ada permainan gelombang suara, ada kejar air, ada permainan untuk ketangkasan… Menariknya, setiap jenis permainan itu, dilengkapi petunjuk dan keterangan. Jadi, buat bapak-ibu-nenek-kakek, bisa menjelaskan langsung pada anak, tujuan dan manfaat permainan tersebut.

belajar sains dan teknologi di gedung oval

balon loncat,
untuk di atas usia 2 tahun

Sementara untuk permainan yang di dalam gedung, seperti yang terdapat dalam gedung OVAL tentang ekosistem laut, sains dan teknologi, harus beli tiket seharga 3000 tiap kepala. Atau untuk permainan PAUD (pendidikan anak usia dini) yang kalau aku gak salah hitung ada tiga gedung. Ditambah gedung KOTAK yang di dalamnya ada game, motorcycle, walking animal, juga balon loncat.
Yang paling seru itu motorcycle. Teti aja sampe ketagihan, besok-besok mau datang lagi, khusus buat motorcycle. Karena motornya masih terbatas, jadi kalau ramai kita harus sabar mengantri nomor urut. Capeeek deeeh!


Habis main-main, aku-Shinfa-Teti mampir ke food corner yang posisinya satu gedung sama tempat game dan balon loncat. Menunya memang tidak selengkap pujasera sih. Cuma bakso, ayam n burger Popeye, es krim… Tapi, yang jelas pas banget deh untuk ngisi perut setelah jalan-jalan berkeliling.

bial belepotan, aku manis kan? xixixi

ramainya shopping n bringharjo,
capeeek deh!

Sebenarnya, masih ada lokasi ALAM DESAKU yang belum dijelajahi. Secara dah siang dan panas, ples Shinfa dah ngantuk. Jadi, aku gak bisa melaporkan ada perkembangan dan perubahan apakah di sana. Besok-besok deh ya kalau ke Taman Pintar lagi... Nunggu para ibu-ibu blogger jogja setuju, arisan di Taman Pintar hehe... Food cornernya lumayan lapang juga kok buat ngumpul-ngumpul… Selain, sepulang dari Taman Pintar, bisa juga nyebelah beli buku atau belanja batik, kayak Teti dan aku kemarin. Nah-nah… gimana, Taman Pintar boleh juga to…?

18 July, 2007

Pengakuan...

by isma at 7/18/2007 10:06:00 AM 17 comments


Wajahnya tampak kusut dan kusam. Sangat jauh dari wajah tampan dan segar yang dulu sempat kukenali, bahkan menghiasi hampir separo indahnya masa remajaku. Dia menatapku penuh nelangsa.

“Maaf, aku baru bisa mengungkapkan ini semua sekarang,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Aku terdiam. Antara percaya dan tidak. Antara gamang dan bahagia. Antara sesal dan biasa-biasa saja. Mungkin karena terlalu lama rentang waktu terlewat antara aku dan dirinya. Waktu yang sanggup memupus getar rasa itu, meski tidak semuanya.

Aku mengenal baik dirinya tujuh belas tahun yang lalu, ketika aku masih hijau segar dalam balutan seragam sekolah Madrasah Ibtidaiyah sementara dia sudah gagah menyenangkan dalam balutan seragam Madrasah Aliyah. Meski masih bersaudara mindoan, nenek kami kakak beradik, kami jarang bertemu. Seingatku dia sekolah di Bogor. Jadi, hanya ketika liburan saja retina mataku bisa menangkap wajahnya yang tampan dan telingaku mendengar tutur katanya yang sopan dan menyejukkan.

“Kamu mungkin beranggapan kalau keterusterangan ini hanya sia-sia. Iya aku mengerti. Karena toh semua sudah terlambat,” lanjutnya.

Aku masih saja terdiam. Kali ini kurasakan seperti ada riak yang menggenang di bola mataku. Kepalaku menunduk, coba menghindari tatap matanya yang penuh oleh pancar cinta dan rindu. Jujur, sebenarnya inilah saat yang selalu memenuhi hampir separo harap jiwaku kala itu. Bahkan, tidak saja saat aku terjaga. Pada saat aku tidur pun harapan itu muncul dengan tiba-tiba menjadi sebuah mimpi. Kadang indah, kadang menyakitkan. Dan, aku hanya bisa tersenyum bahagia, atau malah menangis tersedu setiap habis tidur. Sendirian, di dalam kamar.

“Lin, tolong bicaralah…”

Aku menelan ludah. Setitik air benar-benar menetes di punggung telapak tanganku. Mungkin hanya ini yang bisa aku keluarkan, bukan berlembar-lembar kata yang setiap hari sejak aku mengenalnya selalu aku tulis menjadi bertumpuk-tumpuk diary. Sungguh aku sudah tak punya kekuatan lagi meski hanya untuk bertanya: “Dari mana saja kamu?” Kekuatan itu sudah habis. Musnah. Tinggal ketidakberdayaanku harus kembali tenggelam dalam rasa itu, justru saat aku sudah tidak lagi bisa merasakannya.

Aku mengangkat wajah, menatapnya tajam. Rasanya ingin sekali aku menghakiminya…
Mencaci-maki, bersumpah serapah… Melemparnya dengan seribu kenangan indah yang berakhir menyakitkan… “Tidak tahukah kamu kalau aku harus menimbun harapan dan doa lebih dulu untuk bisa bertemu denganmu, meski itu cuma sekelebat bayangan. Dan, kamu tahu, rasa bahagiaku sanggup bertahan untuk beberapa hari untuk kemudian aku harus kembali berharap dan berdoa?” aku tergugu dalam hati.

Aku ingat waktu itu, entah kenapa setiap kali aku akan bertemu dengannya, setiap kali itu pula aku seperti mendapat intuisi. “Lewatlah jalan ini, Lin. Karena dia akan melewatinya,” bisik kata hatiku. Atau, “Kenapa kamu tidak main ke rumah nenekmu, sepertinya dia akan menemui om kamu siang ini.” Dan, ketika aku benar-benar melihatmu, kamu tahu, dadaku berdentum hebat! Apalagi jika kamu sempat menyapaku, dadaku luluh lantak oleh gegap gempita kebahagiaan.

“Lin, bicaralah…

Aku mendesah pelan. Sekarang tidak hanya satu tetes, air mataku kini sudah menjadi ribuan anak sungai yang membanjiri pipiku. Aku biarkan, agar ia bisa membaca seberapa dalam isi hatiku tanpa harus aku tumpahkan segala isinya. Yah, andai saja dia tahu bagaimana girangnya aku setiap kali Om Hari menyebut namanya di depanku. Setiap kali ia diminta ibunya untuk mengantarkan sesuatu ke rumahku. Setiap kali dia menatapku diam-diam saat sekolah sore di rumahnya… Remeh memamg, tapi dalam dan mendalam.

“Maafkan aku, Lin,” ucapnya sekali lagi. Aku berkedip, menghalau genangan air di kelopak mataku. “Waktu itu aku tak punya keberanian dan keyakinan untuk berterus terang padamu. Aku pun menangkap sikapmu tak ubah seperti kamu bersikap pada Mas El, pada Om Hari…,” ia menggantungkan kalimatnya. “Lin, jawablah… ungkapkan isi hatimu…”

Sebenarnya tanpa harus aku ungkapkan pun sudah pasti dia tahu semua isi hatiku. Karena siapa pun dari keluargaku tentu bisa menangkap kalau aku juga memendam rasa untuknya. Cukup lewat girang sikapku dan binar bahagiaku acap kali mereka menyinggung dirinya. Hanya saja, entah kenapa aku lebih memilih untuk mengenalnya sebagai saudara mindoan, meski kian hari perasaanku semakin dalam dan napas kerinduanku kian membuncah hanya untuknya. Sakit memang, tapi rasa itu begitu asyik, indah, dan penuh dramatisasi.

“Lin, dulu…”

“Hm… sudahlah, Mas,” aku menepis pelan. “Dulu biarlah menjadi kenangan indah untuk masanya. Karena, sekarang, kita sudah punya cerita masing-masing yang akan menjadi kenangan indah untuk masa ini,” jawabku pelan. Meski dengan hati hancur, mendapati mata itu kian sayu dan putus asa.

“Tapi, kita saling mencintai kan, Lin…”

“Tapi, kita sudah terlanjur memilih jalan cinta kita masing-masing,” potongku cepat. “Sudahlah, Mas. Masa kecil dan remajaku memang habis untuk menuliskan cinta dan kerinduan pada sampean. Hampir 17 tahun. Tapi, aku sudah cukup berbahagia dengan itu, tanpa aku harus meminta diriku untuk membagi semuanya pada sampean. Biar semua akan menjadi diary bacaan puteriku kelak… bahwa ibunya pernah menjadi pejuang cinta tanpa nama,” lanjutku sambil tersenyum hambar.

Perlahan aku berdiri, menatapnya sekilas dan berlalu. Aku tak mau berlama-lama berkubang dalam masa lalu. Apalagi di bawah tatapan penuh pengertian dari istri Mas Erbei dan ayah dari puteriku. Meskipun toh semua hanya mimpi.


**********



Lagi-lagi, hanya mimpi. Mimpiku semalam niy. Heran deh.
Jadi, siapa bilang banyak bermimpi itu tidak asyik? Xixixixi. Bener-bener serasa jadi gadis 17 tahun yang sedang dilanda patah hati euy. Dan, aku hanya bisa menarasikannya sebatas itu. Memang, tidak sempurna. But at least, suatu hari kelak, Shinfa bakal tahu kalau semalam ibunya jadi remaja lagi… suit…suit!


Ohya, pamit dulu ya
Bakal jarang BW niy, mo brb beberapa hari
Doakan selamat sampe balik ke depan kompi lagi, amiin.
Happy week end ya buat semua…

16 July, 2007

Arisan RT Blogger Jogja: Ajiiiib!

by isma at 7/16/2007 03:43:00 PM 10 comments


Akhirnya, terlaksana juga niy, arisan yang dirancang pas kopdar di PH bulan lalu. Arisan yang diikuti oleh: Ndah, Hilda, Diana, Fa n suaminya, Unai, Isna, Isma. Ples empat krucil: Firza, Shinfa, Vali, dan Ahlan. Tanpa kehadiran Wiedy dan Ana yang ada kepentingan mendadak, juga Bundaazka yang kebetulan belum balik S’pore tapi lagi flu berat. Eh, si Adi ikutan lagi lho, lumayan ikutan kenyang ya, Om… hehe…


diabsen ya, diana, fa, isma
unai, isna, ndah, hilda


bisa mbedain mana yg dah merid,
mana yg belum gak? hehe...



Aku sama Shinfa seperti biasa motoran berdua. Ternyata rumah Ndah lebih gampang nyarinya daripada lihat petanya. Besok lagi, Ndah. Kalo bikin peta, belajar dulu ya sama Dora, ben tinggal klik, langsung tekan. Owkeh!

Cuma sayangnya, dress codenya Ndah ra payu. Aku sebenarnya ada sih baju hijau, tapi pasangannya rok. Karena kalo dipakai motoran jadi ribet, ya maaf Ndah, aku gak ikut mendukung usulanmu itu. Tapi, mang bener-bener, aku kemarin seperti ikut arisan di laut hijau deh! Sampai kamar mandi juga hijau! Untung ya, airnya gak ikut hijau hehe…

Aku juga baru percaya nih kalo Ndah ternyata jago masak. Ajiiib tenan spagetinya. Belum lagi es campurnya. Ajibnya lagi kita bisa angkut-angkut buat yang di rumah bow! *dirimu masih berhutang kan padaku? -kedip-kedip mode on*


Tapi, dari yang ajib-ajib itu, ada lagi yang lebih ajib. Pas dikocok, eh tarnyata namaku yang keluar. Huehuehue. Selamat-selamat. Selamat meng-EO-i arisan bulan depan deh jadinya. Jadi mikir-mikir, enaknya di mana ya? Secara rumahku kan di pinggiran kuto. Kasihan Ndah, bisa-bisa langsing mendadak dia! Hehe *peace* Gimana dong, ada usulan? Monggo-monggo…

13 July, 2007

Taraaa.... PR Lagiii....

by isma at 7/13/2007 02:41:00 PM 8 comments


;;) 8-} :D
Juli keiknya jadi bulan PR ya hehe...
masak postingan isine jawab PR mulu.
Tapi gak papa kan, semoga gak bosen! Owkeh!
Monggo-monggo dipunnikmati nggih ke-23 soal
yang ditimpukkan Jeng Evan,
berikut inih :- :




Grab the book nearest to you, turn to page 18, and find line 4
Biasanya, selepas isya, Ais dan Vidhis akan menyempatkan diri menikmati tempaan cahaya bulan yang bayangannya terukir indah di permukaan kolam. Sambil saling mengejek, menjatuhkan, kadang sampai adu mulut lalu tertawa terkekeh-kekeh.
(kebetulan lagi ngedit novel Ning Aisya… pan di kantor).

Stretch your left arm out as far as you can
Dompet pink (abis bayar londrian Doranya Shinfa, saiki wis mangi!).

What is the last thing you watched on TV?
Espresso hampir jam delapan pagi tadi, mengenai kecelakaan Taufik Savalas… allhahummaghfirlahu warhamhu wa ’afihi wa’fua’anhu amiin.

Without looking, guess what time it is:
Jam 15.00, keiknya dah dengar azan asar deh!

Now look at the clock. What is the actual time
Jam 14.50. Ini jam redaksi yang keiknya mang sengaja dilambatin hehe (ngeles.com).

With the exception of the computer, what can you hear?
Suara temenku yang lagi nerima telpon… Dia sekretaris bow!

When did you last step outside? What were you doing?
Turun ke lantai 1 bayar londrian boneka2nya Shinfa, 11.500 dibonusi 500 hehe...

Before you started this survey, what did you look at?
Komputer

What are you wearing?
Jilbab item, atasan batik *harusnya berseragam kaos item, cuma lupa belum aku setrika hehe… batik pun jadi, asal bernuansa hitam!*, celana item, sepatu sandal *hadiah dari Nihayah…*

Did you dream last night?
Aku mimpi liburan ke puncak, tapi tiba-tiba ngelihat pesawat jatuh ke laut, trus menyebabkan tsunami… aku sama sodara-sodara langsung kabur… hiiii, serem kan?

When did you last laugh?
Pulang kerja kemarin sore, ngeliat hidung Shinfa merah, gara-gara lipstick… hehe kyk badut!

What are on the walls you are in?
Tulisan nama Shinfa Labieq karya Ayah Mamat, sama jam dinding.

Seen anything weird lately?
Kecelakaan Taufik di TV.

What do you think of this quiz?
Gampaaaaaang banget. Kan tinggal kopi paste!

What is the last film you saw?
Gag ada nonton apa-apa. Abis shalat maghrib, main2 bentar sama Shinfa, langsung tewas!

If you became a multi-millionaire overnight, what would you buy?
Beli rumah 3, beli mobil 3, naik haji bareng abah-simak, juga bapak ibu. Sama buat modal usaha kolam lele n gurameh di sekeliling rumah… juga, bagi-bagi sama sodara-sodara yang membutuhkan, n yang pasti zakat. Amiiin.

Tell me something about you that I don't know :
Berkemauan keras, trus paling benci diatur! *sok banget ya akuh!*

If you could change one thing about the world, regardless of guilt or politics, what would you do?
Memberantas korupsi, menyita dana para koruptor untuk pendidikan gratis seluruh anak Indonesia.

Do you like to dance?
Sebenarnya berbakat, xixixi… paling enggak dance dalam mimpi lak iso to… *maksa*.

Imagine your first child is a girl, what do you call her?
Cinta. Tapi, karena agak maksa bikos namanya Shinfa Labieq, ya Abik juga simple kok didengarnya.

Imagine your first child is a boy, what do you call him?
Abim. Itulah kenapa Shinfa kami panggil Abik hehe... biar serasi.

Would you ever consider living abroad?
Maunya dapet beasiswa, trus bisa sekolah n pengalaman tinggal di luar… Amiiin. Tapi, balik lagi ke Indo, menempati rumah mungil agak ke kota dikit. Pan sekarang di pinggiran kota… hehe kejauhan kalo mau ke kantor.

What do you want God to say to you when you reach the pearly gates
Seperti dalam Al-Qur'an, God says: Udkhuluha bisalamin aminin… : masuklah kalian semua ke dalam surga dengan damai sentosa. Amiiin.

**********



Trus, apakah aku akan menimpukkan PR ini?
Again n again, nggak usah ajalah.
Semua dah pada dapet timpukan soalnya hehe...
Happy weekend aja ya buat semua... Ummmuah!

Ohya, yang mo ikutan arisan Ijo di rumah Ndah,
jangan lupa ya dress codenya, IJO huohuohuo...
=D> >:D<

11 July, 2007

PR Aneh dari Ndah

by isma at 7/11/2007 10:00:00 AM 15 comments


Six Weird Thing About Me, taraaaa...

Siji: Tukang ngimpi I-|
Hampir tiap kali tidur, aku mesti mimpi. Biarpun sebelum tidur sudah berdoa. Soal tema mimpi, bermacam-macam. Biasanya tergantung sama apa yang aku alami, aku tonton, aku rasakan, atau aku pikirkan. Makanya aku paling emoh nonton film horor, soale pasti bakal masuk dalam mimpiku. Lak medeni to! Tapi, namanya mimpi, kadang cuma kembange wong turu, kadang juga merupakan firasat atau pertanda akan sesuatu. Yang masih anget nih lusa kemarin aku mimpi ditagih makalah grand planning sama bos besar, trus aku njawab kalo sistematikanya dah aku tulis di agenda cuma belum sempat aku ketik. Eh, tau-taunya kemarin aku ditagih beneran, dan aku pun menjawab seperti yang ada dalam mimpiku. Hehe. Nah, soal keanehan yang ini semua temen di redaksi wis apal. Dan, setiap aku menceritakan mimpiku, mereka pasti berkomentar kompak: “Dasar, Isma. Tukang ngimpi!”

Loro: Suka ngelindur >:) :(( :-j
Mungkin karena aku tukang ngimpi, jadinya aku juga suka ngelindur. Ini tergantung mimpinya. Kalo horor, biasanya ngelindur teriak-teriak, sampai orang satu rumah pada dengar, dan pagi harinya pada konfirmasi: “Mbengi ngelindur yo?”
Kalo mimpinya menyedihkan, biasanya aku ngelindur nangis. Kadang cuma terisak-isak, kadang sampai ngeluarin air mata. Untuk yang ini, biasanya tengah-tengah nangis, aku sudah sadar kalau aku mimpi. Tapi, karena masih terbawa sedih, takterusin aja nangisnya, sampe bener2 nangis.
Terus, kalo mimpinya lucu, aku kadang sampai mesam-mesem. Hehe. Jadi ingat beberapa malam yang lalu, aku ngguya-ngguyu pas turu, sampai dibangunin Ayah Mamat berkali-kali, aku cuek ajah meneruskan ngguya-ngguyuku. Abis mimpinya lucu, meskipun kalo sekarang disuruh mengingat-ingat, sudah lupa mimpi apa.

Telu: Sering tindihen b-( >:D<
Masih berhubungan sama tidur. Tindihen itu sama dengan direprepi. Aku nggak tahu bahasa Indonesianya apa, yang jelas ini adalah satu kondisi pas aku sebenarnya sadar, tapi tidak bisa teriak, tidak bisa minta tolong, dan tidak bisa berbuat seperti orang sadar. Malah kadang sampai kesulitan bernapas.
Dulu, pas masih di pesantren, (psssst, yang ini belum sempet aku tulis dalam novel hehe!) hampir tiap tidur aku mesti tindihen. Padahal sebelum tidur aku sudah berdoa, dan tidurnya juga baru satu menitan berlalu. Tapi, nggak tahu, tiba-tiba makbet gitu, aku kayak sudah masuk dalam arus kekuatan, dan aku nggak bisa ngapa-ngapa.
Waktu itu, aku marah banget kalo ada temenku yang berkomentar: “Huh Isma! Mesti tindihen!” Kok kayak nggak berempati gitu, bahwa tindihen itu antara hidup dan mati. Tapi, Alhamdulillah sekarang sudah tidak lagi. Hanya kadang-kadang, kalau pas lagi suntuk di tambah kamarku yang berantakan.. Bikos, setelah aku hunting artikel soal fenomena tindihen, ternyata memang sangat dipengaruhi oleh kondisi pikiran dan sirkulasi udara ketika tidur. Jadi, aku mang nggak boleh tertekan apalagi stres dong ya… sama kamarnya yang lapang-pang…

Papat: Cium dulu, baru dimakan :-*
Ini keanehan yang jelek sih sebenarnya. Nggak tahu kenapa tiap kali mau makan snack, terutama yang basah, biasanya mampir ke hidung dulu, aku cium. Rasanya mantap aja gitu, untuk memakannya. Cuma, kalau di tempat orang bisa menimbulkan prasangka negatif kan. Dikiranya aku sangsi sama makanan yang disuguhkan, nggak percaya kalau itu bukan makanan basi, misalnya. Makanya sebisa mungkin aku menghindari yang satu ini kalau di tempat orang. Jaga sikap gitu loh!

Limo: Kerokan sama Pijetan :x
Biarpun banyak yang bilang kalau dua hal ini gag baik, tapi nggak tahu ya tiap kali perutku nggak enak, habis dikeroki kok bisa enteng dan enakan ya. Atau, kalau badanku pegel-pegel, trus dipijet, rasane kembali nyaman dan enak ajah.

Enem: Suka kedip-kedip ;;)
Bukan karena sok imut loh hehe. Gak tahu juga kok aku suka kedap-kedip ya. Mungkin karena serius mikir, kali ya! Aku nyadar banget pas melihat sendiri diriku muncul di sini. Pas ngomong kok ternyata aku ngedipnya lebih banyak daripada tarikan napasku ya hehe. Kenapa ya? Tau’!

Pitu, bonus: Ceplas-ceplos tapi pendiam *maksa!* ;))
Kalo ini masukan dari yang ngasih PR, setelah aku ajak diskusi soal keanehanku. Biarpun ini bukan keanehan, tapi demi menghargai masukan, aku tambahkan aja poin yang ini. Hehe. Mungkin kebawa kebiasaan di pesantren kali ya. Suka main gojlok, ceplas-ceplos.
Yah namanya ceplosan, kadang lucu, kadang jayus, kadang salah-salah malah bener-bener nyeplos ke hati *mohon maaf ya temans kalo aku tanpa sadar menyakiti hati kalian…please forgive me* ^:)^
Meskipun jujur saja, aku tuh sebenere pendiam *ini juga masukan dari yang ngasih PR hehe*. Apalagi kalo berhadapan sama orang baru yang berbahasa Indonesia, nah lho! Hehe. Secara aku kan wong jowo, dadi kulinane yo jowo. Biarpun kalo nulis pakai bahasa Indonesia, kan bahasa tulis beda sama bahasa lisan. Gak jarang ada orang yang nulise lincah-apik, eh ternyata orangnya pendiam. Ataupun sebaliknya, kalo ngomong lancer-car, tapi kalo nulis mubeng-mubeng. Ada juga, bagus atau jelek kedua-duanya. Nah, kalo aku ternyata ceplas-ceplos tapi pendiam. Aneh kan? :>

****************



Wis Ndah. PR-nya dah kelar.
Aku gak akan melempar ini ke blogger yang lain.
Kasihan, kan sakit kalo kena lemparan hehe!
;)

09 July, 2007

Pernak-Pernik KB

by isma at 7/09/2007 03:24:00 PM 12 comments


Tahu KB kan?
Yup. Tapi, yang ini justru kebalikan dari KB=Keluarga Berencana. Yaitu, KB=Keluarga Besar.

Memang tidak semua orang terlahir dalam keluarga yang jumlah anggotanya lebih dari tiga atau lima, atau biasa disebut dengan keluarga besar. Tak jarang ia cuma punya seorang saudara kandung, atau malah terlahir semata wayang tanpa saudara. Yah, bagaimana pun itu, yang jelas masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Bagi keluarga besar, serunya kalau hubungan persaudaraan lagi baik, setiap anggota kaluarga bisa saling menghargai dan menyayangi. Apalagi kalau ada momen bisa berkumpul bersama. Benar-benar ramai dan rahat. Atau istilahnya gayeng.

Tapi, yang namanya wong urip, pasti ada saja masalah, ditambah dengan potensi nafsu yang dimiliki setiap manusia. Belum lagi permainan hati, entah itu prasangka, iri hati, dengki, licik, riya’, angkuh, sombong, dan lain sebagainya. Hubungan baik itu pun sekali waktu, malah bisa selamanya, berubah menjadi hubungan yang tidak mengenakkan bahkan jadi perpecahan dan permusuhan.

Biasanya cikal bakalnya dimulai ketika kepentingan dan kebutuhan mereka berbeda satu sama lain. Pada tahap ini mungkin masih bisa ditoleransi. Berbeda kalau kemudian, untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan itu seseorang sampai harus menyakiti, mengganggu, mengambil, bahkan merampas hak juga ketenangan saudara yang lain. Di sini sudah tidak ada lagi hukum persaudaraan, bahwa kita terlahir dari rahim yang sama atau darah yang sama, tetapi siapa kuat dia bakal menang.

Sebagai titik terang untuk rukun kembali, mungkin, jika ada salah satu atau salah dua dari KB yang masih bisa bertahan dengan sikap ngalah, qana’ah, dan pemaaf dengan hati yang penuh prasangka baik. Hm… hampir-hampir seperti malaikat! Tidak punya nafsu. Dan, sudah pasti susahnya bukan main. Tapi, susah bukan berarti tidak bisa kan?

Kebetulan aku terlahir 9 bersaudara. Simakku, atau Mbah Idah di Pekalongan 8 bersaudara. Ayah Mamat tujuh bersaudara. Ibu, atau Utinya Shinfa 8 bersaudara. Jadi, alhamdulillah memang trah keluarga besar. Dan, soal percik konflik, terutama ketika hubungan kekeluargaan tidak sedang baik *untuk kasus generasi di atas aku*, aku biasa menjumpai. Mungkin karena samakin tua usia seseorang semakin pelik juga kebutuhan dan kepentingannya sehingga kadang membutakan sisi hati yang harusnya dipakai untuk mengalah, qana’ah, husnuzhan, dan pemaaf.

**********


dua generasi, uyut-buyut


Sabtu kemarin Mbah Uyut, ibunya uti, datang dari Jakarta. Setelah menggilir tinggal di rumah puteri keempatnya, adiknya uti, selama hampir empat bulan. Dia minta pulang sekalian minta diadain pengajian, untuk berkirim doa. Bersamaan dengan Paklik dan Bulik yang datang dari Jambi untuk liburan, juga Paklik-Bulik dari Wonosobo dan dari Jogja sendiri.

Ramai banget suasana week end kemarin. Meskipun sebelum-belumnya sempat terjadi perputaran prasangka dan percik konflik, toh semua bisa berkumpul dan bahu-membahu mempersiapkan acara pengajian hingga berjalan lancar dan khidmat.

Well, semoga kebersamaan ini tetap terjaga ya. Seperti aku yang bersembilan bersaudara, dan ayah Mamat bertujuh saudara *meninggal dua*, yang alhamdulillah sampai detik ini senantiasa dianugerahi tali kasih sayang oleh-Nya, semoga selamanya, amiin.

06 July, 2007

Melu-Melu Syukuran....

by isma at 7/06/2007 04:13:00 PM 12 comments


Kembali Bermula

Dua tahun, aku berjalan tertatih bersama-mu
Mengurai asa, menapak masa, mencipta karya

Penuh luka dan liku
Kadang berdiri tegak, tak jarang terisak lara

Meski berawal dari yang semu
Nol tanpa titik ataupun koma

Toh selagi ada bara menyatu
Sampai juga pada langkah dan pikir padu

Juli 2005, bermula aku dan kamu
21 cerita manis, tak banyak tapi kita bisa

Sayang, masih belum cukup
Bukan sekadar yang terpendar dalam berita

Karena pada pemberhentian ini pun
Kita akan kembali bermula…



Puisi biasa untuk 2 tahunku di desk Matapena. Duuh, jadi terharu nih… secara sudah berdarah-darah berjalan, masih banyak juga yang harus dilakukan. Buat diriku, juga buat tanggung jawabku. Buat skill dan otakku, juga buat what’s next for Matapena
Semoga…semoga… *make many wish* amiiin.



Liputan tentang novel pop pesantren dan Matapena
di MetroTV, Jum'at, 16 Maret 2007 pukul 20.00 WIB,
program Indonesia Now.




Dan, oleh karena itu, digelarlah acara di restoran Pacific Jln Magelang 29 Juni 2007 yang lalu.

Eit, tapi bukan dalam rangka syukuran untuk Matapena lho. Melainkan syukuran atas terbitnya buku baru dan bagus, Tuanku Rao. Buku sejarah yang diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Tandjung Pengharapan (1964), dan ditarik dari peredaran oleh penulisnya sendiri. MO Parlindungan. Sebenarnya ia menulis buku ini untuk putera-puteranya sehingga memuat banyak rahasia keluarga, termasuk aksi kejam yang dilakukan Tuanku Lelo. Tapi kemudian Mayjen TNI (purn) T. Bonar Simatupang menilai bahwa tulisan tersebut banyak mengandung sejarah Batak yang perlu diketahui oleh generasi muda Batak, juga para sejarawan tentunya.

Dan, kedatanganku ke acara itu, selain untuk syukuran launching juga dalam hati merayakan ke-2 tahunku di Matapena hehe… melu-melu nih! Selamat-selamat… Amiin.

namanya syukuran,
pasti ada makan-makannya doong...

sebagai ibu-ibu yang baik,
ada yang sisa, bungkuuuuus!

tiga cewek cantik
ana, isma, retno
di sarang penyamun redaksi, ehem!

dah kenyang, nampang rame-rame...

04 July, 2007

Slip Gaji VS KBC

by isma at 7/04/2007 11:03:00 AM 18 comments


Suatu hari di kamar kos-kosan, seorang teman mengeluh dengan wajah sedih…

“Aku sebel banget tadi siang…”
“Kenapa, Lel?”
“Slip gajiku tidak laku…”
“Tidak laku? Maksudmu? Kok tiba-tiba bahas soal slip gaji?” aku gag mudeng.
“Jadi, tadi siang aku kan mau mengajukan kredit. Sebenarnya sih aku masih mau tanya-tanya dulu apa syarat dan tetek bengeknya. Eh tiba-tiba ada seorang mas sales mendekatiku dengan antusias, menawariku brosur sambil ngoceh soal kelebihan ini dan itu…”
“Hehem, trus…”
“Silakan, Mbak duduk dulu silakan, katanya. Ya sudah, aku duduk. Tapi, aku bukannya dijelasin dari awal prosedurnya, dia langsung bilang: cukup pakai KTP sama slip gaji, Mbak. Atau Mbak punya kartu kredit? Aku menggeleng. Trus katanya, boleh lihat slip gajinya Mbak?”

Aku sebenarnya masih belum paham, temenku ini mau kredit apa atau mengajukan ke mana. Tapi, daripada aku potong, trus dia jadi ilfil, mending aku dengerin dulu saja.

“Aku terus terang sempat keki campur gimana gitu. Kok langsung ditodong slip gaji sih. Bukannya dia lebih baik menjelaskan kalau syarat mengajukan kredit itu adalah KTP dengan slip gaji yang sudah mencapai sekian rupiah, misalnya. Tanpa harus nodong pingin lihat slip gajiku langsung,” ungkap Leli.
“Trus kamu gimana?”
“Ya udah. Karena kebetulan aku bawa slip gajiku, aku kasih lihat saja. Padahal terus terang aku belum pernah kasih lihat slip itu ke orang lain, selain si sales,” jawabnya dengan wajah bersungut. “Tapi, tahu enggak pas dia lihat slip gajiku?”
“Gimana?” aku jadi lebih tertarik.

“Dia langsung balik kanan. Katanya, wah Mbak, maaf ya, ini harus… ada stempelnya, jadi biar sah. Wajahnya agak kikuk gitu. Katanya lagi, jumlahnya juga… Yah, mungkin pakai slip gaji bapaknya aja ya. Soalnya syaratnya harus 3 kali lipat UMR…”
“Jadi, gaji di slipmu belum memenuhi syarat?” aku langsung menyimpulkan.
Dia mengangguk sebal. “Iya. Terus habis itu, si mas sales dengan cepatnya bilang mohon maaf, lain kali bisa dibantu lagi, lalu mengambil brosur yang ada blangko pendaftarannya itu, trus pergi gitu aja meninggalkan aku di kursi tempat mendaftar.”
“Kok gitu? Masak kamu ditinggalin gitu?” dua alisku bertaut.

“Iya. Ora sumbut, tadi ngejar-ngejar, pakai berkali2 minta liat slip gaji. Udah tahu aku berpenghasilan rendah, dicuekin gitu. Brosurnya juga diambil lagi. Mungkin karena aku miskin ya, terus dia menganggap aku gag bakalan bisa menjadi nasabahnya forever, sampe gag ditinggalin brosur satu pun,” jawabnya menggebu-gebu.
“Sabar…sabar…”
“Sebelku itu, pelayanannya itu lho…sombong banget!”
“Iya-iya, aku ngerti. Nggak seharusnya dia meremehkan kamu seperti itu. Harusnya kan dia memandang kamu sebagai calon nasabah, kalau belum bisa hari ini, siapa tahu besok bisa. Dengan memberi kamu satu brosur untuk dipalajari lebih lanjut,” aku berusaha untuk membela dirinya. Bukankah orang yang kalah akan merasa nyaman jika merasa ada yang membela? “Kecuali, kalau brosur itu memang hanya untuk nasabah yang dah pasti, karena ada formulirnya itu,” lanjutku.

Kali ini temenku besengut. Matanya menatap kosong ke arah pintu. “Yah, kasihan ya aku. Punya slip gaji kok rendah. Dipakai buat mengajukan kredit aja nggak payu. Berarti yang bisa mengajukan cuma orang-orang kaya ya?”
“Hmmm, ya biar ada jaminan mungkin ya…”
“Gajiku kurang menjamin gimana. Aku bisa kok membayar angsuran tiap bulan 200ribu selama setahun,” Leli metenteng tidak terima. “Padahal biarpun di slip gaji tertulis 3juta, kalo pengeluarannya sampe 4juta kan masih mending aku yang gajinya cuma 1juta tapi selalu bisa save 500ribu?”
Aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. “Malah bisa juga kan bikin slip jadi-jadian hehe, ditulis aja 5juta, minta tolong sama bagian keuangan untuk distempel hehe…”
“Eh, iya ya, Mbak. Bisa juga itu…”

“Tapi, Lel. Kalau sudah jelas kamu bisa save 500ribu tiap bulan, kenapa harus kredit? Ditabungin dulu aja, dan baru kalau sudah terkumpul bisa kamu pakai untuk beli barang yang dimaksud?” aku menawarkan solusi.
“Aku kan pinginnya punya barang itu secepatnya, minggu ini, Mbak?”
“Yah, itung2 melatih kesabaran, biar enggak hedonis hehe. Lagian kan kamu nggak perlu bayar bunga kredit?”
Leli, temenku itu terdiam, berpikir.

“Btw, kamu tuh sakjane mau mengajukan kredit ke mana? Dan mau kredit apa to, Lel?”
“KBC, Mbak. Aku mau kredit HP Nokia kamera terbaru…”
“KBC? Keluarga Besar Combat bukan?” aku terkikik. Aku jadi ingat nama geng kelas angkatan ‘97 putera-puteri MMA BU di pesantren dulu. Namanya kan KBC alias Keluarga Besar Combat. Hm, apa kabar ya mereka sekarang? Jadi kangen niiiih…
“Bukan! Bukan!” Leli langsung menolak. “KBC itu Kartu Belanja Carrient…”
“Owalaaaah! Yang kayak punya Mas Agung itu to?”
Dia tersipu, sambil mengangguk malu-malu.

Aku cuma menggeleng-geleng, sambil tersenyum. Yah, sudahlah Lel. Biar saja sales KBC itu tahu kalau gajimu gag payu buat mengajukan bikin kartu belanja. Biar saja kamu dipandang sebelah mata sama si mas sales itu gara-gara gajimu itu, *yang siapa tahu justru lebih tinggi dari gajinya… kikikik!* Biar juga yang punya KBC itu hanya orang-orang yang bergaji 3 kali lipat UMR. Biar… yang pasti tanpa KBC kamu bisa kok membeli HP Nokia incaranmu itu… Percaya deh, Lel! Yang kamu perlukan cuma sabar menabung satu bulan 500ribu… Owkeh! Trus, kalo dah jadi kebeli tuh HP, jangan lupa aku diajak syukuran ya… hehehe!

02 July, 2007

Rangkaian Tutup Tahun SALAM

by isma at 7/02/2007 10:15:00 AM 18 comments


Tahun ajaran 2006/2007 sudah berakhir. Seperti lembaga pendidikan yang lain, di Kelompok Bermain SALAM juga ada yang namanya tutup tahun. Cuma sebelum tutup tahun, di SALAM tidak ada yang namanya ujian atau semesteran. Ya namanya saja kelompok bermain. Apalagi SALAM menganut sistem bebas tumbuh kembang dan mengutamakan proses. Jadi, tidak begitu berkepentingan dengan satuan test yang terbatas.

Rangkaian acara tutup tahun, sebenarnya sudah dimulai sejak acara open house Mei yang lalu. Awal-awal Shinfa masuk SALAM. Waktu itu acaranya antara lain pentas seni dari anak TK, pentas kesenian dari komunitas warga Nitiprayan, workshop kreativitas anak, seperti, bikin topeng, mewarnai, memancing, dan melempar kaleng.

Dilanjutkan pada Sabtu, 9 Juni 2007, acara rekreasi ke Taman Kaliurang. Berombongan naik 2 bus kota ples 3 mobil pribadi. Shinfa kebetulan ikut mobil pribadi punya keluarga Kaka, secara ditinggal si empunya yang malah milih naik bus. *namanya anak-anak ya, pingin yang ramai dan bareng-bareng. Kalau aku sih, mending yang nyaman dan nggak suk-sukan. Alhamdulillah Shinfanya malah kesenengan naik mobil orang hehe…*



Di Taman Kaliurang acaranya nyanyi-nyanyi, cerita, sama lomba balap sarung oleh para ibu. Bersyukur Shinfa nggak mau aku tinggal, jadi aku tidak dipaksa untuk ikut hehe. Lucu sih, melihat ibu-ibu pada lari-lari, malah ada yang tidak merasa meninggalkan anaknya yang menangis. Hehe dasar!

Selama tinggal di Jogja, aku baru tiga kali itu ke Taman Kaliurang. Tapi kalo yang kemarin lebih seru. Soalnya bisa berpuas-puas naik ayunan sama naik-naik ke puncak pakai kereta mini sampai 4 kali coba. Hehe. Mungkin bagi yang mau melancong ke Jogja, nggak ada salahnya mampir ke Kaliurang. Suasananya enak pokoknya. Sejuk dan adem. Dan, pulangnya jangan lupa, beli oleh-oleh jadah sama baceman. Maknyuuus gurihnya!

Setelah piknik, masih dalam rangkaian tutup tahun adalah pertemuan wali murid, diskusi soal tumbuh kembang anak dan pola didik yang baik dengan Ibu Wahya. Banyak hal yang aku dapat dalam acara ini, dan untuk lebih lengkapnya akan aku beberkan pada edisi selanjutnya! *Alah! Sapa juga yang mau tahu! hehe*

Dan, terakhir adalah acara kemarin Sabtu. Mendengarkan dongeng Puteri dan Padi Emas oleh Kak Kendar, sama lepas pisah teman-teman yang mau melanjutkan ke tingkat TK. Beberapa ada yang masih melanjutkan ke TK SALAM. Tapi, ada juga yang pindah ke TK yang lain. Kalau Shinfa tahun ajaran 2007/2008 baru akan masuk ke kelas A, untuk usia 2-3 tahun. Rencananya masuknya tidak cuma Sabtu seperti kemarin-kemarin. Ada tambahan hari Senen. Semoga sih ayah nggak dapat perubahan jadwal lagi untuk satu hari itu, jadi bisa menemani Shinfa bermain-main di SALAM.

ditambah Bu Ririn;
maap niy bu, gag ikut nampang...


Sekarang Shinfa sedang dalam liburan sekolah nih ceritanya, dan 16 Juli sudah masuk lagi seperti sedia kala. Owkeh, buat temen-temen semua… happy holiday juga ya…
 

Topi Bundar Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review